Kira berasal dari masa depan tiba tiba terlempar ke zaman kerajaan. Yang berawal dari tidak punya apa apa, sampai memiliki semuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizzzz......, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 29
Pada akhirnya, dia melompat turun sambil membuang pisau di tangannya. Gavin segera berlutut di tanah sambil mengangkat kedua tangannya dan berkata,
"Tuan, jangan tangkap keluargaku. Aku, Gavin, mengakui kesalahanku dan bersedia menerima hukuman."
Jamal pun menyimpan pisau lengkungnya dan berkata,
"Kita adalah orang sebangsa. Asalkan kamu nggak mempersulit kami, kami juga nggak akan mempersulit keluargamu. Pengawal! Ikat dia!"
Kelima pemanah dan pasukannya pun bangkit, lalu membelenggu Gavin.
Di sisi lain, Kira terkejut, Dia tidak menyangka bahwa hukum ternyata lebih berkuasa dari manusia, Selama 250 tahun Kerajaan Nayara berdiri, hukum raja masih memiliki kekuatan untuk menangkap pencuri.
Gavin menyerahkan diri demi ibu, istri, dan anak-anaknya. Dia bisa dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab.
Tidak lama kemudian, Danu, Doddy, lima pemanah, beserta pasukan lainnya membawa paksa Gandi dan Ganjar. Ketiga bersaudara itu memiliki perawakan yang sama. Sama-sama berkulit hitam dan kurus.
Satu-satunya yang membedakan adalah Ganjar yang pucat. Dia tampaknya menderita luka yang sangat serius, Melihat kejadian ini, sekelompok warga desa pun mengerumuni tempat itu.
"Tuan, tolong lepaskan anakku. Dia mencuri demi membelikan obat untukku yang renta ini. Tangkap saja aku!" pinta ibunya Gavin yang bungkuk, kurus, dan berambut putih itu sambil berlutut di depan Kira dan Jamal.
"Tuan Kira. Tolong, maafkan keluarga kami. Mereka memang salah karena sudah mencuri, tapi mereka juga terpaksa. Ibu mertuaku sakit dan perlu minum .Tapi, penghasilan suamiku nggak banyak meski sudah banting tulang dari pagi hingga malam. Dia nggak mungkin mencuri kalau bukan karena keadaan. Tolong berbelas kasihlah dan lepaskan dia. Kami akan bersujud kepadamu!" kata salah seorang dari ketiga menantu perempuan.
Mereka bahkan mengajak anak-anak mereka untuk berlutut dan memohon belas kasih kepada Kira dan Jamal.
Kira tidak sanggup melihat pemandangan ini. Jadi, dia ingin segera pergi dari sini. Namun, Jamal tampak acuh tak acuh.
"Huh! Gavin bersaudara adalah orang baik. Kalau tiga tahun yang lalu ayah mereka nggak meninggal, mereka nggak akan mencuri. Sekarang, ibu mereka sakit dan ladang sudah dijual. Ketika petani bagi hasil dan nggak cukup makan pun, mereka nggak akan mencuri. Meskipun mereka menjadi pencuri, mereka nggak pernah mencuri makanan dari desa ini,"
"Tuan Jamal, Tuan Kira, tolong lepaskan mereka. Mereka bertiga itu orang baik."
"Kalau kamu menangkap ketiganya, bagaimana keluarga mereka bisa hidup?"
Satu demi satu penduduk desa mengutarakan pendapat mereka.
"Tolong jaga ibu dan anak-anakku!" kata salah satu dari tiga bersaudara itu sambil memandang istri masing-masing.
Kemudian, ketiganya bersujud kepada ibu mereka tiga kali tanpa mengatakan apa-apa. Hati Kira perih melihat adegan ini.
Sudah bekerja keras, tetapi masih tidak bisa mencukupi kebutuhan ibu, istri, dan anak-anak. Orang baik benar-benar terpaksa menjadi pencuri. Dunia macam apa ini?
"Diam! Siapa yang berani berkata lagi, akan dijebloskan ke penjara jugal" seru Jamal dengan nada dingin dan ekspresinya juga tampak tegas.
Dia sering melihat hal seperti itu, Meskipun terlihat menyedihkan, tetap saja ada beberapa pencuri yang terlahir sebagai orang jahat. Jadi, dia tidak tersentuh sedikitpun.
Jika ingin bertahan di dunia yang kacau ini, hati pun harus teguh.
Penduduk desa yang mendengar ini tidak berani mengatakan apa-apa lagi. Sementara itu, Ibunya Gavin beserta ketiga menantunya hanya bisa menyeka air mata dan terisak.
"Gavin, Gandi, Ganjar, kemarin malam, kalian pergi ke kediaman Kira untuk merampok. Ganjar, Doddy memukulmu dari belakang. Gandi, kamu di cakar di bagian bahu. Sekarang, bukti ada di depan mata. Kalian mau mengaku atau nggak?"
Kira pun membuka pakaian mereka berdua, lalu mendapati bekas tinju di punggung Ganjar dan luka gores di bahu Gandi. Selain itu, Kira juga mengeluarkan sobekan pakaian yang ternoda darah. ketiga bersaudara itu saling memandang, lalu mengangguk dan berkata,
"Mengaku!"
Bukti kuat ada di depan mata. Ketiga bersaudara itu tentu tidak bisa menyangkalnya. Jamal mengangguk puas, lalu berkata,
"Baguslah kalau kalian mau mengaku, Bagaimana dengan uang yang kalian curi dari Tony?"
"Uang?" tanya ketiga bersaudara itu bingung.
Mereka hanya pergi ke rumah Kira untuk mencuri. Namun, ketiganya malah dipukuli oleh Doddy sebelum sempat mendapatkan apa pun. Ibunya Gavin dan ketiga menantunya menyeka air mata, lalu berkata,
"Mereka sama sekali nggak dapat apa-apa. Ganjar bahkan pulang dalam keadaan terluka."
"Sepertinya bukan mereka pelakunya. Orang yang mencuri uang Tony adalah orang lain!"
Jamal memandang Kira, lalu berujar,
"Tuan Kira, apa yang kamu pikirkan?"
Kira mengangguk dan berkata,
"Gavin, siapa yang memberitahumu kalau keluargaku punya uang?"
Semua penjahat pasti punya informan. Sebelum mencuri, informan akan terlebih dahulu mengawasi. Jika mereka main asal curi, pasti akan gagal.
"Setiap geng punya peraturan masing-masing. Kami nggak mungkin mengkhianati informan kami!" ucap salah satu ketiga bersaudara itu.
Setelah memandang ibu, istri, dan anak-anak mereka, mereka pun diam seribu bahas. Melihat ini, Jamal memberi isyarat mata ke pengikutnya.
Bag, bag, buk, buk!
Tanpa memedulikan warga di sekitar, para pemanah dan anggota wajib militer langsung mengepung dan memukul ketiga bersaudara itu seraya berkata,
"Katakan!"
Detik berikutnya, ketiga bersaudara itu sudah babak belur dan bersimbah darah. Namun, tidak ada seorang pun yang buka mulut!
Banyak warga yang memelotot kan mata mereka karena marah, tetapi tidak ada yang berani mengadang.
Kira mengerutkan alisnya, lalu berujar,
"Cukup!"
Pemanah dan pasukan pun berhenti. Jamal mengerutkan alisnya dan berkata,
"Tuan Kira, mereka bersikeras. Kita nggak akan bisa mendapatkan jawabannya. Bagaimana kalau kita membawa mereka ke pengadilan daerah, biarkan mereka yang mengurusnya."
"Nggak usah."
Kira menggeleng dan lanjut berkata,
"Aku saja yang tanya."
"Kamu?" tanya Jamal sambil memandang Kira dengan tatapan menghina.
Dia saja tidak bisa mendapatkan jawaban meski sudah menyuruh pengikutnya memukul dan menendang, bagaimana mungkin seorang warga biasa seperti Kira bisa mendapatkan jawaban dari mulut para pencuri itu?
Gavin menggertakkan giginya dan berkata,
"Kami nggak akan mengkhianati informan kami. Nggak usah buang energimu!"
Kira mengedarkan pandangannya ke sekeliling, lalu berkata,
"Tuan Jamal, tolong suruh semua warga dusun pergi dan jangan menonton di sini."
Jamal melihat ke sekeliling dengan galak, begitu juga pemanah dan anggota wajib militer yang dibawanya.
Kemudian, dia berteriak,
"Persetan! Cepat bubar dan kerjakan urusan kalian masing-masing! Jangan berkumpul di sini!"
Warga dusun pun terpaksa bubar.
Setelah itu, Kira memandang ke arah tiga bersaudara seraya berkata,
"Kalian nggak berani mengungkapkan identitas informan itu karena kalian takut waktu kalian di penjara, informan itu akan menyusahkan keluarga kalian, kan?"
Gavin, Gandi, dan Ganjar langsung terdiam. Ternyata itu adalah hal yang paling mereka khawatirkan,
Kira yang melihat ekspresi mereka semua, lalu memicingkan mata dan berkata,
"Kalau begitu, apa kalian pernah memikirkan bagaimana nasib ibu, istri, dan anak-anak kalian ketika kalian masuk penjara? Kalau kalian kekeh seperti ini, apa mereka akan memberi keluarga kalian uang selama kalian di penjara?"
Ketiga bersaudara itu terperanjat. Air mata mereka sontak mengalir dan raut wajah ketiganya tampak putus asa.
Tanah keluarga telah dijual, ibu mereka pun sakit-sakitan. Jika hanya mengandalkan istri yang menanam sayuran, jangankan membawa ibunya berobat, untuk kebutuhan sehari-hari saja tidak cukup.
Mungkin, tidak sampai satu bulan setelah mereka dipenjara, keluarga ketiganya tidak akan bisa bertahan hidup dan terpaksa menjual anak-anak mereka.
Mengenai informan, mereka juga tidak tahu mendetail. Jika informan itu ada uang pun, informan itu tidak akan memberi keluarga mereka uang!
Sementara orang dibalik informan itu, tidak meminta tip saja sudah membuat mereka bersyukur.
Ketiga bersaudara pun bersujud lagi dan lagi. Salah satu dari antara mereka berkata,
"Tuan Kira, tolonglah. Kami nggak mencuri apa pun. Tolong ampuni nyawa kami. Kami bersujud padamu. Tolong, berbelas kasihlah dan selamatkan kami. Kalau nggak, keluarga kami akan tercerai-berai!"
Jamal memandang Kira sembari berpikir bahwa bocah ini ternyata hebat juga. Tiga pencuri ini menolak patuh meski sudah dipukuli, tetapi Kira yang hanya berucap beberapa kata justru bisa membuat mereka menjadi seperti ini.
Kira pun menoleh seraya berkata,
"Tuan Jamal, aku sepertinya salah ingat. Kemarin malam, bukan tiga orang yang merampok rumahku, tapi satu orang!"
Jamal yang mendengar ini tidak bisa menahan diri untuk tidak memasang sikap tegas.
Dia berkata,
"Tuan Kira, jelas-jelas mereka bertiga pelakunya. Kenapa sekarang malah bilang pencurinya satu orang? Menangani kasus itu nggak seperti permainan. Aku ini nggak akan memihak!"
Namun, Kira malah menyodorkan 2.000 rupiah dan berkata dengan serius,
"Benar-benar hanya satu orang. Kalau nggak percaya, coba tanya ke Doddy yang mengusir pencuri itu."
"Jelas-jelas ..." ucap Jamal kebingungan.