🍂🍂🍂🍂🍂
Napas gadis itu hangat menyentuh lehernya. Bulu mata Yura tampak basah, alisnya berkerut seolah tengah menahan sesuatu bahkan dalam keadaan tidak sadar.
"Tolong…" suara Yura terdengar lirih, matanya tetap terpejam. "Siapa pun… tolong aku…"
Langkah Alexa terhenti.
"Aku sudah membuat masalah besar… aku malu… seharusnya aku tidak melakukan itu…" gumam Yura terputus-putus. "Sampai Pak Bos mengira dia menyukaiku… padahal itu akibat ajimat… aku salah meletakkannya."
Tubuh Alexa menegang.
🍃🍃🍃🍃🍃
Next.... 👉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gledekzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah paham
...🍂🍂🍂🍂🍂🍂...
"Aaaaaa......"
Pekikan Yura memecah keheningan kamar. Matanya terbelalak, napasnya tersengal saat kesadarannya pulih sepenuhnya.
Sekilas Yura menangkap pemandangan yang membuat dadanya semakin sesak, bagian atas tubuh pria itu telanjang, punggungnya yang bidang membelakanginya, sementara tubuh bawahnya tertutup selimut putih tebal yang tampak kusut.
Tanpa sempat mencerna apa pun, tubuhnya bereaksi lebih cepat dari pikirannya. Kakinya terayun keras, menendang pria di sampingnya yang tertidur pulas.
Tubuh itu terhuyung ke depan.
Brakk!!!
Suara benturan menggema nyaring. Jantung Yura berdegup semakin liar, panik dan ketakutan berkelindan di dadanya.
......................
Beberapa menit kemudian, suasana kamar berubah canggung.
Yura akhirnya duduk di lantai dengan kaki terlipat, punggungnya tegak tapi bahunya tegang.
Di hadapannya, Alexa duduk di kursi sofa, mengenakan bathrobe abu-abu tua yang terikat rapi. Rambutnya masih sedikit berantakan, namun tatapan dingin itu sudah kembali tajam, tenang, dan membuat nyali siapa pun menciut.
Tatapan itu menjadi sarapan pertama Yura pagi ini.
"S-saya minta maaf," ucap Yura tergesa, suaranya gemetar. "Maaf… saya benar-benar minta maaf, Pak. Saya—saya refleks, saya tahu kalau saya salah."
Ia menunduk lebih dalam. "Tapi sebenarnya saya juga nggak sepenuhnya salah…" gumamnya lirih.
Namun tetap terdengar oleh Alexa.
Pria itu langsung berdeham pelan, membuat Yura tersentak dan kembali duduk tegak, kedua tangannya mengepal di atas paha.
"Sudah ingat semuanya?" tanya Alexa datar.
Yura menelan ludah. Kepalanya tertunduk lagi, lalu ia mengangguk kecil, rasa malu dan takut bercampur di dadanya. "Iya, Pak… semuanya."
Hening sejenak.
"Lalu," lanjut Alexa, nadanya tetap dingin, "Apa yang akan kau lakukan?"
Yura menarik napas dalam-dalam, seolah mengumpulkan keberanian. "Hari ini… saya akan menemui dukun itu. Saya akan minta penawarnya. Saya mau semuanya berhenti."
Alexa mengangguk pelan, seakan jawaban itu memang sudah ia perkirakan.
"Dan setelah itu?" tanyanya lagi.
Yura menghembuskan napas panjang. "Saya… akan mencari pria lain." Ia mendongak sebentar, lalu menunduk kembali. "Seseorang yang bisa jadi pengganti Bapak. Supaya tidak ada yang curiga. Supaya… orang-orang lain, termasuk sahabat-sahabat saya, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi."
Ruangan kembali sunyi.
Alexa tidak langsung bereaksi. Ia hanya menatap Yura dengan wajah datar, terlalu datar untuk ditebak.
Hanya diam.
Dan entah mengapa, tatapan itu justru membuat jantung Yura berdegup lebih kencang daripada saat ia menendang pria itu tadi.
"A-apa Anda merasakan sesuatu setelah mencium bau itu, Pak?" tanyanya pelan, seolah takut pertanyaannya sendiri akan memicu sesuatu.
Alexa tidak langsung menjawab.
Wajahnya tetap datar, nyaris tak bergerak. Hanya rahangnya yang mengeras tipis terlalu singkat untuk disadari Yura.
"Tidak," jawabnya singkat.
Namun di dalam benaknya, kebenaran berputar dengan cara yang jauh lebih gaduh.
Ia teringat malam tadi. Duduk sendirian di kursi, tubuhnya berat, kepalanya tertunduk, hingga tanpa sadar ia tertidur.
Seperti biasa, mimpi buruk itu datang lagi sesak di dada, rasa dicekik ketakutan yang tak bernama, keringat dingin membasahi pelipisnya.
Ia terbangun dengan napas terengah, tangan gemetar, baru menyadari obatnya tidak ada. Parfum itu pun tertinggal di mobil.
Ketakutan itu lebih intens dari biasanya.
Namun saat ia menoleh, Yura tertidur pulas di ranjang. Wajah gadis itu tenang, napasnya teratur, seolah dunia tidak sedang runtuh di sekelilingnya.
Pemandangan itu membuat Alexa tersadar ia tidak sendirian malam itu. Dan ia harus mengendalikan dirinya.
Entah dorongan apa yang membuatnya bergerak mendekat. Ia masuk ke dalam selimut, berhati-hati agar tidak membangunkan Yura.
Aroma tubuh gadis itu menyusup pelan hangat, lembut, berbeda dari apa pun yang pernah ia rasakan.
Dan anehnya, sesak itu mereda.
Ketakutan yang mencengkeramnya perlahan mengendur, digantikan ketenangan singkat yang hampir terasa asing.
Yura tidur menghadapnya, wajahnya damai, terlalu damai untuk seseorang yang menyimpan begitu banyak luka. Alexa menatapnya lama, hingga akhirnya rasa berat di kelopak matanya kembali datang.
Ia tertidur lagi.
Kini, duduk di hadapan Yura, Alexa tetap menyembunyikan semua itu rapat-rapat.
Tatapannya dingin, sikapnya terkendali.
Sementara Yura, yang tidak tahu apa-apa, hanya menunggu jawaban yang tak pernah benar-benar ia dapatkan.
Alexa masih duduk di sofa, punggungnya bersandar santai namun tatapannya tetap dingin.
"Berdiri," ucapnya singkat. "Kau mandi duluan."
Yura tersentak kecil. Ia mengangguk cepat. "I-iya, Pak."
Ia segera menggerakkan tubuhnya untuk bangkit dari lantai. Namun begitu kedua telapak kakinya menapak, rasa kesemutan menyerbu tiba-tiba, tajam dan menyebar hingga ke betis. Lututnya bergetar.
"Ah—"
Tubuh Yura goyah. Dunia terasa miring sesaat.
Refleks, Alexa bangkit dari duduknya. Dalam satu langkah cepat, ia sudah berada di depan Yura.
Tangannya menyambar pinggang gadis itu, menahannya sebelum benar-benar jatuh, sementara tangan satunya menopang bahu Yura.
Jarak mereka mendadak terpangkas.
Terlalu dekat.
Yura terdiam, napasnya tercekat. Ia bisa melihat garis rahang Alexa dengan jelas, merasakan hangat tubuh pria itu, mencium aroma yang sama seperti semalam yang entah kenapa membuat kepalanya semakin kacau.
Mata mereka beradu.
Detik itu menggantung, sunyi dan ganjil.
Klik.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka.
"Alexa—"
Suara seorang wanita tua memecah udara.
Yura dan Alexa sama-sama tersentak.
Arshena berdiri di ambang pintu dengan mata terbelalak, Denales menyusul di belakangnya. Pandangan mereka tertuju lurus pada Alexa dan Yura yang masih berada dalam posisi terlalu dekat untuk disebut wajar.
Seperti sepasang kekasih yang tertangkap basah.
Alexa langsung melepaskan Yura. Gerakannya cepat, nyaris refleks.
"Kenapa kalian ada di sini?" ucapnya dengan nada suaranya tertahan.
Arshena melangkah masuk, tongkatnya diketukkan ringan ke lantai. Tatapannya tajam, penuh penilaian.
"Aku yang seharusnya bertanya," ucapnya dingin. "Apa yang kau lakukan, Alexa?"
Ia melirik Yura dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu kembali menatap cucunya. "Belum menikah, tapi sudah menyimpan seorang wanita di kamar hotel. Ini yang kau sebut menjaga nama keluarga?"
"Tapi ini tidak seperti—"
"Kami sudah sering bilang," potong Arshena tegas. "Menikahlah. Bukan berbuat onar seperti ini."
Denales meraih bahu istrinya, mengusap punggungnya perlahan. "Tenang, Arshena," ujarnya sabar.
Namun Arshena tak bergeming.
"Aku tidak mau tahu penjelasan apa pun,” katanya dingin. “Yang aku tahu, hari ini juga kalian berdua mendaftarkan pernikahan."
Dunia Yura seolah berhenti.
Mulutnya terbuka, namun tak satu kata pun keluar. Kakinya kembali mematung, lebih parah dari kesemutan tadi. Kata menikah bergaung di kepalanya tanpa ampun.
Tanpa menunggu respons, Arshena berbalik. "Ayo, Denales."
Denales mengangguk singkat, lalu menoleh ke Alexa. "Setelah mendaftarkan pernikahan, kalian berdua harus menghadap kami," katanya tenang, seolah membicarakan agenda makan siang.
Mereka pun melangkah pergi.
"Oma tunggu," Alexa mengejar. "Biar aku jelaskan—"
Arshena berhenti mendadak. Ia mengangkat satu tangan tanpa menoleh, isyarat yang membuat Alexa langsung terdiam.
"Penjelasan setelah kalian menikah," ucapnya dingin. "Jangan bahas di sini. Jangan mempermalukan keluarga besar kita."
Lalu ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi.
Alexa berdiri terpaku di koridor, wajahnya kembali datar. Namun rahangnya mengeras dengan Yura masih berdiri kaku di dalam kamar, jantungnya berdegup liar.
ak g sabar rose kebuka topengy d dipermalukan alexsa....dan....rendra ahhhh....mgkn akn lbh dr menyesal mgkn..
untung dr awal alexsa sdh pernah melihat rose dg rendra
tega ya kamu Rose kamu dukung kamu kasih support Yuna dgn ide" gilamu se-olah" kamu sahabat yg terbaik yg mendukung Yuna dan tidak tahunya kamu lah musuh dalam selimut merendahkan diri Yuna dgn macam" cara dgn kedok kasihan dan tidak tega 😤😏 Rose kamu tu manusia paling munafik untuk apa berbohong demi apa Rose kalau kamu sendiri sering main kuda"an dgn Rendra 🤮😩 kamu jahat orang seperti mu tidak pantas disebut sahabat di depan so mendukung tapi di belakang menusuk hati sampai ke tulang" kejam 👊🥺