NovelToon NovelToon
Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Dia Yang Hadir Di Pintu Terakhir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:27
Nilai: 5
Nama Author: yuliza sisi

DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21

DI ANTARA DUA NAMA, DI BAWAH LAMPU KOTA

Malam turun tanpa permisi.

Lampu-lampu jalan menyala satu per satu, kuning pucat, memantul di aspal yang masih hangat oleh siang. Kota tetap hidup, kendaraan berlalu-lalang, klakson bersahut-sahutan, suara pedagang kaki lima bercampur tawa, tapi di dalam dada Aira, semuanya terasa sunyi.

Ia berjalan kaki.

Bukan karena tidak ada kendaraan.

Bukan karena jarak yang dekat.

Ia berjalan karena dadanya terlalu penuh untuk duduk diam.

Tangannya memeluk dirinya sendiri, jaket tipis tak cukup menahan dingin yang bukan berasal dari udara. Pikirannya berputar, berulang, seperti rekaman rusak yang tak mau berhenti.

Ayah atau Langit.

Kalimat itu masih menggema.

Ia seharusnya tidak dipaksa memilih.

Cinta pertama dan cinta yang datang kemudian tidak pernah berdiri di tempat yang sama. Tidak adil membandingkan keduanya.

Ayah adalah rumah. Langit adalah harapan. Dua hal yang seharusnya tidak saling menghapus.

Aira menarik napas panjang.

Langit sudah berjanji.

Ia berjanji menerima keluarganya.

Ia berjanji tidak akan memaksa.

Ia berjanji akan menjaga.

Lalu kenapa…

kenapa ia mendatangi ayahnya?

Langkah Aira melambat.

Kepalanya menunduk, matanya basah, tapi air mata belum jatuh. Ia terlalu lelah untuk menangis. Terlalu capek untuk marah. Yang tersisa hanya kebingungan yang menyayat pelan.

Ia tidak ingin kembali ke rumah sakit dalam keadaan seperti ini. Ibunya akan bertanya. Ibunya selalu tahu. Dan satu pertanyaan kecil saja bisa membuat wajah itu pucat kembali, napas itu kembali berat.

Aku cuma butuh sebentar, pikirnya.

Sebentar saja untuk bernapas.

Kakinya melangkah tanpa arah yang jelas, hingga

bruk.

Ujung sepatunya menghantam batu kecil yang tak ia lihat. Tubuhnya oleng ke depan.

Refleks.

Sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat, tidak menyakitkan, justru menahan dengan penuh kehati-hatian. Tangan lain menopang punggungnya.

“Aira.”

Suara itu rendah. Tertahan.

Waktu seakan berhenti.

Aira mendongak.

Kartik.

Wajah itu begitu dekat. Terlalu dekat. Lampu jalan di atas mereka membentuk bayangan lembut di garis rahangnya, di mata yang menatapnya dengan kekhawatiran yang tidak disembunyikan.

Mereka saling memandang.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Di mata Kartik, Aira melihat sesuatu. ketakutan kehilangan yang disamarkan menjadi ketenangan.

Di mata Aira, Kartik melihat kelelahan yang terlalu berat untuk dipikul sendirian.

“Aku…” Aira tersadar. Napasnya tercekat.

Ia cepat menarik tangannya, mendorong dada Kartik pelan tapi tegas.

“Jangan sentuh aku,” katanya. Suaranya bergetar. “Kamu ngapain di sini?”

Kartik mundur setengah langkah. Tangannya terangkat, tanda menyerah.

“Kamu hampir jatuh,” jawabnya singkat. “saya hanya refleks.”

Aira memalingkan wajah. Dadanya naik turun. “Aku bisa sendiri.”

Kartik menatapnya lama. “Kalau kamu bisa sendiri, kamu nggak akan jalan sendirian sejauh ini.”

Kalimat itu menohok.

“Aku nggak minta dijaga,” balas Aira cepat.

“saya tahu.”

“Terus kenapa kamu selalu muncul?”

Karena saya tidak pernah benar-benar pergi.

Karena saya takut suatu hari kamu jatuh dan tidak ada siapa-siapa.

Tapi Kartik tidak mengatakannya.

Ia hanya berkata, “Saya kebetulan lewat.”

Aira tertawa kecil. Pahit. “Kebetulan versi kamu selalu tepat waktu.”

Sunyi menyela.

Lampu merah di persimpangan berganti hijau. Kota tetap bergerak, seolah tidak peduli dua manusia yang berdiri dengan jarak rapuh di bawah cahaya lampu jalan.

“Kamu mau ke mana?” tanya Kartik akhirnya.

“Ke rumah sakit,” jawab Aira. “Tapi nggak sekarang.”

“Kamu nggak bisa keluyuran malam-malam begini, bahaya”

“Aku bukan anak kecil.”

“Saya tahu,” suara Kartik melembut. “Justru karena itu saya khawatir.”

Aira menatapnya tajam. “Kamu selalu begitu. Seolah tahu apa yang terbaik buat aku, padahal kita baru beberapa kali bertemu, tak saling mengenal”

Kartik menghela napas. “Saya cuma mau memastikan kamu sampai, dengan selamat, Sekali ini saja,” katanya lagi. “Saya antar kamu.”

Aira hendak menolak. Mulutnya sudah terbuka.

Tapi kakinya gemetar. Kepalanya pening. Dan hatinya… terlalu lelah untuk bertarung lagi.

“Sekali,” katanya akhirnya. “Habis itu kamu berhenti.”

Kartik mengangguk. “Baik.”

Mobil melaju pelan di jalan kota.

Aira duduk di kursi penumpang. Kepalanya bersandar ke kaca jendela. Cahaya lampu jalan melintas seperti kilasan kenangan yang tak ingin ia ingat.

“Kamu kenapa jalan kaki?” tanya Kartik pelan.

Aira diam cukup lama.

“Karena aku capek,” jawabnya akhirnya. “dan kamu tidak harus tau kenapa”

Kartik tidak menyela.

“Semua orang minta aku mengerti,” lanjut Aira. “Ayahku. Ibuku. Langit. Semua. Tapi nggak ada yang tanya… aku sanggup atau nggak.”

Suaranya pelan, agar langit tak mendengar, ia ingat langit adalah orang luar, ia tidak harus menceritakan masalah nya kepada orang yang tak ia kenal, orang akan simpati di depan nya saja, lalu di belakang ia akan mengupat.

“Aku harus milih,” katanya akhir nya. Entah kenapa suara itu keluar tanpa di suruh “Dan aku benci itu.” dengan suara yang lirih

Kartik menelan ludah. Tangannya mengencang di setir.

“Kamu nggak seharusnya memilih,” katanya pelan. “Cinta nggak pernah minta korban.”

Aira tersenyum pahit. “Nyatanya hidup selalu begitu.”

Mobil berhenti di depan rumah sakit.

Aira membuka pintu, tapi ragu sejenak.

“Kartik,” panggilnya.

“Iya.”

“Kamu tahu tentang ayahku?”

Kartik diam terlalu lama.

“Saya tahu sebagian,” jawabnya jujur. “Dan Saya sedang berusaha.”

Aira menatapnya. “Berusaha apa?”

“Membuktikan dia tidak bersalah.”

Dunia Aira seakan runtuh sejenak.

“Kamu… apa?” suaranya bergetar.

“Kamu nggak perlu tahu detailnya sekarang Aira" kata Kartik cepat. “Yang penting, jangan terlalu stres.”

Aira turun dari mobil. Kakinya lemas. Tapi ia melangkah masuk ke rumah sakit dengan kepala tegak.

Kartik mengikuti di belakangnya.

Di lorong perawatan, aroma antiseptik menyambut. Lampu putih terasa terlalu terang.

Dan di sana,

ibunya Aira berdiri di depan kamar, wajahnya cemas.

“Aira?” panggilnya. “Kamu dari mana, Nak?”

Aira terdiam. Kata-kata tersangkut di tenggorokan.

Sebelum ia menjawab, Kartik melangkah maju.

“Tan,” katanya sopan. “Maaf, saya antar Aira.”

Ibu Aira menatap Kartik. Lama.

Sorot matanya berubah.

“Kartik?” suaranya bergetar. “Kartik Arkana?”

Kartik terkejut. “Tante… kenal saya?”

Air mata tiba-tiba menggenang di mata perempuan itu.

“Kamu anak Pak prabu, kan?” katanya lirih. “Teman baik ayah Aira.”

Dunia Aira kembali bergetar.

“Kamu…” Ibu Aira mendekat. Tangannya gemetar saat menyentuh bahu Kartik. “Kamu sudah besar sekali.”

Kartik menunduk hormat. “Ayah saya sering cerita tentang Om Salman.”

Air mata ibu Aira jatuh.

“Kalau ayah Aira tahu kamu yang jaga anaknya…” suaranya patah. “Dia pasti tenang.”

Aira menutup mulutnya. ia bingung dengan apa yang ia dengar dan ia lihat.

Selama ini.

selama ini ada seseorang yang berdiri di dekat keluarganya tanpa ia sadari.

Kartik melirik Aira. Mata Aira basah,

“Aira nggak sendirian, Bu,” katanya pelan.

“Saya janji.”

Aira merasa… Pertemuan tanpa sengaja, beberapa kali yang hampir berkali-kali dan tepat pada saat Aira butuh bantuan itu sengaja atau benar-benar tidak di sengaja, Tapi apa, ayah yang memintak Orang asing ini untuk menjaga nya, Aira benar-benar bingung

Bersambung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!