Dalam kehidupan keduanya, Mahira Qalendra terbangun dengan ingatan masa lalu yang tak pernah ia miliki—sebuah kehidupan 300 tahun silam sebagai putri kesultanan yang dikhianati. Kini, ia terlahir kembali di keluarga konglomerat Qalendra Group, namun fragmen mimpi terus menghantuinya. Di tengah intrik bisnis keluarga dan pertarungan harta warisan, ia bertemu Zarvan Mikhael, pewaris dinasti Al-Hakim yang membawa aura familiar. Sebuah pusaka kuno membuka pintu misteri: mereka adalah belahan jiwa yang terpisah oleh pengkhianatan berabad lalu. Untuk menemukan cinta sejati dan mengungkap konspirasi yang mengancam kedua keluarga, Mahira harus menyatukan kepingan masa lalu dengan kenyataan yang keras—sebelum sejarah kelam terulang kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TRANSISI KE BAB 21: Ketika Masa Lalu Memanggil Kembali
#
Malam setelah pertemuan keluarga besar itu, Mahira tidak bisa tidur.
Bukan karena cemas. Bukan karena takut. Tapi karena ada sesuatu yang... menariknya. Seperti ada yang memanggil. Berbisik pelan di kepalanya. Suara yang tidak asing tapi juga tidak familiar.
"Datanglah."
Mahira terbangun dengan keringat dingin. Jam menunjukkan pukul dua pagi. Di sampingnya, Raesha tidur nyenyak—kakaknya memaksa tidur sekamar sejak insiden di ruang rapat. Tapi Mahira tidak bisa diam lebih lama.
Ia bangkit pelan, mengambil Tasbih Cahaya dari meja nakas, dan keluar dari kamar tanpa suara.
Rumah nenek—rumah besar tempat mereka menginap malam ini—terasa berbeda di tengah malam. Koridor-koridor gelap dengan lampu redup. Lukisan-lukisan tua yang seperti menatap. Dan... suara. Suara langkah kaki halus yang bukan dari Mahira.
Ia berhenti. Mendengar.
Tidak ada apa-apa. Tapi perasaan diikuti tidak hilang.
"Datanglah ke perpustakaan."
Suara itu lagi. Kali ini lebih jelas. Suara wanita. Lembut tapi tegas.
Mahira mengikuti suara itu—atau lebih tepatnya, kakinya bergerak sendiri—menuju perpustakaan keluarga. Perpustakaan yang sama tempat mereka menemukan brankas rahasia beberapa hari lalu. Perpustakaan yang sudah dibereskan setelah kejadian Khaerul menghancurkannya.
Pintunya sedikit terbuka. Cahaya bulan dari jendela besar menerangi ruangan dengan warna keperakan. Dan di tengah ruangan—berdiri di depan lukisan besar Sultan Mahmud—ada seseorang.
Mahira hampir berteriak. Hampir lari. Tapi tubuhnya tidak bergerak.
Karena sosok itu... transparan. Seperti kabut yang berbentuk manusia. Seperti—
"Jangan takut, Putri Mahira."
Suara itu keluar dari sosok transparan itu. Dan perlahan—sangat perlahan—sosok itu berbalik.
Wanita. Wanita cantik dengan rambut panjang terurai, memakai kebaya kuno dengan kain batik. Wajahnya lembut, matanya teduh, tapi ada kesedihan mendalam di sana. Dan yang paling aneh—Mahira bisa melihat tembus tubuhnya. Bisa melihat rak buku di belakangnya.
"Siapa... siapa kamu?" suara Mahira gemetar.
"Namaku Alzena." Wanita itu tersenyum—senyum yang hangat tapi juga menyedihkan. "Aku adalah penjaga pusaka keluarga Qalendra. Sudah 300 tahun aku menunggu. Menunggu kamu datang."
---
Mahira mundur selangkah. Tasbih Cahaya di tangannya bergetar—tapi tidak panas. Tidak memberi peringatan bahaya. Justru... hangat. Menenangkan.
"Penjaga pusaka?" ulangnya dengan suara yang nyaris hilang. "Kamu... kamu hantu?"
"Aku bukan hantu, Putri." Alzena—atau apapun sosok itu—melangkah lebih dekat, tapi kakinya tidak menyentuh lantai. Ia... melayang. "Aku adalah roh yang terikat sumpah. Sumpah untuk menjaga keluarga keturunan Sultan Mahmud hingga kutukan terputus."
"Kutukan..." Mahira menelan ludah. "Kamu tahu soal kutukan itu?"
"Tentu aku tahu. Aku yang menyaksikan semuanya." Mata Alzena berkaca-kaca—air mata yang tidak jatuh karena dia bukan makhluk fisik lagi. "Aku adalah pelayan pribadi Putri Aisyara. Aku yang menemani dia sejak kecil. Yang mendengar semua keluh kesahnya. Yang... yang gagal melindunginya saat malam itu terjadi."
Suaranya bergetar di kata terakhir. Dan Mahira merasakan dadanya sesak—bukan karena takut, tapi karena... empati. Rasa sakit yang terpancar dari sosok ini sangat nyata meskipun dia bukan makhluk hidup lagi.
"Kamu... kamu ada saat Aisyara dibunuh?" tanya Mahira pelan.
"Iya." Alzena mengangguk—gerakan yang aneh karena tubuh transparannya seperti kabut yang bergerak. "Aku ada di luar paviliun. Aku dengar teriakan Putri. Aku coba masuk tapi pintu dikunci dari dalam. Dan saat aku akhirnya berhasil masuk—" ia berhenti, wajahnya dipenuhi penyesalan, "—sudah terlambat. Putri sudah... sudah tidak bernapas lagi. Pangeran Zarvan tergeletak dalam darahnya sendiri. Dan Pangeran Khalil... dia tertawa. Tertawa sambil memegang pisau berdarah."
Mahira menutup mulutnya dengan tangan—menahan isak yang ingin keluar. Ini terlalu nyata. Terlalu menyakitkan.
"Lalu apa yang terjadi padamu?" tanyanya setelah berhasil mengontrol napas.
"Aku bunuh diri." Alzena menjawab dengan tenang—terlalu tenang untuk pernyataan seperti itu. "Aku tidak bisa hidup dengan penyesalan. Dengan rasa bersalah. Aku merasa gagal melindungi Putri. Jadi aku... aku akhiri hidupku dengan cara yang sama. Dengan pisau. Di tempat yang sama."
"Ya Allah..." Mahira hampir jatuh—kakinya lemas—tapi entah bagaimana tubuhnya bertahan berdiri.
"Tapi sebelum aku mati," lanjut Alzena, "aku bersumpah. Bersumpah pada Allah bahwa aku akan jaga keturunan Sultan Mahmud. Akan pastikan Putri Aisyara—kalau jiwanya kembali—tidak mengalami hal yang sama lagi. Dan Allah—dengan rahmat-Nya yang luar biasa—terima sumpahku. Dia ikat jiwaku di dunia ini. Tidak di surga. Tidak di neraka. Tapi di antara. Sebagai penjaga. Sebagai pelindung."
Mahira merasakan air mata mengalir. "Kamu... kamu korbankan akhiratmu untuk jaga keturunan Aisyara?"
"Bukan korban, Putri." Alzena tersenyum lagi—senyum yang tulus meskipun penuh kesedihan. "Ini pilihan. Ini... pengabdian. Dan aku tidak menyesal. Karena aku lihat keturunan-keturunan Putri tumbuh. Menikah. Punya anak. Bahagia. Meskipun kutukan selalu mengintai, tapi mereka bertahan. Mereka hidup. Dan itu cukup membuatku... damai."
"Tapi kamu tidak bisa ke surga..." Mahira terisak sekarang—tidak bisa tahan lagi. "Kamu tidak bisa ketemu keluargamu. Tidak bisa—"
"Aku akan ke surga, Putri. Suatu hari nanti." Alzena mengulurkan tangannya—tangan transparan yang nyaris tidak terlihat—dan menyentuh pipi Mahira. Sentuhan yang dingin tapi juga... menenangkan. "Saat kutukan terputus. Saat kamu dan Pangeran Zarvan bersatu dengan cara yang benar. Saat semua dendam diampuni. Maka sumpahku selesai. Dan aku akan bebas. Akan kembali ke pangkuan Allah yang Maha Pengasih."
Mahira memegang tangan transparan itu—atau mencoba—tapi tangannya menembus seperti kabut. "Aku... aku akan putuskan kutukan ini. Aku janji. Demi kamu. Demi semua yang sudah kamu korbankan."
"Terima kasih, Putri." Alzena menarik tangannya—kabut itu bergerak menjauh. "Tapi ada yang harus kamu tahu. Kutukan ini... lebih kompleks dari yang kamu pikir."
Wajahnya berubah serius. Cahaya bulan yang meneranginya seperti bergetar—atau mungkin tubuhnya yang bergetar.
"Apa maksudmu?" Mahira melangkah lebih dekat.
"Kutukan yang dibuat Putri Aisyara 300 tahun lalu itu kuat. Sangat kuat. Karena dibuat dengan darah. Dengan nyawa. Dengan dendam yang... yang melampaui batas kemanusiaan." Alzena menatap Mahira dengan mata yang penuh peringatan. "Kutukan itu mengikat tiga jiwa: Aisyara, Zarvan, dan Khalil. Kalian akan terus bereinkarnasi hingga... hingga syarat terpenuhi."
"Syarat apa? Ustadz Hariz bilang ada tiga hal: ungkap kebenaran, beri pengampunan, dan—"
"Dan cinta yang tertunda harus terwujud dengan cara yang diridhai Allah," Alzena menyelesaikan. "Iya. Itu benar. Tapi ada satu lagi yang tidak banyak orang tahu. Yang bahkan tidak ditulis di catatan manapun."
Mahira menegang. "Apa itu?"
"Darah harus ditebus dengan darah."
Keheningan.
"Apa... apa maksudmu?" suara Mahira gemetar.
"Khalil membunuh Aisyara dan Zarvan dengan pisau. Dengan darah yang tumpah. Dan kutukan yang dibuat Aisyara—meskipun dia korban—juga menggunakan darah. Darahnya sendiri. Darah Zarvan. Bahkan darah Khalil yang tanpa sadar jadi bagian dari ritual saat pisaunya menyentuh tiga tubuh itu." Alzena melangkah lebih dekat—atau melayang lebih dekat. "Jadi untuk putuskan kutukan, harus ada... pengorbanan darah juga."
"Maksudmu... seseorang harus mati?" Mahira hampir berteriak—tapi ia tahan karena tidak mau bangunkan seluruh rumah.
"Bukan mati, Putri. Tapi... menumpahkan darah secara sukarela. Sebagai simbol pengorbanan. Sebagai simbol bahwa dendam sudah dilepaskan. Bahwa darah yang dulu tumpah karena kebencian, sekarang tumpah karena cinta dan pengampunan."
Mahira menggeleng keras. "Tidak. Tidak. Aku nggak akan biarkan Zarvan terluka lagi. Aku nggak akan—"
"Bukan Zarvan, Putri." Alzena menatapnya dengan pandangan yang... yang membuat Mahira takut. "Yang harus menumpahkan darah adalah... Khalil. Atau lebih tepatnya, Khaerul. Dia harus sukarela—dengan kesadaran penuh—menumpahkan darahnya sendiri sebagai penebusan dosa Khalil di masa lalu."
"Khaerul baru saja pulih dari possession!" Mahira berteriak sekarang—tidak peduli lagi. "Dia baru saja lepas dari Khalil! Dan kamu mau dia—dia apa? Bunuh diri?!"
"Bukan bunuh diri." Alzena menggeleng. "Tapi... ritual. Ritual yang aman. Yang dipandu oleh ulama yang paham ilmu spiritual. Khaerul cuma perlu mengiris tangannya sendiri—luka kecil yang tidak fatal—dan membiarkan darahnya menetes di atas pusaka suci. Di atas Keris Sulaiman yang sekarang ada di museum."
Mahira terduduk di lantai. Kakinya tidak kuat lagi. "Ini... ini terlalu banyak. Terlalu rumit. Kenapa harus—kenapa Allah bikin ini sesulit ini?"
"Karena dosa pembunuhan itu berat, Putri." Alzena berlutut—atau posisi yang menyerupai berlutut—di samping Mahira. "Khalil tidak cuma membunuh dua orang. Dia menghancurkan masa depan. Menghancurkan cinta. Menghancurkan garis keturunan yang seharusnya ada. Dosanya... sangat berat. Dan penebusan untuk dosa seberat itu juga harus berat."
"Tapi Khaerul bukan Khalil! Dia cuma... cuma korban yang kebetulan jadi wadah reinkarnasi!"
"Aku tahu. Dan itulah kenapa ini harus sukarela. Khaerul harus dengan kesadaran penuh—tanpa paksaan, tanpa manipulasi—memilih untuk menebus dosa Khalil. Kalau dia dipaksa, ritual tidak akan berhasil. Kutukan tetap aktif. Dan kalian semua akan bereinkarnasi lagi. Dan lagi. Hingga seseorang akhirnya sukarela menebus."
Mahira menangis sekarang. Menangis keras. Karena ini tidak adil. Khaerul sudah menderita cukup lama di bawah kendali Khalil. Dan sekarang dia harus menderita lagi? Harus menumpahkan darahnya sendiri?
"Putri," Alzena menyentuh kepala Mahira—sentuhan dingin yang entah kenapa menenangkan, "aku tahu ini berat. Tapi ini satu-satunya cara. Dan percayalah—kalau Khaerul benar-benar sudah lepas dari Khalil, kalau dia benar-benar menyesal atas semua yang terjadi—dia akan terima. Dia akan pilih untuk menebus. Karena itulah jalan untuk membebaskan semua orang. Termasuk dirinya sendiri."
Mahira mengangkat wajahnya—wajah yang basah air mata. "Dan kalau dia nolak?"
"Maka kalian harus menunggu reinkarnasi berikutnya. Mungkin 100 tahun lagi. Mungkin 200 tahun lagi. Hingga ada Khalil lain yang sukarela menebus." Alzena berdiri—kabut itu bergerak naik. "Tapi aku harap... aku sangat berharap... Khaerul di kehidupan ini adalah Khalil terakhir yang harus menebus. Karena aku sudah lelah menunggu, Putri. Sudah 300 tahun. Dan aku... aku ingin pulang. Ingin kembali ke surga. Ingin bertemu keluargaku yang sudah lama menungguku di sana."
Suaranya bergetar di kalimat terakhir. Dan Mahira menyadari—ini bukan cuma soal kutukan Aisyara dan Zarvan. Ini juga soal Alzena. Roh yang mengorbankan akhiratnya demi sumpah setia pada majikannya.
"Aku akan bicara sama Khaerul," kata Mahira akhirnya, dengan suara yang dipaksakan tegas meskipun hatinya hancur. "Aku akan jelasin semuanya. Dan aku akan... aku akan minta dia sukarela. Tapi aku nggak akan paksa. Aku janji."
"Terima kasih, Putri." Alzena tersenyum—senyum terakhir yang penuh kedamaian. "Dan satu lagi. Hati-hati dengan Pangeran Danial—atau yang sekarang bernama Damian. Dia... dia belum sepenuhnya lepas dari jiwa Danial. Masih ada bayangan gelap di sana. Dan aku takut... aku takut dia akan coba sabotase ritual ini. Coba hentikan kalian semua."
"Kenapa dia mau hentikan? Bukannya dia juga mau bebas?"
"Karena Danial di masa lalu... dia tidak cuma pengkhianat. Dia juga yang memberikan ide pada Khalil untuk bunuh Putri Aisyara." Alzena menatapnya dengan pandangan sedih. "Danial mencintai kakaknya—Khalil—dengan cara yang tidak sehat. Dengan obsesi. Dan dia tidak mau kakaknya menderita. Jadi dia bujuk Khalil untuk... untuk selesaikan masalah dengan cara paling ekstrem. Dengan pembunuhan."
Mahira merasakan mual. "Jadi... jadi semua ini karena Danial juga?"
"Sebagian besar, iya. Dan itulah kenapa jiwa Danial di dalam Damian masih kuat. Karena dia tidak merasa bersalah. Dia merasa dia melakukan yang benar—melindungi kakaknya. Dan pikiran seperti itu... sangat berbahaya."
Alzena mulai memudar—cahayanya berkurang.
"Tunggu!" Mahira berdiri cepat. "Kamu mau kemana?"
"Aku harus kembali. Energiku terbatas. Aku hanya bisa muncul sebentar—terutama saat bulan purnama seperti malam ini." Suaranya semakin pelan. "Tapi aku akan selalu di dekatmu, Putri. Akan selalu jaga. Hingga sumpahku selesai."
"Alzena—"
"Percaya pada cinta, Putri Mahira. Percaya pada Zarvan. Dan percaya pada Allah. Karena hanya dengan itu—hanya dengan iman dan cinta yang tulus—kalian bisa putuskan kutukan yang sudah mengakar selama 300 tahun ini."
Dan dia menghilang. Seperti kabut yang tertiup angin. Meninggalkan Mahira sendirian di perpustakaan dengan air mata yang tidak berhenti mengalir dan beban yang semakin berat di pundaknya.
***
Mahira tidak tahu berapa lama dia duduk di lantai perpustakaan. Yang dia tahu, saat pintu terbuka dan Raesha masuk dengan wajah panik—langit di luar sudah mulai terang.
"Mahira! Kenapa kamu di sini?! Aku cari kamu kemana-mana—" Raesha berlutut, memeluk adiknya yang masih menangis. "Kenapa nangis? Ada apa?"
"Kak..." suara Mahira serak, "aku ketemu... aku ketemu penjaga pusaka keluarga kita. Alzena. Dan dia bilang... dia bilang untuk putuskan kutukan, Khaerul harus—" ia terisak, "—harus menumpahkan darahnya sendiri. Sukarela. Sebagai penebusan."
Raesha terdiam. Wajahnya pucat.
"Dan kalau dia nolak," lanjut Mahira, "kita semua akan bereinkarnasi lagi. Akan mengulang siklus ini lagi. Hingga ada yang sukarela menebus."
"Berarti..." Raesha menelan ludah, "berarti semua tergantung Khaerul sekarang?"
Mahira mengangguk lemah. "Dan aku... aku harus yang minta dia. Aku yang harus jelasin. Aku yang harus—" suaranya patah, "—yang harus liat sepupuku mengiris tangannya sendiri demi menebus dosa yang bukan bahkan dosanya."
Raesha memeluk adiknya lebih erat. "Kita akan lewatin ini. Bareng-bareng. Aku janji."
Tapi di dalam hati, bahkan Raesha tidak yakin. Karena meminta seseorang untuk menumpahkan darahnya sendiri—meskipun untuk alasan mulia—adalah hal yang paling berat di dunia.
Dan mereka berdua tidak tahu bagaimana Khaerul akan bereaksi saat mendengar ini.
---
**BERSAMBUNG KE BAB 19**