Empat tahun Inara menjadi ibu susu bagi Zidan. Selama itu pula, ia mendapatkan cinta dari Reno, ayah Zidan, bahkan mereka berencana untuk menikah.
Namun semuanya berubah saat Zoya, mantan istri Reno sekaligus ibu kandung Zidan, kembali dengan niat menebus kesalahan. Sejak saat itu, kehidupan Reno dan Zidan perlahan berpusat pada Zoya. Sementara Inara justru merasa tersisih dan selalu menjadi pihak yang disalahkan.
Inara tidak pernah tahu di mana letak kesalahannya, hingga membuat Reno yang dulu mencintainya kini berubah dingin.
Apa yang sebenarnya terjadi? Akankah Inara memilih bertahan atau justru akan pergi karena merasa sudah tidak dipilih lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
"Zidan!"
Lengkingan suara Zoya seketika menghentikan langkah Inara yang sudah hampir pergi. Tubuhnya refleks berbalik dan dalam hitungan satu detik, semua niat untuk menjauh runtuh begitu saja.
Naluri seorang ibu mengambil alih. Inara bergegas menghampiri, langkahnya cepat namun terasa goyah, seolah pikirannya tertinggal di belakang. Pandangannya terpaku pada Zidan yang kini terkulai di pangkuan Zoya.
"Zidan…" panggil Inara, suaranya bergetar halus. Tangannya terangkat, ingin menyentuh, memastikan anak itu baik-baik saja. Namun sebelum jemarinya sempat menyentuh, Reno yang panik justru mendorongnya.
"Ini semua gara-gara kamu, Ara! Kamu tahu Zidan tidak bisa diperlakukan keras, tapi kamu tetap—"
Kalimat itu terpotong, tetapi cukup untuk menghantam.
Tubuh Inara yang terdorong ke belakang hingga jatuh ke lantai. Seharusnya benturan itu terasa sakit, namun tidak ada apa-apa dibandingkan dengan kalimat Reno yang masih bergema di kepalanya.
Untuk beberapa detik, Inara hanya diam. Tatapannya kosong, napasnya tertahan, seolah dunia di sekitarnya meredup. Ia masih mendengar suara, tetapi samar, seperti datang dari tempat yang jauh.
"Mas, sudah… kita segera bawa Zidan ke rumah sakit. Aku takut terjadi apa-apa padanya," ucap Zoya tergesa.
Suara itu seperti menarik Inara kembali, tetapi tidak sepenuhnya. Ia melihat Reno mengangkat tubuh Zidan dengan tergesa. Gerakan itu jelas, tetapi entah kenapa terasa seperti bukan bagian dari dirinya lagi. Seolah ia hanya penonton.
Sebelum benar-benar pergi, Reno berhenti sejenak. Tanpa menoleh sepenuhnya, ia berkata dengan nada dingin yang menusuk, "Ara, Zidan adalah batas toleransiku. Kalau terjadi apa-apa dengannya, aku tidak akan memaafkanmu."
Inara tersentak. Seolah baru tersadar dari keterpakuannya, ia langsung bergerak. Tubuhnya yang sempat terasa berat kini dipaksa bangkit, meski sedikit goyah. Ucapan Reno barusan tidak sempat ia cerna, apalagi ia masukkan ke dalam hati. Fokusnya hanya satu, yaitu Zidan.
"Aku ikut, Mas," ucap Inara cepat, suaranya masih tersisa getar panik.
Reno menggeleng tanpa ragu. "Tidak perlu. Aku takut nanti saat Zidan bangun, keadaannya justru makin buruk. Lebih baik kamu di rumah saja dan renungkan semua perbuatanmu hari ini," tandasnya dingin.
Tanpa memberi kesempatan untuk membalas, Reno segera melangkah pergi sambil menggendong Zidan. Zoya mengikuti di sampingnya.
Namun saat berjalan, Zoya sempat menoleh ke belakang. Tatapannya tertuju pada Inara, dan sebuah senyum tipis terukir di wajahnya, senyum yang terlalu jelas untuk disalahartikan, senyum kemenangan.
Keadaan balkon itu kini sepi, seolah menunjukkan perasaan Inara yang ditinggalkan dengan rasa bersalah yang memenuhi dadanya. Setelah mencerna semua yang terjadi, ia akhirnya mengambil keputusan.
"Tidak, aku tidak bisa menunggu saja. Aku harus menyusul mereka. Zidan pasti butuh aku nanti."
Selama empat tahun Inara merawat Zidan, ia tahu persis apa yang anak itu butuhkan. Pelukan hangat darinya untuk menenangkan, agar Zidan tidak takut dengan jarum suntik atau saat harus bertemu dokter.
"Tapi bagaimana kalau Mas Reno nanti makin marah?" Inara hampir melangkah pergi, namun teringat ucapan Reno barusan.
"Tapi kalau aku tidak pergi, kalau nanti Zidan butuh aku bagaimana?" ucap Inara lagi, masih optimistis bahwa Zidan tetap membutuhkan dirinya, apalagi dalam keadaan seperti ini.
"Sudahlah, apa pun yang terjadi aku harus ke sana. Lagian kalau Zidan benar-benar membutuhkan aku, Mas Reno tidak akan mempermasalahkan semuanya," putus Inara.
Pada akhirnya, ia pun bergegas menuju rumah sakit.
***
Di rumah sakit.
Reno dan Zoya terlihat panik menunggu hasil pemeriksaan Zidan. Namun yang lebih mengkhawatirkan bagi Zoya adalah kemungkinan bahwa penyebab Zidan pingsan tadi karena dirinya yang memaksa anak itu untuk berenang. Hal itu baru ia sadari saat memegang dahi dan tubuh Zidan yang terasa panas, bahkan sempat disertai kejang ringan.
'Kalau memang karena ulahku, Reno pasti akan semakin membenciku. Tidak, aku harus mencari cara agar Reno tidak tahu kejadian yang sebenarnya,' batin Zoya.
Di tengah kebingungannya, suster yang tadi ikut memeriksa Zidan keluar dan memberitahu bahwa mereka harus segera mengurus administrasi rawat inap serta menebus obat di apotek.
"Mas, kamu pergi saja. Biar aku yang jaga di sini," ucap Zoya dengan nada lembut.
"Tapi aku harus tahu keadaan Zidan."
"Nanti dokter juga akan memberi tahu. Bagaimanapun sekarang kamu walinya, kalau terjadi apa-apa kamu yang harus ambil keputusan. Tenang saja, yang penting nomor kamu tetap bisa dihubungi," bujuk Zoya.
"Baiklah, aku urus administrasi dulu dan tebus obatnya. Kamu hubungi aku kalau terjadi apa-apa," jawab Reno.
Zoya mengangguk. "Jangan khawatir, Zidan juga anakku. Yang terbaik pasti akan aku lakukan."
Saat Reno pergi, tak lama kemudian dokter yang memeriksa Zidan keluar. Zoya buru-buru menghampiri.
"Bagaimana keadaan Zidan, Dok?" tanyanya.
"Anda ibunya?" tanya dokter.
"Iya, saya ibunya," jawab Zoya.
Dokter mengangguk dan menggeleng pelan, lalu bertanya, "Sebelumnya anak ini sempat demam atau tidak?"
Pertanyaan itu langsung membuat Zoya sedikit kaku. Ia ragu sesaat dan ingat saat Inara mencegahnya karena kondisi Zidan, lalu menjawab pelan, "Iya, semalam sempat demam… tapi tadi sudah turun."
Dokter kembali bertanya, kali ini lebih tajam, "Sebelum pingsan, apakah dia melakukan aktivitas berat? Atau mungkin terkena air, seperti berenang?"
Tangan Zoya refleks mengepal. Ia tidak bisa lagi menghindar. "Iya, tadi sempat berenang…" jawabnya akhirnya.
Dokter menghela napas pelan. "Sebagai ibu apa kamu tidak tahu? Renang yang dilakukan kemungkinan besar pemicunya. Anak yang baru saja demam, kondisi tubuhnya masih lemah dan suhu tubuhnya belum stabil. Saat dipaksa aktivitas seperti berenang, apalagi dengan perubahan suhu, itu bisa memicu kejang demam. Ditambah kelelahan, anak bisa sampai pingsan seperti tadi."
Zoya terdiam, dadanya terasa sesak tapi ketakutan dibenci Reno lebih besar dibandingkan rasa bersalah pada Zidan.
"Tapi… sekarang kondisinya bagaimana, Dok?" tanyanya, suaranya sedikit melemah.
"Untuk saat ini sudah kami tangani. Kejangnya sudah berhenti, tapi dia harus dirawat untuk observasi. Kami perlu memastikan tidak ada infeksi lanjutan dan suhu tubuhnya benar-benar stabil," jelas dokter.
Zoya mengangguk pelan.
"Ke depannya, kalau anak baru sembuh dari demam, jangan dulu diajak aktivitas berat. Tubuhnya butuh waktu untuk pulih sepenuhnya," tambah dokter.
"Baik, Dok…" jawab Zoya lirih.
Namun di balik itu, perasaannya justru semakin kacau, karena kini ia tahu pasti, penyebab semua ini memang dirinya. Hanya saja kekhawatirannya sedikit berkurang karena hanya dirinya yang kini mendapatkan informasi ini, dan satu ide muncul untuk membuat dokter itu memberikan hasil pemeriksaan lain pada Reno nanti.
Sayangnya saat Zoya baru ingin membuka mulut untuk berbicara pada sang dokter, suara Inara tiba-tiba terdengar.
"Zoya jadi ini semua karena ulahmu?"