Sebuah kecelakaan tragis menimpa Lin Xinyu, Tuan Putri Kerajaan Beiyan. Pamannya yang haus kekuasaan ingin melengserkannya dari takhta dan mengambil alih Kerajaan Beiyan. Terdesak oleh bahaya yang mengancam nyawanya, Lin Xinyu terpaksa melarikan diri. Dalam keputusasaan, ia akhirnya melompat dari tebing tinggi yang curam.
Namun, ia tidak mati. Jiwanya justru melintasi waktu, terlempar jauh ke masa depan, dan memasuki tubuh Yu Anqi, seorang gadis muda di dunia modern. Di sana, ia bertemu rekan-rekan baru dan berhasil memecahkan banyak kasus yang terjadi di zaman itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Shalima, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Siapa Aku?
Di antara kerumunan itu, ada seorang wanita muda yang sedang mendorong keranjang belanja. Wanita itu adalah An Na, sahabat dekat Yu Anqi. Begitu melihat sosok yang berdiri di dekat kaca itu, matanya langsung melebar.
“Anqi?!” seru An Na kaget. Ia segera berlari menghampiri sahabatnya itu. “Anqi, kamu di sini! Syukurlah aku menemukannya!”
An Na langsung memegang bahu Yu Anqi, memeriksa kondisi sahabatnya dari ujung kepala hingga kaki. Melihat baju rumah sakit yang dipakainya dan wajahnya yang pucat serta bingung, hati An Na terasa perih. Ia segera menoleh ke arah pengunjung lain yang masih menatap mereka penasaran.
“Maafkan semuanya! Maaf, teman saya ini, Ia sedang sakit,” ucap An Na dengan senyum memohon maaf, berusaha membuat orang-orang kembali dengan urusan mereka masing-masing. Setelah suasana agak tenang, An Na kembali menatap Anqi dengan tatapan penuh kekhawatiran.
“Anqi, Apa kau sedang sakit? Baju ini… apa ibumu menyiksamu lagi sampai kamu masuk rumah sakit?” tanya An Na pelan, suaranya terdengar cemas. “Apakah dia memukulmu lagi? Katakan kepadaku.”
Yu Anqi yang di dalamnya ada jiwa Lin Xinyu hanya menatap wanita di hadapannya dengan wajah datar dan penuh tanda tanya. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan wanita ini. Siapa ibuku? Apa maksudnya dipukul? Semua kata-kata itu terdengar asing di telinganya.
“Apa maksud ucapanmu? Aku tidak mengerti sama sekali,” jawab Yu Anqi dingin. “Dan siapa kamu sebenarnya? Apakah kamu mengenal ku?”
Mendengar jawaban itu, An Na semakin khawatir. “Aku An Na! Sahabatmu! Kamu… kamu jangan bercanda, Qi. Apa ibumu sudah memukul kepalamu sampai jadi begini?”
Merasakan bahwa ia tidak mendapatkan jawaban yang jelas, Yu Anqi memilih untuk berbalik badan. “Aku tidak punya waktu untuk meladeni orang yang tidak aku kenal,” ucapnya ketus, lalu berniat pergi meninggalkan tempat itu.
Namun, baru saja ia melangkah, langkahnya terhenti. Tiba-tiba ingatan samar melintas di benaknya, ia teringat dirinya jatuh dari tebing, tersedot cahaya putih, dan bangun di tubuh orang lain. Ia sadar, tubuh yang ia tempati ini bukan miliknya. Mungkin wanita di depannya ini adalah orang yang mengenal pemilik asli tubuh ini. Jika ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dan bagaimana caranya kembali, wanita ini adalah kuncinya.
Yu Anqi menarik napas panjang, lalu berbalik kembali menghadap An Na. Wajahnya yang tadinya dingin kini sedikit melunak, matanya menatap An Na dengan pandangan penuh harap.
“Aku benar-benar tidak tahu siapa dirimu, dan sejujurnya aku bahkan tidak tahu siapa aku sebenarnya,” ucapnya pelan, suaranya terdengar tulus. “Aku tidak mengingat apapun sekarang. Bisakah kau membantuku? Tolong ceritakan semuanya padaku.”
Melihat tatapan polos dan bingung sahabatnya itu, An Na akhirnya menghela napas panjang. Ia mengangguk pelan. “Baiklah, kalau begitu ikut aku saja ke rumah. Di sana kita bisa bicara.”
Tanpa menolak, Yu Anqi mengikuti An Na keluar dari supermarket dan menuju rumah kecil tempat An Na tinggal. Sesampainya di sana, An Na menyuruhnya duduk di kursi ruang tamu, lalu mulai menceritakan segalanya dengan perlahan.
“Dengar, Qi. Namamu Yu Anqi. Ibu kandungmu, Ibu Meyli, adalah wanita yang sangat jahat. Dia tidak pernah menganggapmu sebagai anak kandungnya. Setiap hari kamu selalu disiksa, dipukuli, dan disuruh bekerja secara terus-menerus. Dia bahkan sering tidak memberimu makan sama sekali, dan membiarkanmu kelaparan berhari-hari.”
An Na mengusap air mata yang mulai menetes di pipinya. “Aku sudah sering menyuruhmu untuk pergi dari rumah itu, Qi. Aku juga sudah berkali-kali menyuruhmu untuk tinggal di sini bersamaku. Tapi kamu selalu menolaknya. Kamu selalu mengatakan, bagaimanapun juga dia ibumu, kamu berharap suatu saat nanti hatinya akan luluh dan dia akan menyayangimu. Tapi harapan itu tidak pernah menjadi kenyataan, Kamu malah semakin di siksanya.”
Yu Anqi mendengarkan semua itu dengan diam, dadanya terasa sesak mendengar betapa menderitanya kehidupan pemilik tubuh ini. Ia yang dulu hidup di istana, disegani banyak orang, tidak pernah membayangkan ada manusia yang hidupnya sesengsara ini.
Setelah hening sejenak, Yu Anqi kembali bertanya, “Lalu… bagaimana kita bisa menjadi teman dekat? Apakah ada sesuatu yang terjadi yang membuat kita berteman?”
Mendengar pertanyaan itu, wajah An Na sedikit berubah, teringat kenangan lama yang membekas di hatinya. Ia tersenyum tipis sambil mengangguk.
“Tentu saja aku ingat jelas. Waktu kita masih sekolah di SMA, aku difitnah oleh teman-teman sekelas,” cerita An Na pelan. “Saat itu cincin emas milik teman sekelas kita hilang, dan mereka semua menuduh aku yang mencurinya. Padahal aku sama sekali tidak melakukannya. Semua orang mencaciku, membenciku, dan tidak ada satu pun yang mau membelaku. Aku merasa sangat sedih dan putus asa, sampai rasanya ingin berhenti sekolah saja.”
An Na menatap Anqi dengan tatapan penuh rasa terima kasih. “Saat itu, hanya kamulah satu-satunya orang yang membelaku. Kamu berani melawan mereka semua, berusaha mencari bukti, dan akhirnya berhasil membongkar siapa pencuri yang sebenarnya. Berkat kamu, namaku kembali bersih. Sejak hari itu, kita menjadi teman baik, selalu bersama-sama, dan saling menjaga satu sama lain. Kamu adalah sahabat terbaik yang aku miliki.”
Yu Anqi mengangguk perlahan, menyimpan semua informasi itu di dalam ingatannya. Sekarang ia mulai sedikit memahami siapa pemilik asli tubuh ini dan betapa beratnya nasib yang harus dijalani gadis yang bernama Yu Anqi ini.
Akhirnya, Yu Anqi yang kini berjiwa Lin Xinyu meminta An Na menemaninya pulang, ia mengaku lupa jalan menuju rumahnya. Akhirnya, An Na pun bersedia mengantarkannya.
Sesampainya di rumah susun tua itu, Yu Anqi menatap sekeliling dengan tatapan penuh keterkejutan dan rasa jijik. Bagaimana mungkin manusia tinggal di tempat sekumuh ini? batinnya bergumam. Bahkan kandang kuda di Istananya jauh lebih luas dan nyaman dibandingkan bangunan sempit ini.
Yu Anqi pun menaiki tangga hingga sampai di lantai tiga. Di depan sebuah pintu kayu yang sudah kusam, Yu Anqi mengetuknya pelan. Tak lama, pintu terbuka, dan tampaklah ibunya berdiri di sana. Begitu melihat putrinya, wajah ibu itu langsung berubah marah, tangannya terangkat hendak melayangkan tamparan keras.
Praak!!
Dengan gerakan cepat, Yu Anqi menangkis tangan itu. Tatapannya tajam, berbeda dari putrinya yang biasa ia kenal penakut dan lemah.
“Jangan sekali-kali kau angkat tanganmu untuk memukulku lagi. Atau jangan salahkan aku jika tanganku ini mematahkan pergelangan tanganmu itu sekarang juga,” bentak Yu Anqi dengan suara rendah namun penuh ancaman.
Ibunya tertegun, kaget melihat perubahan drastis itu, namun segera berteriak marah, “Kau berani melawan ibumu sendiri?! Dasar anak tidak tahu diri!”
Yu Anqi mengabaikan suara itu. Ia melangkah masuk tanpa peduli, sementara di belakangnya ibunya terus mengomel, membuat suasana semakin bising dan menyakitkan telinga.
“Berisik,” gumam Yu Anqi keras.
Ia segera menemukan kamar sempit yang berantakan itu. Tanpa buang waktu, ia mengemasi beberapa helai pakaian ke dalam tas apa adanya. Tak peduli baju apa yang diambilnya, yang penting segera keluar dari tempat menjijikkan itu.
Melihat tingkah putrinya, ibunya bertanya dengan nada curiga dan kasar, “Heh! Mau kabur ke mana kau hah? Mau lari ke mana membawa barang-barang itu?”
Yu Anqi berhenti sejenak, menoleh menatap ibunya dengan senyum miring yang dingin dan sinis.
“Aku mau pergi ke neraka. Kenapa? Kau mau ikut menemaniku?” jawabnya ketus.
Ia langsung berjalan menuju pintu untuk pergi, namun ibunya segera menghalangi jalan dengan tangan terbuka. “Jangan harap kau bisa keluar dari sini! Bayar dulu hutang-hutang ayahmu!”
Tanpa ragu sedikit pun, Yu Anqi mendorong tubuh ibunya itu dengan tenaga yang cukup kuat hingga wanita tua itu terdorong jatuh ke lantai sambil terus mengomel dan memaki.
“Minggir,” ucapnya dingin.
Yu Anqi melangkah keluar tanpa menoleh lagi, meninggalkan ibunya yang mengamuk sendirian di dalam rumah itu. Di bawah tangga, An Na sudah setia menunggu. Melihat Anqi datang dengan wajah dingin dan tas di tangannya, An Na segera menyambut.
“Ayo pergi,” ucap Yu Anqi singkat.