Tiga tahun setelah perang besar melawan Abyss, dunia tak pernah benar-benar pulih.
Retakan neraka muncul di berbagai penjuru benua, memuntahkan monster, iblis, dan roh-roh jahat yang merasuki manusia.
Rowan Desmond, kesatria terkuat dari Kerajaan Aurelius telah menghabiskan tiga tahun memburu petaka yang tak kunjung berakhir.
Sampai suatu malam Rowan menangkap seorang pencuri bernama Cecilia Landon yang mencuri relik kuno milik kerajaan. Namun Cecilia menyimpan kemampuan besar, dimana ia dapat melihat roh, mendengar bisikan arwah, dan memurnikan kegelapan yang sangat dibutuhkan oleh Rowan.
Rowan akhirnya membuat sebuah perjanjian; Ia akan membantu Cecilia mengumpulkan relik-relik yang diburunya. Sebagai gantinya, Cecilia harus membantu Rowan menghadapi roh-roh yang mengancam seluruh benua.
Namun semakin jauh perjalanan mereka, semakin banyak rahasia yang terkuak, tentang Cecilia yang ternyata terkutuk.
Akankah mereka mampu menyelamatkan dunia atau justru kehilangan satu sama lain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32. BAYANGAN SANG KAPTEN
Udara dipenuhi bau darah, debu, dan sisa energi Abyss yang masih berdenyut dari retakan-retakan hitam yang perlahan mulai menutup. Di berbagai sudut, para kesatria bertempur melawan monster-monster terakhir yang tersisa.
Namun perhatian Rowan sama sekali tidak tertuju pada medan perang itu. Matanya terpaku pada satu sosok; Cecilia.
Gadis itu berdiri beberapa puluh meter darinya. Pedang di tangannya bergerak.
Satu tebasan.
Dua tebasan.
Tiga tebasan.
Tubuh monster Abyss berbadan sebesar lima meter dengan kapak besar itu jatuh ke tanah dan hanya dilakukan oleh Cecilia.
Namun bukan itu yang membuat Rowan membeku. Melainkan cara Cecilia bergerak. Cara sang gadis memutar pergelangan tangan, memindahkan pijakan kaki, memanfaatkan momentum tubuh sebelum melancarkan tebasan berikutnya.
Gerakan itu Rowan mengenalnya dengan sangat baik. Jantungnya berdegup semakin keras.
"Tidak mungkin ..." gumam Rowan.
Tubuh pria itu bahkan terasa dingin, karena gerakan yang sedang ia lihat itu adalah gaya bertarung seseorang yang telah lama meninggal. Seseorang yang tidak mungkin berada di sini lagi.
Colton, Kapten Pasukan Khusus Ravens. Pria yang mengajari Rowan memegang pedang dan yang mati karena kesalahannya.
Napas Rowan tercekat, tubuhnya melangkah perlahan tanpa sadar.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Matanya tidak pernah lepas dari Cecilia. Ia bahkan tidak mendengar suara pertempuran di sekelilingnya.
Yang terdengar hanyalah suara kenangan yang kini tampak di pandangan Rowan.
"Pegang pedangmu lebih santai, Rowan."
Seorang pria paruh tersenyum lebar namun serius pada Rowan kecil yang masih berusia sembilan tahun mengerutkan wajah.
"Tapi kalau santai nanti jatuh," jawab Rowan kecil dalam kenangan itu.
Colton tertawa keras. "Tidak akan."
"Tapi, Paman ..." Rowan menggerutu.
"Sini. Pedang bukan benda yang harus kau paksa tunduk." Pria itu membetulkan posisi tangan Rowan.
"Lalu?" Rowan mendengarkan.
"Pedang adalah teman seperjuanganmu. Bagian dari tubuhmu," kata Colton.
Rowan kecil memiringkan kepala. "Teman?"
"Iya." Colton mengangguk. "Kalau kau menggenggam terlalu keras, kau akan kehilangan fleksibilitas."
"Aku tidak mengerti," kata Rowan kecil.
Pria itu mengetuk kepala Rowan. "Gunakan otakmu. Jangan hanya ototmu."
Rowan mendengus.
Sedangkan Colton tertawa lagi.
Hari itu seperti banyak hari lainnya. Colton selalu ada sebagai guru pertama Rowan.
Tubuh Rowan bergetar, karena gerakan Cecilia saat ini terlalu persis, tidak hanya mirip, bukan sekadar menyerupai. Seolah Colton sendiri yang sedang berdiri di sana.
Tidak.
Bahkan cara mengubah posisi bahu sebelum menebas monster tadi ... itu kebiasaan Colton. Kebiasaan yang tidak pernah diajarkan kepada siapa pun selain anggota Ravens.
Bagaimana Cecilia bisa mengetahui itu Bagaimana mungkin? batin Rowan yang kini tenggelam dalam kenangan lama.
Sebelum Minotour itu menerjang Cecilia, gadis tersebut mengangkat pedangnya, melangkah setengah langkah ke kanan dan membiarkan serangan monster meleset. Kemudian melancarkan satu tebasan horizontal.
Kepala monster terpisah. Tubuh monster itu jatuh.
Dan tepat setelahnya Cecilia menatap Rowan dengan pandangan yang sulit di jelaskan. Gadis itu tersenyum penuh kerinduan yang membuat seluruh pertahanan Rowan runtuh.
"Paman Colton ...." ucap Rowan dengan emosi memenuhi dirinya
Namun Rowan membelalak saat melihat ekspresi gadis itu berubah dengan mata sayu.
TING!
Pedang Cecilia terlepas dari tangannya. Mata Cecilia kehilangan fokus dan tubuhnya limbung.
"CECILIA!"
Rowan langsung berlari saat menyadari hal kecil itu. Semua pikiran tentang Colton menghilang seketika. Yang tersisa hanyalah kepanikan karena Cecilia jatuh.
Tubuh gadis itu kehilangan tenaga sepenuhnya. Dan tepat sebelum tubuhnya menghantam tanah, Rowan berhasil menangkapnya.
BRUK
Tubuh Cecilia jatuh ke dalam pelukan Rowan.
Pria itu berlutut, tangannya memegang bahu Cecilia.
"Cecilia!" panggil Rowan untuk memastikan kesadaran gadis itu.
Tidak ada jawaban.
"Cecilia!"
Kelopak mata gadis itu tertutup, wajahnya pucat, napasnya lemah dengan keringat yang membasahi wajah sang gadis.
Jantung Rowan seakan diremas. Ia langsung menyadari sesuatu, tubuh Cecilia panas. Sangat panas seperti seseorang yang memaksa tubuh sang gadis bergerak meski sudah mencapai batas.
"Dasar bodoh, kau bahkan belum pulih tapi sudah bergerak seperti itu," gumam Rowan dengan suara Rowan bergetar.
Evan berlari mendekat untuk memastikan keadaan sang gadis Ekspresinya langsung berubah ketika melihat keadaan Cecilia
"Bagaimana keadannya?" tanya Evan yang melihat betapa pucat gadis itu.
"Pingsan, kurasa kelelahan," Rowan menjawab singkat.
Rowan mengangkat Cecilia perlahan. Tatapannya masih penuh kekhawatiran, lalu ia memandang Evan.
"Evan?" panggil Rowan
"Ya?" sahut pria berambut hitam itu.
"Aku serahkan sisanya kepadamu, tolong. Aku akan membawa Cecilia ke sisi barat istana," pinta Rowan
"Tentu," jawab Evan lalu melihat keadaan sekitar dan melanjutkan, "Tidak banyak monster lagi yang harus dibereskan."
Evan kemudian menunjuk ke langit.
Dan Rowan melihatnya, retakan Abyss mulai menutup. Energi hitam yang sebelumnya memenuhi langit perlahan menghilang.
"Aaron sudah mulai menutup retakan Abyss sejak tadi," beritahu Evan.
Mendengar itu Rowan akhirnya sedikit tenang. Setidaknya keadaan mulai terkendali dan ia bisa mundur dari pertemuan untuk mengurus Cecilia.
"Jaga dirimu," kata Rowan.
Evan mengangguk. "Kau juga."
Tanpa membuang waktu lagi, Rowan langsung mengangkat Cecilia dengan kedua tangan. Membopongnya lalu berlari meninggalkan tempat itu.
Angin menerpa wajahnya saat ia berlari melewati koridor-koridor istana.
Para kesatria yang ditemuinya langsung menyingkir memberi jalan.
Namun pikiran Rowan kacau karena bayangan pertarungan Cecilia tadi terus terulang di kepalanya.
Colton.
Colton.
Colton.
Nama itu terus muncul.
Bagaimana mungkin? batin Rowan.
Rowan mengenal gaya bertarung Colton lebih baik dibanding siapa pun. Ia menghabiskan masa kecilnya melihat pria itu bertarung. Berlatih dengannya, mengikutinya ke mana-mana. Bahkan para anggota Ravens lainnya tidak bisa meniru gerakan Colton sesempurna itu.
Namun Cecilia melakukannya dengan alami. Seolah telah menggunakan gaya bertarung itu sepanjang hidupnya.
Rowan menggertakkan rahangnya.
Tidak masuk akal, Colton telah mati. Rowan melihat jasadnya sendiri. Menghadiri pemakamannya dan berdiri di depan makamnya selama berjam-jam.
Jadi tidak mungkin Cecilia mengenal Colton dan belajar gaya berpedangnya dengan sempurna.
Namun mengapa rasanya ....
Begitu nyata?
Rowan menunduk melihat wajah Cecilia yang tak sadarkan diri. Rambut pirangnya bergoyang mengikuti langkah Rowan.
Wajah gadis itu tampak damai. Sama sekali tidak menunjukkan bahwa beberapa menit lalu ia sedang bertarung melawan monster-monster Abyss.
Sisi barat istana menjadi tempat perlindungan utama. Area ini dijaga ketat oleh puluhan kesatria elit, karena di sinilah Kaisar dan Permaisuri berada.
Begitu Rowan memasuki area tersebut, para kesatria langsung berdiri tegak.
"Komandan Rowan!"
Mereka memberi hormat serempak.
Namun begitu melihat Cecilia yang tak sadarkan diri dalam gendongannya, ekspresi mereka berubah.
Salah satu kesatria maju. "Putri Cecilia terluka?"
"Panggil tabib istana," perintah Rowan terdengar tegas.
"Baik!" Kesatria itu langsung membungkuk. Kemudian berbalik dan berlari secepat mungkin.
Kesatria lainnya segera membuka jalan. Rowan tidak berhenti, ia terus berjalan menuju bangunan utama.
Pintu besar dibuka.
Dan saat itulah seseorang melihat Rowan.
Permaisuri, wanita itu yang sedang berdiri di aula langsung membelalak saat melihat siapa yang ada dalam gendongan tangan Rowan.
"Cecilia?!"
Gaunnya berkibar saat Permaisuri berlari. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran.
Rowan bahkan belum sempat berkata apa-apa ketika Permaisuri sudah berada di depannya.
"Apa yang terjadi? Mengapa dia tidak sadarkan diri?" tanya Permaisuri seraya menatap Cecilia dengan panik.
Rowan menghela napas. "Ia memaksakan tubuhnya bertarung."
Permaisuri langsung memegang tangan Cecilia. Tangan Cecilia panas, dan itu membuat kecemasan wanita itu semakin besar.
"Cecilia ..." Suara Permaisuri bergetar.
Padahal beberapa jam lalu Permaisuri baru saja bertemu Cecilia yang baru siuman setelah tak sadarkan diri selama tiga hari.
Gadis itu hampir mati, bahkan sempat berada di ambang kematian sebelumnya. Dan sekarang ia melihat Cecilia kembali tidak sadarkan diri.
Tentu saja Permaisuri ketakutan.
"Pelayan! Siapkan kamar dan selimut dan kebutuhan lainnya untuk Putri Cecilia!" perintah Permaisuri.
Beberapa pelayan langsung berlari mendekat.
"Ya, Yang Mulia," ucap para pelayan patuh.
Permaisuri kembali menatap Rowan. "Bawa Cecilia ke salah satu kamar," suruhnya.
Rowan mengangguk. "Baik."
"Lalu ceritakan semuanya padaku. Apa yang sebenarnya terjadi di luar sana sampai Cecilia seperti ini," lanjut Permaisuri dengan tatapan Permaisuri serius.
Rowan hanya mengangguk pelan.
Sementara itu, di luar bangunan keadaan perlahan mulai terkendali.
Para monster yang tersisa semakin sedikit. Retakan Abyss yang memenuhi area timur istana juga mulai menutu.
Di tengah halaman yang penuh reruntuhan berdiri Kaisar. Wajahnya serius.
Seorang kesatria baru saja berlutut di hadapannya. Melaporkan situasi terkini.
"Yang Mulia, area timur berhasil diamankan," lapor Kesatria itu.
Kaisar mengangguk. "Korban?" tanyanya.
"Masih dalam proses pendataan, tapi kemungkinan besar tidak ada korban jiwa," jawab Kesatria itu.
Kaisar mengembuskan napas panjang, merasa bersyukur meskipun kerusakan yang terjadi sangat besar. Setidaknya mereka berhasil bertahan.
"Bagaimana dengan retakan Abyss?" tanya Kaisar lagi.
"Duke Aaron sedang menutupnya," jawab si Kesatria.
"Baguslah," kata Kaisar lega.
Kaisar memandang langit. Cahaya matahari mulai menembus awan yang sebelumnya gelap.
Namun di balik ketenangan Kaisar saat ini, ia juga memikirkan satu hal.
Cecilia. Gadis itu telah menerima laporan singkat bahwa gadis itu kembali bertarung dalam kondisi yang seharusnya belum pulih.
Kaisar menghela napas pelan.
"Jadi seperti ini rasanya jika punya seorang putri, membuat khawatir setengah mati jika ada sesuatu terjadi padanya," gumam Kaisar tak percaya kalau ia sungguh khawatir pada gadis itu.
Cecilia benar-benar tidak pernah berhenti membuat semua orang khawatir.
Di dalam kamar Rowan meletakkan Cecilia dengan hati-hati di atas ranjang dan pergi keluar karena pelayan akan membersihkan dan mengganti pakaian Cecilia.
Selesainya pelayan menyelimuti gadis itu. Mengompres dahi yang panas seperti demam tinggi.
Dan beberapa saat kemudian, tabib istana akhirnya tiba. Pria tua itu langsung memeriksa keadaan Cecilia secara menyeluruh.
Ruangan menjadi sunyi.
Permaisuri berdiri di dekat tempat tidur. Tangannya menggenggam tangan Cecilia.
Sedangkan Rowan berdiri tidak jauh darinya. Wajahnya masih dipenuhi pikiran yang belum menemukan jawaban.
Tabib memeriksa denyut nadi Cecilia dan bertanya kepada pelayan apakah menemukan luka-luka di tubuh sang gadis.
"Bagaimana?" tanya Permaisuri.
"Yang Mulia tidak perlu khawatir. Dia baik-baik saja. Tubuhnya hanya terdapat luka goresan dan saya akan membuatkan salep untuk luka-lukanya," jawab sang Tabib.
Permaisuri langsung bernapas lega. "Syukurlah."
"Dia hanya kelelahan. Dan tubuhnya dipaksa bergerak melebihi batas, tapi tidak ada luka serius, mungkin akan sakit otot selama beberapa hari," lanjut sang Tabib.
Permaisuri memejamkan mata sesaat. Rasa syukur memenuhi dadanya.
Ia tetap merasa marah karena Cecilia selalu mengorbankan dirinya sendiri tanpa memikirkan nyawanya sendiri.
Setelah tabib pergi, suasana kembali hening.
Permaisuri duduk di sisi ranjang, tangannya masih menggenggam tangan Cecilia.
Lalu perlahan ia menoleh ke arah Rowan dan bertanya, "Katakan padaku. Bagaimana bisa Cecilia sampai mengangkat pedang dalam keadaan yang baru saja pulih?"
Rowan terdiam beberapa saat, lalu menceritakan semuanya.
Tentang serangan monster yang menyerang area tempat Cecilia yang seharusnya aman.
Tentang Cecilia yang tiba-tiba ikut bertarung.
Tentang bagaimana gadis itu membantu para kesatria menjatuhkan monster.
Tentang bagaimana ia melindungi banyak orang.
Permaisuri mendengarkan dalam diam.
Namun ketika Rowan berhenti Permaisuri masih menatap Cecilia.
Dan Rowan tahu ada satu bagian yang belum ia ceritakan. Bagian yang terus menghantuinya sejak tadi.
Tatapan Rowan kembali jatuh pada wajah gadis itu. Wajah yang sedang tertidur tenang, lalu dalam hati Rowan kembali melihat sosok lain.
Pria berambut hitam yang selalu tersenyum kepada Rowan, kapten Ravens, Colton.
Jantung Rowan kembali terasa berat, karena semakin ia mengingatnya. Semakin jelas kesamaannya.
Dan hal itu kembali membuka luka lama yang tidak pernah benar-benar sembuh. Sebuah luka yang selalu Rowan sembunyikan.
Luka karena kehilangan seseorang yang paling ia hormati. Seseorang yang mati karena dirinya.
Dan kini entah mengapa, saat melihat Cecilia bertarung.
Untuk sesaat Rowan merasa seolah melihat Colton hidup kembali.
Dan perasaan itu membuatnya jauh lebih takut dari pada seluruh monster Abyss yang baru saja mereka hadapi.
Takut bahwa Colton akan marah kepada Rowan atas kematiannya yang disebabkan oleh Rowan.
serius,,, seperti nonton film kolosal,,, KEREN k Othor,,, lopiyu muachh /Kiss/