NovelToon NovelToon
Penaklukan Sang Asisten

Penaklukan Sang Asisten

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Ketika efisiensi bertemu dengan kekacauan, siapa yang akan benar-benar menaklukkan siapa?

"Cinta bukan soal efisiensi, tapi tentang bagaimana ia membuatmu kehilangan kendali."

Kisah tentang Ben Arganza, asisten dingin dan merupakan bayangan Baron Frederick yang sedang menjadi target penaklukan seorang gadis ceroboh bernama Lala Narayan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Robot Menyebalkan

Ben menatap punggung Baron dan Gita yang kini dibawa oleh tim medis menuju helikopter evakuasi. Begitu helikopter itu menjauh, raut wajah Ben yang tadinya kaku berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap—sebuah ketetapan hati yang dingin.

"Bawa Mano ke 'Ruang Pembersihan'," perintah Ben kepada tim keamanannya.

"Pastikan tidak ada jejak digital, tidak ada saksi, dan pastikan dia tidak bisa berkomunikasi dengan pihak luar mana pun hingga tuan Baron selesai dengan urusannya."

Ben melangkah masuk kembali ke dalam gudang. Sisa-sisa pengawal Mano yang pingsan atau terluka kini dikumpulkan di tengah ruangan. Ben berjalan mengelilingi mereka, langkah sepatunya beradu dengan lantai semen, menciptakan suara ritmis yang bagi para pengawal itu terdengar seperti lonceng kematian.

Ia berhenti di depan ketua regu pengawal Mano, seorang pria bertubuh kekar yang kini tertunduk dengan wajah penuh lebam. Ben mencengkeram dagu pria itu, memaksanya menatap mata abu-abu Ben yang tajam.

"Kalian bekerja untuk orang yang salah," ucap Ben datar. "Mano Fransiska hanya akan membawa kalian ke penjara atau lubang kubur. Tapi, jika kalian memberikan informasi tentang sisa asetnya, akun bank yang dia gunakan untuk mendanai operasi penculikan ini, dan di mana sisa pengikutnya bersembunyi... saya mungkin akan membiarkan kalian hidup dalam keadaan utuh."

Pria itu gemetar. "Dia... dia punya gudang lain di kawasan industri Cakung. Dan dia menyimpan dokumen rahasia di brankas digital yang hanya bisa dibuka dengan..."

Ben tidak membiarkan pria itu menyelesaikan kalimatnya. Ia mengisyaratkan timnya untuk membawa pria itu pergi. "Bersihkan tempat ini. Jangan biarkan ada satu butir peluru pun yang tertinggal. Pastikan gedung ini terlihat seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa di sini."

Setelah urusan di gudang selesai, Ben segera menghubungi tim intelijennya yang berada di markas besar Frederick Group.

"Dengarkan saya," suara Ben menggema di saluran enkripsi. "Nyonya Gita sedang hamil. Saya tidak ingin mendengar kata 'risiko' lagi. Tingkatkan keamanan di kediaman utama hingga level maksimal. Pasang alat pemindai biometrik baru dan pastikan semua makanan yang masuk ke rumah diuji oleh laboratorium independen setiap hari."

Ia terdiam sejenak, memikirkan detail kecil yang sering terlewatkan. "Dan ingat, tidak ada orang baru yang boleh mendekati radius seratus meter dari Nyonya Gita tanpa izin langsung dari saya atau Tuan Baron. Mano Fransiska mungkin sudah tertangkap, tapi saya tahu wanita itu memiliki jaringan yang luas. Kita tidak akan membiarkan ada satu pun ancaman yang mendekati bayi itu."

Setelah memastikan semuanya telah aman dan bersih, Ben akhirnya bisa pulang ke apartemennya di jam 2 pagi.

*

Pagi merayap masuk lewat celah ventilasi kamar yang berdebu, menyorot debu-debu yang beterbangan di sekitar Lala. Saat ia menarik gagang pintu, sang Ibu Kost—yang sudah siap dengan catatan utang di tangan—terperangah mundur dua langkah.

Lala tampak seperti karakter film horor yang baru saja merangkak keluar dari kuburan. Rambutnya berdiri ke segala arah seperti sarang burung yang disambar petir, lingkaran hitam di bawah matanya menyerupai memar yang dalam, dan kulitnya pucat pasi karena kurang tidur serta belum menyentuh nasi selama 24 jam.

"Astaga, Lala! Kamu sakit?" seru Ibu Kost, suaranya sedikit melunak karena ngeri melihat rupa penyewanya yang hancur.

Lala tidak menjawab. Ia hanya menyeret kakinya yang terasa seperti balok kayu. Ia berjalan dengan mata yang nyaris terpejam, bahkan tidak menyadari bahwa ia baru saja menyenggol meja kayu di koridor hingga pot bunga plastik di atasnya jatuh dan menggelinding sampai ke halaman.

Bruk.

Lala bahkan tidak berbalik untuk mengambilnya. Ia terus berjalan menuju halte bus terdekat dengan langkah gontai, menggenggam gulungan kertas desain yang ia lindungi dengan sisa-sisa kewarasannya. Kertas itu adalah satu-satunya hal yang menahannya dari ambang kegilaan.

"Lala! Jangan pura-pura jadi zombie ya! Sewa kontrakan masih berlaku dan harus dibayar hari ini atau semua barangmu akan saya lempar keluar!" teriak sang ibu kost dengan satu kali tarikan nafas.

Lala hanya berhenti melangkah dalam beberapa detik tapi tidak berbalik sedikit pun meskipun teriakan sang ibu kost bagaikan bunyi terompet sangkakala. Ia terus berjalan untuk bertemu dengan sang asisten Frederick grup yang sangat menyebalkan itu.

Di tengah jalan, sebuah sedan hitam mewah berhenti dengan sangat halus di bahu jalan.

Kaca gelapnya turun perlahan, menampakkan profil wajah Ben Arganza yang terpahat sempurna, rapi, dan seolah tidak tersentuh oleh debu Jakarta. Ia menatap Lala dari balik kaca mata hitamnya.

"Kamu terlihat seperti mayat hidup yang tersesat," suara Ben datar, dingin, dan benar-benar tidak membantu. "Apakah itu desain untuk lounge Tuan Frederick, atau sketsa untuk adegan pembuka film zombi?"

Lala menghentikan langkahnya, menoleh perlahan ke arah mobil itu dengan gerakan kaku. Matanya yang merah menatap Ben dengan tatapan kosong.

"Sss... semalam saya tidak bisa tidur," gumam Lala dengan suara serak yang hampir tidak terdengar. "Saya sedang... memikirkan... warna lantai."

Ben menatapnya tajam. Ia bisa melihat tangan Lala gemetar hebat saat memegang gulungan kertas itu. Ben tahu betul kondisi fisik gadis itu—pucat, lesu, dan mungkin dalam kondisi medis yang berbahaya.

"Masuk," perintah Ben singkat.

"Tidak mau," tolak Lala lemah, mencoba melangkah lagi namun nyaris terjungkal karena tersandung kakinya sendiri. "Saya harus... harus sampai ke kantor... sebelum 48 jam habis..."

Ben mendengus kasar. Ia keluar dari mobil, tidak memedulikan tatapan orang-orang di halte, lalu tanpa sepatah kata pun, ia menyambar gulungan kertas dari tangan Lala, membuka pintu penumpang, dan mendorong gadis itu masuk dengan gerakan yang tidak terlalu lembut tapi memastikan ia tidak jatuh.

"Kamu sudah mencapai batas efisiensi tubuh manusia, Lala. Jika kamu pingsan di jalan, desain itu tidak ada gunanya," Ben masuk ke kursi pengemudi dan mengunci pintu otomatis. "Kita akan pergi ke kantor. Dan di sana, kamu akan makan, tidur selama dua jam, dan baru setelah itu saya akan melihat apakah desain kamu layak untuk saya tunjukkan pada Tuan Frederick, atau layak untuk dibakar."

Lala tak mampu membalas, ia hanya bisa menyandarkan kepalanya di jok kulit yang dingin.

Pria ini benar-benar robot yang menyebalkan, batinnya sebelum kesadarannya benar-benar hilang karena kelelahan yang luar biasa, membiarkan mobil mewah itu melesat membelah kemacetan pagi Jakarta.

***

1
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
sakit kerasnya itu pegangan hingga memutih itu buku"
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
darrrr derrrr dorrrr derrrr durrrrr pasti itu suara harinya ben.... uhhhhhh kayak mau turun hujan badai donk bun
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
karna semuanya di luar kendalimu...
jadi nikmati aja alurnya
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
aisssstttttt mulai menghayal yang tidak" dehhh lala
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
makanya la sedia air sebelum terbakar
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
berarti selama ini setiap keputusan nya selalu salah donk dalam hidupnya
nur annisa
tarik nafas huffft
nur annisa
baru muncul Thor 💪
Bubu
harus update pokoknya😄
Bubu
Ben pokoknya aku padamu🤭
Raffi975
update lagi dong Thor pliss😍
Raffi975
waduhh
Raffi975
lanjut Thor, kayaknya Mas Ben udah jatuh cintrong nih 🤭
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
Servis donk biar top cer lagi arus listriknya.... hihihi
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
tidak di pecat.. tapi di pikat... 😇🤭😃😄
Raffi975
kacian mas Ben, pertemukan lagi dong Thor
Raffi975
lanjut Thor
Raffi975
oh tidak
Raffi975
waduhhh plot twist nya keren
Raffi975
jangan mau dipengaruhi sama Nadya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!