lanjutan novel Tuan Tiada Tanding
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kejar-kejaran di bukit
Arjuna berjalan sambil menenteng tongkat dan berucap, "oh monyet nakal, dimana kamu?"
***
Sementara itu di villa milik Tuan Harsono yang hancur itu. Entah Tuan Harsono ketiga muridnya maupun semua makhluk halus yang ada di tempat ini, semuanya menatap ngeri ke arah Buto Bolo Srewu yang terkapar di atas puing-puing villa.
Bagi Tuan Harsono dan ketiga muridnya mereka masih bingung, bagaimana mungkin sosok semengerikan Buto Bolo Srewu bisa sekarat seperti ini?
Jangankan Tuan Harsono dan ketiga muridnya, bahkan Bolo Srewu bingung mengapa tendangan manusia lemah itu bisa membuatnya terpental sangat jauh?
Seharusnya kekuatan semacam ini tidak di miliki manusia biasa.
Siapa dia sebenarnya? Itu adalah pertanyaan yang menyelimuti hati Bolo Srewu.
Bolo Srewu merasakan semua tulang, otot, dan daging yang berada di tubuhnya terasa sakit semua. Bahkan untuk bernafas saja terasa sangat menyiksa.
Bolo Srewu sekarat begitu saja hanya dengan sekali tendang!
Siapa sangka tiba-tiba sebuah suara menggema ke segala penjuru arah, "oh monyet nakal, di mana kamu?"
Suara yang menggema itu langsung membangkitkan ketakutan di hati Bolo Srewu. Secara ajaib tubuh Bolo Srewu berubah menjadi monyet lagi.
Bolo Srewu memandangi langit dengan ketakutan, "aku harus pergi, aku harus menyelamatkan diri!" Bolo Srewu memaksa pergi dengan tubuhnya yang kesakitan.
Buto yang konon legendaris itu kabur hanya karena mendengar suara dari Arjuna. Tentu saja yang mendengar suara itu bukan cuma Bolo Srewu. Tuan Harsono ketiga muridnya dan semua makhluk halus yang bersembunyi juga mendengar suara itu.
Antika dan Reza terlihat merinding mendengar gema suara yang mampu membuat Bolo Srewu kabur.
Sementara Tuan Harsono dan Gumilar termenung ketika mendengar suara ini. Tentu saja mereka termenung karena mereka sangat mengenali suara ini.
Reza yang melihat hal ini bertanya, "guru, gumilar. Apakah kalian mengenali pemilik suara ini?" Tanya Reza.
Tuan Harsono tidak mungkin untuk tidak mengenali suara ini, suara ini adalah suara milik Arjuna si manusia biasa itu.
Gumilar dan Tuan Harsono saling pandang kemudian mereka berdua berteriak secara bersamaan, "tidak mungkin!" Sangat tidak masuk akal apabila si Arjuna manusia biasa itu yang menyebabkan ini semua.
"Guru, apakah ini benar benar dia?" Tanya Gumilar dengan ekspresi gugup.
"Harusnya tidak mungkin! Bahkan kalau ada orang yang mengatakan matahari berwarna biru, aku akan lebih mempercayai hal itu dari pada harus mempercayai bahwa Arjuna orang yang telah mengalahkan Bolo Srewu!" Jawab Tuan Harsono.
"Namun bagaimana jika selama ini termyata Arjuna adalah orang sakti yang sedang menyembunyikan kesaktiannya dan menyamar menjadi manusia biasa?" Tanya Gumilar, sebab suara ini memang sangat mirip dengan suara Arjuna.
Ketika mendengar hal ini Tuan Harsono kembali termenung, memang apa yang di ucapkan Gumilar sangat masuk akal sekali. Tapi apa iya Arjuna yang mengalahkan Bolo Srewu?
Baik Antika dan Reza memandangi Guru mereka dan Gumilar dengan tatapan bingung, mereka tidak mengetahui siapa itu Arjuna.
Siapa sangka pada saat ini Tuan Harsono berucap, "sekarang kita ikuti Arah di mana Bolo Srewu pergi!"
Baik Reza dan Antika langsung kaget mereka harusnya saat ini bersusah payah untuk menghindar dari bolo Srewu, namun mengapa mereka malah hendak mengikuti bolo srewu?
Tuan Harsono terlihat memaksakan tubuhnya, meskipun tertatih tatuh dia tetap bisa bergerak.
Gumilar dengan cepat mengikuti gurunya. Antika dan Reza saling pandang kemudian mereka mengikuti guru mereka dan Gumilar.
***
Sementara itu Arjuna berdiri memandangi langit malam di tempat ini. Di malam ini purnama bersinar dengan sangat terang tidak ada awan sama sekali.
Di tambah senter kecil yang Arjuna bawa membuat Arjuna bisa melihat semuanya dengan jelas. Tangan kiri memegang senter sementara tangan kanan memegang batang kayu sebagai pentungan.
"Eh apa itu?" Batin Arjuna ketika melihat bayangan merah yang melesat ke sebuah semak-semak.
Arjuna langsung menyeringai ketika dia mengingat rambut monyet agresif itu, "hehe, kamu tidak akan bisa pergi jauh monyet nakal!" Batin Arjuna yang langsung berlati mengejar monyet nakal itu.
Sementara itu Bolo Srewu terus berlari, meskipun dia dalam wujud monyet namun dia tidak bergelantungan di antara dahan pohon, sebab sejatinya Bolo Srewu adalah buto bukan monyet dia tidak tahu bagaimanan caranya bergelantungan dari dahan pohon ke dahan pohon lainnya.
"Aku harus segera menuju ke duaniaku! Aku harus kembali ke dunia para Buto! Hanya di sana aku bisa berlindung dari manusia mengerikan ini!" Ucap Bolo Srewu yang terus berlari menuju puncak bukit ini. Sebab di puncak bukit itu ada semacam jalan ghaib yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia para buto.
"Monyet nakal! Mau kemana kamu!"
Sambil berlari Bolo Srewu langsung menoleh kebelakang, alangkah kagetnya dia ketika melihat manusia mengerikan itu mengejarnya sambil membawa senter dan dahan pohon.
"Aduh!" Namun sayang sekali Arjuna terpeleset ketika melewati medan licin yang menuju ke atas bukit, "sialan, mengapa medannya sangat licin!" Batin Arjuna.
Bolo Srewu sendiri melihat secara langsung manusia mengerikan itu terpeleset, Bolo Srewu juga kebingungan mengapa manusia mengerikan ini tidak menggunakan kesaktiannya untuk mengejar dirinya.
Namun Bolo Srewu segera menggelengkan kepalanya ini adalah kesempatan dia untuk bertahan hidup.
"Aku masih bisa kabur!" Ucap Bolo Srewu yang menambahkan kecepatan larinya.
Bolo Srewu masih memiliki kesempatan untuk kabur dari Arjuna, sebab Arjuna berlari tidak terlalu cepat.
***
Sementara itu di bawah bukit yang cukup jauh dari bukit itu terlihat Tuan Harsono dan keempat muridnya menandangi Bukit dengan sanbat serius.
Keempat orang ini melihat Arjuna yang sedang mengejar Bolo Srewu yang sedang menaiki bukit.
"Siapa sosok yang mengejar bolo srewu itu guru?"
"Gumilar apakah kamu mengenal sosok itu?"
Sementara Gumilar dan Tuan Harsono sama sekali tidak menjawab mereka berdua diam karena mereka berdua bingung, kalau Arjuna adalah sosok yang membuat Bolo Srewu ketakutan lantas mengapa Arjuna tidak mengejar Bolo Srewu dengan kesaktian atau ajian, seperti Ajian salifi angin atau mungkin ngambah dirgantoro?
"Tuan, saya yakin Arjuna adalag manusia sakti yang sedang menyamar menjadi manusia biasa!" Ucap Gumilar dengan penuh keyakinan.
"Cepat kita ikuti!" Ucap Tuan Harsono yang maju terlebih dahulu hendak mendaki bukit.
***
Waktu berjalan cepat.
Sesuai peribahasa usaha tidak akan menghianati hasil.
Bolo Srewu akhirnya tiba di puncak bukit di mana puncak bukit ini adalah sebuah hamparam rumput tipis yang sangat luas.
Bolo srewu memandangi celah di tengah dua batu besar, celah itu merupakan jalan yang menghubungkan dunia manusia dengan dunia para buto. Celah ini merupakan jalan satu-satunya Bolo Srewu untuk bisa bertahan hidup.
Bolo Srewu menoleh ke arah belakang, dia tidak melihat adanya arjuna di sana.
"Haha!" Bolo Srewu tertara dengan keras, "selamat tinggal manusia! Meskipun kamu sakti dan mengerikan namun kamu tidak akan bisa menyentuhku lagi! Apabila kamu memaksa masuk ke dunia para buto kamu akan di keroyok oleh ribuan buto raksasa yang kejuarannya sebanding denganku bahkan ada yang lebih kuat dariku!" Batin Bolo Srewu dengan senyum penuh kemenangan.