Dunia baru, aturan baru: yang kuat makan, yang lemah dimakan.
Yudha terbangun di dunia asing dengan membawa Apocalypse Hunger System—kekuatan yang bisa melahap apa saja untuk menjadi lebih kuat, tapi dengan harga: ia harus selalu lapar, atau dunia ini yang akan menanggung akibatnya.
Dingin, pragmatis, dan tidak percaya pada siapa pun, ia hanya punya satu tujuan: bertahan hidup, menjadi yang terkuat, dan tidak akan pernah lagi merasakan kelaparan atau diinjak-injak seperti masa lalunya.
Segalanya berubah saat ia bertemu Carmelia—anak kecil polos yang ia anggap hanya sebagai petunjuk jalan dan alat bantu. Di balik senyum dan sikap lembutnya, tersembunyi sesuatu yang jauh lebih tua, jauh lebih gelap, dan jauh lebih berbahaya daripada sistem yang ada di dalam tubuh Yudha sendiri.
Dari pemangsa, ia perlahan sadar: ia mungkin bukan yang berburu... tapi justru yang sedang diburu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xian Nying, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 : Trauma Adaptasi dan Hiu yang Mengendus Darah
Tepat di ambang pintu masuk lantai tiga puluh satu, langkah gw berhenti. Di bawah sana, miasma hijau The Rotten Garden bergulung-gulung seperti karpet racun yang siap menelan siapa saja. Sebelum melangkah lebih jauh, gw berbalik, menatap dua orang di bawah perintah gw yang napasnya masih agak memburu usai pertarungan di lantai tiga puluh tadi.
Mata gw memindai postur mereka. Ke depannya, formasi mereka akan menjadi jangkar mutlak bagi gw: Lyra sebagai otak taktis yang akan mengembangkan kekuatan wilayah Symphony, dan Carmelia sebagai perisai lincah bayangan yang menjaga seluruh sisi pertahanan. Namun saat ini, mereka masih berupa adonan mentah yang harus gw tempa dengan besi panas agar menjadi senjata tajam yang tak pernah salah sasaran.
Gw merogoh kantong dimensi di dalam jubah naga gw, lalu mengeluarkan beberapa botol ramuan penyembuh tingkat tinggi berwarna merah pekat dan menyodorkannya ke depan dada mereka.
Mata Lyra langsung berbinar polos, sementara Carmelia mengembuskan napas lega yang selama ini tertahan. Bahu Lyra sudah berwarna biru keunguan akibat seringnya membenturkan badan kayu biola putihnya, dan Carmelia beberapa kali tak sadar mengusap pergelangan tangannya yang kram karena terlalu sering bergerak cepat memegang sepasang belati dari balik bayangan. Mereka mengira gw akhirnya berbaik hati menyembuhkan semua luka dan lelah mereka sebelum masuk ke zona yang jauh lebih berbahaya ini.
"Pegang ini," kata gw dengan nada datar dan dingin.
Begitu jemari kecil mereka menyentuh botol kaca tersebut, gw tidak langsung melepaskan genggaman gw. Gw menatap mata mereka satu per satu dengan tatapan sekeras baja tempaan.
"Aturan baru untuk pelatihan kalian berlaku mulai detik ini juga," suara gw beresonansi rendah dan berat di lorong gua yang sunyi. "Kalian boleh membawa ramuan ini, tapi dilarang keras menggunakannya sama sekali selama sesi latihan berlangsung. Hanya gw yang berhak menentukan kapan botol ini boleh dibuka dan diminum."
Lyra dan Carmelia tersentak, lalu refleks menahan napas mereka sejenak.
"Ramuan ini cuma menyembuhkan tujuh puluh persen dari luka yang kalian alami. Sengaja gak gw buat seratus persen sempurna agar otak dan tubuh kalian tetap mengingat rasa sakit, serta trauma dari setiap kesalahan yang kalian buat. Rasa sakit adalah guru terbaik yang bisa mengajarkan kalian cara beradaptasi secepat kilat di tengah pertempuran maut," gw tersenyum sinis sebelum melepaskan botol itu ke tangan mereka yang mendadak gemetar. "Dan ingat satu hal penting. Kalau kalian gagal menganalisis situasi, teledor dalam menghindar, lalu mati dengan cara konyol di bawah sana... gw gak bakal peduli sedikit pun. Gw bakal tinggalkan mayat kalian begitu saja tanpa rasa penyesalan. Paham?"
POV: Lyra & Carmelia
"Pa—paham, Tuan Yudha..." jawab Lyra dengan suara mencicit pelan, kepalanya langsung tertunduk dalam-dalam seolah-olah sedang menghadapi raja yang paling kejam dan berkuasa.
Di sampingnya, Carmelia hanya bisa sedikit menekuk lututnya, memberikan gestur hormat mutlak khas seorang pelayan bayangan yang patuh seumur hidup. "Perintah Tuan adalah mutlak bagi seluruh kehidupan kami."
Secara lahiriah, mereka adalah potret dua pelayan paling tulus, setia, dan pasrah sedunia yang rela mati kapan saja demi tuannya. Namun, andai ada sihir yang bisa membaca isi kepala, ruangan gelap ini pasti sudah meledak oleh teriakan unek-unek dan keluh kesah mereka yang sudah ditahan lama.
Tuhan... tolong kutuk laki-laki psikopat ini menjadi batu selamanya! pekik Lyra histeris di dalam batinnya. Dia baru saja memberi kami secercah harapan, lalu menginjak-injaknya habis-habisan dalam waktu tiga detik saja! Bahuku ini rasanya seperti mau copot dari tulang, dan dia malah mau aku terus mengingat rasa sakit serta traumanya?! Dajjal! Dia benar-benar dajjal tampan tapi sama sekali tidak punya hati! Aku bersumpah, kalau aku mati duluan nanti, aku akan menghantui tempat tidurnya setiap malam sampai dia gila!
Sementara itu, di balik tudung jubah birunya, otak Carmelia yang biasanya dingin dan tenang juga tidak kalah berisik.
Gila. Kakak sialan ini bener bener gak waras. Jadiin rasa sakit sebagai guru dalam adaptasi ? Logika macam apa itu? Tapi... sialnya, teorinya masuk akal lagi,,,sialannn!!.. Jika aku tidak ingin lagi merasakan perihnya daging yang robek atau tulang yang nyeri saat harus menjadi tameng yang bergerak lincah, satu-satunya cara adalah bergerak lebih cepat lagi dan membaca titik serang lawan bahkan sebelum mereka sendiri menyadarinya. Sialan, dia memanipulasi insting bertahan hidup kami dengan cara yang sangat kejam dan kasar. Aku benci mengakuinya, tapi kepemimpinannya yang keras dan kejam ini justru membuatku merasa... lebih aman daripada tempat mana pun di dunia ini.
POV: Orang Ketiga (Aula Guild Petualang, Sektor Selatan)
Di saat tim Abyssal Chord mulai melangkah masuk ke dalam kabut miasma hijau lantai tiga puluh satu, suasana di aula Guild Petualang Sektor Selatan justru sedang berada di puncak kegaduhan.
"Oi, lu serius beneran?! Kelompok anak orang kaya yang habis borong barang-barang mahal di pasar gelap kemarin itu benar-benar masuk ke dalam The Weeping Catacomb?" teriak seorang petualang bermata satu sambil menggebrak meja kayu sampai gelas bir di atasnya tumpah membasahi permukaan meja.
"Gua lihat dengan mata kepala gua sendiri, goblok! Mereka cuma bertiga saja: satu laki-laki yang bawa kantong dimensi isinya pasti penuh koin emas, dan dua perempuan cantik banget yang ikut di belakangnya," sahut petualang lain sambil tersenyum licik dan penuh maksud kotor.
Informasi sedetail ini tentu saja bukan sekadar kebetulan. Pihak pasar gelap tempat Yudha berbelanja kemarin sengaja membocorkan data dan ciri-ciri timnya kepada para kelompok perampok di dalam dungeon demi mendapatkan bagian hasil rampokan yang besar.
Mendengar kabar menggiurkan itu, belasan perampok biasa yang sedang berkumpul di aula langsung bergegas mengumpulkan senjata mereka, bersiap masuk mengejar mangsa yang terlihat sangat mudah ditaklukkan. Namun, baru saja mereka melangkah keluar menuju gang gelap di samping gedung Guild, sekelompok pria berpakaian mantel gelap tiba-tiba menghadang jalan mereka.
Sreeet! Jlasssh!
Tanpa suara, tanpa peringatan, tenggorokan para perampok itu terputus dalam hitungan detik. Tubuh mereka jatuh bersimbah darah di tanah. Dari balik kegelapan di balik mantel, pemimpin kelompok itu melangkah maju. Mereka adalah kelompok perampok tingkat elit — mantan petualang peringkat tinggi yang kini menjadi buronan di seluruh wilayah kerajaan karena tindakan mereka yang kejam dan berani.
"Sampah perampok rendahan tidak layak mendapatkan zirah kulit naga hitam serta dua orang pelayan seindah itu," ucap si pemimpin sambil memungut peta rute dungeon yang jatuh dari tangan salah satu mayat di bawah kakinya. "Bergerak turun. Kita yang akan mengambil alih perburuan ini."
POV: Yudha
Perjalanan cepat dari lantai tiga puluh dua hingga lantai lima puluh berlangsung dengan sangat brutal dan penuh darah. Koridor yang dipenuhi akar berduri serta tanaman beracun ini menjadi tempat pembuktian pertama seberapa jauh formasi kami bisa bekerja dengan baik. Sebagai petarung serba bisa, gw memegang kendali di lini depan maupun belakang secara fleksibel menggunakan sepasang pedang panjang gw, sementara Carmelia bertindak sebagai perisai lincah yang bergerak cepat memancing perhatian musuh, dan Lyra bertugas menganalisis pola serta ritme pertarungan dari posisi tengah untuk memberi dukungan tepat waktu.
Sepanjang jalan turun, gw sengaja melepaskan sedikit saja aura dari sistem Gluttony yang ada di dalam tubuh gw. Tujuannya sederhana: memetakan posisi keberadaan monster-monster berkualitas tinggi yang memiliki energi paling padat dan paling enak untuk gw serap dan konsumsi.
Namun, gw sama sekali tidak menyangka kalau pelepasan aura predator ini justru memicu kejadian tak terduga di dalam struktur dungeon ini.
Monster-monster di zona menengah mulai dari lantai empat puluh ke bawah mendadak dilanda kepanikan besar-besaran karena merasakan kehadiran ancaman tingkat tertinggi dari arah atas — sebuah bentuk awal dari rasa lapar kehampaan yang suatu saat akan berevolusi menjadi serangan lubang hitam yang bisa menelan apa saja yang ada di hadapannya. Mereka semua berhamburan lari ketakutan, bergerak naik menuju lantai dua puluh delapan sampai tiga puluh, menyumbat seluruh jalur tangga turun dengan kabut miasma yang semakin pekat serta amukan monster yang sedang stres berat. Tanpa gw sadari, kelompok perampok elit yang tadinya berlari turun mengejar gw dari atas justru terjebak di tengah keributan ini dan terpaksa bertarung mati-matian melawan gerombolan monster yang berbalik arah. Itu secara tidak sengaja memberi gw banyak waktu luang yang berharga.
Bzzzzzt!
Gw memutar alat pemantik sihir kecil yang gw beli di pasar gelap kemarin. Sebuah percikan api berwarna biru menyala, menyambar tumpukan kayu kering yang ada di tengah kegelapan Lantai Lima Puluh Satu. Dalam waktu singkat, api unggun yang hangat langsung berkobar terang di tengah zona aman ini.
Di atas nyala api, gw menusukkan potongan-potongan daging besar ke sebatang besi. Itu adalah daging Gorgon Bull — monster banteng besar berkulit keras seperti batu yang baru saja gw habisi di lantai empat puluh sembilan. Aroma lemak daging yang sedang dibakar langsung menyebar ke mana-mana, terasa sangat nikmat dan menggoda di udara gua yang dingin dan lembap ini. Gw memotong satu bagian besar, lalu mengunyahnya dengan lahap dan puas.
[Kapasitas energi sistem Gluttony distabilkan: +15%]
[Nutrisi daging berkualitas tinggi diterima: Kemampuan regenerasi fisik meningkat secara signifikan]
Gw mendesah panjang dengan perasaan puas. Gw menatap dua orang di bawah perintah gw yang duduk agak jauh di seberang api unggun, menatap daging bakar di tangan gw dengan perut yang berbunyi keras karena lapar tapi tidak berani berkata apa-apa akibat aturan keras yang gw buat di awal tadi.
"Kemari," panggil gw sambil melempar dua tusuk daging banteng terbesar dan paling gemuk ke arah mereka. "Makan sebanyak-banyaknya. Setelah ini, sesi latihan kalian akan menjadi dua kali lipat lebih berat dan jauh lebih mengerikan dari sebelumnya."
Lyra langsung menyambar daging itu dengan mata berbinar-binar seolah-olah baru saja diberi harta karun, sementara Carmelia mengambil bagiannya dengan gerakan yang tetap tenang dan anggun seperti biasa. Namun, tepat saat Carmelia hendak duduk di atas sebongkah batu besar di sudut ruangan, gerakannya mendadak terhenti. Matanya yang tajam menyipitkan pandangan, jemarinya perlahan menyentuh permukaan batu yang tertutup lapisan lumut kering. Pada detik itu, ada kilatan kesadaran dan sinkronisasi aneh yang berdenyut samar dari dalam dirinya — sebuah kejadian aneh yang bahkan gw sebagai pemilik sistem ini belum sadari keberadaannya.
"Tuan Yudha..." panggil Carmelia dengan suara berbisik pelan yang memecah keheningan gua. "Ada simbol yang terukir di sini. Ini adalah tanda sandi rahasia milik organisasi perampok yang beroperasi di bawah tanah."
Gw berjalan mendekat, lalu menyingkirkan sisa lumut di permukaan batu dengan ujung sepatu gw. Sebuah ukiran jelas terlihat: bentuk tengkorak manusia dengan sepasang belati yang bersilang di bawahnya. Berdasarkan analisis dan informasi yang gw miliki, ternyata zona aman di lantai lima puluh satu ini bukan sekadar tempat istirahat kosong seperti yang gw kira, melainkan pos penjagaan utama dan tempat berkumpul yang biasa digunakan kelompok perampok untuk menyergap petualang yang sedang lengah dan lelah.
Gw memang belum tahu kalau ada kelompok perampok tingkat elit yang sedang mengejar gw dari atas, tapi begitu melihat simbol ini, gw langsung paham bahwa tempat istirahat tenang ini sebentar lagi akan kedatangan tamu yang tidak diundang.
Gw kembali duduk di tepi api unggun, mengambil potongan daging banteng gw yang tersisa, lalu mengunyahnya kembali dengan senyuman sinis yang perlahan melebar di wajah gw.
"Nice timing Hheheh~," gumam gw pelan sambil menatap kegelapan lorong tangga dari arah atas yang terasa begitu sunyi. "Tempat Istirahat para bandit ini...bakal jadi tempat peristirahatan terahkir mereka~ AHAHAHAHAHHAAHHAHAHAHAHAHAHAA!!!!!!."