Deskripsi
The British Royal Family karya Moms Celina adalah novel roman kerajaan yang mengisahkan perjuangan cinta, pengorbanan, dan harapan kedua kalinya. Berlatar di istana megah Inggris, cerita ini mengikuti perjalanan Elizabeth yang harus menyeimbangkan hati dan tanggung jawab, serta Taylor yang harus memilih antara takhta dan orang yang dicintainya. Dengan alur yang menegangkan, adegan yang hangat, dan konflik yang menyentuh hati, novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai kisah cinta yang melawan aturan, serta ikatan keluarga yang tak tergoyahkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms Celina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabar dari Selatan dan Rencana yang Gelap
Sementara di wilayah utara suasana dipenuhi kedamaian dan sukacita, di tempat yang jauh di seberang lembah dan sungai, di bagian selatan kerajaan, suasana terasa sangat berbeda. Di sana, di dalam sebuah istana kecil yang tersembunyi di balik hutan lebat dan perbukitan, sekelompok orang berkumpul di dalam ruangan yang remang-remang, diterangi hanya oleh cahaya lilin yang berkedip-kedip, membuat bayangan mereka terlihat seperti sosok-sosok raksasa yang menari-nari di dinding batu. Wajah mereka dipenuhi kemarahan dan kekecewaan, dan suara mereka bergema rendah namun penuh amarah, seolah-olah udara di dalam ruangan itu sendiri menjadi panas dan berat karena kebencian yang menyelimuti mereka.
Mereka adalah sekelompok bangsawan dan pedagang kaya yang merasa kekuasaan dan keuntungan mereka terancam sejak Taylor dan Elizabeth mulai memegang kendali. Selama bertahun-tahun, mereka telah hidup dalam kemewahan dan kekuasaan, memanfaatkan kedudukan mereka untuk mengambil keuntungan dari rakyat, membuat aturan yang menguntungkan diri sendiri, dan menguasai sumber daya tanah dan air di wilayah selatan. Namun sejak Taylor dan Elizabeth mulai memperbaiki keadaan, membuat hukum yang adil untuk semua orang, dan memastikan bahwa kekayaan dan kekuasaan tidak hanya berputar di tangan segelintir orang, kedudukan mereka mulai goyah. Keuntungan mereka berkurang, rakyat yang dulu tak berdaya kini mulai mendapatkan hak mereka, dan kekuasaan yang selama ini mereka pegang mulai terlepas dari genggaman mereka.
Karena itulah mereka bersekongkol, menyusun rencana jahat untuk menjatuhkan kekuasaan kerajaan. Mereka yang dulu mendukung Guetta, Berlin, dan Valeria, kini melanjutkan rencana mereka dengan cara yang lebih berbahaya. Ketika rencana mereka untuk menanamkan keraguan di wilayah utara gagal total, dan justru membuat rakyat di sana bersatu lebih erat lagi dengan pemimpin mereka, kemarahan mereka meledak hingga tak bisa lagi ditahan.
“Kita telah memberi mereka kesempatan untuk berdamai dengan cara halus,” kata salah satu dari mereka, seorang laki-laki paruh baya bernama Lord Marcus, yang memiliki wajah keras dan mata yang tajam dan dingin. Dia adalah orang yang paling berkuasa di antara mereka, orang yang memiliki tanah dan kekayaan paling banyak, dan orang yang paling membenci perubahan yang terjadi di kerajaan. “Kita telah mencoba memisahkan hati mereka, kita telah mencoba membuat rakyat membenci mereka, tapi semua itu gagal. Orang muda itu terlalu cerdas, dan istrinya memiliki pengaruh yang jauh lebih kuat daripada yang kita duga. Mereka telah memenangkan hati rakyat di utara, dan jika kita membiarkan mereka terus berjalan seperti ini, tak lama lagi seluruh negeri akan berdiri di belakang mereka, dan kita akan kehilangan segalanya.”
Orang-orang yang duduk mengelilingi meja besar itu mengangguk setuju, wajah mereka dipenuhi kekhawatiran dan amarah. Mereka tahu bahwa jika keadilan dan persatuan terus menyebar ke seluruh negeri, hari-hari kekuasaan mereka akan berakhir selamanya.
“Kalau begitu, kita tak bisa lagi bermain dengan kata-kata dan kebohongan,” kata orang lain, Lord Gideon, yang tubuhnya gemuk dan suaranya berat. “Kita harus bertindak dengan cara yang lebih tegas. Kita harus menyerang mereka secara langsung, sebelum mereka memiliki kesempatan untuk memperkuat posisi mereka. Mereka kini berada jauh di pegunungan utara, jauh dari ibu kota dan jauh dari pasukan utama mereka. Rombongan mereka kecil, dan mereka dikelilingi oleh orang-orang yang masih baru mereka kenal. Ini adalah kesempatan terbaik yang kita miliki. Jika kita bisa menghabisi mereka di sana, maka kekacauan akan menyebar ke seluruh negeri, dan kekuasaan akan kembali ke tangan kita.”
Suasana di dalam ruangan menjadi hening sejenak, dan cahaya lilin berkedip seolah ikut merasa takut mendengar kata-kata itu. Rencana yang mereka ucapkan kini bukan lagi sekadar kebohongan atau penipuan, melainkan rencana pembunuhan dan pemberontakan, rencana yang jika terungkap akan membuat mereka dihukum mati dengan cara yang paling kejam. Namun ambisi dan kebencian di dalam hati mereka sudah tumbuh sedemikian besarnya, hingga mereka tak lagi memedulikan hukum atau akibat dari perbuatan mereka. Bagi mereka, kekuasaan dan kekayaan adalah segalanya, dan mereka rela menumpahkan darah siapa saja yang menghalangi jalan mereka.
“Tapi bagaimana caranya?” tanya Lord Marcus, matanya menyala penuh perhitungan. “Jalan ke pegunungan utara jauh dan sulit, dan kita tak bisa mengirim pasukan besar tanpa ketahuan. Jika kita mengirim banyak orang, kabar akan menyebar lebih dulu, dan mereka akan bersiap atau melarikan diri. Kita butuh cara yang cepat, diam-diam, dan mematikan. Kita harus memastikan bahwa begitu mereka mati, tak ada bukti yang bisa mengarah pada kita.”
Saat itulah seorang laki-laki yang selama ini berdiri diam di sudut ruangan, menutupi wajahnya dengan tudung jubahnya, akhirnya melangkah maju. Dia adalah orang yang mereka sebut sebagai “Tangan Kiri”, seorang pembunuh bayaran dan ahli perang yang bekerja untuk siapa saja yang mampu membayar harganya. Dia telah melakukan banyak tugas berbahaya di berbagai tempat, dan tangannya telah berlumuran darah banyak orang, baik orang yang bersalah maupun orang yang tak bersalah. Dia dikenal karena kecepatan, kebisuan, dan kehebatannya dalam bertindak, dan orang-orang di dalam ruangan itu tahu bahwa jika ada orang yang bisa melakukan tugas ini, dialah orangnya.
“Biarkan aku yang mengurusnya,” kata orang itu dengan suara yang rendah dan kasar, suara yang seolah-olah tak pernah tersenyum atau berbicara dengan lembut seumur hidupnya. “Aku memiliki pasukan kecil yang terdiri dari orang-orang terlatih, orang yang tak takut mati dan tak pernah berbicara tentang apa yang mereka lakukan. Kita akan bergerak malam-malam, melewati jalan-jalan rahasia yang hanya kita ketahui, dan kita akan sampai ke wilayah utara sebelum ada orang yang menyadari keberadaan kita. Kita akan menyerang saat mereka sedang lengah, saat mereka sedang tidur atau sedang beristirahat, dan kita akan memastikan bahwa tak ada satu orang pun dari rombongan mereka yang bisa hidup untuk menceritakan apa yang terjadi. Begitu tugas selesai, kita akan menghilang kembali ke dalam bayang-bayang, dan tak ada orang yang akan tahu siapa pelakunya. Orang akan berpikir bahwa mereka tewas dalam serangan binatang buas atau pertikaian antar suku, dan kekacauan akan terjadi seperti yang kalian inginkan.”
Mendengar kata-kata itu, senyum kejam terukir di wajah para bangsawan itu. Mereka merasa bahwa rencana mereka akhirnya menemukan jalan keluarnya. Dengan bantuan orang ini, mereka yakin bahwa mereka akan berhasil mencapai tujuan mereka.
“Lakukanlah apa yang harus kau lakukan,” kata Lord Marcus dengan suara rendah namun penuh tekad. “Gunakan berapa pun uang yang kau butuhkan, ambil berapa pun orang yang kau perlukan, tapi pastikan bahwa tugas ini selesai dengan sempurna. Jika kau berhasil, kau akan mendapatkan hadiah yang tak pernah kau bayangkan sebelumnya. Tapi ingatlah, jika kau gagal, maka nasibmu akan lebih buruk daripada kematian itu sendiri.”
Orang itu hanya mengangguk perlahan, lalu berbalik dan berjalan keluar dari ruangan, menghilang kembali ke dalam kegelapan malam seperti hantu yang kembali ke tempat asalnya. Di dalam hatinya, dia tak memedulikan alasan atau tujuan dari majikannya. Baginya, orang yang akan dia bunuh hanyalah nama di atas kertas, dan tugas hanyalah cara untuk mendapatkan uang dan kekuasaan. Dia tak peduli apakah mereka orang baik atau orang jahat, dia tak peduli apakah mereka membawa kedamaian atau pertikaian, dia hanya tahu bahwa dia dibayar untuk membunuh, dan dia akan melakukannya dengan cara yang paling sempurna.
Malam itu juga, persiapan dimulai. Orang itu mengumpulkan orang-orangnya, dua puluh lima orang laki-laki yang berbadan tegap, berwajah dingin, dan membawa senjata yang tajam dan mematikan. Mereka menyiapkan kuda-kuda yang cepat dan kuat, mereka membawa perbekalan secukupnya, dan mereka mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk perjalanan panjang dan tugas mematikan yang menanti mereka. Saat bulan mulai terbit di langit, mereka bergerak keluar dari tempat persembunyian mereka, bergerak diam-diam melewati jalan-jalan rahasia, berjalan sepanjang malam dan beristirahat di siang hari agar tak ketahuan, bergerak semakin dekat dan semakin dekat menuju tempat di mana Taylor dan Elizabeth berada, membawa serta kematian dan kegelapan di balik langkah mereka.
Sementara itu, di pegunungan utara, suasana masih dipenuhi kedamaian dan sukacita. Hari-hari mereka berjalan dengan indah, diisi dengan pertemuan dan pembicaraan, diisi dengan tawa dan persahabatan. Taylor dan Elizabeth menghabiskan waktu mereka untuk berjalan berkeliling dari satu permukiman ke permukiman lain, bertemu dengan rakyat dari berbagai suku dan daerah, mendengar keluh kesah mereka, memahami kebutuhan mereka, dan membuat kesepakatan dan perjanjian yang adil untuk semua pihak. Mereka membuktikan dengan perbuatan, bukan hanya dengan kata-kata, bahwa mereka datang untuk membawa perubahan yang baik, bahwa mereka datang untuk menjadi pemimpin dan saudara yang sesungguhnya.
Mereka membuat daftar perubahan aturan yang akan diterapkan, mereka membuat rencana untuk membangun jalan dan jembatan, mereka mengatur agar guru dan tabib dikirim ke daerah-daerah terpencil, dan mereka memastikan bahwa rakyat di sana takkan lagi merasa terasingkan atau diabaikan. Rakyat menyambut mereka dengan tangan terbuka, memberi mereka makanan dan tempat tinggal, bercerita tentang kehidupan dan kebiasaan mereka, dan menyatakan kesetiaan dan kasih sayang mereka pada pemimpin mereka. Di antara mereka, ikatan persaudaraan yang kuat telah terjalin, ikatan yang takkan mudah diputuskan oleh jarak atau waktu.
Namun meski suasana terasa damai dan aman, mata dan telinga mereka tetap terbuka. Kael dan para pengawal hutan terus mengawasi keadaan di sekeliling mereka, mengamati setiap orang yang datang dan pergi, mendengar setiap kabar dan desas-desus yang beredar. Mereka tahu bahwa meski bahaya yang terlihat telah berlalu, masih ada bahaya yang bersembunyi di dalam kegelapan, masih ada orang yang berniat jahat yang berusaha menghancurkan kedamaian dan persatuan yang telah mereka bangun.
Pada suatu sore, saat matahari mulai terbenam dan mewarnai langit dengan warna merah keemasan, Kael datang menemui Taylor dan Elizabeth yang sedang duduk di teras rumah Kepala Suku Arlan, memandang pemandangan lembah yang luas di bawah mereka. Wajah Kael yang biasanya tenang dan penuh senyum kini terlihat serius dan waspada, dan langkahnya terlihat cepat dan tergesa-gesa.
“Tuan, Nyonya,” kata Kael dengan suara rendah namun jelas, begitu dia berdiri di hadapan mereka. “Aku membawa kabar yang tak menyenangkan. Beberapa orang pengintai yang aku kirim ke arah selatan telah kembali, dan mereka melihat sesuatu yang mencurigakan. Ada sekelompok orang yang bergerak cepat menuju ke arah sini, jumlah mereka sekitar dua puluh sampai tiga puluh orang, semuanya bersenjata lengkap dan bergerak dengan teratur. Mereka tak berpakaian seperti pedagang atau pelancong, dan mereka bergerak diam-diam, berusaha menghindari jalan-jalan utama dan tempat tinggal penduduk. Mereka bergerak dengan cepat, dan jika mereka terus berjalan dengan kecepatan yang sama, mereka akan sampai ke daerah ini dalam waktu dua hari lagi.”
Mendengar kabar itu, senyum di wajah Taylor dan Elizabeth perlahan memudar, digantikan oleh wajah yang serius dan waspada. Mereka tahu bahwa ini bukan sekadar kebetulan. Mereka tahu bahwa orang-orang yang datang ini tak datang dengan niat damai. Ini adalah jawaban dari kebohongan dan kejahatan yang mereka hadapi sebelumnya. Ini adalah tindakan dari orang-orang yang berniat menghancurkan mereka, orang-orang yang tak bisa menerima kenyataan bahwa kebenaran dan keadilan telah menang, orang-orang yang rela menumpahkan darah demi ambisi dan kekuasaan mereka.
“Jadi mereka akhirnya menunjukkan wajah asli mereka,” kata Taylor dengan suara yang tenang namun matanya menyala dengan tekad yang kuat. “Mereka telah gagal dengan cara halus, dan kini mereka berusaha dengan cara yang kejam. Mereka berpikir bahwa karena kita berada jauh dari ibu kota, karena kita dikelilingi oleh pegunungan dan hutan, dan karena jumlah kita sedikit, mereka bisa datang dan menyerang kita dengan mudah. Mereka berpikir bahwa kita takkan siap menghadapi mereka, dan mereka berpikir bahwa dengan membunuh kita, mereka bisa mengembalikan kekuasaan mereka dan membuat negeri ini kembali ke dalam kegelapan. Tapi mereka salah besar.”
Elizabeth duduk tegak di samping suaminya, wajahnya tetap tenang dan tak menunjukkan rasa takut sedikitpun, meski di dalam hatinya dia merasakan beratnya bahaya yang sedang mendekat. “Mereka datang dengan kekerasan, berpikir bahwa kekuatan senjata dan jumlah orang akan membuat mereka menang. Tapi mereka lupa satu hal: kita tak berjuang sendirian. Kita tak berjalan sendirian. Kita memiliki saudara dan teman yang berdiri di sisi kita, orang-orang yang telah bersatu dalam hati dan pikiran, orang-orang yang takkan membiarkan kejahatan dan pembunuhan menang di tanah ini. Jika mereka datang untuk berperang, maka mereka akan menemukan bahwa mereka bukan hanya melawan kita, tapi mereka melawan seluruh rakyat yang telah bersatu dalam keadilan dan persatuan.”
Mereka segera memanggil Kepala Suku Arlan dan para tetua suku untuk memberitahu mereka tentang bahaya yang sedang mendekat. Mendengar kabar itu, wajah orang-orang tua itu berubah serius, namun tak ada rasa takut yang terlihat di mata mereka. Sebaliknya, api semangat dan kemarahan menyala di dalam pandangan mereka. Mereka adalah orang yang terbiasa berjuang melawan alam dan bahaya, orang yang tak pernah mundur di hadapan musuh, dan mereka tahu bahwa ini adalah saat di mana mereka harus membuktikan kesetiaan dan keberanian mereka.
“Orang-orang ini datang bukan hanya untuk membunuh kalian,” kata Arlan dengan suara yang dalam dan bergema, suaranya penuh dengan wibawa dan semangat. “Mereka datang untuk menghancurkan kedamaian yang telah kita bangun, mereka datang untuk memisahkan kita kembali, mereka datang untuk membawa pertikaian dan penderitaan ke tanah kita. Mereka berpikir bahwa kita adalah orang yang lemah dan tak berdaya, orang yang takkan berani melawan mereka. Tapi mereka salah. Tanah tempat kita berpijak ini adalah tanah yang telah kita jaga dengan darah dan air mata. Hutan dan gunung ini adalah rumah kita, dan kita mengenal setiap jengkal jalan, setiap celah batu, dan setiap tempat persembunyian di daerah ini. Jika mereka ingin datang membawa kematian dan kejahatan ke tanah kita, maka mereka akan menemukan kematian mereka sendiri di sini.”
Segera, persiapan dimulai. Para pemimpin suku segera mengumpulkan orang-orang mereka, mengumpulkan prajurit dan orang-orang yang terlatih dalam bertarung, menyiapkan senjata, perisai, dan baju besi yang mereka miliki. Mereka membuat rencana pertahanan, membagi tugas dan posisi, dan mengatur strategi untuk menghadapi musuh yang datang. Mereka takkan menunggu musuh datang sampai ke pintu rumah mereka, mereka akan pergi menemui mereka di jalan, di tempat yang mereka pilih sendiri, tempat di mana kelebihan mereka dalam mengenal medan perang akan menjadi kekuatan terbesar mereka.
Kael dan para pengawal hutan dikirim untuk mengawasi gerak-gerik musuh, untuk melaporkan posisi dan pergerakan mereka setiap saat, dan untuk memastikan bahwa mereka tak bisa bergerak diam-diam atau menyerang dari arah yang tak disangka. David dan Fransiskus membantu menyusun strategi, menggunakan pengalaman dan pengetahuan mereka dalam peperangan untuk memastikan bahwa rencana mereka disusun dengan sempurna. Para rakyat pun ikut berpartisipasi, membantu menyiapkan makanan, air, dan perbekalan, membantu membuat perangkap dan pertahanan, dan menyatakan bahwa mereka siap berjuang sampai titik darah penghabisan untuk melindungi pemimpin mereka dan kedamaian yang telah mereka dapatkan.
Saat malam mulai turun dan langit menjadi gelap, ribuan bintang mulai berkilau di langit di atas puncak gunung. Di satu sisi, ada sekelompok orang yang bergerak dengan cepat dan diam-diam, membawa niat jahat dan pembunuhan di dalam hati mereka, bergerak semakin dekat menuju tempat tujuan mereka. Di sisi lain, ada sekelompok orang yang bersatu dalam hati dan pikiran, orang yang berjuang untuk kebenaran dan keadilan, orang yang siap mempertahankan apa yang mereka miliki dengan segenap kekuatan mereka.
Pertarungan besar kini semakin dekat. Di antara hutan dan gunung, di antara cahaya dan kegelapan, di antara kebenaran dan kebohongan, dua kekuatan yang berlawanan akan segera bertemu. Dan dalam pertarungan ini, hanya satu yang akan menang: mereka yang berjuang dengan hati yang tulus, atau mereka yang berjuang dengan hati yang penuh kejahatan dan ambisi.