Sejak kecil, Shen Yuhan, sang putri mahkota, telah ditinggalkan orang tuanya. Ketiadaan kasih sayang dan pendidikan yang layak membuatnya tumbuh menjadi gadis yang polos, naif, dan mudah dibodohi. Ia hanya tahu bersenang-senang dan menghabiskan waktunya dengan para pria. Alhasil, saat ia diangkat menjadi Maharani, ia tak lebih dari boneka yang dikendalikan oleh para menteri dan pejabat licik yang haus kekuasaan.
Satu-satunya orang yang tulus mencintainya adalah suaminya, Mu Liu. Namun, sang pangeran kelima ini harus hidup dalam bayang-bayang luka perang besar yang membuat tubuhnya cacat dan lumpuh. Penampilannya yang buruk membuat Yuhan tak pernah meliriknya, apalagi membalas cintanya.
Semua berubah ketika seorang pembunuh bayaran dari abad ke-21, yang dikenal kejam dan tak kenal ampun, tiba-tiba terbangun di dalam tubuh Shen Yuhan. Roh aslinya telah tiada, digantikan oleh jiwa yang dingin dan mematikan.
Kini, dengan kecerdasan dan kekuatan barunya, sang Maharani boneka itu bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAHARANI 2
Han Tan, Perdana Menteri yang angkuh, yang paling cepat pulih dari keterkejutan, langsung menjatuhkan diri. "DUK!" Lututnya menyentuh lantai.
"Yang Mulia Maharani! Hamba mohon ampun!" teriak Han Tan, gemetar ketakutan. "Hamba salah! Hamba mengira... hamba mengira..."
Mengikutinya, Shen Bo dan Shen Yue, yang tadinya penuh kesombongan, kini bersujud dengan wajah pucat.
BRUUK!
Mereka tahu, di depan mereka kini berdiri kekuatan yang tidak bisa mereka lawan.
"Mohon ampun! Kami berdua salah! Hidup Yang Mulia Maharani Seribu Tahun!" teriak Shen Bo dan Shen Yue bersamaan.
CLANGG! CLANGG!
Para prajurit yang tadinya siap membunuh kini menjatuhkan senjata mereka dengan bunyi keras dan bersujud, dahi mereka menyentuh lantai.
Yuhan tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya berdiri di tepi ranjang, mengamati setiap detail, setiap ekspresi ketakutan yang ditampilkan. Ia melirik Mu Lian, yang menatapnya tanpa berkedip, wajahnya yang kaku tidak menunjukkan ketakutan, tetapi hanya intensitas yang membakar. Mu Lian adalah yang paling menarik untuk diamati.
Setelah keheningan yang panjang, Yuhan mengangkat tangannya. Gerakannya lambat, namun penuh otoritas.
"Cukup," suaranya dingin dan tegas.
Ia menunjuk Wu Sheng yang terluka. "Bawa prajurit ini dan semua yang terluka keluar. Segera obati mereka. Siapa pun yang berani mengganggu ketenangan Istana Naga Giok malam ini, akan aku penggal."
Ia menatap Han Tan, matanya menusuk. "Perdana Menteri Han, siapkan dekrit baru. Aku masih hidup. Tahta tidak kosong. Bubar. Sekarang."
Perintah itu adalah titah yang tidak terbantahkan. Tanpa menunggu, Han Tan, Shen Bo, dan Shen Yue, beserta semua prajurit, segera bergegas mundur, meninggalkan aula secepat mungkin. Mereka pergi seolah dikejar hantu.
Dalam beberapa detik, Aula Keharmonisan Tertinggi kembali sunyi. Hanya tersisa tiga orang, Yuhan, Mu Lian, dan Li Ming, gundik laki-laki yang masih bersembunyi sambil terisak-isak.
Yuhan memutar tubuhnya, menatap Mu Lian. Pria cacat itu masih berdiri, menatapnya dengan pandangan dingin dan kaku.
"Kau," ujar Yuhan, menunjuknya.
"Aku Pangeran Mu Lian," jawab Mu Lian datar. "Suamimu."
"Keluar!"
Suara itu tidak keras, namun mengandung getaran otoritas yang sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang mendengarnya. Yuhan berdiri tegak di samping ranjang kebesarannya, meskipun tubuhnya terasa seberat timah. Tangannya yang masih memegang luka bekas sayatan pedang terus meneteskan darah merah segar ke lantai marmer yang dingin.
Tes... tes... tes...
Bunyi tetesan darah itu terdengar begitu nyaring di tengah kesunyian aula.
"Yang Mulia..." Mu Lian berbisik lirih. Wajahnya yang kaku dan dingin biasanya sulit ditembus emosi, namun kali ini, gurat kekhawatiran terlihat jelas di matanya. Ia menatap telapak tangan Yuhan yang terluka parah.
"Luka Anda... biarkan hamba memanggil tabib untuk mengobatinya."
Yuhan menoleh, memberikan tatapan yang begitu dingin hingga Mu Lian merasa seolah-olah sebilah es menusuk dadanya. Tatapan itu bukan lagi milik gadis naif yang selalu merengek meminta perhatiannya. Itu adalah tatapan seorang predator yang tidak ingin diganggu saat sedang terluka.
"Aku tidak suka mengulang perintah, Mu Lian," desis Yuhan. "Pergi."
Mu Lian mengepalkan tangannya di gagang tongkat cendananya. Ia terdiam sejenak, menimbang-nimbang kemarahan sang Maharani. Akhirnya, dengan berat hati, ia membungkuk kaku. "Hamba mengerti. Jika Anda membutuhkan sesuatu, hamba berada di luar pintu."
Dengan langkah tertatih-tatih yang berbunyi "Tok... sret... tok... sret...", Mu Lian keluar dari kamar pribadi Maharani. Para pelayan istana, kasim, dan prajurit segera bergerak cepat membawa mayat-mayat pengawal dan mereka yang terluka menuju balai pengobatan istana. Pintu aula besar itu akhirnya tertutup rapat dengan bunyi keras yang menggema.
Kini, Shen Yuhan benar-benar sendiri. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang luasnya nyaris seukuran lapangan itu. Tiang-tiang penyangga dari kayu gaharu hitam yang diukir naga emas, tirai-tirai sutra transparan yang menjuntai, dan perabotan dari giok yang tak ternilai harganya.
"Sial!" desisnya sambil mencengkeram kepalanya yang seolah akan pecah.
ZINGGG!
Seketika, gelombang ingatan menyerbu benaknya seperti air bah. Ia melihat fragmen-fragmen kehidupan Shen Yuhan yang asli, tertawa bodoh saat dikelilingi pria-pria gundik yang hanya mengincar hartanya, menandatangani dokumen negara tanpa membaca karena lebih memilih makan manisan, dan rasa takut yang mendalam saat ditatap oleh adik-adiknya sendiri.
"Kau benar-benar sampah, Yuhan," gumam jiwa baru itu dengan sinis. Shadow,sang pembunuh bayaran abad ke-21, merasa terhina harus menempati tubuh yang begitu rendah kualitasnya.
Ia mencoba memanggil "Arloji Dimensi" miliknya, sebuah teknologi nano yang menyimpan seluruh perlengkapannya di masa depan. Namun, tangannya kosong. Tidak ada logam dingin di pergelangan tangannya. Hanya ada kulit halus yang kini berlumuran darah.
"Hanya jiwaku yang pindah? Benar-benar sialan," umpatnya lagi.
Tiba-tiba, dadanya terasa sangat sesak. Napasnya tersengal-sengal, "Hah... hah... hah...". Yuhan ambruk ke lantai, bersandar pada kaki ranjang. Ia segera meletakkan dua jarinya di pergelangan tangan kiri, memeriksa denyut nadinya sendiri menggunakan pengetahuan medis tingkat tinggi yang ia miliki sebagai pembunuh elit.
Wajahnya berubah menjadi sangat gelap saat merasakan getaran di bawah kulitnya.
"Denyut nadi yang tidak teratur... arrhythmic," gumamnya. "Ada sumbatan di jalur meridian utama. Tubuh ini tidak hanya mati karena 'pingsan' atau kelelahan."
Ia menekan titik di bawah tulang rusuknya dan merasakan gumpalan keras. Ciri-cirinya sangat jelas. Ada jejak racun Arsenik dan Timbal yang diberikan dalam dosis kecil selama bertahun-tahun melalui makanan atau kosmetik.
Perlemahan organ hati dan ginjalnya berada di ambang kegagalan fungsi. Ketiadaan Kultivasi, tubuh ini tidak pernah dilatih. Otot-ototnya lembek, dan saluran energinya tertutup oleh lemak dan racun.
"Pantas saja dia mati," ucap Yuhan dengan suara parau. "Mereka tidak hanya membodohinya, mereka perlahan-lahan membunuhnya dari dalam."
Ia mencoba duduk bersila, berusaha memusatkan tenaga dalam untuk menahan penyebaran racun yang kini terpicu oleh stres fisik saat ia melawan pengawal tadi. Namun, hasilnya nihil.
"Benar-benar tubuh yang payah! Bahkan tenaga dalam pun sangat lemah. Tidak memiliki akar kultivasi sedikit pun!"
Frustrasi mulai melanda. Tanpa dimensi ruang ajaib, tanpa teknologi, dan dengan tubuh yang sekarat, ia hanyalah target empuk bagi musuh-musuhnya yang akan kembali esok pagi.
"UHUK! HOEKK!"
Yuhan memuntahkan darah yang sangat pekat, warnanya nyaris hitam dan berbau amis yang menyengat. Darah itu menyembur banyak, memercik ke mana-mana, termasuk mengenai sebuah gelang giok hijau tua yang melingkar di pergelangan tangan kanannya, satu-satunya perhiasan yang tidak pernah dilepas oleh Yuhan asli sejak kecil.
Seketika, gelang itu menyerap darah tersebut dan memancarkan sinar putih keperakan yang membutakan.
WHUUUSSSHHH!
Pandangan Yuhan kabur. Detik berikutnya, ia tidak lagi berada di kamar tidurnya yang pengap oleh aroma darah. Ia berdiri di sebuah ruangan luas yang sangat akrab baginya. Sebuah ruangan serba putih dengan rak-rak metalik yang tertata rapi.
"Ruang dimensi milikku!" serunya dengan mata berbinar.