Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.
Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukanlah Hal Yang Sulit
Hazel dan Gavin menghabiskan beberapa menit di dalam ruang komando untuk menenangkan diri. Setelah itu, Hazel merapikan kembali rambutnya yang mulai mengering dan Gavin kembali memakai jaketnya.
Gavin membuka pintu ruangan terlebih dahulu, kembali memasang wajah datarnya yang tegas seolah obrolan penuh air mata dan lamaran mendadak tadi tidak pernah terjadi. Hazel mengekor di belakang, mencoba mengatur napas agar rona merah di pipinya tidak terlalu kentara.
Begitu mereka kembali ke aula tengah, keheningan malam yang tadinya menegangkan kini terasa lebih bersahabat. Dokter Tyas, Suster Kinan dan Suster Nayla yang sedang asyik menyeruput teh hangat langsung mendongak.
Hazel yang merasa menjadi pusat perhatian langsung berjalan agak cepat dan duduk di sebelah Dokter Tyas, ia mengambil kembali gelas tehnya yang sudah agak dingin untuk menutupi rasa gugupnya.
"Bagaimana, Dokter Hazel?" tanya Dokter Tyas.
Hazel berdeham kecil, mencoba menstabilkan suaranya. "Kapten Gavin tadi... cuma menjelaskan mengenai kondisi Pak Joko, sekarang kondisi Pak Joko sudah stabil dan sedang dalam tahap pemulihan," bohong Hazel.
"Syukurlah kalau gitu, Dok," ucap Dokter Tyas.
"Selain itu, kami juga membahas kemungkinan penundaan pelayanan ke desa karena debit air sungai yang naik drastis. Jadi untuk sementara waktu, kita bisa fokus menjaga klinik darurat di pos saja," tambah Hazel, Suster Nayla mengangguk-angguk paham dan merasa lega karena tidak ada tugas luar.
"Silakan dicicipi, Dok, Sus. Masih hangat, pas buat menemani malam hujan begini," ucap Sersan Baim yang baru saja kembali dari dapur pos dengan membawa sebaskom kecil singkong rebus hangat.
"Terima kasih, Sersan," ucap Suster Kinan dan diangguki Sersan Baim.
Setelah mendengar jawaban Hazel yang terdengar sangat logis, Dokter Tyas dan kedua suster akhirnya percaya. Mereka tidak lagi melayangkan pertanyaan-pertanyaan aneh yang membuat Hazel semakin salah tingkah, obrolan pun beralih santai dan membahas suka duka sebagai tenaga medis, diselingi tawa kecil yang sesekali meredam suara gemuruh guntur di luar.
Di sudut aula yang agak remang, Gavin tampak duduk bersama beberapa prajurit. Tangannya memegang cangkir berisi kopi hitam, namun pandangannya tidak pernah benar-benar lepas dari sosok Hazel. Setiap kali Hazel tertawa kecil mendengar cerita Suster Kinan, sudut bibir Gavin ikut terangkat tipis, sebuah pemandangan yang sangat langka bagi para prajuritnya.
Waktu berjalan merayap mendekati pukul dua belas malam, badai yang sejak semalam mengamuk perlahan-lahan mulai mereda, menyisakan suara rintik gerimis tipis yang jatuh di atas atap seng. Udara dingin perbatasan semakin menusuk tulang, membuat sebagian prajurit yang berjaga mulai menyandarkan kepala mereka di dinding aula untuk memejamkan mata sejenak.
Hazel sendiri mulai merasakan kantuk yang luar biasa menyerang pertahanannya, kepalanya beberapa kali terangguk kecil dan mencoba menahan kantuk dengan terus memegangi cangkir tehnya yang sudah kosong.
Melihat hal itu, Gavin bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan menghampiri Sersan Baim yang berjaga di dekat pintu depan.
"Sersan Baim, siapkan ruang perwira di sebelah barat. Biarkan para tenaga medis istirahat di sana, kasur di sana lebih tebal dan ruangannya tidak bocor seperti barak," perintah Gavin dengan suara rendah agar tidak mengejutkan yang lain.
"Siap, Kapten! Segera saya siapkan," jawab Sersan Baim sigap.
Tak butuh waktu lama, Sersan Baim kembali dan mempersilakan para tenaga medis wanita untuk pindah ke ruang transit. Ruangan tersebut memang jauh lebih nyaman, terdapat beberapa ranjang kapuk yang cukup besar, lengkap dengan selimut tebal kering yang sudah disiapkan.
"Wah, istimewa sekali malam ini. Terima kasih ya, Sersan," ucap Dokter Tyas sambil merebahkan tubuhnya yang sudah terasa remuk.
"Sama-sama, Dok. Ini semua atas perintah Kapten Gavin," jawab Sersan Baim sambil tersenyum lalu pamit keluar dan menutup pintu ruangan.
Suster Kinan dan Suster Nayla langsung naik ke ranjang satunya, sementara Hazel memilih ruang kosong di sebelah Dokter Tyas. Begitu tubuhnya menyentuh kasur, rasa lelah sejak semalam runtuh seketika, ia menarik selimutnya hingga sebatas dada.
Sebelum benar-benar memejamkan mata, Hazel menyentuh pipinya sendiri yang beberapa jam lalu sempat ditangkup oleh tangan hangat Gavin. Pertanyaan Gavin tentang pernikahan masih terngiang jelas di telinganya, membawa rasa hangat yang aneh sekaligus debaran yang menenangkan.
'Dua tahun, aku sudah menunggu selama empat belas tahun, Gavin. Menunggu dua tahun lagi bukanlah hal yang sulit, asalkan kali ini kita benar-benar berjuang bersama,' batin Hazel.
Dengan pikiran yang jauh lebih tenang dibanding malam-malam sebelumnya sejak ia menginjakkan kaki di perbatasan, Hazel akhirnya terlelap dengan senyuman tipis yang menghiasi bibirnya. Badai di luar mungkin telah merusak jalur darat dan mengisolasi desa, namun badai di dalam hatinya kini telah sepenuhnya reda.
Pagi harinya, Hazel dan para tenaga medis wanita sudah kebali ke kamar masing-masing dan mulai bersiap berjaga di barak medis darurat yang ada di pos.
Hazel sendiri sedang sibuk mencatat inventaris obat-obatan bersama Suster Kinan, "Dokter Hazel, ini botol alkoholnya ditaruh di rak atas atau bawah?" tanya Suster Kinan.
"Di rak bawah saja, Suster. Biar kalau keadaan darurat lebih mudah diambil," jawab Hazel.
Tak lama kemudian, Dokter Ivan masuk ke dalam barak dengan langkah yang santai namun wajahnya menyiratkan kabar kurang mengenakkan, ia membawa sebuah papan klip berisi laporan situasi harian dari pos depan.
"Selamat pagi semuanya, jadi untuk hari ini kita akan menunggu di sini dulu. Kapten Gavin dan beberapa prajurit sejak pagi tadi sudah pergi ke lokasi untuk melihat langsung kondisi jalanan dan jembatan gantung. Jadi, kita tunggu instruksi selanjutnya dari mereka," ucap Dokter Ivan yang merupakan koordinator.
"Apa parah kondisinya, Dok?" tanya Suster Dokter Tyas yang baru saja masuk.
"Laporan terakhir lewat radio sih begitu, Dokter Tyas. Air dari hulu masih turun deras, makanya Kapten Gavin mau memastikan sendiri apakah jembatannya masih aman atau tidak untuk dilewati," jawab Dokter Ivan.
Sekitar tiga puluh menit berlalu dalam ketidakpastian, suara deru mesin mobil akhirnya terdengar memasuki gerbang pos komando. Hazel menahan napasnya sejenak dan dari balik jendela, ia bisa melihat mobil tersebut berhenti dengan cipratan lumpur tebal yang memenuhi sekujur bodi kendaraan, menandakan medan yang mereka lalui di luar sana benar-benar hancur.
Pintu mobil terbuka dan Gavin turun dari kursi kemudi, kaus hitamnya tampak ditempeli noda tanah di beberapa bagian, bahkan sepatunya pun sudah penuh dengan lumpur merah yang pekat. Wajahnya terlihat letih, namun tatapan matanya tetap tajam dan berwibawa seperti biasa. Di belakangnya, Sersan Baim dan dua prajurit menyusul turun dengan kondisi yang tidak jauh berbeda.
.
.
.
Bersambung.....
SeMangattt Up Lagii Buat Besok Kak
Makasiiii Kak Cerita Sorenya
SeMangattt Up Sorenya Kakkkk
Makasiii Ceritanya Siang Iniiii
SeMangattt Up Lagiii Buat Siang Kak