NovelToon NovelToon
TERJERAT CINTA MAJIKAN

TERJERAT CINTA MAJIKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: AlinaKS

Neysa seorang gadis cantik, terperangkap menjadi pelayan karena suatu alasan. Siapa sangka Anak Majikannya, Darren akan jatuh hati padanya. Seribu cara ia lakukan, agar Neysa jatuh ke tangannya. Namun siapa yang tahu, Neysa yang biasa saja, wanita yang selalu terpojok oleh keadaan itu menyimpan sesuatu hal yang besar. Ternyata ....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AlinaKS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 2

***

Neysa memalingkan wajahnya, berusaha menjauh dari Darren. Tangannya gemetar, tapi ia meneguhkan hati. Ia tahu, menolak lelaki itu berarti menantang amarahnya. Namun, menjaga jarak adalah hal yang paling masuk akal saat ini.

Darren hanya tertawa pelan, sebuah tawa yang sarat ancaman. Mata kelamnya menatap Neysa seperti seorang pemburu yang enggan melepaskan buruannya. Tanpa memberi peringatan, ia menangkap kedua tangan Neysa, mengangkatnya ke atas dengan cengkeraman yang kuat.

“Neysa,” gumamnya, suaranya rendah namun penuh tekanan. “Berhenti bermain-main denganku.”

Hati Neysa berdegup kencang, ketakutan yang menguasai dirinya bercampur dengan rasa enggan untuk menyerah. Baru saja Darren mendekatkan wajahnya, Neysa buru-buru bersuara, meski suaranya terdengar bergetar.

“Baik... baiklah! Aku akan mempertimbangkannya! Tapi lepaskan aku,” pintanya dengan nada memohon.

"Apanya yang dipertimbangkan?"

Neysa memejamkan mata. "Menikah denganmu! Aku akan mempertimbangkannya. Sungguh. Demi apapun."

Senyum puas Darren merekah, penuh kemenangan. Ancaman itu memang lebih efektif daripada bujukan untuk menundukkan gadis di hadapannya. Ia melonggarkan genggamannya dan perlahan menurunkan tangan Neysa, tapi matanya tak sekalipun berpaling dari wajahnya.

Darren berdehem ringan, lalu dengan santai membenahi dasi dan kerah bajunya. “Aku harus kembali ke acara keluarga ini dengan penampilan yang sempurna, bukan?” ujarnya, setengah bercanda namun tetap membuat Neysa merasa kecil.

Ia mengulurkan tangan, merapikan rambut Neysa yang berantakan akibat perjuangannya tadi. Sentuhan itu lembut, namun menyisakan hawa dingin yang merayap hingga ke tulang. Darren melangkah pergi tanpa berkata apa-apa lagi, meninggalkan Neysa dalam keheningan.

Begitu pintu tertutup, Neysa terjatuh di lantai. Napasnya memburu, dadanya sesak seolah baru saja lolos dari cengkeraman seekor ular. Ia mengusap wajahnya, mencoba menghilangkan ketakutan yang terus mengintai pikirannya.

“Bagaimana aku bisa keluar dari situasi ini?” bisiknya lirih. Air mata mulai menggenang di sudut matanya, tapi ia buru-buru menghapusnya. Ia tidak mau terlihat lemah, meski tidak ada seorang pun yang bisa melihatnya saat ini.

Jessica. Nama itu melintas di benaknya. Wanita itu jelas mencurigai sesuatu. Bagaimana mungkin Jessica—yang sudah tahu perasaan Darren padanya—tetap membiarkan semuanya berjalan seperti ini?

Neysa menghela napas berat. Semakin Darren mendekat, semakin kecil ruang yang tersisa untuknya. Ia tidak tahu seberapa lama ia bisa bertahan, tapi satu hal yang pasti: ia tidak bisa terus hidup dalam bayang-bayang Darren.

“Aku harus melakukan sesuatu... Aku tidak bisa terus terhina seperti ini,” gumamnya, kali ini lebih tegas.

**

Di kamar, Neysa membaringkan tubuhnya, membiarkan rasa lelah merayap ke seluruh tubuhnya. Hari ini begitu berat. Bukan hanya hidupnya yang terus-menerus terasa seperti permainan kejam takdir, tetapi juga drama tiada akhir dengan Darren yang membuat pikirannya semakin kacau.

Matanya melirik ke arah Ellen, teman sekamarnya yang tengah menangis sesenggukan. Isakannya memenuhi ruangan yang sunyi. Dari cerita singkat Ellen, kekasihnya telah berselingkuh—lebih buruk lagi, wanita itu kini hamil. Rencana pernikahan mereka hancur, meski si lelaki berdalih bahwa dirinya telah dijebak.

Neysa menyipitkan matanya. Senyuman kecil yang tak wajar terlukis di bibirnya. "Dijebak?" gumamnya, nyaris seperti bisikan licik. Pikirannya langsung berputar. Jika Darren bisa terpancing seperti itu... Bukankah lebih mudah untuk menjebaknya bersamaku? Kalau Nyonya Barnes sampai tahu anaknya terus mendekatiku, segalanya bisa berubah menjadi lebih menguntungkan.

"Ellen!" Neysa berseru tiba-tiba, dengan suara yang penuh antusias.

Ellen mengangkat wajahnya yang sembab, matanya merah dan basah. "Apa?" gumamnya dengan suara serak.

"Dimana Nyonya Barnes sekarang?" tanya Neysa, matanya berkilat penuh semangat.

Ellen mengernyit. "Di bawah. Mungkin sedang di dapur."

Neysa segera bangkit, tanpa memedulikan keterkejutan Ellen. Ia melangkah cepat menuju tangga, tapi langkahnya melambat ketika ia mendekati kamar Darren. Sebuah ide melintas di kepalanya. Ia sengaja berhenti tepat di depan pintu kamar lelaki itu, lalu pura-pura bersin keras.

Hampir pasti dia akan keluar, pikirnya sambil menahan senyum.

Tepat seperti dugaannya, pintu kamar terbuka, dan Darren muncul, mengenakan piyama kusut. Matanya yang setengah terpejam memperlihatkan rasa terganggu. Namun sebelum sempat berkata apa-apa, Neysa sudah melangkah cepat ke bawah, menuju dapur.

Ruang tengah kosong, hanya diterangi cahaya lampu temaram. Sesaat, Neysa ragu untuk melangkah lebih jauh. Tapi langkahnya terhenti tiba-tiba ketika sebuah tangan kuat menariknya ke dalam kegelapan dapur.

"Darren!" serunya tertahan, merasa tubuhnya terpojok di depan lemari es.

Darren berdiri di hadapannya, memerangkap tubuhnya dengan kedua tangan yang bertumpu pada lemari. Matanya tajam, mengintimidasi. "Apa yang kau lakukan di sini malam-malam begini?" suaranya rendah, tetapi penuh tekanan.

Neysa menelan ludah, lalu, tanpa peringatan, ia menjatuhkan diri ke lantai. Tangisnya pecah.

"Apa-apaan ini?" Darren terkejut, alisnya bertaut bingung.

Namun sebelum ia sempat bertanya lebih jauh, suara lantang memecah keheningan. "DARREN!"

Keduanya menoleh serempak ke arah pintu dapur. Berdiri di sana, Nyonya Barnes dengan tatapan tajam yang penuh kemarahan.

"Jelaskan padaku sekarang juga! Apa yang kau lakukan dengan pelayan ini?!" bentaknya.

Neysa segera bangkit dan berlari memeluk kaki Nyonya Barnes, tangisnya semakin menjadi-jadi. "Maafkan aku, Nyonya! Aku sudah berusaha menghindar... tapi Tuan Darren terus memaksa! Aku tahu statusku di rumah ini... Aku tidak ingin mengecewakan Nyonya!" katanya dengan suara gemetar, seolah dipenuhi rasa takut.

Darren menatap Neysa dengan mata melebar, tidak percaya. "Apa-apaan kau, Neysa?!" suaranya penuh emosi, tapi ia tidak bisa mengatakan lebih.

"Jawab aku, Darren!" Nyonya Barnes menatapnya penuh amarah. "Apa kau ingin mencoreng nama keluarga kita?! Apa kau lupa bagaimana keluarga Cadmael menjaga nama baik mereka? Pertunanganmu dengan putri mereka adalah segalanya bagi kita! Kau satu-satunya pewaris keluarga ini!"

Darren terdiam, wajahnya memucat. Namun Neysa menangkap sekilas kegugupan di wajahnya dan menyeringai kecil, penuh kemenangan.

Namun, sesuatu yang tak terduga terjadi. Darren tiba-tiba berlutut di depan ibunya, kepalanya menunduk dalam.

"Aku mencintainya," katanya tegas.

Ruangan terasa membeku. Nyonya Barnes menatap putranya dengan mata membelalak. "Darren!" serunya, nyaris kehilangan suara.

Darren mendongak, menatap ibunya dengan tatapan penuh tekad. "Dia hamil anakku."

Seketika, Neysa tersentak, wajahnya memucat. Matanya membesar, menatap Darren yang kini berdiri dengan tenang.

"Neysa," suara dingin Nyonya Barnes memecah keheningan, tatapannya tajam menembus Neysa. "Apakah itu benar?"

Neysa hanya bisa diam, mulutnya terbuka tanpa suara.

"Kau tidak menggugurkan anak kita 'kan?" sambung Darren, dengan wajah penuh harap.

"A-apa?!"

B e r s a m b u n g ....

1
asy
lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!