NovelToon NovelToon
Satu Atap Dua Rahasia

Satu Atap Dua Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.

​Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."

​Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Tuntutan Kakek

Ketukan di pintu depan sore itu terdengar seperti suara vonis bagi Selena. Kedatangan Sang Kakek—sang patriark yang memegang kendali atas seluruh harta Hermawan—bukanlah kunjungan sosial biasa. Ini adalah inspeksi mendadak.

Selena sudah bersiap sejak dua jam lalu. Ia melepaskan kaos kebesarannya, menggantinya dengan dress selutut berwarna merah marun yang memeluk lekuk tubuhnya dengan elegan.

Rambut ikalnya yang biasanya berantakan kini ditata menjadi gelombang jatuh yang cantik. Ia bahkan memakai parfum yang sedikit lebih manis, berharap aroma itu bisa mencairkan suasana di ruang tamu.

"Aku harus terlihat jatuh cinta," gumam Selena pada cermin, memaksakan senyum manis yang sudah ia latih.

Namun, harapannya pupus saat ia menuruni tangga. Di ruang tamu, Biru duduk di sofa kulitnya dengan ekspresi sedatar papan tulis.

Tidak ada binar kagum saat melihat istrinya tampil secantik itu. Bahkan saat Selena mencoba mendekat dan duduk di sampingnya, Biru justru sedikit menggeser duduknya, memberi jarak yang sangat kentara.

"Kakek, senang melihat Anda sehat," suara Biru terdengar formal, seolah-olah sedang berbicara dengan klien bisnis, bukan kakek kandungnya.

Yang membuat Selena semakin geram adalah keberadaan Cakra. Asisten itu berdiri sangat dekat di belakang Biru. Setiap kali Biru berdehem kecil atau tampak sedikit pucat, Cakra dengan sigap membungkuk, membisikkan sesuatu ke telinga Biru, atau memberikan segelas air hangat dengan gerakan yang sangat perhatian—bahkan terlalu perhatian untuk ukuran seorang asisten.

Selena mencoba meraih tangan Biru di atas meja, sebuah gestur mesra yang biasa ada di bab kedua novel-novelnya untuk meyakinkan pembaca. Namun, dengan gerakan halus yang sangat menyebalkan, Biru justru menarik tangannya untuk membetulkan letak jam tangannya, lalu kembali condong ke arah Cakra untuk menanyakan jadwal besok.

Brak!

Suara hati Selena berteriak frustrasi. Di novel yang ia tulis, sang suami biasanya akan menarik pinggang istrinya atau setidaknya memberikan tatapan memuja di depan keluarga. Tapi Biru? Pria ini seolah-olah menganggap Selena hanyalah pajangan guci mahal yang kebetulan ada di sana.

Sepanjang makan malam, perhatian Biru tetap terpusat pada Cakra. Mereka berkomunikasi lewat kode mata dan bisikan-bisikan singkat yang terasa sangat eksklusif. Cakra bahkan memotongkan daging di piring Biru saat melihat tangan bosnya itu sedikit gemetar—sebuah tindakan yang seharusnya dilakukan oleh Selena sebagai istri.

Selena hanya bisa menusuk-nusuk brokoli di piringnya dengan perasaan dongkol yang luar biasa. Ia menatap interaksi "intim" antara Biru dan Cakra dengan mata menyipit.

Tunggu sebentar...

Selena memperhatikan bagaimana Cakra menatap Biru dengan tatapan penuh perlindungan, dan bagaimana Biru hanya merasa nyaman jika Cakra ada di dekatnya. Dibandingkan dengan perlakuan dingin Biru padanya, hubungan mereka berdua jauh lebih... emosional.

"Apa mungkin Biru dan Cakra sebenarnya homo?" tanya Selena dalam hati, matanya membelalak kaget saat pemikiran itu melintasi otaknya.

"Oh my God... itu akan menjelaskan semuanya! Kenapa dia mau kontrak 'Tanpa Sentuhan', kenapa dia sangat dingin padaku, dan kenapa dia lebih suka berduaan dengan asistennya daripada denganku!"

Selena hampir saja tersedak air putihnya sendiri. Jika dugaannya benar, maka pernikahan ini bukan lagi sekadar kontrak bisnis, melainkan sebuah cover-up besar.

"Selena? Kau baik-baik saja? Kenapa wajahmu jadi merah begitu?" tanya Sang Kakek, memutus lamunan liarnya.

Selena segera tersenyum kaku, melirik Biru yang masih saja sibuk berbisik dengan Cakra. "Oh, tidak apa-apa, Kek. Saya hanya... baru menyadari betapa 'eratnya' hubungan Biru dengan asistennya. Benar-benar luar biasa."

Biru hanya menatap Selena sekilas dengan pandangan dingin yang tajam, tidak menyadari bahwa di dalam kepala istrinya yang kreatif itu, ia baru saja didiagnosis sebagai pemeran utama dalam genre novel yang sangat berbeda.

Di dalam ruang kerja yang kedap suara itu, suasana terasa jauh lebih menekan daripada di meja makan tadi. Tuan Hermawan duduk di kursi kebesaran Biru, jemarinya yang keriput namun kokoh mengetuk meja kayu jati itu dengan irama yang teratur.

"Perkembangan Hermawan Group di tanganmu luar biasa, Biru. Aku tidak salah memilihmu," ujar sang kakek dengan suara bariton yang masih berwibawa. "Dan keputusanmu untuk segera menikahi Selena adalah langkah strategis yang sangat tepat. Dewan komisaris sekarang tidak punya alasan lagi untuk meragukan kematanganmu."

Biru hanya mengangguk tipis, berdiri di dekat jendela besar dengan tangan terlipat di depan dada. "Itu sudah menjadi tanggung jawab saya, Kek."

Tuan Hermawan menghela napas, matanya yang tajam menatap punggung cucunya.

"Kakek senang karena kamu sudah mempunyai istri. Tapi ada satu hal yang menggangguku. Mulai sekarang, usahakan agar kebutuhanmu tidak kau bebankan lagi pada Cakra. Dia itu asisten pribadimu di kantor, bukan pelayan pribadimu di rumah. Kamu punya istri sekarang, Biru. Belajarlah untuk bergantung pada Selena."

Biru tertegun. Rahangnya mengeras. Ia ingin membantah bahwa Cakra adalah satu-satunya orang yang tahu kapan ia harus minum obat dan bagaimana menangani dadanya saat mulai terasa diremas, namun ia hanya bisa terdiam.

"Biru," panggil sang kakek lagi, kali ini nadanya lebih lembut namun mengandung tuntutan yang berat. "Posisi kamu sudah kuat. Tapi kekuasaan tanpa pewaris adalah kekosongan. Kakek sudah tua. Kakek ingin segera melihat cicit dari darah dagingmu sendiri sebelum Kakek menutup mata."

Deg.

Jantung Biru berdenyut nyeri, bukan karena penyakitnya, melainkan karena rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya. Cicit? Pewaris? Bagaimana mungkin ia bisa menjanjikan sebuah nyawa baru sementara jantungnya sendiri adalah sebuah mesin rusak yang bisa berhenti berdetak kapan saja?

Bagaimana ia bisa menjelaskan pada kakeknya bahwa pernikahan ini hanyalah lembaran kertas kontrak? Bahwa tidak akan pernah ada sentuhan, apalagi seorang bayi?

"Kenapa diam, Biru?" desak sang kakek.

Biru membalikkan badan, wajahnya sepucat kertas di bawah lampu ruang kerja. Ia membuka mulutnya untuk menjawab, namun suaranya seolah tertahan di tenggorokan.

Memberi tahu kebenaran berarti mengakui kelemahannya, dan berbohong berarti memberikan harapan palsu yang mematikan.

Di luar pintu, Selena yang awalnya berniat mengantarkan kopi sebagai bagian dari "akting istri yang baik", terhenti dengan tangan menggantung di udara. Ia mendengar percakapan itu dari balik celah pintu yang tidak tertutup rapat.

Wajah Selena memerah. Cicit? Ia melirik ke arah lorong di mana Cakra berdiri siaga. Kecurigaannya tentang hubungan Biru dan Cakra kembali berputar di otaknya, namun di sisi lain, ia melihat ketegangan yang luar biasa di pundak Biru. Ada keputusasaan yang tidak bisa ia jelaskan.

"Kek..." Biru akhirnya bersuara, rendah dan bergetar. "Kami... kami butuh waktu. Fokus kami saat ini adalah stabilitas perusahaan."

"Waktu adalah hal yang tidak banyak kumiliki, Biru," sahut sang kakek dingin sebelum bangkit berdiri dan berjalan keluar.

Saat pintu terbuka, Selena hampir saja terjungkal. Ia segera berakting seolah baru saja sampai dengan nampan kopi di tangannya. Sang kakek hanya menepuk bahu Selena pelan sambil tersenyum penuh arti, meninggalkan Selena dan Biru dalam keheningan yang sangat canggung di dalam ruang kerja yang mendadak terasa sangat sempit itu.

***

1
Rahmah Salam
hummmm....💪💪
Rahmah Salam
egoisss....emang anda tau kebahagian seseorang...😎
Rahmah Salam
tdk enak di posisi selena yg mengalami kebingungan dan ketidak pastian...
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh.... lemah sekali ea
Rahmah Salam
semangat semangat,,😄
Rahmah Salam
thor lnjut lg dong...
Rahmah Salam
ikut terharu..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
kasihan biru..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
akankah dia tau..???/Sweat/
Rahmah Salam
waduhhh....jangan died dl thor....😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
kalau jin gimna....???
jin ouch jin sentuh itu selena...
Rahmah Salam
kontrak batal😎...misi sang mertua sukses...😄😄
Bhebz: wkwkwk
total 1 replies
Rahmah Salam
asin dong klau msh ada sisa air laut yg nempel😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ikuti alur nya seperti air yang menuju muara lalu bertemu lautan
Rahmah Salam
setidakx merasskan rasa happy di akhir hidupx.....😆
Rahmah Salam
dehhh....deg degan😆
Rahmah Salam
kira2 senakal apa sih biru dulu????😎
Rahmah Salam
jenis penyakit langka😎
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
penuh lika liku naik turun jurang dan tebing... hihihi....
Titin Riani
nunggu update lagi dong 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!