Queen adalah seorang Mahasiswa cantik dan salah satu anak dari donatur terbesar di kampusnya, tapi sayangnya nasib Queen tidak seberuntung wajah dan popularitasnya. Di kampus ia di puji karena kecantikkannya. Tapi nilai-nilai Queen sering anjlok, karena gadis itu tidak pernah belajar dengan serius, hidupnya hanya di habiskan untuk clubbing dan nongkrong bersama teman-teman nya. Kini ia terancam di Drop Out dari kampus kalau nilai skripsinya masih buruk.
Meskipun Queen anak dari donatur terbesar... Ibu Farah selaku orangtuanya tidak pernah memanjakannya. Bahkan ia meminta pihak kampus untuk berlaku adil pada anaknya sendiri. Ibu Farah berusaha membuat nilai-nilai skripsi Queen bagus, dengan cara ia memanggil guru privat kerumahnya. Setelah adanya guru privat, hidup Queen semakin tersiksa. Karena tanpa ia sadari sang mama justru menjodohkan pria itu dengannya. Bagaimana hidup Queen setelah menikah dengan guru privatnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 6 : Guru Privat Queen Dosen
Sebelum sempat membalas lagi, ponsel Queen kembali bergetar... Nathan.
Sebuah pesan masuk.
Nathan : Udah selesai kelasnya?
Queen tersenyum kecil.
Queen : Udah.
Nathan : Gue lagi dekat kampus. Mau jemput sekarang?
Queen sempat berpikir beberapa detik.
Lalu akhirnya membalas.
Queen : Yaudah.
Nathan : Tunggu di depan kampus.
Beberapa menit kemudian...
Queen dan Anggi berjalan menuju gerbang utama.
Dari kejauhan, Nathan sudah berdiri di samping motornya sambil memainkan ponsel.
Begitu melihat Queen, pria itu langsung tersenyum. "Itu dia."
Queen ikut tersenyum. Namun sebelum sempat menghampiri Nathan, sebuah mobil hitam mewah berhenti tepat di depan gedung fakultas.
Beberapa mahasiswa langsung menoleh.
Pintunya terbuka.
Dan Revan keluar dari sana. Dengan kemeja yang lengannya digulung sampai siku, pria itu berjalan tenang menuju area parkir dosen. Seperti biasa, kehadirannya langsung menarik perhatian banyak orang.
"Ya ampun..." bisik salah satu mahasiswi.
"Pak Revan."
Anggi yang berdiri di samping Queen langsung menyikut lengannya. "Itu dosen lo."
Queen mendecih. "Bukan dosen gue doang."
Namun tanpa sadar ia ikut melirik. Dan di saat yang sama, Revan menoleh ke arah mereka. Tatapan pria itu berhenti beberapa detik pada Queen.
Lalu mengangguk tipis sebagai sapaan.
Queen langsung membeku. Refleks ia mengangguk balik. Semuanya terjadi hanya beberapa detik.
Namun cukup untuk membuat Anggi hampir menjerit.
"Dia nyapa lo!"
"Anggi bisa diem nggak sih!" bisik Queen panik.
"Tapi serius, Queen!"
Sementara itu, Nathan yang sejak tadi menunggu akhirnya berjalan mendekat.
"Queen."
Mendengar suara pacarnya, Queen langsung menoleh. "I-iya."
Nathan tersenyum lalu meraih tas kuliah dari tangan Queen.
"Capek ya?"
"Nggak terlalu."
Namun saat Nathan berdiri di sampingnya, matanya sempat menangkap sosok Revan yang masih berada tidak jauh dari sana. Kedua pria itu sempat saling memandang beberapa detik.
Queen yang tidak menyadari hal itu langsung berkata, "ayo pulang."
Nathan hanya mengangguk. Mereka berjalan menuju motor.
Sedangkan dari kejauhan, Revan berdiri diam beberapa saat sebelum akhirnya masuk ke mobilnya.
Hari itu seharusnya berakhir biasa saja. Namun tanpa disadari Queen. Pertemuan-pertemuan kecil yang terus terjadi dengan Revan mulai menarik garis tipis dalam hidupnya. Dan garis itu perlahan semakin sulit diabaikan.
Motor Nathan melaju pelan meninggalkan area kampus. Queen duduk di belakang sambil memandangi jalanan yang mulai ramai oleh kendaraan siang hari.
Beberapa menit pertama berjalan cukup tenang. Sampai akhirnya Queen menepuk pelan bahu Nathan.
“Nathan.”
“Hm?”
“Gue langsung pulang ya.”
Nathan sedikit menoleh. “Kenapa?”
Queen menghela napas pelan. “Gue harus cepat balik ke rumah.”
“Yaahh, ko gitu?”
“Iya.” Queen menggaruk pipinya yang tidak gatal. “Mama udah nyiapin guru privat buat bantu skripsi gue.”
Motor yang dikendarai Nathan sedikit melambat. “Guru privat?” ulangnya.
“Iya.”
“Serius?”
“Serius banget.” Queen mendesah frustrasi. “Semalam gue dimarahin habis-habisan. Karena nilai skripsi gue jelek lagi, banyak yang harus di revisi.”
Dari pantulan kaca spion, Queen bisa melihat wajah Nathan berubah kecewa. Padahal sejak tadi pria itu terlihat cukup bersemangat.
“Gue sebenarnya mau ngajak lo nonton,” kata Nathan pelan.
“Hah?”
“Ada film baru tayang hari ini.”
Queen langsung merasa tidak enak. “Maaf ya...” ucapnya lirih.
Nathan menggeleng kecil. “Ya mau gimana lagi.”
Meski berusaha terdengar santai, nada suaranya tetap menunjukkan kekecewaan. Beberapa saat suasana kembali hening. Lalu Nathan berdeham pelan.
“Oh iya. Soal kemarin...”
Queen mengernyit.
Nathan melanjutkan, “Gue belum bisa transfer uang yang kemarin gue pinjem.”
“Oh.”
“Kartu debit gue lagi bermasalah.”
Queen terdiam.
Nathan buru-buru menambahkan penjelasan. “Serius. Gue harus ke bank dulu buat urusin.”
“Iya, nggak apa-apa.”
“Nanti kalau udah beres langsung gue transfer.”
Queen mengangguk pelan. Meski bibirnya berkata tidak masalah, entah kenapa ada sesuatu yang terasa mengganjal di dalam hatinya.
Kemarin Nathan meminta Queen untuk membayar belanjaannya, lalu makan siang. Dan sekarang uangnya juga belum dikembalikan. Mungkin memang benar kartunya sedang bermasalah. Atau mungkin... Queen tidak ingin berburuk sangka.
Tanpa terasa jam terus berjalan, kini sudah pukul tiga sore. Queen sudah berada di rumah sejak satu jam yang lalu.
Saat ini gadis itu sedang rebahan di sofa ruang tamu sambil memainkan ponselnya. Sesekali ia membalas pesan Anggi yang masih sibuk membahas dosen tampan kampus mereka.
Sedangkan di sisi lain ruangan, Ibu Farah terlihat mondar-mandir sejak beberapa menit terakhir. Tatapan wanita itu terus mengarah ke jam dinding.
"Lama banget sih..." gumamnya.
Queen yang sedang fokus melihat ponselnya bahkan tidak mengangkat kepala. "Siapa yang lama, Ma?"
"Guru privat kamu."
Queen langsung mendecih kecil. "Tuh kan. Paling juga nggak jadi datang."
Ibu Farah langsung menoleh tajam. "Sembarangan kamu."
Queen mengangkat bahu santai. "Ya buktinya belum datang juga."
"Dia dosen dan lulusan luar negeri," balas Ibu Farah tegas. "Pasti orangnya kompeten dan tepat janji."
Queen yang tadinya rebahan santai tiba-tiba membeku. Queen langsung bangun dari posisi tidurnya.
"Dosen?" ulangnya sekali lagi dengan suara lebih tinggi.
Ibu Farah mengernyit. "Iya. Kenapa?"
"Ma... Mama nggak bilang kalau guru privatnya dosen."
"Memangnya kenapa kalau dosen?"
Queen langsung duduk tegak. Entah kenapa perasaannya mendadak tidak enak.
"Dia dosen dari kampus mana?"
Ibu Farah terlihat berpikir sesaat. "Katanya sih pernah mengajar di luar negeri."
Deg.
Jantung Queen mendadak berdegup sedikit lebih cepat. Tidak mungkin sekebetulan itu.
"Namanya siapa?" tanya Queen cepat.
Namun sebelum Ibu Farah sempat menjawab...
"Ting tong..."
Bel rumah berbunyi. Keduanya langsung menoleh ke arah pintu.
"Nah kan!" seru Ibu Farah puas. "Datang juga akhirnya."
Wanita itu buru-buru berjalan menuju pintu depan.
Sedangkan Queen justru mendadak tegang tanpa alasan yang jelas. "Masa sih, nggak mungkin ah..." gumamnya pelan.
Pintu rumah pun dibuka, dan sesaat kemudian. Suara Ibu Farah terdengar dari arah foyer.
"Oh, Pak Revan. Silakan masuk."
Queen yang sedang duduk langsung membelalakkan mata. "Apa!"
Refleks ia berdiri begitu cepat sampai ponselnya hampir jatuh ke lantai. Langkah kaki terdengar mendekat. Lalu muncul sosok pria tinggi dengan kemeja biru gelap yang sangat dikenalnya.
Untuk beberapa detik, suasana ruang tamu terasa membeku. Revan yang baru masuk juga terlihat sedikit terkejut. Tatapannya berpindah dari Ibu Farah kepada Queen yang berdiri kaku di dekat sofa.
"Queen?" ucapnya pelan.
Sedangkan Queen hanya bisa menatap pria itu dengan mulut sedikit terbuka.
"P-Pak Revan?"
Ibu Farah mengernyit bingung melihat keduanya. "Kalian saling kenal?"
Queen dan Revan saling berpandangan selama beberapa detik. Lalu Revan menjawab dengan tenang.
"Ya, Tante."
Tatapan pria itu beralih kepada Queen. "Queen adalah mahasiswi di kelas yang saya ajar."
Dan saat itulah Queen merasa hidupnya benar-benar tidak berpihak padanya hari ini. Karena dari sekian banyak guru privat di kota ini. Mamanya justru memilih dosen paling terkenal, paling disiplin, dan paling membuatnya gugup untuk membimbing skripsinya.
Saling support sabi kali ya😉