NovelToon NovelToon
Kembali 2.000 Tahun Ke Masa Lalu

Kembali 2.000 Tahun Ke Masa Lalu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Trauma masa lalu / Action / Time Travel / Romansa / Sci-Fi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Adam Erlangga

Di masa depan, ketika perang telah membakar Bumi hingga tak tersisa lagi kehidupan, Rudy adalah seorang jenderal perang, pemegang kendali tertinggi kecerdasan buatan dan armada pemusnah umat manusia. Ia menang dalam perang terakhir, namun kehilangan segalanya.

Sebuah insiden ruang-waktu menyeret Rudy ribuan tahun ke masa lalu, ke era ketika dunia belum mengenal teknologi dan keadilan, ia membawa kekuatan yang cukup untuk menaklukkan segalanya, namun ia memilih jalan lain.

Tanpa merebut tahta, Rudy menantang tirani, melindungi yang lemah, dan membentuk dunia agar tak mengulangi kehancuran yang pernah ia lihat. Di tengah konflik dan kekuasaan, ia menemukan cinta, hidup sebagai manusia, lalu menghilang bersama waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adam Erlangga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21

Istana Kekaisaran Andorra.

Rachel masuk melalui pintu rahasia yang tidak pernah di ketahui oleh siapapun. Setelah masuk istana, ia langsung menuju ke kamarnya.

Lalu tiba-tiba, Mona berlari dan berteriak

"Yang Mulia."

Rachel pun menghentikan langkah nya. Lalu menoleh ke arah Mona.

"Ha.?" Mona pun terkejut saat melihat wajah Rachel.

"Ada apa.?"

"Ehm, Yang Mulia, apa benar Anda Yang Mulia Ratu.?"

"Ada apa.? kenapa kai bertanya seperti itu.?"

"Ah, tidak ada apa-apa. Hanya saja wajah Yang Mulia terlihat bercahaya, bersih dan mulus. Benar-benar berbeda dari sebelumnya."

"Benarkah.? apa aku terlihat cantik?"

Glek. Mona menelan ludah

"Ah, bukan hanya cantik, mungkin bisa di katakan sangat cantik."

"Uhm" Rachel tersenyum

Jleb. "Uhagh" Mona seperti merasakan jantung nya di tusuk. Wajahnya memerah, itu pertama kalinya ia melihat Rachel tersenyum. Apalagi wajahnya sekarang jauh lebih cantik.

"Ada apa.?"

"Huh huh, sepertinya aku sedang jatuh cinta." sahut Mona.

"Hm? dengan siapa.?"

"Yang Mulia Ratu. Ini pertama kalinya aku melihat Yang Mulia tersenyum, apalagi wajah Anda sekarang sangat cantik."

"Jaga bicara mu. Kau itu perempuan, bisa-bisanya jatuh cinta pada sesama perempuan."

"Ah, maafkan saya Yang Mulia."

"Jadi, ada masalah apa lagi.?"

"Ah iya. Semua para pejabat mengirimkan petisi ke istana. Alasannya karena Yang Mulia menolak semua dokumen proyek para menteri. Tanpa persetujuan Anda, dana negara tidak bisa di keluarkan."

"Hm, masalah itu lagi ya. Kalau begitu, undang para menteri ke ruang kerjaku saja. Tidak perlu persidangan."

"Baik Yang Mulia."

....

Beberapa saat kemudian.

Rachel sudah menunggu para menteri di ruang kerjanya. 20 Menteri pun langsung hadir disana menggunakan pakaian resmi.

Saat sebelum mereka masuk, mereka sudah berencana untuk mengundurkan diri secara serentak, dan mulai mendukung kekuasaan baru.

Ini adalah Ancaman bagi Rachel, karena yang akan menggantikan posisinya adalah Benjamin, paman Rachel sendiri.

Rachel sudah tau, kalau Benjamin naik tahta, ia tidak lebih dari seekor budak keluarga Harrington. Sebelumnya, Rachel tidak peduli. Tapi sekarang ia benar-benar memperjuangkan tahtanya.

....

"Para Menteri menghadap Yang Mulia Ratu."

Semua Menteri pun langsung masuk secara bersamaan.

"Kami menghadap Yang Mulia Ratu."

"Angkat kepalanya."

"Terima kasih Yang Mulia."

"Hm." sahut Rachel sambil melihat semua menterinya.

"Ha.?" tentu, para menteri disana sangat terkejut saat melihat wajah Rachel. Mereka semua mulai berbisik-bisik.

"Apa dia Yang Mulia Ratu.?"

"Aku merasa sedikit asing."

"Kau benar, bahkan Yang Mulia terlihat sangat cantik."

"Ini bukan cantik lagi, kita seperti menghadap seorang Dewi."

Brian yang mendengar nya pun sedikit risih. Tapi mau tak mau, dia juga mengakui dalam hati.

"Kenapa wajahnya jadi seperti bercahaya begitu.? Bahkan ini hanya dua hari setelah pertemuan terakhir kami, kenapa wajahnya jadi cantik seperti itu. Harus aku akui, memang cantik"

Secara alamiah, laki-laki akan tertarik dan luluh saat melihat pesona kecantikan perempuan. Semarah-marahnya mereka kepada penguasa, tetap saja tidak bisa berpaling mata di hadapan wanita cantik. Hati dan perasaan mereka juga terguncang.

"Tolong cubit aku, mataku tidak bisa berkedip."

"Aku juga sama, hatiku terasa Damai saat melihatnya."

"Ingat kau sudah tua, kau punya anak istri, tidak sopan melihat Yang Mulia Ratu seperti ini." kata Jhon.

"Kau juga sama kan, bahkan kau sampai berkeringat."

Rachel yang melihat mereka pun merasa risih. seakan-akan mereka melihat makanan lezat yang ingin di santap.

"Lancang. jaga mata kalian." teriak Rachel.

"Ah, Maafkan kami Yang Mulia. Kami hanya merasa, Anda sedikit berbeda dari sebelumnya. Maafkan kami." kata Jhon.

"Hm, baik. Aku memanggil kalian kesini, karena aku menerima 20 petisi dari kalian semua. Termasuk perdana menteri dan seorang Duke. Petisi ini masih belum aku baca satu persatu. Jadi, apa perlu aku baca sekarang.?"

"Ah, Yang Mulia, kami akan menarik petisinya. Mungkin karena Anda sudah bersedia menemui kami, kami akan menarik petisinya." kata Jhon.

"Benar Yang Mulia, saya setuju."

"Saya juga setuju." "saya juga" "saya juga"

Satu persatu menteri setuju untuk menarik petisi mereka. Hanya satu yang masih berdiri sambil memejamkan matanya.

"Yang Mulia, kami sebenarnya ingin majukan petisi terkait masalah dokumen proyek. Dari semua proyek yang di ajukan, adalah proyek mangkrak 1 tahun yang lalu. Jadi kami ingin mendengar alasan, kenapa Yang Mulia menolak semuanya." Kata Jhon.

"Baik, alasan pertama adalah karena proyek ini di setujui oleh mendiang kaisar sebelumnya, bukan kaisar yang sekarang. Kedua, aku tidak menerima sketsa lengkap dari puluhan proyek yang di ajukan. Ketiga, dana negara tidak cukup untuk menyetujui semua proyek. Keempat, aku tidak ada mengajukan hutang demi proyek kalian."

Dalam sekejap saja, wajah mereka mulai ketakutan. Brian pun maju.

"Yang Mulia, proyek ini sangat penting bagi rakyat, jika proyek ini di gagalkan, rakyat pasti akan kecewa. Dampaknya sangat besar bagi Kekaisaran."

"Dasar penghianat. Tunggu saja, apa yang akan kau lakukan ketika proyek pelabuhan tidak di setujui." kata Rachel dalam hati.

"Aku tau, semua proyek kalian ini sangat penting bagi rakyat. Tapi aku punya syarat."

"Yang Mulia, ini adalah kepentingan rakyat, tidak bisa Anda bicara syarat kepada rakyat." kata Brian.

"Aku bukan bicara syarat pada rakyat, tapi pada kalian."

"Hm?"

"Syarat pertama, aku minta dengan detail proyek yang di ajukan, termasuk dampak bagi rakyat, dan keuntungan bagi Kekaisaran."

"Yang Mulia, kita tidak bisa membicarakan keuntungan untuk kepentingan rakyat. Semua di bangun untuk kebutuhan rakyat." kata Brian.

"Ehm begitu ya. Karena rakyat tidak memiliki kapal di laut, artinya cukup dengan dermaga dagang saja, tidak perlu membangun pelabuhan besar lainnya. Begitu ya?."

"Ha.? Yang Mulia, justru pelabuhan itu sangat penting bagi rakyat, Anda harus menyetujui proyek itu. Dengan adanya pelabuhan baru, para pedagang dan nelayan bisa lebih leluasa berlabuh."

"Hmm, apa dermaga seluas itu tidak cukup? aku rasa dermaga sekarang bisa menampung ribuan nelayan, bahkan puluhan kapal dagang. Apa kau ingin memberikan ruang bagi yang lain.?"

Sontak saja, Brian langsung terkejut bukan main, tubuhnya langsung membeku tidak bisa berkata-kata. Jhon pun bicara

"Yang Mulia, pembangunan pelabuhan baru memang sangat penting, tapi tidak terlalu mendesak. Jadi mohon di pertimbangan lagi."

Brian yang mendengar nya langsung menoleh ke arah Jhon dengan wajah marah.

"Hm, kau benar. Memang penting, tapi tidak mendesak, jadi proyek pelabuhan aku tolak. Untuk proyek lainnya masih aku pertimbangan."

"Yang Mulia, pembangunan itu sangat mendesak dan sangat penting."

"Ya, penting bagi rakyat, atau bagimu.?" sahut Rachel.

Brian benar-benar kehilangan Kata-kata.

"Sudahlah. Untuk syarat kedua sebelum aku meninjau ulang proyek kalian adalah, tunjukan aku buku hutang Andorra semasa pemerintahan Kaisar James. Aku tunggu laporan kalian, dari menteri mana yang pernah mengajukan hutang, dan berapa banyak hutang itu."

"Yang Mulia." teriak Brian.

"Rapat kali ini aku tutup." sahit Rachel dan langsung meninggalkan ruang kerjanya.

"Atas kehendak Yang Mulia, rapat di tutup."

Wajah mereka semua langsung ketakutan bukan main, bukan hanya Brian saja, tapi semua menteri termasuk Jhon yang setia pada Keisar.

....

1
anggita
antara 220 sama 2220...gak jauh selisih 2 tok😉
anggita
mampir like👍, iklan👆saja. moga novelnya lancar.
Adam Erlangga: 🙏terimakasih dukungan nya kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!