"Kamu hanya aib dalam hidupku!"
Itu kalimat pertama yang Raden Rangga Wijaya ucapkan pada istri sahnya.
Rangga—mahasiswa hukum tampan, presiden BEM, idola kampus yang dikejar ratusan perempuan, terpaksa menikahi gadis yang paling dibencinya. Meysa Putri Mahendra. Si miskin culun berkulit kusam yang tidak pantas berdiri di sampingnya.
Meysa juga tidak mau. Menikah dengan pria arogan yang memandangnya seperti sampah? Tapi ancaman pencabutan KIP dan warung neneknya yang jadi taruhan membuatnya pasrah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MochiFlora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
IRIK
Renal berdiri dari kursinya. Rahangnya masih mengeras, menahan amarah yang tidak tahu harus ia arahkan ke mana. Ia melangkah menuju pintu, berniat mencari Rangga dan menanyakan semuanya
Belum sempat ia melangkah keluar, Meysa meraih pergelangan tangan Renal.
Dengan susah payah, gadis itu menarik tangan Renal hingga pria itu hampir kehilangan keseimbangan. Ia mencoba berdiri, ingin mencegah Renal pergi, tapi tubuhnya terlalu lemah.
"Aahhh!" rintih Meysa sembari memegangi perutnya. Wajahnya berkerut kesakitan.
Renal cepat-cepat berbalik. Tangannya menahan bahu Meysa, menuntunnya kembali duduk di tepi dipan. "Cha... lo jangan gerak dulu.."
Tapi Meysa menggeleng, matanya menatap Renal dengan tatapan yang ketakutan kehilangan satu-satunya kendali yang ia miliki. "Mas Renal... jangan bilang."
"Lo harus istirahat Cha, Biar gue yang ngomong sama Rang—"
"JANGAN!"
Suara Meysa meninggi. Renal terkejut. Sejak ia mengenal Meysa, gadis itu tidak pernah meninggikan suaranya. Ia selalu diam..
Meysa menatapnya dengan mata berkaca-kaca dan raut wajah yang seperti sedang memohon.
"Mas Renal... aku mohon. Jangan bilang Rangga."
"Kenapa sih, Cha?" Renal duduk kembali di kursi, dengan perasaan kesal. "Ini demi kebaikan lo, kondisi lo kurang gizi, tekanan darah juga rendah, harusnya disaat seperti Rangga ada buat Lo!"
Meysa menunduk. "Dia pasti marah, terlebih jika Mas Renal sendiri yang bilang.."
Renal terdiam. Kepalanya terasa pusing sendiri mendengar semua ini. Seperti apa pernikahan mereka sebenarnya? Seperti apa Rangga di rumah sehingga Meysa lebih takut pada suaminya sendiri daripada sakit yang ia derita?
Pintu UKS terbuka dengan suara keras.
"ECHAAAAA!"
Aqeela berlari masuk, dan langsung memeluk Meysa dengan erat, tanpa peduli kalau tubuh sahabatnya itu masih lemah.
"Cha, kamu kenapa sih? Kok gak bilang-bilang kalau kamu sakit? Aku tuh kaget banget dengar dari yang lain kalau kamu tadi pingsan!" Aqeela terus meracau.
Wulandari menyusul masuk dengan langkah lebih tenang, tapi matanya tidak kalah khawatir. Ia berdiri di samping dipan memandang Meysa dengan sorot campuran antara cemas dan kesal. "Cha, kamu tuh kadang ngeselin banget, tau gaksih."
"Iya... maaf," kata Meysa.
Renal berdiri, mengambil tasnya dari lantai. "Udah, lo berdua jagain Meysa. Gue mau ke kelas dulu, ada hal yang mau urusin!"
"Oke, Makasih Renal yang tampan bak pangeran, udah bantu jagain sahabat kita, gue do'ain semoga Lo jodoh sama gue!" celetuk Aqeela dengan riang.
"What, Lo naksir sama Renal?" Wulandari tercengang mendengar ucapan Aqeela.
"BERCANDA WULANDARI YANG CANTIKNYA MENGALAHI BULAN DAN BIDADARI, ANAKNYA PAK ANDRI DAN IBU SRIII!!!" ucap Aqeela sambil mengerucutkan bibirnya kedepan.
Sementara Renal hanya menggelengkan kepalanya, melihat tingkah Aqeela. Lalu ia melangkah keluar, dan menutup pintu UKS pelan-pelan.
Sejenak ia berdiri sambil menatap ke arah lapangan."Lo benar-benar keterlaluan Ga," umpatnya.
*
Pintu kelas terbuka dengan suara keras, membuat beberapa mahasiswa menoleh kearah suara itu, Renal berdiri di ambang pintu, matanya tertuju pada Rangga, yang sibuk memainkan ponselnya.
Renal berjalan masuk, dengan sorot mata yang membuat Dimas yang duduk di samping Rangga menegang. "Wah, ada apa nih," sarkas Dimas pada Abimanyu di sebelahnya.
Renal meraih lengan Rangga, dan menariknya untuk berdiri. "Lo ikut gue."
"Apa-apaan nih?" Rangga melepaskan tangannya dengan kasar, tapi Renal tidak bergeming. Tangannya kembali meraih kerah kemeja Rangga, menariknya keluar dari kursi.
"Lo ikut gue. Sekarang."
Dimas berdiri. Abimanyu dan Januar saling pandang, lalu mereka bertiga mengikuti dari belakang, meninggalkan kelas yang tiba-tiba menjadi sunyi oleh rasa penasaran.
Di belakang gedung fakultas, tempat yang sepi dan jarang dilewati mahasiswa, Renal berhenti. Ia melepaskan kerah Rangga, lalu ia mendorong dada Rangga hingga pria bertubuh tinggi itu kehilangan keseimbangan dan terjatuh mengenai pasir yang bertumpuk.
"Kurang ajar lo!" Rangga bangkit, matanya melotot. "Gila apa lo, Nal?"
"Gila?" tanya Renal, dengan mimik wajah marah. "Lo tanya gue gila? Lo yang gila, Ga!" Ia melangkah maju, tangan kanannya terangkat hendak meninju. Tapi Dimas yang sedari tadi mengikuti dari belakang cepat-cepat menyelipkan tubuhnya di antara mereka berdua.
"Nal, Nal, tenang dulu. Ada apa? Coba Lo ceritain baik-baik," ucap Dimas, kedua tangannya menahan bahu Renal.
"DIAM LO SEMUA! INI URUSAN GUE SAMA RANGGA!"
Renal mendorong Dimas pelan, lalu menatap Rangga dengan sorot mata yang tidak pernah ia tunjukkan pada sahabatnya..
"Kenapa lo sebegitu bencinya sama Meysa, Ga?" tanya Renal, suaranya pelan tapi setiap kata terasa seperti batu yang dilempar ke kaca.
Rangga membuang muka. "Maksud lo apa?"
"GUE TANYA," Renal naikkan intonasi. "KENAPA LO SEBEGITU BENCINYA SAMA MEYSA?"
"BUKAN URUSAN LO!!"
"LO UDAH NIKAH KAN SAMA MEYSA?"
Pertanyaan itu membuat Rangga tidak bergeming.
Dimas membeku. Abimanyu membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar. Januar hanya bisa menatap Rangga dengan mata membelalak.
"Lo gak bohong kan, sama kita, Nal?" tanya Dimas
"Kalo Lo semua gak percaya, tanya sama bokapnya Rangga," ujar Renal.
"Asal lo tau ya, Ga. Meysa hamil anak lo."
Deghhh!!!!
Rangga terdiam. Wajahnya yang tadinya tegang, kini berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa diartikan.
"Lo denger gue, Ga? Meysa hamil anak lo."
Renal menghela napas. Ia tahu amarahnya tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi ia juga tahu, seseorang harus mengatakan ini pada Rangga.
"Lo denger Gue, lo mau nikah sama siapapun itu bukan urusan Gue, tapi tolong, tolong liat Meysa, dia udah berusaha ngurus Lo di rumah sakit, dia bela-belain izin kuliah. Tapi apa yang dia dapat dari suaminya?" Renal menghela napas kasar." Lo terlalu sibuk membenci Meysa sampai lo gak pernah sedikitpun melihat kebaikannya, JAHAT LO GA!"
Renal langsung berbalik, melangkah pergi meninggalkan Rangga yang masih membatu, sementara Dimas, Abimanyu, dan Januar hanya bisa saling pandang tanpa suara.
"Ham... hamil?" ucap Rangga, wajahnya tidak sekalipun menunjukkan bahagia."Jadi selama ini....Renal diam-diam merhatiin Gue sama perempuan kampungan itu?" Rangga bersandar pada dinding." Gak, gue gak percaya itu anak gue! Jangan sampai gue di bodohin sama mereka berdua!"
semoga setelah ini Meysa sadar dan mau meninggalkan si Rangga
jangan lemah mey