NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Untuk Anjani

Cinta Terakhir Untuk Anjani

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:488
Nilai: 5
Nama Author: Naydiendee

Saat remaja, Aldenbashra Gavinda berubah menjadi pemberontak setelah kematian ibunya dan keputusan ayahnya menikah lagi dengan asisten rumah tangga mereka. Kemarahan itu membuatnya menjadi kasar, liar, dan sulit dikendalikan.

Di tengah kekacauan hidupnya, ada Anjani Lestari, gadis cerewet yang selalu mengawasinya atas permintaan ayah Alden. Alden menganggap Anjani menyebalkan dan sengaja menyakitinya dengan ucapan maupun sikap kasar agar gadis itu menjauh. Padahal diam-diam, Alden memendam rasa cinta yang besar pada Anjani, namun terlalu takut dan gengsi untuk mengakuinya.

Bertahun-tahun kemudian, setelah hidupnya mulai tertata, Alden justru dihadapkan pada kenyataan pahit tentang penyakit yang menggerogoti tubuhnya.
Di tengah rasa sakit yang semakin parah dan cinta yang terus tumbuh, Alden terjebak pada pilihan yang menyakitkan: tetap mendekati Anjani dan meninggalkan luka saat ia pergi nanti, atau menjauh demi melindungi wanita yang paling ia cintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naydiendee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Bayangan Yang Selalu Kembali

Awalnya, Anjani hanyalah teman masa kecil yang selalu ada di sekitar hidupnya. Namun ketika mereka beranjak remaja, kehadiran gadis itu mulai terasa berbeda di mata Alden.

Anjani selalu muncul di saat-saat yang tidak ia inginkan.

Di sekolah, di lingkungan rumah bahkan ketika ia sedang berusaha menghindari semua orang.

Kebiasaan Anjani yang gemar menegur, menasihati, dan mengomentari segala hal yang dilakukannya membuatnya kesal setengah mati.

Baginya, gadis itu seperti pengawas yang tidak pernah libur dan kehadirannya tak ubahnya sebuah hukuman berjalan.

Yang paling membuatnya jengkel, hampir setiap kenakalan yang ia lakukan selalu sampai ke telinga ayahnya. Seketat apa pun Alden menyembunyikan jejaknya, entah bagaimana caranya, Anjani selalu berhasil mengendus keberadaannya.

Gadis itu menjelma menjadi bayangan yang tidak pernah kehilangan arah, selalu berdiri di tikungan jalan atau di depan pagar rumah, siap dengan daftar panjang omelannya.

​"Kenapa sih kamu tuh selalu ada di mana-mana?" bentak Alden suatu siang di koridor sekolah yang mulai sepi.

Amarahnya sudah di ujung kepala karena baru saja mendapat surat peringatan dari guru bimbingan konseling, dan orang pertama yang ia lihat saat keluar ruangan adalah Anjani yang sedang berdiri memeluk buku catatannya.

"Kayak nggak ada tempat lain aja buat kamu. Kayak bayangan aja, nggak bisa ngilang!"

​Anjani tidak berkedip. Ia justru memajukan langkahnya, menatap Alden dengan sepasang mata yang memancarkan ketegasan yang sama sekali tidak gentar.

"Ini koridor sekolah Alden. Siapa saja boleh lewat sini. Bukan jalan milik kakek buyutmu. Kalau kamu bisa lewat sini, kenapa aku nggak? Memangnya kamu siapa? Raja dunia? Sok hebat banget sih kelakuanmu!"

​"Jangan muncul di depan mataku. Lu bikin pusing, tahu nggak?" desis Alden, giginya menggertak menahan emosi.

​"Terus kenapa? Nggak mau lihat? Ya sudah, pindah aja matamu ke atas ubun-ubun. Gampang, kan?" balas Anjani tanpa jeda, memotong argumen Alden dengan ketajaman lidahnya yang khas.

"Biar kamu nggak lihat aku dan kamu bisa menatap langit."

​"Bacot, lu," umpat Alden pendek sebelum melangkah pergi, menghentakkan kakinya dengan gusar.

Bahkan saat ia berjalan menjauh, ia masih bisa mendengar suara Anjani yang bersungut-sungut di belakangnya, mengomel tentang betapa kasarnya tutur kata Alden yang sekarang.

​Pertengkaran seperti itu terjadi hampir setiap hari.

Mereka seperti dua kutub magnet yang sama, saling menolak dengan keras namun selalu berakhir di ruang yang sama karena takdir lingkungan tempat tinggal mereka.

Terutama ketika Anjani mulai mencampuri urusan yang menurut Alden bukan haknya.

Suatu hari, setelah jam sekolah berakhir, Anjani menemukan Alden sedang nongkrong di warung belakang sekolah bersama teman-temannya.

Padahal jam pulang sudah lama lewat.

"Alden, cepat pulang. Nanti Papa kamu nyariin kamu, Al!" omel Anjani dengan wajah kesal setelah berhasil menemukannya.

Kehadiran Anjani di tempat dan waktu yang menurutnya tidak tepat itu langsung membuat harga diri Alden runtuh di hadapan teman-temannya.

Ia berdiri mendadak, lalu menarik lengan gadis itu menjauh dari kerumunan.

"Lu tuh nggak capek apa?" suara Alden rendah tapi tajam, penuh emosi yang tertahan. "Selalu aja muncul di tempat yang nggak gue mau. Gue ini bukan anak kecil yang harus lu laporin ke siapa-siapa!"

Ia menatap Anjani dengan mata dingin, rahangnya mengeras.

"Pulang sana. Jangan ikut campur urusan gue."

Anjani bukannya takut, malah berani mengeluarkan nasihat dan omelannya.

"Papa kamu tuh khawatir setengah mati, tahu nggak? Nggak mau kamu berantem lagi!"

Alden hanya mendecakkan lidah dengan malas. "Gue nggak peduli."

"Kamu nggak kasihan apa sama orang tua sendiri?" lanjut Anjani, tetap dengan keberaniannya.

"Setiap hari papa kamu tuh mikirin kelakuan anaknya yang makin liar begini."

"Eh, kuping lu di mana? Ke injek kaki? Lu denger nggak tadi gue ngomong apa? GUE NGGAK PEDULI!"

Matanya melotot tajam pada Anjani.

"Dasar bawel!" bentaknya tajam. "Mata-mata murahan!"

Anjani tetap bergeming.

"Karena Papa kamu harus tahu gimana kelakuan anaknya sekarang."

"Biar gue dimarahin, biar lu seneng, gitu mau lu? Nggak usah lu laporin juga gue tetap begini."

"Tau nggak, kelakuan kayak gini tuh yang rugi sebenarnya kamu, Al. Yang capek juga kamu."

"Itu dia. Kalau menurut lu gue sendiri yang capek, terus kenapa lu yang sibuk ngatur hidup gue?" balas Alden tajam.

"Gue nggak pernah minta lu mikirin gue. Gue nggak pernah minta ditemani. Dan gue juga nggak pernah capek, karena memang ini yang gue mau."

Anjani menatapnya tak percaya.

Beberapa detik ia hanya terdiam, seolah berusaha mencerna semua omong kosong yang baru saja keluar dari mulut Alden.

Lalu emosinya benar-benar meledak.

"Ah, brengsek kamu, Al!" teriak Anjani mulai kehilangan kesabaran.

"Bodo!"

Perdebatan mereka tak berhenti sampai di situ. Setiap bertemu selalu adu argumen, bertengkar dan berakhir dengan pergi putar balik tanpa penyelesaian.

"Kamu tahu nggak sih betapa nyebelinnya jadi orang keras kepala kayak kamu, Al?"

Dada Anjani naik turun menahan emosi.

"Kalau aku peduli, itu karena aku peduli! Sesederhana itu!"

Jarinya menunjuk tepat ke arah dada Alden.

"Tapi setiap kali ada orang yang peduli sama kamu, yang kamu lakukan cuma nyakitin orang itu!"

Matanya mulai memerah.

Alden tetap memasang wajah datar, meski sebenarnya ia tak tega melihat Anjani mulai berkaca-kaca matanya.

"Kalau memang semua orang yang peduli sama gue hidupnya sengsara, ya udah. Nggak usah peduli."

Kalimat itu membuat Anjani tertawa pendek yang getir.

"Ya ampun..." Ia menggeleng pelan. "Kamu benar-benar nggak ngerti apa pun, ya?"

Tatapannya berubah, kali ini bukan lagi marah, melainkan kecewa.

Dan justru tatapan itulah yang membuat dada Alden terasa jauh lebih sesak daripada teriakan atau makian apa pun jika mengingatnya kembali.

Karena di saat hampir semua orang mulai memandangnya sebagai anak bermasalah, Anjani justru tetap ada.

Gadis itu tetap berani menegurnya. Tetap berani berbicara padanya. Tetap datang, bahkan setelah berkali-kali diperlakukan kasar.

Saat Alden membolos sekolah berhari-hari, Anjani tetap muncul membawa fotokopi materi pelajaran dan catatan tugas.

Kadang ia meletakkannya begitu saja di atas meja.

Kadang ia datang hanya untuk mengingatkan jadwal ulangan atau tugas kelompok yang harus diselesaikan.

Anjani melakukannya karena melihat Alden perlahan kehilangan arah.

Baginya, itu adalah hal yang sangat disayangkan.

Seolah ia sedang menyaksikan seseorang menghancurkan dirinya sendiri sedikit demi sedikit, padahal memiliki begitu banyak kesempatan untuk menjadi lebih baik.

"Kamu itu sebenarnya pinter, Al."

Suara Anjani terdengar kesal, namun lebih banyak mengandung kekecewaan daripada kemarahan.

"Sekali aja guru jelasin, kamu langsung ngerti. Nggak usah belajar pun kamu tetap bisa."

Alden mendecak.

"Sok tahu, lu."

Anjani menghela napas. Matanya menatap Alden lebih serius.

"Kamu bukannya nggak bisa... kamu cuma sengaja nggak mau usaha."

"Padahal, hasil itu untuk diri kamu sendiri, untuk masa depan kamu sendiri. Dan kalau kamu tetap begini-begini terus, yang rugi itu bukan orang lain, tapi kamu."

Alden langsung menoleh.

"Lu sekali aja nggak usah ngatur hidup gue, bisa nggak?"

"Bisa," jawab Anjani cepat. "Asal kamu nurut sama Papa kamu dan berubah demi diri kamu."

Alden menyipit.

"Ngancam?"

"Nggak."

"Terus apa?"

"Janji."

Hening sesaat.

Alden langsung terkekeh sinis.

"Sayangnya...NGGAK MAU."

Tak hanya itu, nasihat-nasihat Anjani yang keluar dari mulutnya tanpa diminta terasa seperti tekanan tambahan di kepala Alden. Disaat ia ingin memberontak, Anjani malah hadir membatasi ruang gerakmya.

"Padahal aku tahu kamu bisa jauh lebih baik dari ini kalau kamu mau sedikit saja buka hati dan berusaha."

Anjani menunjuknya pelan dengan wajah serius.

"Kamu pikir aku nggak tahu?" lanjutnya. "Kamu itu sengaja nggak peduli. Sengaja nyakitin diri sendiri. Sengaja bertingkah seolah masa depan kamu nggak penting. Padahal semua itu cuma karena kamu marah sama keadaan, iya kan?"

Kalimat itu membuat rahang Alden perlahan menegang.

"Itu tindakan paling bodoh yang pernah aku lihat, Alden," ucap Anjani tanpa takut sedikit pun. "Kamu menghancurkan diri sendiri cuma karena kemarahan kamu."

Ia menghela napas kesal sebelum kembali berkata pelan, "kamu tuh cuma caper doang, Al."

Alden menatapnya tajam.

"Apa? Lu bilang gue caper? Lu tuh yang caper!" Ia menunjuk Anjani tepat di dahi gadis itu.

"Sori, aku bukan caper, tapi peduli," balas Anjani. "Dan itu beda jauh."

"Kalau caper itu sengaja bikin masalah supaya diperhatiin orang banyak. Kalau aku peduli, karena aku pengen kamu kayak dulu lagi, Al."

"Kamu maunya semua orang harus nurut sama ego kamu, sedangkan kamu sendiri justru nggak pernah menghargai siapa pun, termasuk orang tua kamu dan diri kamu sendiri."

"Kamu tuh marah sama keadaan, terus semua orang yang peduli sama kamu ikut dihukum."

"Orang tua kamu dihukum."

"Teman-teman kamu dihukum."

"Diri kamu sendiri juga dihukum."

Anjani menatapnya lurus.

"Dan kamu masih merasa yang paling tersakiti."

Alden terdiam sepersekian detik. Lalu ia terkekeh pendek. Datar, tanpa sedikit pun rasa lucu di dalamnya.

Sudut bibirnya terangkat tipis, namun matanya sama sekali tidak menunjukkan senyum.

"Udah selesai?"

Suaranya rendah dan terlalu tenang.

Kemudian ia menatap Anjani lurus tanpa mengalihkan pandangan sedikit pun.

"Lu tuh enak banget ya kalau ngomong."

Alden melangkah setengah maju. Jarak di antara mereka menyusut, bukan untuk mengalah, melainkan untuk menekan.

"Semua lu kira bisa lu baca, lu nilai, lu kasih label?"

Tatapannya semakin tajam. Rahangnya mengeras, sementara urat di pelipisnya mulai terlihat jelas.

"Lu pikir lu tahu hidup gue?"

Ia menggeleng pelan.

"Lu pikir gue nggak pernah mikir? Gue nggak pernah ngerasain apa pun?"

Nada suaranya naik sedikit, tapi tetap tertahan.

"Lu bisa ngerasain apa yang gue rasain?" Ia menatap tajam. "Nggak, kan?"

Alden menatap tajam Anjani dengan kilatan amarah bukan pada Anjani tapi pada kenyataan yang tidak bisa ia terima dengan baik.

"Lu cuma lihat dari luar, terus sok tahu seolah-olah lu paham hidup gue sepenuhnya."

Alden menunjuk dadanya sendiri.

"Gue nggak butuh lu buat jadi hakim hidup gue, Jani."

Ia menatapnya semakin tajam.

"Dan gue juga nggak butuh lu buat nyelametin gue."

Hening.

Untuk sesaat, hanya suara angin dan suasana sekitar yang terdengar, sementara keduanya berdiri saling berhadapan tanpa ada satu pun yang mau mengalah.

Anjani menatapnya lama, rahangnya mengeras, matanya menyimpan emosi yang tidak sepenuhnya bisa dibaca. Tapi pada akhirnya, ia tidak membalas lagi.

Gadis itu hanya menghela napas pelan. Campuran antara kecewa dan lelah.

"Kalau itu pilihan kamu..." ucapnya singkat, suaranya lebih rendah dari tadi.

Tanpa menunggu jawaban, Anjani membalikkan badan.

Langkahnya cepat, tegas, tanpa menoleh lagi.

Alden tetap berdiri di tempatnya. Rahangnya masih mengeras, napasnya berat, tapi ia tidak mengejar. Tidak memanggil.

Beberapa detik kemudian, ia juga berbalik.

Meninggalkan tempat itu ke arah yang berbeda.

Dan seperti biasa, tidak ada kata penyelesaian di antara mereka, hanya jarak yang kembali melebar, membawa emosi yang tidak sempat selesai dan tidak pernah benar-benar selesai.

Dan esoknya, esoknya lagi, perdebatan, pertengkaran, dan saling sindir kembali mewarnai setiap pertemuan mereka.

Seiring berjalannya waktu, tanpa ia sadari, sesuatu mulai berubah di dalam dirinya.

Di tengah rasa kesal dan pertengkaran yang seolah tak pernah berakhir, muncul perasaan lain yang perlahan tumbuh tanpa izin.

Penolakan-penolakan terhadap Anjani tidak lagi terasa sama. Alden mulai menyadari bahwa dirinya semakin sering memperhatikan Anjani.

Lebih sering daripada yang seharusnya.

Ia mulai hafal kebiasaan-kebiasaan kecil gadis itu. Tahu kapan biasanya datang ke sekolah. Tahu ekspresinya saat kesal. Tahu cara Anjani tertawa ketika sesuatu benar-benar membuatnya senang.

Dan yang paling mengganggu, ia mulai merasa ada yang kurang ketika seharian tidak melihatnya.

Kesadaran itu datang perlahan. Pelan, namun cukup jelas untuk membuatnya tidak nyaman.

Ia menyukai Anjani.

Perasaan itu tumbuh begitu saja tanpa diminta. Namun alih-alih bahagia, Alden justru ketakutan.

Bagaimana mungkin ia bisa menyukai gadis yang selama ini selalu menjadi lawan debatnya?

Gadis yang ia anggap terlalu baik, sementara dirinya sendiri sedang tenggelam dalam kemarahan dan kekacauan hidup.

Belum lagi gengsi yang terlalu besar membuat Alden sulit menerima kenyataan itu.

Baginya saat itu, jatuh cinta pada Anjani terasa seperti sesuatu yang memalukan.

Karena takut, karena malu, dan karena merasa tidak pantas. Maka ia memilih cara paling salah untuk menghadapinya.

Ia berpikir, jika terus bersikap kasar dan menyakiti hati Anjani, gadis itu pasti akan lelah lalu pergi menjauh.

Setidaknya ia tidak perlu berhadapan dengan perasaan yang semakin hari semakin sulit ia kendalikan.

Sejak saat itu, Alden justru semakin memperburuk sikapnya.

Ia lebih sering memasang tatapan dingin.

Lebih sering melontarkan kata-kata yang menyakitkan.

Bukan karena membenci Anjani. Melainkan karena terlalu takut pada perasaannya sendiri.

Dan tanpa ia sadari, setiap langkah yang ia ambil untuk menjauhkan Anjani justru sedang membawanya menuju penyesalan terbesar dalam hidupnya.

Sampai sekarang, Alden masih mengingat hari itu dengan sangat jelas.

Hari terakhir sebelum semuanya berubah.

Hari terakhir sebelum Anjani mulai memandangnya dengan kebencian.

bersambung...

1
Wawan
wow...
naydiendee
makasih 😍
bantu follow dan baca ya🙏
Wawan
Menarik 💪✍️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!