Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.
Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.
Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.
Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.
Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Klinik Gratis dan Sticky Note Kuning
Rumah Amartya, Pondok Indah. Jam 06.00.
Clarissa turun dari kamar lantai dua, rambut masih basah, jas putih sudah rapi, stethoscope melingkar di lehernya. Dia berhenti di anak tangga terakhir, melihat ke meja makan ada piring nasi uduk, telur dadar, tempe orek, plus kopi hitam. Di samping kopi ada sticky note kuning.
"Sarapan Istri. Jangan diet terlalu ketat, nanti anemik. Kalau tensi rendah pas visite, malu-maluin keluarga Amartya. TTD Suami."
Clarissa meremas sticky note itu sambil menahan kesal dan membuangnya ke tempat sampah. Nasi uduk tidak disentuh, hanya mengambil air mineral, meminumnya sebelum berangkat.
Jam 06.15, Alvian Wira keluar dari kamar mandi. Rambutnya basah, handuk di leher. Dia melihat nasi uduk masih utuh hanya tersenyum tipis. "Yah, kebetulan malam tadi tidak makan. Perutku masih kosong."
Lalu dia makan dua porsi itu sekaligus. Setelah habis langsung cuci piring sendiri, kemudian berangkat ke klinik naik motor beat butut.
Jam 13.00, Klinik Aditya Medika, Tebet.
Tulisan di triplek depan: "KLINIK GRATIS - DR. ALVIAN WIRA - BUKA JAM 08.00-21.00". Di bawahnya ada tambahan pakai spidol, tulisan tangan, "KHUSUS DHUAFA & PEKERJA INFORMAL. YANG PUNYA BPJS SILAKAN KE RUMAH SAKIT. YANG SUGIH MINGGIR."
Antrean sudah 40 orang. Ibu-ibu, bapak ojek, kuli bangunan, anak-anak batuk. Mbak Sari, asisten yang digaji Alvian 50 ribu sehari, sibuk bagi-bagi nomor antrean dari kertas bungkus nasi.
"Yang batuk kumpul kiri! Yang luka kumpul kanan! Yang pusing jangan pingsan dulu!" teriak Mbak Sari.
Alvian duduk di kursi plastik, meja kayu, tensi manual, termometer ketek. Tidak ada AC, hanya ada kipas angin satu, itupun sudah bengek setiap gerak keluar bunyi "Krek Krek".
Pasien pertama, Pak Ujang, 45 tahun, tukang bakso. "Dok, pusing. Dari kemarin nggak bisa tidur. Mikirin cicilan."
Alvian cek tensi. 160/100. "Wah, Pak Ujang. Ini tensi mau nyalon jadi walikota. Bapak kurang tidur, kurang duit, kebanyakan ngopi. Nih obat." Dia kasih Captopril 25mg, dari stok beli pakai duit pribadi. "Minum kalau tensi di atas 150. Gratis. Tapi kalau besok masih pusing, bukan karena tensi, mikirin istri tetangga, itu nggak ada obatnya."
Pak Ujang ketawa ngakak. "Dokter bisa aja. Eh Dok, katanya Dokter sudah nikah? Sama dokter juga?"
"Iya, Pak," Alvian pasang stetoskop ke dada Pak Ujang. "Istri saya cantik. Pinter. Galak. Kerja di RS Sentral. Spesialis jantung. Jadi kalau Bapak serangan jantung, saya rujuk ke istri saya aja. Diskon keluarga."
Pasien lain ikut nimbrung. "Loh Dok, istri Dokter galak? Kok mau?"
"Galak itu menarik tau, Bu," jawab Alvian sambil nulis resep di kertas HVS bekas. "Kalau dia diem, lebih baik saya nikah sama batang kayu."
Satu klinik ketawa. Mbak Sari geleng-geleng. "Dokter ini, udah nikah bukannya tobat. Malah makin sinting."
Jam 17.00, RS Sentral Nusantara. Ruang Dokter Jantung.
Clarissa selesai visite. Duduk, buka HP. Ada 20 chat belum dibaca. Grup WA IDI Jaksel lagi rame.
"Ada yang tau dr. Alvian Wira? Yang viral nolongin di IGD kemarin?"
"Itu suaminya dr. Clarissa Amartya. Nikah 2 bulan lalu."
"Hah? Dok Clara nikah? Sama dokter klinik gratis? Kok bisa?"
"Katanya dijodohin. Kasian Dok Clara, dapat suami nggak level."
Clarissa menutup HP keras. Menghantam meja. dr. Maya yang baru masuk terkejut hingga mengelus dada. "Dok Clara? Kok marah?"
"Tidak. Hanya lapar," jawab Clarissa datar.
Dia membuka laci, kemudian menemukan ada kotak bekal berwarna coklat di sana. Awalnya tidak tahu itu milik siapa sampai menemukan sticky note kuning di atasnya.
"Takut Istri pingsan. Jangan lupa di makan. TTD Suami."
Clarissa membuang kotak bekal itu ke laci lagi tanpa membuka isinya. Tapi beberapa saat kemudian, perutnya keroncongan, terpaksa membukanya. Nasi goreng, telur, plus nugget. Masih hangat dan terlihat sangat lezat.
Satu suap, dua suap. Tanpa sadar hampir separuh. Clarissa menutupnya lagi, lalu sisanya dibagikan ke perawat yang jaga.
Jam 20.30, Klinik Tebet.
Pasien tinggal 5 orang. Alvian sedang menjahit luka anak kecil yang jatuh dari sepeda. Karena tidak ada lidokain jadi Alvian bernyanyi "Cicak di dinding" untuk mengalihkan perhatian anak itu. Anaknya ikut bernyanyi, dengan cepat jahitan selesai.
"Udah. Besok lagi kalau naik sepeda pake helm. Jangan pake sendal, pake sepatu. Biar kayak pembalap. Bayarannya apaa?"
"Doain Dokter sama istrinya langgeng," sahut ibu sang anak yang ada di samping.
Alvian tertawa. "Amin, Bu. Doanya yang kenceng. Biar istri saya nggak ngusir saya ke teras."
Tiba-tiba sebuah merci hitam berhenti di depan klinik. Menyadari sosok yang keluar Alvian tahu jika itu adalah Bu Diany, ibunya Clarissa. Ibu mertuanya.
Mbak Sari bisik-bisik, "Dok, mertua Dokter datang lagi."
Alvian berdiri, cuci tangan, lap ke baju. "Selamat malam, Mama Mertua."
Bu Diany melihat sekeliling klinik. Kipas angin, lantai semen, pasien duduk lesehan. Hidungnya kembang kempis. "Kamu, ikut saya ke mobil."
"Masih ada pasien, Ma," Alvian menunjuk anak-anak yang masih nunggu.
"SURUH PULANG!" Suara Bu Diany naik satu oktaf. "Ini darurat keluarga!" katanya.
Alvian menatap Bu Diany 2 detik. Lalu tersenyum. "Maaf, Ma. Di klinik saya, daruratnya pasien. Darurat keluarga nunggu jam 21.01. Saya selesaikan dulu ya. Mama bisa duduk kalau mau. Ada singkong rebus." Dia menunjuk ke meja.
Bu Diany mau meledak. Tapi pasien lain sudah menatapnya. Dia masih punya gengsi hingga akhirnya duduk di kursi plastik sambil dipegangin sopirnya biar tidak kotor.
15 menit kemudian, pasien habis. Alvian cuci tangan dan beresin meja, baru setelah itu menghampiri Bu Diany di mobil.
"Apa, Ma?" tanya Alvian santai.
"Clarissa telpon saya. Nangis," kata Bu Diany, jelas bohong. Alvian yakin dengan watak istrinya tidak akan mudah menangis. Bahkan dia ragu istrinya bisa menangis.
"Dia bilang kamu bawa aib ke RS. Nolongin pasien tanpa izin. Kamu mau hancurin karir anak saya?"
Alvian diam, lalu tersenyum. "Oh. Jadi Istri ngadu ke Mama. Pantesan Mama datang. Ma, sampaikan ke Istri saya, satu, saya nolongin nyawa. Dua, kalau karirnya hancur karena suaminya nolongin orang, berarti karirnya dibangun di atas fondasi salah. Tiga, bilang ke Istri saya, nasi gorengnya enak. Besok masakin lagi ya."
Bu Diany melotot. "Kamu! Kamu pikir kamu siapa? Kamu cuma numpang hidup! Rumah ini, klinik ini, semua karena keluarga kami! Cerai sana!"
Alvian hanya tersenyum tanpa meladeni ucapan ibu mertuanya.
___
Jam 22.00, Rumah Pondok Indah.
Clarissa baru saja pulang, di meja makan ada piring tertutup tudung saji. Sticky note kuning, "Tumis kangkung + tempe. Istri pasti capek. Makan dulu baru marah-marah. TTD Suami yang katanya mau diceraiin Mama."
Clarissa membacanya dengan menyipitkan mata, meremas kertas, membuangnya ke tempat sampah.