Azalea sangat menyukai novel, terkadang dia selalu ingin mengubah jalan cerita jika alur atau endingnya tidaks sesuai dengan ekspektasinya. Terkadang dia juga ingin masuk ke dunia novel supaya bisa merasakan pengalaman menjadi tokoh utama, apalagi jika tokoh utama yang di deskripsikan di kelilingi oleh pria-pria tampan. Dan keinginan Azalea menjadi kenyataan, seperti sebuah mimpi dia masuk ke dalam salah satu novel yang dia baca. Sayangnya tokoh yang dia perankan adalah gadis cantik yang malang. Akankah Azalea mampu menjalani kehidupan barunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Kepala Nayla terasa berdenyut keras saat kesadaran itu perlahan kembali. Seperti ada palu kecil yang terus mengetuk di pelipisnya, membuat seluruh dunia terasa berputar pelan. Ia mengerang lirih, satu tangannya otomatis naik memegangi kepala yang berat, sementara tangan yang satunya lagi menopang tubuhnya yang masih lunglai. Napasnya tidak beraturan. Pandangannya masih buram, seperti kaca yang baru saja disiram embun.
Beberapa detik kemudian, ia berhasil duduk.
Dan saat matanya benar-benar terbuka, ruangan bernuansa putih menyambut penglihatannya.
Putih.
Semua serba putih.
Dinding putih. Seprai putih. Tirai putih. Bahkan lampu di atas kepalanya memantulkan cahaya yang terlalu terang untuk ukuran mata yang baru saja bangun dari pingsan. Nayla mengernyit, lalu buru-buru menyingkap selimut putih yang menutupi separuh tubuhnya. Dadanya langsung berdebar.
“Ya ampun… gue di mana?” gumamnya panik.
Ia menatap sekeliling dengan napas yang mulai memburu. Ruangan itu asing. Bukan kamarnya. Bukan rumahnya. Bukan juga ruang UKS sekolah. Terlalu rapi, terlalu sunyi, dan terlalu tidak familiar untuk disebut aman. Jari-jarinya meremas ujung selimut, lalu dengan tergesa ia menatap bagian-bagian ruangan yang bisa dijangkaunya, seolah berharap menemukan petunjuk.
Namun yang ada hanya keheningan. Lalu seseorang membuka pintu dari luar.
Nayla langsung menoleh dan detik berikutnya, mata gadis itu melotot lebar.
Marvin.
Laki-laki itu berdiri di ambang pintu dengan ekspresi yang sulit dibaca. Satu tangannya masih memegang gagang pintu, lalu perlahan ia menutup pintu itu kembali sebelum benar-benar masuk. Langkahnya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang sedang membuat Nayla jantungan.
“Nay?” suaranya terdengar pelan, seolah menguji keadaan.
Nayla refleks turun dari tempat tidur. Kaki jenjangnya bergerak mundur. Punggungnya membentur sisi nakas, dan tangan kanannya cepat meraih benda pertama yang berhasil disentuh: sebuah gelas kaca berisi air bening.
Tangannya gemetar ketika ia mengangkat gelas itu ke depan, menjadikannya tameng seadanya.
“Berhenti di sana!”
Marvin terdiam sejenak. Keningnya sedikit mengernyit, tapi ia tidak bergerak maju.
“Nay…”
“Gue bilang berhenti di sana kalau lo nggak mau gue lempar benda ini!” Suara Nayla meninggi, meski tetap terdengar bergetar. Beberapa tetes air dalam gelas ikut tumpah, membasahi jarinya.
Marvin menghela napas pendek. “Nggak usah aneh-aneh. Simpen gelasnya.”
“Jangan deket-deket!” bentak Nayla lagi, matanya tajam dan penuh peringatan.
Namun Marvin sepertinya tidak peduli dengan ancaman itu. Ia justru melangkah mendekat, membuat Nayla otomatis mundur lagi. Jarak di antara mereka masih ada, tapi bagi Nayla itu terasa terlalu dekat. Terlalu mengancam. Terlalu membuat napasnya tersendat.
Lalu Marvin meletakkan semangkuk makanan ke atas nakas.
Nayla langsung menatap mangkuk itu, lalu kembali menatap Marvin, lalu menatap pintu, seolah sedang menghitung peluang untuk lari.
“Maksud lo apa bawa gue ke sini, hah?” desis Nayla, suaranya penuh tuduhan. “Kalau mau Endra marah dan habisin lo, bilang aja! Cukup bertindak bodoh dengan culik gue, Marvin!”
Marvin menatapnya dengan tatapan yang tiba-tiba berubah tajam. Ada kejengkelan di sana. Ada sesuatu yang seperti terluka, meski cepat sekali disembunyikan.
“Udah cukup,” ucap Marvin singkat, menahan nada suaranya agar tidak meninggi. “Atas semua tuduhan lo itu.”
Nayla tidak bergeming. Gelas kaca masih dalam genggamannya. Tangannya kian dingin, tapi ia tidak akan menurunkannya. Belum.
“Gue nggak culik lo,” lanjut Marvin. “Gue bawa lo ke sini karena tadi lo pingsan di halte. Kalau gue ninggalin lo, bisa—”
Sebelum ia menyelesaikan kalimatnya, ponsel Marvin berdering.
Nada suara dari balik saku celana itu memecah suasana tegang di antara mereka. Marvin mengernyit, lalu buru-buru merogoh ponselnya. Matanya sempat beralih ke layar, dan ia menghela napas.
“Makan,” katanya cepat, suaranya lebih datar sekarang. “Maaf, cuma ada itu di sini.”
Lalu ia melangkah melewati tubuh Nayla.
Nayla menoleh cepat. “Woi, keluarin gue dari sini! Gue mau pulang!”
Ia langsung bergerak mengikuti Marvin yang lebih dulu membuka pintu kamar. Namun sebelum ia sempat menerobos keluar, pintu itu sudah ditutup dari luar. Klik. Terdengar jelas bunyi kunci diputar. Satu suara kecil yang justru terasa seperti tamparan.
Nayla membeku.
Matanya membesar.
“Marvin!” teriaknya dari dalam kamar. “Buka! Gue mau pulang, sialan!”
Dari balik pintu, suara Marvin terdengar samar namun jelas. “Pulang aja. Tengah malam gini lo mau ke mana?”
Lalu langkah kakinya menjauh.
Nayla langsung menggedor pintu dengan telapak tangannya. Berkali-kali. Keras. Frustrasi. Napasnya naik turun cepat.
“Marvin buka!!”
Namun tidak ada jawaban.
Yang ada hanya sunyi dan itu justru membuat amarahnya semakin naik.
“CK! Sialan!” umpurnya pelan, lalu menendang ujung karpet kecil di bawah kakinya.
Beberapa detik kemudian, ia menyerah.
Dengan tubuh yang masih bergetar, Nayla kembali berjalan ke arah tempat tidur. Ia duduk di sisi ranjang dengan gerakan pelan, lalu meletakkan gelas kaca itu di atas nakas. Pandangannya mengarah pada semangkuk bubur instan yang sejak tadi ditinggalkan Marvin.
Ia menatapnya lama.
Lapar.
Namun egonya lebih keras.
Nayla mendengus kecil. Ia tidak mau makan. Tidak peduli. Biarlah ia kelaparan. Itu bukan hal baru baginya. Kelaparan sudah terlalu sering menjadi teman.
Dengan gerakan masih tergesa, ia menoleh ke arah tempat tidur.
Tas ransel hitamnya ada di sana.
Jantungnya sedikit berdebar lebih cepat.
Mungkin di dalam sana ada sesuatu. Ponsel. Uang. Apa pun. Sesuatu yang bisa membantunya keluar dari tempat ini. Nayla segera meraih tas itu, lalu membukanya dengan jari-jari yang masih gemetar.
Ia mengaduk isi tas dengan perasaan tidak karuan.
Buku catatan. Pulpen. Dompet kecil. Sisa tisu. Kunci kamar yang entah kenapa masih ada di sana. Dan akhirnya ponsel, Nayla langsung meraihnya. Ia menekan tombol daya beberapa kali, lalu layar menyala redup. Senyumnya hampir muncul.
Hampir.
Namun begitu ia melihat angka baterai di pojok layar…
2%.
“Enggak, enggak, enggak…” bisiknya panik.
Ia langsung membuka notifikasi.
Banyak sekali panggilan masuk.
Semua dari Endra.
Beberapa pesan juga masuk, sebagian besar bertanya di mana dia, apakah dia baik-baik saja, kenapa tidak menjawab, dan di mana ia berada. Ada nada khawatir yang sangat jelas dari setiap panggilan tak terjawab itu. Endra pasti mencarinya. Pasti panik.
Nayla menggigit bibir bawahnya. Dadanya terasa hangat sekaligus sesak.
Tidak ada panggilan dari rumah.
Tidak ada panggilan dari mama.
Tidak ada panggilan dari papa.
Tidak ada panggilan dari Devan.
Tidak ada panggilan dari Jevan.
Tidak ada satu pun.
Nayla menatap layar ponsel itu lama.
Lalu ia tertawa kecil—pahit, getir, dan terlalu hampa untuk disebut tawa. Jadi memang benar mereka tidak mencarinya. Atau mungkin mereka memang tidak peduli.
Air matanya menggenang lagi.
Cepat-cepat ia mengusapnya dengan punggung tangan, menolak tangis itu sebelum benar-benar jatuh. Ia sudah terlalu sering menangis malam ini. Jika terus begitu, ia akan kehilangan tenaga.
Lebih baik menghubungi Endra. Laki-laki itu mungkin satu-satunya orang yang bisa menolongnya saat ini.
Nayla menelan ludah. Jarinya bergerak cepat menekan tombol panggil. Satu nada sambung terdengar.
Dua.
Tiga.
Ia menunggu dengan napas tertahan, memeluk ponsel itu erat seperti benda itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya sekarang.
“Halo, Endr—”
Sial.
Suaranya baru saja keluar ketika layar ponsel tiba-tiba mati.
Nayla langsung memekik kecil.
“Endra? Endra…”
Ia menggeser-geser jari di layar dengan panik, mencoba menyalakan ponselnya lagi.
Nol.
Baterainya habis total.
Nayla terdiam.
Buru-buru ia menekan tombol power berkali-kali, tapi layar tetap gelap. Tak ada nyala, tak ada respon, tak ada harapan.
“Enggak…” bisiknya lirih.
Ia menatap ponsel itu seolah-olah dengan memandangnya lebih lama, benda itu akan hidup kembali.
Namun tidak.
Ponselnya benar-benar mati.
Dan sekarang ia tidak bisa menghubungi siapa pun.
Tidak Endra.
Tidak siapapun.
Nayla mengusap wajahnya dengan kasar.
“Gue harus gimana?” suaranya pecah. “Gimana caranya gue bisa pergi dari sini?”
Kamar itu terasa semakin sempit.
Semakin pengap.
Semakin menyesakkan.
Nayla berdiri dari tempat tidur dengan langkah cepat, lalu berjalan mondar-mandir di depan pintu. Sesekali ia menempelkan telinga ke daun pintu, berharap bisa mendengar suara langkah kaki Marvin kembali. Namun yang terdengar hanya suara malam yang jauh di luar sana.
Sunyi.
Ia menatap gagang pintu.
Lalu mencoba memutarnya.
Terkunci.
Tentu saja.
Nayla menggeram kecil, lalu memukul pintu itu pelan dengan kepalan tangan.
“Marvin!” teriaknya lagi, suaranya menggema di ruangan putih itu. “Buka pintunya!”
Tidak ada jawaban.
Yang ada hanya detak jantungnya sendiri yang terdengar semakin keras di telinga.
Nayla memejamkan mata.
Ia harus berpikir.
Harus tenang.
Harus mencari jalan keluar.
Namun setiap kali ia mencoba menenangkan diri, wajah papa, rumah, alasan ia berlari, dan panggilan-panggilan Endra selalu kembali menghantam pikirannya seperti gelombang yang tak pernah selesai.
Apa yang harus ia lakukan?
Apa yang bisa ia lakukan?
Ia bahkan tidak tahu di mana dirinya sekarang. Hanya tahu bahwa tempat ini bukan rumah Marvin. Bukan rumah sakit. Bukan tempat yang seharusnya ia datangi. Dan yang paling penting—
Ia sendirian.
Nayla menatap jendela kecil di sisi ruangan. Tapi jendela itu tertutup rapat. Tinggi. Mustahil dijangkau tanpa alat. Bahkan jika bisa, kemungkinan melompat keluar di malam hari bukan pilihan cerdas. Jaraknya terlalu jauh dari tanah. Jika jatuh, bisa-bisa ia malah terluka lebih parah.
Ia menghela napas berat.
Lalu kembali duduk di tepi ranjang.
Tatapannya jatuh pada mangkuk bubur yang belum disentuh.
Perutnya tiba-tiba berbunyi pelan.
Nayla menunduk, malu pada dirinya sendiri.
Ia lapar.
Sangat lapar.
Namun ia masih marah.
Masih takut.
Dan masih terlalu keras kepala untuk makan dari tangan Marvin.
Tangannya bergerak mengambil mangkuk itu, lalu menaruhnya agak menjauh. Ia membencinya bukan karena makanan itu, tapi karena situasi ini. Karena ia tidak suka merasa tidak berdaya. Karena sejak tadi ia dipaksa menerima kenyataan yang sama sekali tidak ia mau.
Ruangan itu tetap putih. Tetap tenang. Tetap sunyi. Namun di dalam kepala Nayla, semua suara seperti berdesakan.
Suara papa yang membentak.
Suara mama yang menangis.
Suara tubuhnya sendiri saat pingsan di halte.
Dan suara Marvin yang mengatakan bahwa ia tidak menculiknya.
Apakah benar?
Atau itu hanya cara lain untuk menenangkannya?
Nayla meremas ujung selimut.
Ia mencoba mengingat kembali.
Tadi malam atau lebih tepatnya, beberapa jam lalu, ia duduk menangis di halte. Marvin datang. Duduk di sampingnya. Bertanya sesuatu yang bahkan kini terasa samar. Lalu…Lalu mungkin ia benar-benar pingsan.
Itu bisa saja terjadi.
Namun kenapa Marvin membawanya ke tempat seperti ini?
Kenapa tidak ke rumah sakit?
Kenapa tidak menghubungi Endra?
Kenapa menutup pintu dari luar?
Semua itu terlalu banyak.
Terlalu mencurigakan.
Terlalu membuatnya ingin panik lagi.
Nayla memeluk lututnya dan menunduk.
Sial.
Ia tidak bisa membiarkan diri tenggelam lebih dalam.
Kalau terus begini, ia hanya akan kehabisan tenaga tanpa bisa keluar.
Ia menarik napas panjang.
Lalu berbisik pada dirinya sendiri, sangat pelan, nyaris seperti doa.
“Tenang, Nayla… tenang.”
Namun kalimat itu tak benar-benar berhasil.
Karena beberapa detik kemudian, ia kembali mendengar suara di luar kamar.
Langkah kaki.
Nayla langsung menegakkan tubuhnya.
Kepalanya menoleh cepat ke arah pintu.
Seseorang sedang mendekat.
Langkah itu berhenti tepat di depan pintu kamar.
Nayla menahan napas.
Jantungnya berdebar begitu kencang sampai ia yakin suaranya bisa terdengar di seluruh ruangan.
Klik.
Suara kunci diputar.
Pintu terbuka perlahan.
Dan saat sosok itu muncul di celah pintu, Nayla kembali menegang.
Marvin.
Laki-laki itu berdiri di sana dengan raut wajah yang tak bisa ditebak. Satu tangannya masih memegang gagang pintu, sementara tangan lainnya menggantung di sisi tubuh. Matanya langsung menangkap Nayla yang duduk di atas ranjang dengan wajah tegang.
“Lo belum makan?” tanyanya pelan.
Nayla langsung berdiri.
“Jangan deket-deket!”
Marvin menghela napas pendek.
Ia tidak bergerak maju.
Hanya menatapnya beberapa detik.
Lalu pintu kembali dibuka lebih lebar.
Dan di belakang Marvin, ada sesuatu yang membuat Nayla mengerutkan kening.
Sebuah kantong plastik.
Marvin menaruhnya di atas nakas.
“Gue beli charger.” katanya datar. “Biar lo bisa ngubungin orang.”
Nayla terdiam.
Dunianya sempat berhenti.
Charger?
Ia menatap benda itu, lalu kembali menatap Marvin.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak langsung bicara.
Marvin menatapnya sebentar, lalu menambahkan, “Dan nggak, gue nggak maksud nyusahin lo.”
Nayla masih diam.
Namun matanya mulai bergerak ke kantong plastik itu.
Ada charger baru di sana.
Dan sebotol minuman.
Sebuah roti kecil.
Serta makanan lain yang tampaknya dibeli tergesa-gesa.
Marvin menatapnya.
“Gue nggak tahu lo suka apa, jadi gue ambil yang gampang.”
Nayla menelan ludah.
Emosinya masih campur aduk.
Masih takut.
Masih bingung.
Masih marah.
Tapi di antara semua itu ada sedikit rasa yang tidak ia suka akui—Lega.
Ia tidak tahu kenapa Marvin melakukan ini.
Namun setidaknya mungkin laki-laki itu benar-benar tidak berniat buruk. Atau mungkin ia memang terlalu lelah untuk terus curiga.
Marvin lalu merapatkan pintu lebih sedikit, tetapi tidak menguncinya lagi dari luar. “Lo mau gue tunggu di luar?” tanyanya, suaranya tetap datar, tapi lebih lembut dari sebelumnya.
Nayla mengerutkan kening.
“Kenapa?”
Marvin mengangkat bahu.
“Karena lo keliatan kayak orang yang mau kabur kalau gue tinggal.”
Nayla tidak menjawab.
Karena… ya itu memang benar.
Marvin menyandarkan punggungnya ke pintu, lalu menatap Nayla tanpa bicara. Ada jarak di antara mereka. Cukup untuk membuat Nayla merasa aman. Cukup untuk memberinya ruang berpikir.
Nayla menatap charger itu.
Lalu ponselnya yang mati.
Lalu kembali ke Marvin.
Ia harus menghubungi Endra.
Sekarang.
Namun sebelum bergerak, ia justru bertanya pelan, hampir tidak terdengar, “Lo… kenapa nolong gue?”
Marvin diam.
Pertanyaan itu seolah membuatnya terhenti sejenak.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menjawab, “Karena gue nggak mau lo kenapa-kenapa.”
Nada suaranya tenang.
Terlalu tenang.
Namun justru itu yang membuat Nayla semakin sulit menatapnya.
“Lo nggak harus percaya,” lanjut Marvin. “Tapi itu jawaban gue.”
Nayla menatapnya lama.
Lalu perlahan, dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia mengambil charger dari atas nakas.
Ia belum sepenuhnya percaya.
Belum juga tenang.
Tapi setidaknya sekarang ia punya sesuatu.
Sesuatu kecil untuk berpegangan.
Dan untuk malam ini mungkin itu cukup.
Nayla kembali duduk di tepi ranjang, menancapkan charger ke ponselnya dengan hati-hati. Layar menyala perlahan, menampilkan ikon baterai merah yang nyaris kosong.
Ia menghela napas.
Sementara itu Marvin masih berdiri di dekat pintu, diam, menunggu tanpa mendesak.
Nayla menatap layar ponselnya saat baterai mulai naik sedikit demi sedikit.
1%.
2%.
3%.
Ia menelan ludah, lalu mulai menekan tombol panggil lagi.
Kali ini dengan harapan yang lebih besar.
Kali ini dengan hati yang jauh lebih cemas.
Karena dia tahu begitu Endra menjawab, semuanya akan berubah lagi.