Mentari, si gadis bar-bar kaya raya, dipaksa menukar gemerlap kelab malam dengan dinginnya lantai pesantren. Baginya, ini adalah hukuman mati, sampai ia bertemu Gus Zikri putra Kyai tampan yang sangat dingin dan selalu menjaga pandangan.
Merasa tertantang karena diabaikan, Mentari bertekad menaklukkan hati sang Gus. Namun, misinya tidak mudah. Ia harus menghadapi tiga teman sekamar yang ajaib: Fahma yang super lemot,Bondan yang genit mata keranjang, dan Hafizah yang hobi berceramah.
Di antara godaan pesona dan benteng iman, mampukah Mentari melelehkan hati Gus Zikri? Atau justru ia yang terjerat dalam sujud yang panjang?
"Satu misi gila: Membuat sang Gus jatuh cinta."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DAPUR UMUM DAN MISTERI BUBUK PUTIH BERSALJU
Udara subuh di Pesantren Al-Hidayah selalu dimulai dengan kepulan asap dari dapur umum asrama. Tempat itu adalah jantung pertahanan lambung para santri, sebuah ruangan besar dengan wajan raksasa seukuran ban truk dan tungku kayu yang apinya tak pernah benar-benar padam. Pagi ini, dapur tersebut kedatangan seorang "tamu agung" yang sudah siap dengan celemek bermotif bunga-bunga di atas gamis sederhananya.
Mentari berdiri tegak, memandangi tumpukan sayur kol, wortel, dan berkarung-karung beras. Setelah sukses dengan novelnya yang menembus pasar nasional, ia merasa perlu mencari pengalaman baru untuk memperkaya naskah skenarionya yang kini sedang merayap mantap menuju target Bab 100.
"Hari ini, kita bakal masak sayur sop dan ayam goreng bumbu kuning buat lima ratus santriwati," ucap Mentari dengan penuh semangat kepada beberapa santriwati senior yang bertugas mendampinginya.
"Mbak Mentari yakin mau ikutan motong kol sebanyak ini? Biasanya jari-jari penulis itu sensitif loh, Mbak, takutnya nanti kapalan," goda salah satu santriwati sambil terkekeh.
"Tenang aja, jagoan Jakarta nggak bakal tumbang cuma gara-gara urusan kol!" balas Mentari jenaka, langsung mengambil pisau besar dan mulai mengeksekusi sayuran dengan ritme yang lumayan rapi.
Ketenangan dapur subuh itu pecah saat Bondan masuk dengan langkah terburu-buru, masih mengenakan sarung yang diikat asal-asalan di pinggang dan kaos oblong putih. Di belakangnya, Fahma berjalan sambil menggendong Zayan yang matanya masih berkedip-kedip mengantuk, memeluk boneka dinosaurus kesayangannya.
"Tari! Emergency! Gue denger lo mau ngambil alih dapur umum hari ini?!" seru Bondan sambil celingukan, menatap ngeri ke arah wajan raksasa yang airnya mulai mendidih. "Lo seriusan mau masak porsi raksasa? Lo tahu kan, kalau rasanya aneh, lima ratus santriwati bisa demo mogok ngaji massal?"
Mentari memutar bola matanya malas. "Bondan, mending lo bantuin gue daripada ngoceh terus. Itu ambil bubuk putih di dalam wadah plastik dekat rak bumbu, terus masukin tiga mangkok penuh ke dalam kuah sop. Biar gurih!"
Bondan langsung bergerak tangkas menuju rak bumbu. Ia menemukan sebuah wadah plastik besar tanpa label yang berisi bubuk putih bersih. Namun, begitu ia mendekatkan hidungnya ke wadah tersebut, dahi Bondan langsung berkerut dalam. Ia mengendus sekali lagi, lalu matanya membelalak panik.
"TARI! JANGAN! STOP!" teriak Bondan histeris, menghalangi wajan sop dengan badannya seolah-olah sedang melindungi seorang presiden dari serangan bom.
"Kenapa sih, Bon? Bikin jantungan aja pagi-pagi!" protes Mentari, pisaunya hampir saja meleset mengenai jarinya.
"Lo mau meracuni satu pesantren ya?! Ini bukan garam, Tar! Ini deterjen bubuk cucian otomatis merek *Sno-White* yang kemarin dibeli grosiran buat asrama! Baunya aja wangi lavender begini! Gila lo ya, masa sop dikasih rasa busana muslim bersih?!" cerocos Bondan dengan wajah pucat pasi.
Fahma yang mendengar kata "deterjen" langsung ikut panik. Ia mendekati wadah tersebut, mengambil sejumput bubuk putih itu, lalu mengamatinya dengan saksama. "Eh, iya bener Bon! Tapi kok bentuknya mirip ya? Coba bayangin kalau dimakan, nanti pas santriwatinya lagi setoran hafalan, mulutnya keluar busa balon-balon gitu. Kan estetik tapi seram."
Mentari mendengus, lalu berjalan mendekati Bondan. Ia menjitak pelan dahi sahabatnya itu menggunakan ujung sendok kayu. "Bondan sayang, lo liat baik-baik raknya. Wadah deterjen itu warnanya biru di pojok bawah! Yang lo pegang itu garam dapur kasar peninggalan sisa acara Aqiqah Zayan kemarin! Makanya, mata itu dibuka, jangan cuma fokus nyari kaca buat benerin rambut!"
Bondan tertegun. Ia mengendus kembali bubuk di tangannya dengan lebih teliti. Ternyata benar, tidak ada aroma lavender sama sekali, murni aroma asin air laut yang pekat.
"Oh... garam ya?" Bondan nyengir tanpa dosa, langsung merapikan letak sarungnya yang melorot. "Ya maaf, Tar. Gue kan cuma menerapkan prinsip safety first. Sebagai Wali Asuh cadangan Zayan, gue bertanggung jawab atas kelestarian lingkungan pesantren ini."
Di tengah kegaduhan komedi dapur itu, sebuah ketukan lembut terdengar di pintu kayu dapur umum. Gus Zikri melangkah masuk dengan jubah abu-abu mudanya yang bersih, memancarkan aroma wangi kayu gaharu yang menenangkan udara dapur yang mulai pengap oleh uap masakan.
"Assalamualaikum. Ada keributan apa ini di dapur subuh-subuh?" tanya Zikri dengan nada suara baritonnya yang tenang, langsung membuat para santriwati senior menunduk khidmat.
Zayan yang melihat Abinya langsung merentangkan kedua tangan kecilnya dari gendongan Fahma, berteriak riang, "Bi! Abi!"
Zikri mengambil alih putranya, menggendongnya dengan satu tangan sementara tangan satunya mengelus pundak Mentari yang tampak sedikit berkeringat. "Bagaimana masakan istri Mas? Aman?"
"Hampir aja nggak aman, Gus! Tadi pawang Jakarta hampir salah membedakan antara penyedap rasa dan pembersih noda," celetuk Bondan memprovokasi.
Mentari langsung melotot ke arah Bondan. "Jangan dengerin Bondan, Mas. Dia cuma sirik karena nggak bisa motong wortel bentuk bunga kayak aku."
Zikri tersenyum lembut, melirik ke arah wajan sup yang aromanya mulai tercium sedap dan menggugah selera. Ia mengambil sebuah sendok kecil, menciduk sedikit kuah sup, lalu mencicipinya setelah membaca basmalah.
"Bagaimana, Mas? Kurang apa?" tanya Mentari dengan wajah penuh harap, persis seperti seorang santri yang sedang menunggu hasil ujian kitab.
Zikri terdiam sejenak, mengecap rasa masakan itu, lalu mengangguk dengan senyuman terdalamnya. "Sempurna, Sayang. Asinnya pas, gurihnya dapet. Mas rasa, lima ratus santriwati kita hari ini akan makan dengan sangat lahap. Terima kasih atas kerja kerasmu."
Mendengar pujian dari sang suami, pipi Mentari seketika merona merah, mengalahkan hangatnya hawa tungku kayu di belakangnya. Para santriwati di sudut ruangan langsung saling berbisik gemas melihat kemesraan yang begitu alami dari pasangan pemimpin pondok mereka.
Siang harinya, setelah seluruh santri selesai makan siang dengan menu sop ayam yang habis tak tersisa, Mentari duduk di meja makan rumah kayunya. Di depannya, laptop sudah menyala, menampilkan kursor yang berkedip-kedip di draf Bab 34.
Jemarinya mulai menari di atas papan ketik, menuangkan seluruh kejadian lucu subuh tadi ke dalam jalinan cerita skenarionya. Ia menyadari satu hal penting: konflik dalam sebuah cerita tidak selamanya harus berupa air mata, pengkhianatan, atau pihak ketiga yang jahat. Terkadang, sebuah kesalahpahaman kecil tentang bubuk putih di dapur umum, kepanikan seorang sahabat, dan sebuah pujian tulus dari seorang suami di depan tungku kayu justru menjadi bumbu cerita yang jauh lebih gurih dan melekat di hati pembaca.
"Perjalanan menuju Bab 100 masih panjang," gumam Mentari sambil tersenyum menatap layarnya. "Tapi kalau setiap babnya diisi dengan cerita sehangat ini, aku rela ngetik sampai ribuan halaman lagi."
Dari arah luar jendela, terdengar suara tawa renyah Zayan yang sedang diajak mengejar ayam oleh Fahma dan Bondan. Di bawah langit Pesantren Al-Hidayah, harmoni kehidupan itu terus mengalir, menciptakan bait-bait kisah nyata yang jauh lebih indah daripada fiksi manapun.