Sejak malam itu, hidup Raka berubah drastis. Setelah tak sengaja melewati rumah tua terbengkalai di ujung gang dan merasakan gangguan gaib, ia terus dihantui penglihatan aneh, suara bisikan, dan kejadian tak wajar. Perlahan ia mengungkap rahasia kelam rumah itu—tempat menyimpan kutukan dan korban hilang puluhan tahun silam—sambil berjuang melepaskan diri dari jeratan makhluk yang sudah menandainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPS 1: RUMAH DI UJUNG GANG SEPI BAB 15 – Kegelapan yang Menghampiri
Raka tidak segera menuruni tangga. Ia duduk di pinggir lubang, menatap kedalaman yang menelan cahaya lilinnya. Bisikan yang semakin jelas membuat telinganya berdenyut, seolah ada suara lain yang mencoba meresap ke dalam pikirannya. Ia ingat pesan Pak Surya: Jangan biarkan suara itu mempengaruhi pikiranmu. Hanya fokus pada tujuanmu.
Dengan napas dalam, ia memegang erat batu hitam di saku jaketnya, lalu mulai menuruni tangga kayu yang bergoyang setiap kali ia menginjak. Langkah kakinya berdenyut, bukan karena ketakutan, tapi karena kesadaran bahwa ia sedang memasuki wilayah yang tidak terduga. Setiap langkah ke bawah, hawa dingin semakin intens, dan suara tetesan air semakin jelas, seperti menjadi irama yang mengiringi langkahnya.
Tangga itu ternyata lebih panjang dari yang ia duga. Ia turun selama kurang lebih lima menit sebelum akhirnya melihat tanah di bawahnya. Ketika ia sampai di dasar, ia berdiri dan menatap sekeliling. Ruang bawah tanah ini ternyata lebih luas dari yang ia bayangkan. Dindingnya berupa batu bata yang sudah retak-retak, tertutup lumut hijau dan jamur berwarna hitam. Di beberapa sudut, ada lubang kecil di dinding yang memancarkan hawa dingin, seolah ada saluran lain yang tersembunyi.
Cahaya lilinnya hanya bisa menerangi area sekitar tiga meter dari tubuhnya. Di luar area itu, hanya kegelapan yang pekat, seolah memiliki bentuk tersendiri yang bisa bergerak. Raka mengikuti suara tetesan air, yang semakin kuat seiring dengan perjalanannya. Ia melewati tumpukan batu bata yang sudah jatuh, serta sendaian perabotan yang sudah rusak dimakan waktu—seolah ada orang yang pernah mencoba membawa barang-barang ini ke bawah, tapi kemudian meninggalkannya.
Saat ia mendekati sumber suara tetesan air, ia melihat sebuah kolam kecil di tengah ruangan. Air di dalamnya berwarna kehitaman, seolah mengandung banyak sedimen. Tetesan air jatuh dari celah di langit-langit batu, menimbulkan riak kecil yang memantulkan cahaya lilinnya. Di pinggir kolam, ada sebuah batu besar yang sudah licin, seperti sering digunakan sebagai tempat duduk.
Namun, yang paling menarik perhatiannya adalah sebuah benda kecil yang terletak di tengah batu itu. Benda itu berwarna hitam pekat, dengan bentuk seperti lingkaran yang memiliki ujung runcing di satu sisi. Ia terbuat dari material yang tidak ia kenali—seperti gabungan antara logam dan batu—dan permukaannya tampak mengkilap meskipun tertutup lapisan debu.
“Itu… apa itu?” Raka bertanya pada dirinya, sambil melangkah mendekat.
Begitu ia berada dalam jarak satu meter dari benda itu, bisikan yang selama ini ia dengar semakin menjadi-jadi. Kali ini, suara itu tidak lagi samar—ia jelas dan nyata, seolah diucapkan oleh banyak suara yang bergabung bersama:
“Kau datang… untuk mengambilnya… bukan? Tuan Handoko telah menunggu… dan sekarang, giliranmu…”
Raka merasa kepalanya berdenyut. Ia mencoba menantang suara itu: “Apa yang Kau inginkan? Mengapa Kau mengikat keluarga Handoko?”
Suara itu hanya tertawa, dan tawa itu bergema di ruang bawah tanah, membuat dinding batu bergetar:
“Kekuatan… selalu memiliki harga… Tuan Handoko ingin kekayaan dan kemenangan… tapi dia lupa… bahwa yang diberikan, harus dikembalikan…”
Raka melihat benda itu di batu. Ia tahu, benda ini adalah kunci untuk mengakhiri semua ini. Jika ia bisa mengambilnya dan menutup kembali perjanjian itu, maka kekuatan gelap ini akan terkunci kembali. Namun, ia juga tahu, mengambilnya tidak akan mudah.
Ia memegang erat akar kayu seroja di tangan, lalu melangkah lagi. Langkahnya semakin berat, seolah ada kekuatan yang mencoba menghalanginya. Tapi ia tetap前进, karena ia tahu, ini adalah satu-satunya cara.
Saat jarak antara ia dan benda itu hanya beberapa sentimeter, ia meraih tangan untuk mengambilnya. Namun, sebelum jemarinya menyentuh permukaan benda itu, sebuah bayangan hitam muncul dari kolam air. Bayangan itu memiliki bentuk seperti manusia, tapi tanpa wajah—hanya bentuk hitam yang pekat, dengan tangan yang panjang dan jari-jari yang runcing.
“Jangan… sentuhnya…” bayangan itu berbicara, dengan suara yang sama seperti bisikan yang selama ini ia dengar.
Raka mundur sedikit, tapi ia tidak menyerah. Ia tahu, ini adalah saatnya untuk bertarung. Ia mengangkat lilinnya, dan nyala lilinnya menyala lebih terang, seolah memberikan kekuatan padanya.
“Aku tidak akan menyerah!” Raka teriak, sambil kembali meraih benda itu.
Bayangan itu menggerakkan tangannya, seolah ingin menyerang. Namun, sebelum ia bisa mencapai Raka, benda itu di batu mengeluarkan cahaya merah pekat. Cahaya itu menyelimuti Raka, dan seolah ada kekuatan yang melindunginya. Bayangan itu terkejut, lalu mundur kembali ke kolam air, menghilang ke dalam kegelapan.
Raka akhirnya bisa mengambil benda itu. Begitu jemarinya menyentuhnya, ia merasakan hawa hangat yang menyebar ke seluruh tubuhnya. Benda itu seolah mengenalnya, dan ia merasakan bahwa perjanjian lama itu mulai terputus.
Dia melihat ke atas, menuju tangga yang akan membawanya kembali ke dunia di atas. Ia tahu, misinya belum selesai. Ia harus kembali ke rumah Pak Surya, dan bersama-sama mereka harus menutup kembali jalan yang sudah terbuka.
Namun, sebelum ia bisa bergerak, ia mendengar suara langkah di tangga. Langkah itu lambat, tapi pasti. Ia menatap ke atas, dan melihat sosok samar yang menurun tangga. Sosok itu memiliki bentuk seperti Tuan Handoko, tapi dengan wajah yang penuh dengan dendam.
“Kau tidak bisa pergi… sebelum kau membayar harga…” Tuan Handoko berbicara, dengan suara yang serak dan penuh dengan rasa sakit.
Raka menggenggam erat benda itu. Ia tahu, pertarungan baru saja dimulai. Dan kali ini, ia harus siap menghadapi musuh yang lebih kuat dari sebelumnya.