Melina Khairunisa seorang gadis berusia 19 tahun, yang tumbuh di panti asuhan tanpa tahu siapa orangtua kandungnya. Dirinya harus dipaksa menikah dengan putranya---Ishan Ganendra atas desakan Nyonya rumah bernama Adisti Ganendra, tempatnya bekerja sebagai ART.
Ishan Ganendra sebagai Aktor terkenal berusia 30 tahun, dan sudah memiliki kekasih---Livia Kumara seorang model papan atas. Setelah menikahi Ishan----tak sekalipun Melina di perlakukan selayaknya istri, bahkan seringkali mendapatkan KDRT, sikap kasar, dan ucapan yang menyakitkan hati dari mulut Ishan.
Suatu saat Karena Konspirasi dibuat Livia, membuat Melina masuk penjara dan Ishan meragukan anak di kandungannya.
Hidup selalu adil, di saat terpuruk Melina bertemu orangtua kandungnya seorang Perwira TNI dan Dokter berpengaruh, yang memiliki pengaruh besar sehingga Melina bisa bebas dari penjara. Bagaimana reaksi Ishan setelah tahu Melina tak bersalah dan anak yang dikandung Melina adalah anaknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Sabina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Empat hari kemudian.
Suasana di ruangan tengah kediaman Ganendra suara teriakan marah terdengar, Melina baru saja selesai membantu Adisti di dapur.
Saat di ruang tengah gadis malang ini, harus mendapatkan murka dari Ishan.
Ishan selama tiga hari syuting di Bali, dan melihat foto saat Melina berpelukan dengan Alvaro.
Plak!
Suara tamparan menggema ke seluruh ruangan, membuat gadis yang mengenakan celana kulot berwarna merah muda, dan atasan lengan pendek santai menjadi tersungkur ke lantai.
"Dasar wanita murah! Aku sudah katakan jauhi pria itu!" teriak Ishan dengan suara menggelegar.
Melina tersungkur dengan tangan memegang pipinya, padahal dirinya dan Alvaro tak pernah bertemu kecuali di kampus.
Ishan menarik rambut Melina, gadis itu meringis kesakitan saat rambutnya di tarik oleh suaminya.
"Mas...ampun sakit," ucap lirih Melina tangannya memegang kepalanya.
Ihsan begitu posesif, padahal selama di Bali dirinya tidur dengan Livia. Bahkan melakukan hubungan menggunakan alat-alat khusus.
Pecutan, penjepit dan lainnya.
Tapi di rumah Ihsan begitu murka kepada Melina, karena sudah berani berdekatan dengan pria lain.
Padahal di kampus dirinya dan Alvaro tak ada hubungan apapun, hanya sekedar sahabat saja.
Meski Alvaro mencintai Melina, tapi gadis ini belum mau menerimanya karena fokus belajar.
PLAK!
Sekali lagi Ishan menampar wajah Melina hingga memerah dan lebam.
Suara tamparan itu keras dengan gema yang kuat di ruangan itu, Melina terhuyung hingga tubuhnya merosot terduduk di lantai marmer yang dingin.
Tangannya memegang pipi kirinya yang terasa panas dan berdenyut nyeri.
Air mata langsung luruh membasahi pipi gadis yang berusia sembilan belas tahun itu.
"Sudah saya katakan! Kamu itu istri saya kenapa kamu dekat dengan pria lain! Apa kalo kamu hamil ama pria lain! anak itu mau di aku anak saya!" tuduh Ihsan.
Mata Melina menatap suaminya dan hanya menggelengkan kepalanya, tampak Ishan sangat emosi.
Pria yang mengenakan atasan warna biru lengan pendek dan celana training warna coklat tua itu, memegang ponsel yang menampilkan foto-foto Melina dan Alvaro di Kampus.
"Siapa pria ini!" teriak Ishan mencengkram dagu Melina.
Gadis dengan wajah sudah memerah karena bekas tamparan, dan air mata itu menatap suaminya tanpa mau berkata banyak.
Adisti yang baru saja selesai menyerahkan paket kue kepada kurir Grabfood.
Langkahnya masuk dan berlari saat Bi Nisa melaporkan mengenai Melina.
Melina yang di pukuli oleh Ihsan karena di duga selingkuh, meski Melina sudah berusaha menjelaskannya.
Adisti berteriak saat melihat Melina bersimpuh di lantai dengan pipi yang merah dan lebam.
"Astagfirullah Melina!" teriak Adisti.
Mendengar sang ibu teriak Ishan langsung melepaskan cengkraman di dagu istrinya.
Adisti kaget melihat menantunya sudah tersungkur di lantai, wanita yang berpenampilan anggun itu melihat Melina pipinya sudah memerah dan ada sedikit lebam di wajahnya.
Adisti tampil dengan atasan hitam dengan bordir mutiara dan rok biru muda, rambutnya warna hitam di cepol rapi.
"Apa yang kamu lakukan Ishan?!" teriak Adisti.
Ishan hanya menunjukkan gambar-gambar itu pada Adisti, dan melihat Melina di peluk oleh Alvaro.
"Mah itu nggak bener, aku ama Alvaro nggak ada hubungan apapun."
Melina berkata dengan isak tangis.
"Coba jelasin!" teriak Adisti.
"Kalo mama ama Mas Ishan nggak percaya bisa telepon Alvaro, dia temen aku. Aku ama dia cuman sahabat kuliah aja."
Melina meraih ponselnya dan menelepon Alvaro, singkatnya Alvaro juga menjelaskan jika hubungannya dengan Melina hanya sahabat.
Adisti langsung menghampiri Melina dan memeluk gadis itu erat, berusaha memberikan perlindungan.
"Ishan! Apa-apaan kamu?! Dia itu istrimu!" bentak Adisti pada putra tunggalnya.
"Lain kali tanyakan dulu jangan main pukul aja," ucap Adisti memeluk Melina.
Melina mendongak dengan mata sembab dan keberanian yang tersisa di tengah isak tangis.
"Lalu bagaimana dengan Mas? Bagaimana hubungan kamu sama Mbak Livia, Mas?" tanya Melina telak.
Seketika suasana hening, Adisti menatap tajam pada Ishan.
Ishan tertegun dan rahangnya mengeras mendengar nama itu di sebut.
Adisti yang memeluk Melina, perlahan menatap Ishan dengan tatapan tajam, menuntut penjelasan.
"Kamu masih ada hubungan ama Livia!" teriak Adisti.
"anu..anu mama---" ucap Ishan yang kali ini menjadi kikuk.
Suasana seketika membeku, Melina sudah sangat lelah dengan sikap Ishan yang suka KDRT tanpa mau mendengar penjelasannya.
"Mama minta penjelasan Ishan!" bentak Adisti menatap ke arah putranya.
"Berarti bener kamu masih ada hubungan ama Livia!" teriak Adisti menatap putranya.
Adisti masih memeluk Melina yang menangis dan ketakutan, pipi kanan dan kiri Melina sudah memerah di sertai lebam karena Ishan memukulnya.
"Hanya karena kamu cemburu, bukan berarti kamu punya hak untuk memukul istri kamu. Apalagi jika kamu sendiri tidak menjaga kesetiaanmu!" marah Adisti menatap putranya.
"Mah aku sebenernya ama Livia---"
kalimat Ishan langsung di potong oleh Adisti.
"Telepon Livia mama mau bukti!" ucap Adisti dengan tegas.
"Jangan mah...Livia lagi sibuk," ucap Ihsan yang tiba-tiba gagap.
"Itu alasan kamu Ishan!" marah Adisti.
"Lagian kamu kenapa memukul Melina, dia istri kamu! Kalo kamu begini mulu, mama terpaksa menjauhkan Melina dari kamu!" ancam Adisti kepada Ishan.
Ishan tersenyum sinis.
"Yaudah jauhin aja, aku malah bersyukur mah! Lagian siapa yang mau nikahin gadis panti asuhan yatim piatu begitu!" tunjuk Ishan menghina istrinya.
"Cukup, Ishan! Masuk ke kamarmu sekarang!" perintah Adisti dengan suara yang lebih rendah namun jauh lebih mengancam.
"Ok aku akan ke kamar dan ingat! barang-barang dia aku keluarin dari kamar!" kata Ihsan.
Sontak Adisti yang mendengar itu segera memanggil Bi Nisa, untuk membantu Melina memindahkan barang-barangnya ke kamar baru.
"BI! Bi Nisa!" teriak Adisti.
"Iya Nya sebentar," sahut Bi Nisa.
"Bi pindahin barang-barang Melina ke kamar bawah ya," ujar Adisti.
Bi Nisa tak mau banyak bertanya, dan tanpa sengaja mendengar konflik antara Ihsan dan Melina.
"Iya Nya," ucapnya.
Ishan masuk kamar dan benar saja barang-barang Melina di lempar dengan kasar, dari baju-baju hingga buku-bukunya.
"Astagfirullah Tuan!" teriak Bi Nisa.
"Jangan begini, ini barang biar saya rapikan kasian Non Melina...," ucap Bi Nisa dengan lirih.
Ihsan hanya berdecih dengan kesal.
"Cepetan bawa barang-barang parasit ini keluar! Karena gua nggak sudi nerima dia di kamar gua!" teriak Ihsan melempar baju-baju Melina.
Bi Nisa hanya bisa mengucap 'Astagfirullah' atas kelakuan majikannya, karena sungguh tak ada hati nurani pria ini kepada istrinya.
Jika tak mencintai Melina setidaknya jangan melakukan kekerasan pada istrinya, dan seharusnya Ihsan belajar mencintai Melina.
*
*
*
*
*
*
*