Sinopsis: The Broken Lens
Bagi Savya, bidikan kamera analog dan kedamaian di Thalassa Coffee adalah pelarian terbaik dari masa lalu. Namun, dunianya yang tenang mendadak retak saat Katya kembali hadir—membawa intimidasi dan ancaman yang siap menghancurkan sisa hidupnya.
Di tengah kepungan panik yang nyaris membuat Savya runtuh, Valerius datang mengintervensi. Pria misterius itu hadir sebagai perisai yang tak tergoyahkan, siap pasang badan dan menjadi fokus baru yang menyatukan kembali kepingan hidup Savya.
Saat masa lalu menolak pergi, mampukah Savya bertahan? Ataukah lensa kehidupannya akan hancur sepenuhnya sebelum Valerius sempat mendekapnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vian's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20: Teduh yang Singgah Perlahan
Karya Vian's
Hujan di luar masih betah menemani malam, mengubah kaca jendela Thalassa Coffee menjadi kanvas berembun dengan rintik air yang saling berkejaran. Di dalam, suasana terasa berkali-kali lipat lebih hangat. Arka dan Sila sedang sibuk menumpuk kursi di area belakang, namun mata mereka tetap saja bergerak liar ke arah meja sudut pojok.
"Sst! Mbak Sila, lihat deh," bisik Arka sembari memeluk satu kursi kayu. "Mbak Bos kalau lagi ruang susu ke cangkirnya Mas Valerius, tangannya kok agak gemetar ya? Apa karena dingin, atau karena ada setruman cinta?"
Sila menepuk pelan punggung Arka dengan lap di tangannya. "Hush! Itu namanya efek 'deg-degan elegan', Ka. Mas Valerius itu kalau lagi fokus baca dokumen gitu emang auranya kayak pangeran es yang butuh dicairkan."
"Tapi benar, Mbak," sahut Farel yang sedang membereskan area kasir, ikut bergabung dalam sesi gosip malam itu. "Jarang-jarang Mbak Savya mau meracik sendiri jam segini. Biasanya kan dia suruh kita kalau sudah mau closing."
Mika yang sedang mengelap meja di dekat mereka tiba-tiba berhenti. Ia menoleh perlahan. "Mbak Sila, Mas Farel sepertinya kopinya... kurang satu..."
"Kurang satu apa, Mik?" tanya Arka gemas.
"...kurang manisan karena mereka... sudah manis..." lanjut Mika dengan wajah datar, yang langsung disambut tawa tertahan dari yang lain.
Savya yang mendengar sayup-sayup suara karyawannya dari balik meja bar hanya bisa menarik napas dalam. Wajahnya terasa sedikit panas. Ia mengabaikan godaan itu dan berjalan perlahan membawa nampan berisi secangkir cokelat hangat dengan latte art berbentuk daun yang sederhana.
"Maaf mengganggu," ucap Savya pelan saat sampai di depan meja Valerius.
Valerius mendongak. Ia langsung menutup laptopnya dan melepas kacamata bacanya—sebuah gestur yang menunjukkan bahwa perhatiannya kini sepenuhnya milik wanita di hadapannya. "Terima kasih, Savya. Padahal saya bisa ambil sendiri ke bar tadi."
"Tidak apa-apa. Kedainya juga sudah hampir tutup," jawab Savya sembari meletakkan cangkir itu. Ia ragu sejenak, namun akhirnya memberanikan diri menarik kursi di hadapan Valerius. "Boleh aku... eh, saya duduk?"
Valerius sedikit tersenyum, menyadari kegugupan Savya. "Tentu. Silakan."
Suasana mendadak hening selama beberapa detik, hanya ada suara rintik hujan dan bunyi mesin espresso yang sedang dibersihkan Farel di kejauhan. Savya memainkan jemarinya di atas meja, merasa atmosfer malam ini jauh lebih intim dari biasanya.
"Vale," panggil Savya ragu.
"Ya?"
"Sebenarnya... ada sesuatu yang terasa mengganjal sejak kemarin," ucap Savya sembari menatap uap yang mengepul dari cokelat hangat Valerius. "Kita sudah beberapa kali mengobrol, tapi kenapa rasanya 'Saya' dan 'Anda' itu masih seperti dinding yang sangat tinggi di antara kita?"
Valerius terdiam sejenak. Ia menatap Savya dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi. "Lalu, menurutmu kita harus menggunakan bahasa apa?"
Savya menggigit bibir bawahnya. "Entahlah. Hanya saja, mendengar kata 'Anda' dari mulutmu... rasanya seperti aku sedang berbicara dengan pengacara atau rekan bisnis formal. Padahal kamu sudah menyelamatkanku kemarin."
Valerius terkekeh rendah, suara beratnya terdengar sangat merdu di telinga Savya. "Baiklah. Kalau begitu, mari kita buat kesepakatan. Berhenti memanggil saya 'Anda', dan saya juga akan berhenti melakukan hal yang sama."
"Jadi...?"
"Gunakan 'Aku' dan 'Kamu'. Atau panggil saja namaku langsung tanpa beban," ucap Valerius. Ia memajukan tubuhnya sedikit, menatap lurus ke dalam mata Savya. "Coba katakan sesuatu, Savya. Pakai panggilan yang baru."
Savya merasa jantungnya berdebar dua kali lebih cepat. "Kamu... mau aku buatkan kue lagi besok?"
Senyum Valerius melebar, tipe senyum yang sangat jarang ia tunjukkan. "Nah, itu jauh lebih baik. Kedengarannya lebih... dekat."
"Wuih! Lihat, lihat!" Arka yang memantau dari balik rak pajangan langsung heboh sendiri. "Mereka tatap-tatapan! Mbak Bos mukanya sudah kayak tomat matang, Mas Farel!"
"Arka, jangan berisik! Nanti kedengaran!" Sila menarik kerah apron Arka agar menjauh, namun matanya sendiri tetap tidak lepas dari pemandangan manis itu.
Di meja sudut, Valerius melirik ke arah jam tangannya, lalu kembali menatap Savya. "Sudah larut. Kamu harus istirahat. Jangan biarkan pikiranmu tentang 'bayangan di seberang jalan' itu mengganggu tidurmu lagi malam ini."
Savya sedikit tersentak. "Kamu tahu kalau aku memikirkan itu?"
"Aku bisa melihatnya dari matamu, Savya," jawab Valerius sembari berdiri dan merapikan barang-barangnya. Ia berhenti tepat di samping kursi Savya, tangannya sempat ingin menyentuh bahu Savya namun ia urungkan, hanya berakhir dengan gerakan merapikan kerah jasnya sendiri.
"Kunci pintunya setelah aku keluar. Jangan biarkan siapapun masuk sebelum kamu benar-benar yakin kedai sudah aman," pesan Valerius dengan nada protektif yang tidak lagi kaku. "Sampai bertemu besok, Savya."
"Iya, Vale. Hati-hati di jalan," sahut Savya pelan, mengikuti langkah Valerius sampai ke depan pintu kaca.
Begitu sosok Valerius menghilang di balik hujan dan mobilnya melaju pergi, Savya memutar kunci pintu dengan tangan yang masih sedikit gemetar. Namun kali ini, getaran itu bukan karena takut pada Katya, melainkan karena getaran aneh yang ditinggalkan oleh pria itu.
"Ehem! 'Sampai bertemu besok, Savya'..." Arka menirukan suara berat Valerius dengan gaya yang dibuat-buat, langsung disambut tawa meledak dari Sila.
"Arka! Berhenti menggodaku atau besok gajimu aku potong!" seru Savya malu, wajahnya memerah sempurna sembari melemparkan kain lap ke arah Arka yang langsung lari menghindar.
"Ampun, Mbak Bos! Jangan potong gaji, nanti saya enggak bisa beli kuota buat nonton tutorial bikin jebakan kopi!" seru Arka dari balik meja bar, tangannya terangkat membentuk tanda damai.
Sila berjalan mendekati Savya yang masih berdiri di dekat pintu kaca, lalu menyenggol bahu sang bos dengan lengan sikunya. "Tapi serius deh, Mbak. Mas Valerius itu tulus banget keliatannya. Kalimat 'sampai bertemu besok' itu... kedengarannya kayak janji tertulis tahu enggak."
Farel yang sedang mematikan saklar lampu area tengah ikut menyahut, "Iya, Mbak. Pelanggan lain biasanya cuma bilang 'terima kasih' atau 'mari'. Tapi dia sengaja menegaskan kalau besok dia bakal datang lagi. Itu berarti, kehadiran Mbak Savya di sini sudah jadi salah satu agenda penting di harinya."
Mika yang sudah rapi memakai jaketnya berjalan paling belakang, mengangguk pelan. "Mas Farel benar besok aku harus siapin cangkir kesukaan Mas Valerius... yang paling bersih..."
Savya hanya bisa tersenyum pasrah mendengar analisis kompak dari keempat karyawannya. "Sudah, sudah. Kenapa malah kalian yang lebih heboh daripada aku? Ayo cepat beres-beres, ini sudah makin larut, hujannya juga makin deras."
Setelah memastikan semua sudut kedai bersih dan aman, satu per satu anak-anak kedai pamit pulang setelah dijemput atau menggunakan jas hujan mereka. Kini, Thalassa Coffee benar-benar sunyi, hanya menyisakan Savya sendirian di dalam area bar yang remang-remang.
Savya berjalan perlahan ke meja sudut tempat Valerius duduk tadi. Ia menatap kursi kosong di hadapannya, lalu menyentuh permukaan meja kayu yang masih menyisakan sedikit kehangatan dari cangkir cokelat malam ini.
"Sampai bertemu besok, Savya."
Savya mengulang kalimat itu di dalam hatinya, membiarkan setiap suku katanya menggema di dalam keheningan kedai. Sebuah senyuman tipis yang tak mampu ia tahan akhirnya terbit di wajahnya.
"Sampai bertemu besok, Vale," bisik Savya pelan pada udara kosong.
Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari dilingkupi rasa cemas akibat teror Katya, Savya menutup saklar lampu terakhir kedai dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Kata-kata sederhana dari Valerius malam itu seolah berubah menjadi sebuah mantra penenang, sebuah janji kecil yang membuat Savya tidak lagi takut menghadapi hari esok.
Malam itu, di Thalassa Coffee, hujan tidak lagi terasa dingin. Ada sebuah awal baru yang tumbuh di antara aroma kopi dan sisa-sisa kata yang manis.
..."Story by Vian's"...