NovelToon NovelToon
Oh! Mantan Kekasihku

Oh! Mantan Kekasihku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dokter
Popularitas:21.8k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Menjadi Dokter sukses di usia 31 tahun ternyata tidak cukup bagi Hazel untuk membeli satu hal yang paling ia inginkan yaitu kebebasan dari kekangan Ibunya, hingga ia dipaksa untuk pergi ke daerah perbatasan demi ambisi sang Ibu mencari menantu tentara.

Namun, takdir punya rencana lain. Di tempat itulah Hazel kembali dipertemukan dengan seorang pria yang sudah lama ia kenal, pria yang mampu menggoyahkan perasaan Hazel setelah 14 tahun lamanya.

Bagaimana kelanjutan ceritanya? Siapakah pria itu? Bagaimana nasib Hazel?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Si-Siapa Itu?

​Malam harinya, langit seolah menumpahkan seluruh kemarahannya. Hujan turun dengan sangat deras, menciptakan suara gemuruh yang memekakkan telinga saat butiran air berukuran besar menghantam atap seng barak. Angin kencang bertiup kencang, menggoyang dahan-dahan pohon di luar dan membuat dinding tripleks bangunan darurat itu berderit beberapa kali.

​Di dalam kamar wanita, suasana benar-benar mencekam. Hazel, Dokter Tyas, Suster Kinan dan Suster Nayla berkumpul di tengah ruangan. Mereka sengaja menggeser posisi duduk mereka agar saling berdekatan, mencoba mencari rasa aman di tengah badai yang mengamuk di luar.

​Suara petir yang sangat menggelegar tiba-tiba menyambar tepat di atas pos komando, guncangannya terasa sampai ke lantai yang mereka pijak.

​"Astagfirullah!" pekik Suster Kinan sambil spontan menutup kedua telinganya dengan rapat dan menyembunyikan wajahnya di balik bahu Dokter Tyas.

"Dok, ini hujannya kok seram banget ya? Petirnya kayak dekat banget sama kita," ucap Suster Kinan.

​Dokter Tyas, yang usianya paling senior di antara mereka, mencoba tetap tenang meski tangannya sendiri terasa agak dingin. "Tenang, Suster Kinan. Ini karena kita berada di dataran tinggi, makanya suara petirnya terdengar lebih keras. Yang penting kita tetap di dalam ruangan," jawab Dokter Tyas.

​Hazel sendiri duduk sambil memeluk lututnya di atas ranjang lipat, matanya menatap cemas ke arah jendela kaca yang terus-menerus bergetar dihantam angin.

​Tiba-tiba, lampu neon yang menerangi barak berkedip dua kali lalu padam sepenuhnya. Ruangan itu seketika berubah menjadi gelap gulita, menyisakan kegelapan pekat yang hanya sesekali terbelah oleh kilatan petir dari luar.

​"Kyaaa! Gelap!" Suster Kinan berteriak histeris, reflex mencengkeram lengan Dokter Tyas dengan sangat kencang.

​"Aduh, Suster Kinan, jangan teriak-teriak! Bikin tambah panik saja," sahut Suster Nayla yang meraba-raba kantong jaketnya dan berusaha mencari ponselnya untuk menyalakan senter.

"Bentar, aku cari hp dulu buat penerangan," lanjutnya.

​"Dokter Hazel, Dokter Tyas, kalian di mana? Jangan jauh-jauh!" suara Suster Kinan terdengar mulai terisak karena ketakutan.

​"Saya di sini, Suster Kinan," jawab Hazel dengan suara yang diusahakan setenang mungkin, meskipun jantungnya sendiri berdegup cukup kencang.

​Di tengah kepanikan kecil dan kasak-kusuk mencari pemantik api atau senter ponsel, tiba-tiba terdengar suara ketukan yang cukup keras dari arah pintu depan barak.

​Tok! Tok! Tok!

​Suara ketukan itu beradu dengan deru angin malam, terdengar begitu tegas dan konstan. Keempat wanita di dalam ruangan itu seketika terdiam, Suster Kinan langsung menahan napasnya dan menghentikan tangisannya. Di tengah hutan perbatasan, malam-malam buta, mati lampu dan badai besar, ketukan pintu seperti itu tentu saja sukses mengirimkan sensasi merinding ke tengkuk mereka masing-masing.

​"Si-siapa itu?" bisik Suster Kinan dengan suara gemetar.

​Tidak ada satu pun dari mereka yang berniat bergerak untuk membuka pintu, semuanya terpaku di posisi masing-masing dan saling pandang dalam kegelapan yang hanya diterangi oleh satu buah senter dari ponsel milik Suster Nayla yang baru menyala.

​Tok! Tok! Tok!

Ketukan itu terdengar lagi, kali ini disertai suara bariton yang sangat familier di telinga mereka.

​"Dokter, ini saya. Sersan Baim," ucap pria dari luar yang merupakan Sersan Baim.

​Mendengar nama Sersan Baim disebut, helaan napas lega serentak terdengar dari keempat wanita tersebut, ketegangan yang sempat memuncak seketika mencair.

​"Biar aku saja yang buka," ucap Dokter Tyas yang posisinya memang paling dekat dengan pintu masuk.

Dokter Tyas berdiri sambil membawa ponsel Suster Nayla sebagai penerang jalan, melangkah dengan hati-hati agar tidak tersandung.

​Dokter Tyas memutar kunci selot dan membuka pintu tersebut. Begitu pintu terbuka, embusan angin malam yang membawa uap air hujan langsung menusuk masuk ke dalam kamar. Di ambang pintu, berdiri Sersan Baim yang mengenakan jas hujan berwarna hijau tua yang basah kuyup. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah senter yang menyala cukup terang.

​Namun, perhatian Hazel tidak tertuju pada Sersan Baim. Matanya justru langsung menangkap sosok tinggi tegap yang berdiri tepat di belakang Sersan Baim, terlindung di bawah emperan atap barak.

​Gavin berdiri di sana, pria itu menggunakan jaket tahan air berwarna hitam dengan ritsleting ditarik tinggi hingga dagu, rambutnya tampak sedikit basah di bagian depan dan beberapa tetes air hujan tampak mengalir di rahang tegasnya.

"Dokter, ayo kita ke pos komando utama. Disana bangunannya dari batu bata, anginnya disini kencang, jadi takut kalau kenapa-napa. Semua tenaga medis sudah disana," ucap Sersan Baim.

Dokter Tyas saling berpandangan sejenak dengan Hazel, Suster Nayla dan Suster Kinan, lalu beralih menatap kedua pria didepannya terutama Gavin yang masih berdiri mematung di belakang Sersan Baim. Angin kencang kembali berembus, membuat atap seng di atas mereka berderit ngeri seolah siap terbang kapan saja.

​"Baik, Sersan. Kami ganti jaket tebal sebentar dan ambil tas darurat," jawab Dokter Tyas.

​"Baik, Dok! Kami tunggu di luar, harap bergegas ya," sahut Sersan Baim ramah.

​Hazel segera bergerak dalam kegelapan yang minim, meraba-raba ranjang lipatnya untuk mengambil tas medis kecil dan jaketnya. Entah kenapa, jantungnya kembali berdegup kencang. Ia tidak menyangka Gavin akan ikut turun tangan langsung malam-malam begini hanya untuk memastikan keamanan tim medis.

​Begitu keempat wanita itu siap dengan perlengkapan mereka, mereka keluar dari barak secara berurutan. Sersan Baim langsung mengarahkan senter besarnya ke jalanan tanah yang kini sudah berubah menjadi aliran air berlumpur setinggi mata kaki.

​"Hati-hati langkahnya, jalannya licin soalnya!" seru Sersan Baim setengah berteriak menembus suara gemuruh hujan.

​Saat giliran Hazel melangkah keluar dari pintu barak, sebuah kilatan petir yang sangat terang menyambar dan disusul suara menggelegar yang memekakkan telinga. Suster Kinan di depannya memekik kaget dan mempercepat langkahnya, membuat barisan mereka agak terputus, Hazel yang kaget refleks menghentikan langkahnya. Namun, karena tanah yang dipijaknya sangat licin, sandal yang ia kenakan kehilangan pijakannya.

​Tubuh Hazel tergelincir ke samping, ia sudah bersiap merasakan dinginnya lumpur. Namun, sebuah lengan kokoh dengan sigap langsung menangkap pinggangnya dari belakang dan menariknya masuk ke dalam dekapan yang sangat akrab.

​"Sudah dibilang hati-hati," bisik Gavin tepat di dekat telinganya.

Suara Gavin yang berat terdengar samar di antara deru hujan, namun entah mengapa terdengar begitu jelas di kepala Hazel. ​Gavin tidak langsung melepaskan pegangannya, ia membalikkan tubuh Hazel perlahan agar menghadap ke arahnya lalu menarik tudung jaket yang dipakai Hazel agar menutupi kepalanya dengan sempurna dari terpaan air hujan.

​"Pegang lenganku, jalanannya licin soalnya," ucap Gavin datar, namun cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Hazel terasa begitu erat dan hangat.

​Hazel yang masih syok karena hampir terjatuh dan juga karena kedekatan mereka yang mendadak itu hanya bisa mengangguk pasrah, ia mencengkeram lengan jaket Gavin yang basah dan menjadikannya sebagai tumpuan utama saat mereka mulai berjalan membelah hujan menuju gedung pos komando utama.

.

.

.

Bersambung.....

1
Indriani Kartini
jangan takut hazel ada babang gavin
Ceethra DeeNa
Lanjutt Kak
SeMangattt Up Lagii Buat Besok Kak

Makasiiii Kak Cerita Sorenya
Sri Udaningsih Widjaya
Suka ceritanya kak
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Vie
ya bukanya tujuan mamah nya Hazel nyuruh ikut kesana kan untuk mempertemukan dan menjodohkan Hazel dengan komandan pasukan yang ada di sana... jadi gampang aja kali...
Raisha: jangan² ma²nya hazel memang dah tau kalo yg jadi komandan pasukannya itu Gavin,jadi dia sengaja nyuruh hazel ikut jadi sukarelawan ke sana tp caranya nyuruh yg gak di sukai hazel krn apapun yg hazel mau & impikan pasti gak di setujui oleh ma²nya...dan mungkin juga dah dari pertama mereka pacaran sebenarnya ma²nya dah setuju tp waktu itu mereka kan masih sekolah,jd ma²nya kurang suka kalo mereka pacaran,lom tau masa depan Gavin seperti apa

semoga aja kali ini, hubungan hazel & Gavin benar² di restui oleh Ma²nya hazel🤲😂
total 1 replies
Vie
iiihh jadi baper Gavin.... kamu mau gak jadi sama aku aja.. 🤭🤭🤭
Djuniati 123
lamuaaa kapten 2th...nikah siri sj skrg😁
Win wina
ayo semangat Thor up nya banyak 👍🥰
Indriani Kartini
lanjut thor suka bngt 😍😍😍
Alex
cieeeee
Ceethra DeeNa
Aku Menunggu Kamu Gaviiiiinnnnnnnnjjjjj
Ceethra DeeNa: Aku Menunggumu Gaviinnnnnnn
total 1 replies
gemar baca
suka dengan cerita ringan tapi juga mendebarkan 😂
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Vie
perasaan kamu tuh jatuh mulu dokter .. modus kali ya jatih biar bisa dipeluk2 sama Gavin 🤭🤭🤭
Vie: waduh ketebak ya kak... 😁😁😁😁 sssttt ah sekarang mah aku mau diem aja atuh... 🤭🤭🤭🤭
total 2 replies
Vie
masa seorang suster gelap.... kan harusnya berani... lihat mayat atau darah juga kan diharuskan berani... 🤭🤭🤭
Ceethra DeeNa
Lanjuttt Up Kak
SeMangattt Up Sorenya Kakkkk

Makasiii Ceritanya Siang Iniiii
elaretaa: Terima kasih Kak🥰🥰
total 1 replies
Djuniati 123
ciye ciyeee
Ceethra DeeNa
Lanjutttt Kak
SeMangattt Up Lagiii Buat Siang Kak
erviana erastus
karena gavin dulu dianggap berandalan .... gimana emkax hazel kalo tau Gavin yg skrng?
elaretaa: Gimana ya??? Gimana kalau author yg nggak merestui mereka🤭
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
sudah semua
elaretaa: Terima kasih Kak🥰🥰🥰
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
dasarrrr.. si halo dek!
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
cemburu bilang vin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!