Rachel adalah definisi dari kesempurna, masa depannya begitu cerah, hidupnya sudah diatur sedemikian rupa oleh Ibunya, hingga banyak yang merasa iri pada Rachel. Namun, tanpa mereka tahu, Rachel merasa hidupnya seperti boneka, terutama setelah perceraian Ayah dan Ibunya.
Hingga akhirnya, Rachel sudah muak dengan hidupnya yang selalu diatur oleh Ibunya dan memutuskan untuk pergi menemui Ayahnya dan memilih tinggal bersamanya, Rachel yang terbiasa dengan kemewahan, begitu tersiksa ketika berada di tempat Ayahnya yang jauh berbeda dengan kehidupan mewahnya bersama Ibunya.
Tanpa Rachel sadari, kedatangannya untuk menemui Ayahnya membawa sebuah takdir yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, di mana ia dipertemukan dengan seorang pria dengan seribu macam permasalahan dalam hidupnya.
Bagaimana kelanjutannya? Apakah Rachel mampu bertahan tanpa kemewahan dari Ibunya? Siapakah pria dengan seribu macam permasalahan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Daddy Yang Menyuruhmu?
"Taksi?" tanya Rachel pada seorang pria, namun pria itu hanya menggeleng.
Rachel mulai merasa panik, ponselnya tidak mendapatkan sinyal yang bagus dan baterainya mulai menipis, ia menyeret kopernya menuju pintu keluar dan berniat mencari kendaraan apa pun yang bisa membawanya ke distrik pelabuhan.
Meskipun Rachel tidak tahu alamat Ayahnya, tapi selama Rachel sampai di distrik pelabuhan. Maka, ia bisa bertemu dengan Ayahnya, itulah yang Rachel pikirkan.
Rachel berdiri di depan pintu keluar bandara yang lebih mirip terminal bus antarkota itu dan peluh mulai membasahi pelipisnya. Untung saja Rachel hanya memakai bedak tipis, ia tidak bisa membayangkan jika ia menggunakan makeup kesini.
Bau bensin, ikan asin dan debu jalanan menyerang indra penciumannya yang biasa dimanjakan oleh aroma diffuser lavender.
"Taksi?" Rachel mencoba bertanya lagi pada kerumunan pria yang bersandar di motor-motor butut, namun mereka hanya menatapnya dengan pandangan lapar seolah melihat sebongkah emas yang berjalan.
Rachel merapatkan tas mahalnya ke dada dan untuk pertama kalinya dalam 27 tahun, ia merasa sangat takut dan tidak berdaya.
"Daddy, aku harus cari ke mana ini?" bisiknya parau.
"Rachel?" Sebuah suara berat dan serak memanggil namanya.
Rachel refleks menoleh dan jantungnya berdegup kencang berharap itu adalah Ayahnya. Namun, sosok yang berdiri menjulang tinggi di belakangnya bukanlah Ayahnya yang ia ingat.
Pria itu tinggi, jauh lebih tinggi dari pria lokal di sana dan pria itu tampak berbahaya. Di mana pria itu mengenakan hoodie hitam yang tudungnya disampirkan ke belakang, lengan yang disingsingkan hingga ke siku dan memperlihatkan guratan otot lengan yang kuat dan beberapa bekas luka kecil lalu celana jeans birunya sobek di bagian lutut.
Yang paling mengejutkan adalah di wajahnya terdapat lebam keunguan di sudut bibir dan plester yang melintang di tulang pipinya, matanya tajam, dingin dan terlihat tidak bersahabat. Bahkan, tatapannya yang tajam membuat Rachel takut untuk sekadar menatapnya.
Rachel mundur satu langkah, pegangannya pada kopernya mengerat hingga kuku jarinya memutih. Pria di hadapannya ini tampak seperti baru saja keluar dari arena perkelahian, aroma maskulin yang bercampur bau oli dan sisa rokok samar-samar tercium darinya, sangat kontras dengan wangi parfum mahal para kolega bisnisnya.
"Si-siapa kamu?" suara Rachel bergetar, meski ia berusaha tetap tegar.
Pria itu tidak langsung menjawab, ia justru memperhatikan Rachel dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tatapannya berhenti sejenak pada sepatu stiletto nude yang kini mulai berdebu dan tas tangan seharga satu unit mobil yang dipeluk Rachel, pria itu mendengus kecil seolah menertawakan betapa salah tempatnya Rachel.
"Ayahmu menyuruhku menjemputmu," ucap pria bernama Daniel itu.
"Daddy yang menyuruhmu?" tanya Rachel.
"Hem," jawab Daniel lalu tanpa basa basi, ia mengambil koper Rachel dan memasukkannya kedalam mobil modifikasinya.
Rachel tertegun sejenak melihat koper mahalnya dilempar begitu saja ke bagasi mobil jeep tua yang catnya sudah mengelupas di sana-sini. Mobil itu tampak seperti rongsokan, sangat kontras dengan sedan mewah yang biasa menjemputnya di lobi kantor.
"Tunggu! Pelan-pelan, itu isinya barang, nanti bisa pecah!" seru Rachel panik dan melangkah maju dengan sepatu stiletto-nya yang tersangkut di celah semen bandara.
Daniel tidak peduli, ia membanting pintu bagasi hingga menimbulkan bunyi dentuman besi yang memekakkan telinga, Daniel berbalik dan menatap Rachel dengan satu alis terangkat.
"Di sini, kemewahan adalah hal yang tidak berguna, cepat masuk," ucap Daniel singkat sambil mengisyaratkan jempolnya ke kursi penumpang.
"Kamu... kamu benar-benar kenal sama Daddy? Siapa namamu? Bagaimana aku bisa percaya kalau kamu bukan penculik?" tanya Rachel.
Daniel menghela napas panjang, seolah menghadapi anak kecil yang rewel. Ia merogoh saku hoodie-nya dan menunjukkan layar ponselnya yang retak, di mana Daniel menunjukkan fotonya dan juga Brian.
Rachel menatap layar ponsel yang retak itu. Di sana, Brian tampak jauh lebih tua, rambutnya yang dulu klimis kini beruban dan kulitnya terbakar matahari. Namun, senyum tulus itu tidak berubah, ia juga terlihat merangkul bahu Daniel.
"Sudah percaya? Cepat masuk, aku tidak punya waktu seharian untuk menunggumu," perintah Daniel dan suaranya berhasil memecah lamunan Rachel.
Rachel menelan ludah dan berusaha menjaga martabatnya meski jemarinya gemetar saat membuka pintu jeep yang terasa panas dan berderit. Aroma di dalam mobil itu adalah campuran antara bensin, kopi dan wangi maskulin yang tajam dari pria di sampingnya.
Begitu Rachel duduk, Daniel langsung menginjak gas tanpa peringatan dan membuat kepala Rachel tersentak ke sandaran kursi yang keras.
"Pelan-pelan! Kamu bisa membuatku gegar otak!" protes Rachel sambil mencengkeram sabuk pengaman yang tampak sudah usang.
Daniel tidak menoleh, ia memutar kemudi dengan satu tangan. Sementara tangan lainnya bersandar di jendela yang terbuka, "Jalanan di sini tidak semulus di Jakarta, Tuan Putri. Kalau mau pelan, silakan jalan kaki, mungkin besok pagi kau baru sampai, itu pun kalau kau tidak dirampok di tengah jalan," ucap Daniel.
Rachel bungkam dan menatap ke luar jendela, melihat pemandangan yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. Bukan gedung pencakar langit atau deretan pusat perbelanjaan mewah, melainkan rumah-rumah semi permanen, tumpukan ban bekas dan kabel listrik yang semrawut bergelantungan di atas kepala.
Perjalanan terasa sangat panjang, debu jalanan masuk melalui jendela, mengotori blazer nude milik Rachel yang harganya puluhan juta. Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, mobil itu mulai memasuki kawasan yang lebih padat dan kumuh, bau amis laut semakin menyengat dan bercampur dengan aroma gorengan dan bumbu rempah yang kuat.
Daniel menghentikan mobilnya di depan sebuah bangunan sederhana dengan atap seng yang sebagian sudah berkarat. Di depannya, terdapat papan kayu kusam bertuliskan nama yang membuat jantung Rachel seolah berhenti berdetak, 'Kedai Brian'.
"Sudah sampai, turun," perintah Daniel.
Rachel turun dengan kaki yang terasa lemas, matanya langsung tertuju pada sosok pria paruh baya yang sedang menuangkan kuah kaldu ke dalam mangkuk besar di balik etalase kaca yang buram oleh uap, pria itu memakai kaus dalam putih dan handuk kecil yang dikalungkan di leher.
Daddy Brian menoleh, sendok besar di tangannya hampir terlepas saat matanya menangkap sosok wanita yang berdiri mematung di depan kedainya. Rachel terlihat seperti sebuah lukisan mahal yang salah diletakkan di gudang berdebu, kulitnya yang putih bersih tampak kontras dengan dinding kedai yang menghitam karena asap.
"Rachel?" panggil Daddy Brian pelan, bahkan nyaris tidak terdengar karena tenggelam oleh suara bising klakson motor yang melintas.
"Daddy," gumam Rachel, tenggorokannya tercekat.
Rachel ingin berlari memeluk Ayahnya, namun kakinya terasa kaku. Pria di depannya ini terlihat begitu lelah, begitu berbeda dari sosok pahlawan yang ada di ingatannya.
Daddy Brian segera mengelap tangannya yang basah pada kain kumal, ia melangkah keluar dari balik etalase. Namun, langkahnya terhenti beberapa meter dari Rachel, ia mendadak sadar akan penampilannya, kaus dalam yang menguning oleh keringat dan bau kaldu yang melekat kuat di tubuhnya. Ada kecanggungan yang membentang luas di antara mereka, tembok dua belas tahun yang dibangun oleh jarak dan kemewahan.
.
.
.
Bersambung.....
yaaa kaaannnnn
bahwa suatu saat Rachel akan kembali kepada Cintanya yg tinggal di Vietnam
akankah Daniel mengejar Rachel ke Indonesia
like lah Daddy Bryan sudak lampu ijo😁😁🤗
ini emaknya Rachel bener2 kebangetan deh, nyari anak kayak nyari tahanan yg kabur. gila sih udah kayak psikopat aja emaknya.😤😤😤
hemmmm bakal ngamuk nih nanti si daniel
dan sang alpha yg menjaga 🤭
dr interaksi kecil, sentuhan ringan, obrolan yg menjurus keranah pribadi. akhirnya nyaman😄😄😄
lanjut thorrr😁