Tiga tahun lamanya Andini mencurahkan seluruh pengabdiannya sebagai istri saleha, namun ia justru dihempaskan ke titik terendah dalam hidupnya. Ia diusir tanpa membawa uang sepeser pun oleh Reno, suaminya sendiri, yang lebih memilih Siska karena pengakuan kehamilannya. Setelah kenyang menerima hinaan sebagai perempuan mandul yang sekadar menumpang hidup, Andini bersumpah untuk bangkit dari puing-puing kehancurannya.
Saat Andini akhirnya berhasil bertransformasi menjadi sosok wanita karier yang mandiri, elegan, dan sulit digapai, Reno datang kembali sambil merangkak penuh penyesalan. Namun, sebuah map cokelat yang telah disiapkan Andini siap meruntuhkan sisa-sisa kesombongan pria itu. Sebuah rahasia medis yang mencengangkan akhirnya terungkap: Reno sebenarnya mandul, dan anak yang selama ini ia puja-puja hanyalah buah dari pengkhianatan Siska. Inilah saatnya karma instan mulai bekerja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fluffy Dream, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Bayangan dari Masa Lalu
Riuh tepuk tangan yang membahana di dalam ballroom Ritz-Carlton malam itu seolah hanya terdengar lamat-lamat di telinga Farhan. Ia masih terpaku pada ponsel yang tergenggam erat di telapak tangannya. Nama Adrian Wijaya terus bergema di benaknya, mirip alarm bahaya yang berdering nyaring tanpa henti. Wijaya Corps bukan lagi sekadar lawan bisnis kelas teri seperti perusahaan properti milik Reno; mereka adalah raksasa lama yang dikenal sebagai pemangsa di lantai bursa dan tak pernah ragu menghalalkan segala cara untuk menghancurkan musuh.
"Mas Farhan? Ayo, kita naik ke panggung," bisik Andini lembut sembari menyentuh lengan jas suaminya. Senyumnya tetap merekah manis di hadapan para fotografer, namun sorot matanya yang jeli tak mampu menyembunyikan rasa heran melihat perubahan raut wajah Farhan.
Farhan tersentak. Dalam hitungan detik, ia menarik napas panjang, berusaha mengunci rapat kepanikan yang berkecamuk di dadanya, lalu memamerkan senyum terbaik khas pria keluarga Al-Fatih. "Ayo, Sayang. Ini malam istimewamu."
Farhan menggandeng tangan Andini, menuntun sang istri melangkah ke atas panggung runway yang benderang. Kilatan lampu kamera jurnalis menyambar-nyambar layaknya petir di tengah malam. Di atas panggung, Andini menerima buket besar mawar putih dari perwakilan asosiasi mode internasional. Riuh rendah pujian memenuhi ruangan. Andini melambaikan tangan dengan anggun, membungkuk takzim kepada para tamu, dan menatap Ibu Maryam yang tersenyum bangga di barisan depan sambil menggendong Baby Nadir yang bertepuk tangan kecil.
Bagi semua orang yang hadir, itu adalah pemandangan yang sempurna. Sebuah takhta yang berhasil direbut kembali oleh seorang wanita yang dahulu pernah terbuang. Namun, di balik itu semua, Farhan menyadari bahwa fondasi takhta ini baru saja diguncang oleh bom waktu yang sengaja dipasang oleh Tante Sofia sebelum wanita tua itu jatuh miskin.
Dua jam kemudian, kegembiraan acara berganti menjadi ketegangan yang pekat di dalam mobil Alphard yang membawa mereka pulang. Baby Nadir sudah tertidur pulas dalam pelukan Ibu Maryam di baris kursi tengah. Sementara itu, di barisan paling belakang, Andini duduk merapat ke arah Farhan. Suasana kabin begitu hening, hanya menyisakan deru halus mesin yang membelah jalanan protokol Jakarta yang mulai lengang.
"Mas... sebenarnya ada apa?" tanya Andini dengan suara yang sangat lirih agar tidak membangunkan putranya. Jari-jarinya menyusup di antara jemari Farhan, merasakan telapak tangan suaminya yang terasa agak dingin. "Sejak telepon di ballroom tadi, tatapan Mas berubah. Tolong jangan sembunyikan apa pun dariku. Kita sudah berjanji akan menghadapi badai apa pun bersama-sama."
Farhan menoleh, menatap wajah istrinya yang masih menyisakan riasan tipis dari acara tadi. Ada rasa sesal yang menyelinap di hati Farhan karena harus menodai malam bahagia Andini dengan kabar buruk. Namun, ia pun paham bahwa merahasiakan kebenaran dari wanita secerdas Andini adalah sebuah kesalahan besar.
Farhan menghela napas panjang, lalu merogoh ponselnya untuk memutar rekaman panggilan otomatis yang terpasang di perangkatnya. Ia mendekatkan speaker ponsel itu ke telinga Andini.
Suara berat dan penuh intrik milik Adrian Wijaya kembali terdengar, mengulang ancaman dingin mengenai kebocoran rahasia dagang serat kain sutra anti-radiasi milik Nadir Label serta draf tender CBD Menteng.
Mendengar rekaman tersebut, rona di wajah Andini perlahan memudar. Tubuhnya menegang seketika. Serat kain sutra anti-radiasi adalah proyek riset rahasia yang dikembangkan oleh Nadir Label bersama laboratorium tekstil di Jerman selama enam bulan terakhir. Inovasi masa depan itulah yang akan menjadi senjata utama mereka untuk menembus pasar medis dan fashion kelas atas di Eropa. Jika dokumen itu bocor ke tangan Wijaya Corps, mereka bisa mematenkannya lebih dulu dan menuduh Nadir Label melakukan plagiarisme.
"Tante Sofia..." desis Andini dengan mata berkaca-kaca karena tidak percaya. "Bagaimana mungkin dia setega itu? Dia sudah kalah di sidang arbitrase, hartanya pun sudah disita, kenapa dia masih saja ingin menghancurkan masa depan perusahaan kita?"
"Karena dia merasa sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan, Ndin," jawab Farhan dengan rahang yang mengeras. "Orang yang sudah kehilangan segalanya adalah orang yang paling berbahaya. Dia tidak lagi peduli pada uang; dia hanya ingin kita ikut hancur bersamanya. Adrian Wijaya membelinya dengan harga murah, dan sekarang Wijaya Corps memegang peluru kendali yang siap ditembakkan ke jantung Al-Fatih Group."
Farhan menarik Andini ke dalam dekapannya, mengusap punggung istrinya dengan lembut. "Maafkan aku, Sayang. Seharusnya aku bisa menutup semua celah sebelum ini terjadi."
Andini menggelengkan kepala di dada Farhan. Ia menghapus air mata yang sempat mengintip di sudut matanya, lalu mendongak dengan tatapan yang kembali tajam dan penuh tekad. "Tidak, Mas. Ini bukan salahmu. Kita tidak bisa mengontrol kegilaan orang lain, tapi kita bisa mengontrol cara kita menghadapinya. Jika Adrian Wijaya mengira dia bisa menakut-nakuti kita dalam semalam, maka dia telah salah menilai kekuatan kita."
Keesokan paginya, suasana di lantai teratas gedung Al-Fatih Group di kawasan Sudirman sudah berubah layaknya ruang perang. Sejak pukul enam pagi, Farhan telah mengumpulkan Ahmad dari divisi legal, Citra selaku direktur operasional Nadir Label, serta beberapa kepala divisi intelijen bisnis mereka.
Di atas meja rapat yang luas, berbagai draf laporan mengenai Wijaya Corps sudah berserakan.
"Adrian Wijaya baru saja mengambil alih kepemimpinan penuh di Wijaya Corps dari ayahnya sebulan yang lalu," papar Ahmad sambil menampilkan profil Adrian di layar proyektor. Pria dalam foto itu tampak berusia pertengahan tiga puluh tahun, berwajah tampan dengan rahang tegas, namun memiliki sorot mata yang dingin dan penuh perhitungan.
"Dia lulusan terbaik bidang hukum korporasi dari Harvard, terkenal dengan julukan Si Jagal di dunia bisnis karena kerap mengakuisisi perusahaan yang sedang goyah dengan cara yang kejam. Berdasarkan laporan intelijen kami, pagi ini Wijaya Corps secara resmi mendaftarkan hak paten atas formula serat kain sutra anti-radiasi di Dirjen HKI Jakarta, menggunakan data yang identik dengan draf riset milik Nadir Label," lanjut Ahmad.
"Kurang ajar!" umpat Citra dengan wajah memerah menahan amarah. "Itu hasil kerja keras tim desainer dan peneliti kita selama berbulan-bulan! Bagaimana mungkin mereka bisa mendaftarkannya lebih dulu?!"
"Mereka bergerak sangat cepat karena tahu kita belum meluncurkannya secara resmi ke publik," sahut Farhan tenang, namun ketenangannya justru memancarkan aura bahaya yang besar. "Adrian ingin mengunci ruang gerak Nadir Label. Begitu kita mulai memproduksi kain itu, mereka akan langsung menuntut kita atas pelanggaran hak paten."
"Bukan hanya itu, Pak Farhan," tambah Ahmad dengan raut wajah yang semakin serius. "Pihak kementerian baru saja mengirim surat pemberitahuan. Akibat adanya dugaan kebocoran data dan sengketa internal terkait draf tender CBD Menteng, keikutsertaan Al-Fatih Group dalam proyek strategis senilai triliunan rupiah tersebut terancam ditangguhkan demi hukum."
Ketegangan di dalam ruang rapat semakin memuncak. Adrian Wijaya tidak sedang main-main; ia telah meluncurkan dua serangan mematikan yang sanggup melumpuhkan dua sayap bisnis terbesar keluarga Al-Fatih sekaligus.
Tepat saat semua orang di ruangan itu terdiam mencari solusi, pintu ruang rapat terbuka. Andini Larasati melangkah masuk dengan mantap. Ia tak lagi mengenakan gaun adibusana seperti malam tadi, melainkan setelan kerja formal berwarna hitam yang memberikan kesan sangat tegas.
"Jangan pernah menangguhkan proyek atau membatalkan produksi," suara Andini memecah keheningan, membuat seluruh pasang mata menoleh ke arahnya.
Farhan bangkit dari kursinya. "Andini? Kenapa kamu ke sini?"
Andini berjalan mendekati meja rapat, lalu menatap Farhan dan timnya satu per satu dengan senyuman tipis yang sarat akan siasat. "Mas, Adrian Wijaya mengira dia sudah memegang kartu as kita. Tapi dia melupakan satu hal penting: draf yang dicuri oleh Tante Sofia adalah draf versi tiga bulan yang lalu. Mereka tidak tahu bahwa bulan lalu, kita sudah mengubah struktur kimia inti dari serat kain tersebut untuk versi finalnya."
Andini membuka tablet miliknya dan menggeser sebuah dokumen baru ke layar proyektor utama.
"Biarkan Adrian mematenkan formula lama itu. Kita biarkan dia merasa menang di atas angin selama minggu ini. Begitu dia meluncurkannya ke publik, kita akan menjatuhkannya dengan bukti kuat bahwa formula yang dia patenkan adalah produk cacat yang gagal dalam uji klinis," ujar Andini dengan binar mata yang tajam dan cerdas. Sebuah serangan balik yang elegan telah matang dirancang di dalam kepala sang ratu.