Rasyid adalah calon Bupati muda yang dikelilingi wanita-wanita cantik yang mengincar posisi Istri Bupati.
Tetapi hati Rasyid sudah terpaut pada Ami, gadis desa lulusan SMA yang benar-benar tak tertarik padanya.
Perjuangan Rasyid untuk mendapatkan Ami, dibantu oleh ajudan setianya, Andre.
Ketika Rasyid sudah mendapatkan Ami, lawan politik menyerang hingga mereka dipisahkan takdir.
Andre hadir untuk mengisi posisi kosong itu tanpa niat buruk.
Namun, ketika keadaan kembali seperti semula, Ami memutuskan kembali ke desa, mencari ketenangan hingga dijemput kembali oleh lelaki pilihannya.
~~Kita bisa merencanakan sesuatu, namun takdir yang menentukan akhirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PDKT Ugal-ugalan
Rasyid bukan tipe laki-laki yang mudah mengambil keputusan hanya karena perasaan sesaat. Apalagi untuk urusan sebesar pernikahan. Karena itulah, diam-diam ia meminta Andre mencari tahu tentang Ami. Bukan untuk mencari kelemahannya, melainkan untuk memastikan seperti apa sebenarnya perempuan yang terus memenuhi pikirannya itu.
Semakin banyak informasi yang ia dengar semakin sulit bagi Rasyid untuk berhenti memikirkan Ami.
Malam itu, Andre menyerahkan beberapa catatan sederhana kepadanya di ruang kerja. “Ini data tentang Ami, Pak.”
Rasyid menerimanya sambil duduk tenang. Awalnya ia mengira akan menemukan kisah hidup biasa seorang gadis desa. Tetapi ternyata tidak.
“Ami lulusan terbaik SMA di kecamatannya,” ujar Andre sambil membuka catatan. “Nilainya tinggi. Dia bahkan sempat diterima di universitas negeri.”
Rasyid mengangkat pandangan.
“Jurusan pertanian.”
Entah kenapa, informasi itu membuat Rasyid sedikit tersenyum. Sangat cocok dengan Ami. “Kenapa nggak lanjut?”
Andre diam sejenak sebelum menjawab lebih pelan. “Beberapa minggu setelah pengumuman kelulusan… ayahnya meninggal.”
Ruangan mendadak terasa sunyi. Rasyid perlahan menutup map di tangannya. “Sejak itu keadaan keluarganya berubah,” lanjut Andre. “Ibunya sakit-sakitan. Dua adiknya masih sekolah.”
“Dan Ami…”
Andre menghela napas kecil. “Dia memilih mengubur cita-citanya.”
Kalimat itu terasa berat di telinga Rasyid.
“Ami jadi tulang punggung keluarga. Mengurus kebun, membantu warga, sekaligus membiayai rumah.”
Rasyid terdiam cukup lama. Entah kenapa, semakin ia mengenal kehidupan Ami, semakin besar rasa hormat yang tumbuh dalam dirinya. Perempuan itu tidak hanya kuat. Ia juga rela mengorbankan masa depannya demi keluarganya.
“Bukan cuma itu,” lanjut Andre lagi. “Dia juga cukup aktif di masyarakat.”
“Hm?”
“Beberapa petani muda di Lembah Embun sering minta bantuan Ami soal hasil tanam. Dia suka mencari informasi sendiri tentang pertanian dan cara meningkatkan hasil panen.” Andre tersenyum kecil. “Katanya dia memang ingin memajukan petani sebisanya.”
Rasyid perlahan bersandar di kursinya. Dadanya terasa hangat oleh perasaan yang sulit dijelaskan.
Ami mungkin tidak punya gelar sarjana. Tidak berpendidikan luar negeri. Tidak berasal dari keluarga elit. Tetapi perempuan itu punya kualitas yang jauh lebih langka: kepedulian, pengorbanan, dan ketulusan. Dan semakin Rasyid memahami siapa Ami sebenarnya, semakin kuat keyakinannya bahwa perempuan itu bukan sekadar seseorang yang ia sukai.
Ami adalah perempuan yang pantas dihormati. Bahkan mungkin perempuan yang selama ini benar-benar ia cari untuk berjalan bersamanya.
***
Sore itu, Rasyid kembali datang diam-diam ke Lembah Embun. Tanpa pengawalan. Tanpa atribut politik. Hanya mengenakan pakaian sederhana dan topi kusam yang mulai terasa sia-sia karena Ami selalu berhasil mengenalinya.
Awalnya Rasyid berniat langsung menemui Ami. Namun langkahnya terhenti ketika melihat halaman rumah gadis itu ramai dipenuhi ibu-ibu kampung.
Beberapa meja panjang berjajar di bawah tenda sederhana. Di atasnya ada ember berisi tomat merah, botol kaca, kompor, dan berbagai bahan masakan.
Dan di tengah keramaian itu Ami berdiri sambil menjelaskan sesuatu dengan penuh semangat.
“Terlalu banyak tomat busuk karena harga jatuh,” ujar Ami sambil memperlihatkan hasil olahan di tangannya. “Kalau cuma dijual mentah, petani rugi besar.”
Beberapa ibu mengangguk serius mendengarkan.
“Makanya kita coba olah jadi saus. Nilai jualnya bisa lebih tinggi dan tomat nggak terbuang.”
Rasyid berdiri agak jauh sambil memperhatikan dalam diam. Tatapannya perlahan berubah kagum. Perempuan itu benar-benar tidak hanya pandai mengkritik. Ia juga bergerak mencari solusi.
Ami menjelaskan dengan sabar cara pengolahan, pengemasan, sampai ketahanan produk. Sesekali ia membantu ibu-ibu yang kesulitan sambil tetap tersenyum hangat.
Tidak ada kamera. Tidak ada media. Tidak ada pencitraan politik. Tetapi apa yang dilakukan Ami terasa jauh lebih nyata dibanding banyak program kampanye yang pernah dilihat Rasyid.
Tanpa sadar, laki-laki itu tersenyum kecil. Dan tepat saat itulah Ami menoleh. Mata mereka bertemu. Ekspresi Ami langsung berubah panik.
Meski Rasyid menyamar dengan topi dan masker tipis, entah bagaimana gadis itu tetap bisa mengenalinya.
Ami spontan salah tingkah. Tangannya hampir menjatuhkan botol saus yang sedang dipegang. “Mb… Mbak Ami?” salah satu ibu bingung melihat perubahan wajahnya.
“Nggak, nggak apa-apa, Bu,” jawab Ami cepat sambil berusaha terlihat tenang.
Namun sejak itu konsentrasinya buyar total. Jantungnya berdegup tidak karuan. Karena satu hal langsung muncul di kepalanya: Rasyid datang menagih jawaban. Dan Ami sama sekali belum siap.
Selama beberapa hari terakhir, pikirannya kacau sejak laki-laki itu tiba-tiba melamarnya di gubuk kebun. Ia bahkan belum tahu harus menganggap semua itu serius atau tidak. Sementara sekarang orangnya malah muncul lagi.
Usai pelatihan selesai dan warga mulai pulang, Ami buru-buru membereskan meja sambil berusaha menghindari tatapan Rasyid. Tetapi laki-laki itu justru mendekat santai.
“Jadi ini yang kamu lakukan setiap harga panen turun?”
Ami berusaha terlihat biasa. “Kadang-kadang.”
Rasyid mengambil satu botol saus tomat dan memperhatikannya. “Dipasarkan ke mana?”
“Aku dibantu teman-teman di kota.”
“Teman kuliah?”
Ami terdiam sesaat sebelum mengangguk kecil. “Sebagian.”
Rasyid memperhatikan Ami lebih lama. Semakin mengenalnya, semakin ia sadar bahwa perempuan ini sebenarnya sangat cerdas. Keadaannya saja yang tidak memberinya kesempatan melanjutkan pendidikan. “Kalau produksinya diperbesar?” tanya Rasyid lagi.
Ami mengangkat bahu kecil. “Terkendala modal, alat, dan pemasaran.”
Jawaban itu membuat pikiran Rasyid langsung bekerja. Ia mulai membayangkan bantuan UMKM, distribusi daerah, hingga koperasi petani. Dan sekali lagi Ami berhasil membuatnya melihat masalah rakyat secara nyata, bukan sekadar lewat laporan di meja kerja.
Rasyid tersenyum tipis sambil memutar botol saus di tangannya. “Kalau nanti saya jadi bupati,” katanya pelan, “saya rasa saya akan sering membutuhkan pendapat kamu.”
Ami langsung menegang lagi. Karena kalimat itu terdengar terlalu dekat dengan lamaran yang masih belum ia jawab.
Rasyid memperhatikan botol-botol saus tomat yang tersusun di atas meja kayu. Jumlahnya lumayan banyak. Kalau tidak segera terjual, hasil produksi hari ini bisa menumpuk lagi di rumah Ami.
Tanpa banyak bicara, Rasyid langsung mengeluarkan ponselnya. “Semua ini saya beli.”
Ami yang sedang membereskan peralatan langsung menoleh cepat. “Hah?”
“Hitung saja totalnya.”
“Pak, ini banyak.”
“Memangnya saya kelihatan nggak punya uang?”
Ami melongo beberapa detik melihat keseriusan Rasyid. Beberapa ibu-ibu yang masih ada di sana malah mulai tersenyum geli melihat interaksi mereka.
Tak lama kemudian, semua hasil olahan hari itu benar-benar diborong Rasyid. Dan entah kenapa, melihat hasil kerja kerasnya dihargai membuat wajah Ami tampak jauh lebih cerah.
“Alhamdulillah…” gumamnya kecil sambil menghitung uang pembayaran.
Rasyid diam memperhatikan ekspresi senang itu dengan tatapan lembut. Lalu tiba-tiba ia berkata santai, “Tapi saya minta imbalan.”
Ami langsung mengangkat kepala curiga. “Imbalan apa?”
“Karena uang kamu hari ini jadi banyak…” Rasyid menyandarkan tubuh santai. “Traktir saya.”