NovelToon NovelToon
Nikah Kontrak Sama CEO Es, Malah Hamil Anaknya

Nikah Kontrak Sama CEO Es, Malah Hamil Anaknya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Kentos46

Aluna butuh 3M buat nebus utang kakaknya. CEO es batu Arsen Asmara nawarin nikah kontrak setahun. Syaratnya gampang: Tidur pisah ranjang, dilarang jatuh cinta.

Tapi semua berantakan gara-gara satu malam salah kamar. Aluna hamil anak CEO paling ditakuti se-Indonesia.

Pas foto mereka satu selimut viral + saham anjlok 12%, Arsen bukannya marah malah pasang badan hajar mantanku. Katanya ini cuma kontrak... tapi kenapa ciumannya bikin jantungku mau copot?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kentos46, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perempuan Itu Mulai Hancur

Rumah kecil milik ibu Aluna malam itu terasa jauh lebih dingin dari biasanya.

Pecahan kaca masih berserakan di teras.

Tulisan cat merah di dinding belum dibersihkan.

Dan suasana mencekam itu terus membuat dada Aluna terasa sesak.

Ibunya akhirnya tertidur setelah cukup lama menangis karena syok.

Sedangkan Aluna duduk diam di ruang tengah sambil menatap lantai kosong.

Pikirannya kacau.

Semuanya terlalu cepat berubah.

Beberapa minggu lalu hidupnya masih normal.

Sekarang?

Dirinya dikejar media.

Anaknya diancam.

Rumah ibunya diserang.

Dan orang-orang mulai terluka gara-gara dirinya.

“Aku beneran bawa sial ya…”

Suara kecil itu keluar tanpa sadar.

Namun Arsen yang berdiri dekat jendela langsung menoleh.

Tatapan matanya berubah dalam.

“Jangan ngomong begitu.”

“Tapi memang iya.”

Aluna tertawa kecil.

Tawa yang terdengar menyedihkan.

“Kalau aku nggak pernah masuk hidup kamu, semua ini nggak bakal kejadian.”

Sunyi.

Hujan di luar masih turun pelan.

Sedangkan Arsen berjalan mendekat perlahan lalu berdiri tepat di depan perempuan itu.

“Kamu pikir saya bakal lebih bahagia tanpa kamu?”

Tatapan laki-laki itu lurus.

Tenang.

Tapi serius banget.

Aluna menunduk pelan.

Karena dirinya nggak punya jawaban.

“Aku cuma capek…”

Suara perempuan itu melemah.

“Setiap hari selalu ada masalah baru.”

Dan itu benar.

Belum sempat dirinya bernapas lega, ancaman lain selalu datang.

Sampai dirinya mulai takut membuka ponsel.

Takut melihat berita.

Takut mendengar nama Arsen disebut media.

“Luna.”

Arsen jongkok pelan di depannya.

Posisi yang jarang sekali dilakukan laki-laki itu.

Namun justru membuat dada Aluna makin sesak.

Karena CEO sebesar Arsen sekarang duduk di depannya hanya untuk menenangkan dirinya.

“Saya tahu kamu takut.”

Tangannya perlahan menggenggam jemari dingin Aluna.

“Tapi kamu nggak sendiri.”

Kalimat sederhana itu hampir membuat air mata Aluna jatuh lagi.

Karena selama ini dirinya memang selalu menghadapi semuanya sendirian.

Bahkan saat bersama Bima dulu…

dirinya lebih sering menangis sendiri dibanding ditenangkan.

Namun Arsen berbeda.

Laki-laki itu selalu berdiri di depannya.

Selalu melindunginya.

Dan justru itu yang bikin Aluna takut kehilangan.

“Aku nggak mau kamu terus kena masalah gara-gara aku.”

Tatapan Arsen melembut sedikit.

“Masalah saya sekarang bukan kamu.”

“Hah?”

“Saya marah karena ada orang yang berani nyentuh keluarga kamu.”

Nada suara laki-laki itu langsung berubah dingin di akhir kalimat.

Dan Aluna langsung tahu.

Arsen benar-benar serius soal ini.

Namun sebelum dirinya sempat bicara—

Daniel masuk tergesa dari luar rumah.

“Tuan.”

Tatapan Arsen langsung berubah tajam.

“Dapat sesuatu?”

Daniel mengangguk.

“Kami cek CCTV sekitar gang.”

Aluna langsung menoleh cepat.

“Siapa pelakunya?”

Daniel terlihat ragu sepersekian detik.

Namun jawaban berikutnya sukses membuat suasana membeku.

“Orang suruhan keluarga Wiratama.”

Deg—

Aluna langsung mengernyit.

Sedangkan Arsen perlahan berdiri.

Aura laki-laki itu berubah dingin total.

“Yakin?”

“Kami cocokkan plat mobilnya.”

Daniel menyerahkan tablet.

“Mobil itu keluar dari kantor media milik keluarga Wiratama dua jam sebelum penyerangan.”

Sunyi.

Tatapan Arsen berubah makin gelap.

Sedangkan Aluna perlahan merasa napasnya berat.

Karena dirinya tahu siapa keluarga Wiratama.

Keluarga besar saingan bisnis keluarga Arsen.

Dan yang paling mengerikan—

mereka terkenal brutal.

“Apa mereka yang nyebarin semua ini juga?”

tanya Aluna pelan.

Daniel mengangguk kecil.

“Kemungkinan besar.”

Arsen tertawa kecil.

Namun sama sekali nggak terdengar hangat.

“Berani juga mereka.”

Tatapan matanya dingin banget sekarang.

Dan entah kenapa…

Aluna mulai takut melihat ekspresi itu.

Karena biasanya setelah Arsen terlihat setenang ini—

sesuatu yang besar akan terjadi.

“Tuan, kita harus gerak cepat sebelum media makin liar.”

Daniel bicara hati-hati.

Namun Arsen justru tetap tenang.

“Tahan semua berita pagi ini.”

“Baik.”

“Dan putus semua kerja sama dengan media mereka.”

Daniel langsung sedikit terkejut.

“Tapi itu bakal bikin perang terbuka.”

“Saya memang mau perang.”

Kalimat itu keluar datar.

Namun sukses membuat suasana rumah langsung terasa berat.

Aluna refleks berdiri.

“Arsen…”

Laki-laki itu menoleh.

Dan untuk pertama kalinya malam itu…

Aluna melihat kemarahan yang benar-benar nyata di mata Arsen.

Bukan sekadar marah biasa.

Tapi marah yang lahir karena orang yang dia sayang disentuh.

“Aku nggak mau semuanya makin besar…”

“Ada orang yang ancam anak kita.”

Nada suara Arsen turun rendah.

“Rumah ibu kamu diserang.”

Tatapannya makin tajam.

“Dan kamu pikir saya bakal diam?”

Aluna langsung terdiam.

Karena dirinya tahu.

Kalau posisinya dibalik, mungkin dirinya juga nggak akan tinggal diam.

Namun perang antara dua keluarga besar?

Itu terlalu mengerikan.

“Aku takut…”

Suara Aluna mengecil lagi.

Dan kali ini…

Arsen langsung menarik tubuh perempuan itu ke dalam pelukan tanpa banyak bicara.

Hangat.

Kuat.

Menenangkan.

“Aku beneran takut…”

Tangis Aluna mulai pecah pelan di dada laki-laki itu.

Sedangkan Arsen memejamkan mata sebentar.

Karena dirinya sadar satu hal.

Perempuan ini mulai hancur perlahan.

Dan itu membuat dirinya makin nggak bisa mundur sekarang.

---

Pagi harinya—

media langsung meledak.

Semua berita dipenuhi perang bisnis antara keluarga Asmara dan keluarga Wiratama.

Beberapa artikel mulai menyebut nama Aluna lagi.

Namun kali ini jauh lebih brutal.

Perebut laki orang.

Pembawa sial.

Perempuan murahan yang menghancurkan dua keluarga besar.

Dan yang paling menyakitkan—

netizen mulai menyerang wajah Aluna habis-habisan.

“Aku jelek banget ya…”

gumam Aluna pelan sambil membaca komentar.

Tangannya gemetar kecil.

Karena ribuan orang yang bahkan tidak mengenalnya sekarang menghina dirinya tanpa ampun.

“Pantesan keluarganya nggak suka.”

“Modal hamil doang.”

“Cewek kayak gini kok bisa dapet CEO?”

Dadanya terasa sesak.

Semakin dibaca, semakin sakit.

Sampai tiba-tiba—

ponselnya langsung direbut pelan.

“Jangan dibaca.”

Suara Arsen terdengar dingin.

Aluna menoleh pelan.

Laki-laki itu berdiri di depannya sambil menatap layar ponsel dengan rahang mengeras.

“Aku cuma…”

“Kamu nggak perlu denger omongan sampah kayak gitu.”

Arsen mematikan layar ponsel lalu meletakkannya jauh dari Aluna.

Namun perempuan itu malah tertawa kecil pahit.

“Mungkin mereka benar.”

Tatapan Arsen langsung berubah.

“Aku bukan siapa-siapa dibanding dunia kamu.”

Sunyi.

Aluna menunduk.

Tangannya saling menggenggam pelan.

“Kadang aku juga bingung kenapa semua ini bisa terjadi…”

Karena semuanya terasa nggak nyata.

Dirinya yang biasa hidup sederhana…

sekarang berada di tengah dunia orang kaya penuh skandal dan permainan kekuasaan.

Dan dirinya nggak cocok di sana.

Sama sekali nggak cocok.

Namun tiba-tiba—

Arsen mengangkat dagunya pelan.

Memaksa Aluna melihat matanya.

“Lihat saya.”

Napas Aluna langsung tertahan.

Tatapan laki-laki itu serius banget.

“Saya nggak pernah malu punya kamu.”

Kalimat itu langsung membuat mata Aluna memanas lagi.

“Bahkan kalau seluruh dunia hina kamu…”

Tatapan Arsen melembut.

“Saya tetap pilih kamu.”

Air mata Aluna akhirnya jatuh lagi.

Karena laki-laki itu terlalu tulus.

Dan justru itu yang membuat dirinya makin takut kehilangan.

Namun sebelum suasana berubah lebih emosional—

Daniel kembali masuk tergesa.

“Tuan.”

Tatapan Arsen langsung berubah dingin.

“Ada apa?”

“Nona Cassandra datang.”

Tubuh Aluna langsung menegang.

“Hah?”

Sedangkan Arsen terlihat kesal dalam satu detik.

Karena hanya ada satu Cassandra yang mungkin datang ke tempat ini.

Mantan tunangan pilihan keluarganya.

Dan beberapa detik kemudian—

suara heels mahal terdengar dari luar rumah.

Tak.

Tak.

Tak.

Lalu muncullah seorang wanita cantik dengan dress putih elegan dan aura mahal yang langsung memenuhi ruangan.

Tatapan wanita itu pertama kali jatuh ke Arsen.

Lalu perlahan berpindah ke Aluna.

Dan senyum tipis di bibirnya langsung membuat perut Aluna terasa nggak nyaman.

“Aku akhirnya lihat juga perempuan yang bikin kamu hancur begini, Arsen.”

1
T28J
/Rose//Rose//Rose/
MayAyunda
keren kak👍👍
kentos46: makasih kak kalau sukaa 😍
total 1 replies
Suhirno Cilok
Lanjut.👍
kentos46: sudahh yaa kak
total 1 replies
kentos46
makasih sudah membaca, jangan lupa tinggalkan jejak yaa
kentos46
punya cerita lain ga kak
Clarice Diane
semangat kak💪
kentos46: makasih kak 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!