NovelToon NovelToon
VENA - AIR YANG MATI

VENA - AIR YANG MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Fantasi
Popularitas:147
Nilai: 5
Nama Author: Catnonimous

Aris hanyalah seorang petugas instalasi pipa bawah tanah yang dibayar murah untuk melakukan pekerjaan kotor yang dihindari semua orang. Namun, upah rendahnya tidak sebanding dengan apa yang ia temukan.
Seekor tikus yang berubah setelah meminum tetesan air dari pipa.
Tubuhnya mengeras lalu meledak tapi sisa tubuhnya masih bisa bergerak.
Apakah benar hanya tetesan air itu yang membuat tikus itu berubah?
Bagaimana dengan manusia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Catnonimous, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 : Penyebab dan diagnosa yang masih abu-abu

Aris duduk di bangku kayu kantor polisi dengan pandangan kosong. Dunia seolah berhenti berputar saat seorang petugas dengan nada datar menyampaikan bahwa Pak Jaya telah tiada. Saat Aris mencoba mengejar penjelasan, polisi itu hanya menggeleng bingung. Meskipun hanya beberapa hari bekerja di tempat Pak Jaya tapi Aris merasa kehilangan ini seperti membuatnya tak bisa berhenti berfikir.

"Tetangga toko menelepon setelah mendengar teriakan Pak Jaya yang sangat kencang dan penelepon mendengar letupan kecil sebelum teriakan Pak Jaya berhenti. Begitu petugas sampai, semuanya sudah terlambat," jelas polisi itu.

"Tidak ada tanda perampokan. Barang berharga masih utuh. Itu yang membuat kami bingung."

Liora datang tak lama kemudian, langkahnya terburu-buru. Ia langsung menghampiri Aris, lalu ikut mendengarkan keterangan polisi. Aris dicecar beberapa pertanyaan, namun jawabannya tetap sama: ia sedang berada di rumah Liora saat kejadian berlangsung. Alibi itu kuat, tapi tidak memberikan jawaban apa pun tentang penyebab kematian pria tua itu.

"Polisi masih mendalami motifnya, tapi sejauh ini nihil. Kami sarankan kalian ke Rumah Sakit Umum Pusat, tempat jenazah disemayamkan. Mungkin dokter di sana bisa memberi info lebih lanjut," tutup petugas itu.

Aris dan Liora berjalan keluar dengan langkah berat. "Ini tidak masuk akal," bisik Aris di trotoar depan kantor polisi. "Pak Jaya itu orang baik. Siapa yang mau menyakitinya?"

Liora terdiam sejenak, lalu merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah ponsel baru yang masih di dalam kotak. "Aris, ambil ini. Kamu tidak punya ponsel, kan? Kita harus terus bertukar informasi. Kalau ada apa-apa, langsung hubungi saya. Begitupun saya."

Aris sempat menolak, namun Liora memaksa demi keamanan mereka. Setelah mengisi perut seadanya di sebuah warung kecil yang rasanya hambar bagi mereka, akhirnya mereka memacu kendaraan menuju rumah sakit.

...****************...

Di rumah sakit, setelah melalui birokrasi yang rumit, mereka dipertemukan dengan Dokter Ferdi, seorang ahli forensik sekaligus ilmuwan medis yang tampak belum tidur selama berjam-jam. Ia mempersilakan mereka masuk ke ruangannya yang dingin dan berbau disinfektan tajam setelah pihak rumah sakit memberitahu kalau ada yang ingin mengetahui informasi tentang Pak Jaya.

"Kalian kerabatnya?" tanya Dokter Ferdi sambil membenarkan letak kacamatanya.

"Saya pekerjanya, Dok. Dan ini Liora, saksi alibi saya," jawab Aris cepat. "Apa yang terjadi pada Pak Jaya?"

Dokter Ferdi menghela napas, ia langsung to the point. "Jujur, saya masih memeriksa sampel darah dan serpihan kulit yang ditemukan berceceran di lokasi toko. Ini kasus paling aneh yang pernah saya tangani."

"Maksudnya aneh?" tanya Liora.

"Segala kemungkinan bisa terjadi, tapi ada sesuatu yang tidak wajar," Ferdi memutar layar monitornya ke arah mereka. Ia memperlihatkan hasil scan tubuh Pak Jaya dan foto-foto kondisi korban di TKP.

Aris menahan mual, sementara Liora menutup mulutnya dengan tangan. Di foto itu, punggung Pak Jaya tampak hancur, kulitnya menghitam dan mengelupas di beberapa bagian secara tidak beraturan.

"Kelihatannya seperti bekas terbakar atau ledakan," tegas Dokter Ferdi. "Tapi masalahnya, tim identifikasi tidak menemukan jejak zat peledak atau bahan kimia terbakar di toko kalian. Luka ini seolah-olah meledak dari dalam tubuh, bukan dari luar."

Aris dan Liora masih menahan kebingungannya dan Dokter Ferdi melanjutkan, "Saya akan memberi tahu kalian jika semuanya sudah clear dan pasti, sebelum saya merilisnya ke media atau kepolisian secara resmi. Untuk sekarang, ini rahasia kita. Tentang apa yang terjadi dengan jenazah Pak Jaya."

Liora dengan sigap meminta izin untuk memotret berkas-berkas scan dan foto tersebut. "Untuk arsip pribadi kami, Dok. Mungkin saya bisa membantu meneliti dari sudut pandang lain."

Dokter Ferdi mengangguk perlahan sambil memberikan senyum tipis yang sulit diartikan. "Silakan. Tapi hati-hati, informasi ini bisa berbahaya jika jatuh ke tangan yang salah."

Aris dan Liora berpamitan dengan perasaan yang jauh lebih berat dari sebelumnya. Saat mereka berjalan di koridor rumah sakit yang sunyi, Aris menatap ponsel di tangannya. Ia merasa bahwa kematian Pak Jaya hanya membuatnya terus memutar otak tentang apa yang sebenarnya terjadi.

...****************...

Setelah keluar dari rumah sakit, suasana di dalam mobil Liora terasa sangat sunyi. Aris hanya duduk diam, menatap lampu-lampu jalanan yang mulai menyala redup. Pikirannya masih tertahan pada foto-foto mengerikan di ruangan Dokter Ferdi tadi.

"Aris," panggil Liora memecah keheningan. "Ikut ke rumahku sebentar. Ada sesuatu yang harus aku tunjukkan. Ini tentang riset kecil-kecilan yang pernah aku bilang kemarin."

Aris hanya mengangguk pelan. Ia butuh jawaban, dan tampaknya Liora adalah satu-satunya orang yang memiliki arah.

Sesampainya di rumah Liora, Aris dipersilakan duduk di sofa ruang tamu yang dipenuhi tumpukan buku dan kertas. Liora masuk ke ruang kerja dan kembali dengan sebuah laptop. Ia membukanya di depan Aris, jemarinya bergerak cepat di atas keyboard.

"Lihat ini," Liora menunjukkan sebuah peta digital denah kota yang tumpang tindih dengan arsip berita lama yang ia kumpulkan secara mandiri. "Ini bukan kejadian pertama. Dalam lima tahun terakhir, ada tujuh kematian warga di pinggiran kota yang gejalanya mirip dengan Pak Jaya. Polisi selalu menutupinya dengan alasan serangan jantung atau kecelakaan kerja atau 'tidak ada motif pembunuhan'."

Aris mengernyit, membaca arsip-arsip yang bertanggal jauh sebelum ia bekerja dengan Pak Jaya. "Dari mana kamu dapat ini semua?"

"Aku sudah lama curiga kalau kota ini sedang disabotase," jawab Liora serius. "Ada pola yang aneh setiap kali proyek infrastruktur air besar-besaran dilakukan, tapi aku masih tidak tahu tujuannya untuk apa. Kematian Pak Jaya ini...."

Aris masih menatap layar laptop, jemarinya menyentuh touchpad untuk menggulir foto-foto denah tersebut. Tiba-tiba ia bergumam, "Bagaimana kalau malam ini kita ke toko Pak Jaya? Polisi mungkin sudah selesai olah TKP, tapi pasti ada sesuatu yang mereka lewatkan."

Liora sempat ragu, namun rasa ingin tahunya lebih besar. Akhirnya, mereka memutuskan untuk kembali ke toko malam itu juga.

...****************...

Garis polisi masih membentang, berwarna kuning mencolok di bawah sinar lampu jalan yang temaram. Aris dan Liora menyelinap lewat pintu belakang yang kuncinya memang sudah biasa Aris simpan. Dengan hanya bermodalkan senter dari ponsel pemberian Liora, mereka masuk ke dalam toko yang gelap gulita.

Bau amis darah langsung menyergap indra penciuman mereka. Aris meraba dinding dan menyalakan saklar lampu.

Klik. Ruangan itu terang benderang, menampakkan sisa-sisa bubuk sidik jari dan penanda kapur di lantai tempat jenazah Pak Jaya berada.

Liora mendekat ke lokasi kejadian. Ia berjongkok dan mendekatkan hidungnya ke lantai. "Ini bukan cuma amis darah, Ris. Baunya... seperti campuran daging basi dan serpihan mineral. Kayak bau batu yang terbakar."

Aris tidak menyahut, ia sedang sibuk mengelilingi ruangan kecil itu. Langkahnya terhenti di sebuah pojok yang terhalang oleh rak besi besar berisi tumpukan kardus bekas. "Liora!, bantu aku geser ini." Liora berdiri lalu menghampiri Aris.

Mereka berdua mengerahkan tenaga untuk menggeser rak tersebut. Di baliknya, ternyata ada sebuah pintu kecil yang tersembunyi dengan rapi. "Apakah polisi tahu ada ruangan ini?" bisik Liora heran.

"Kalau pun mereka tahu, pasti dus ini udah berantakan kan?" sahut Aris sambil membuka pintu yang sudah berdebu dan pengap itu.

Di dalamnya hanya ada sebuah meja dengan monitor komputer yang ternyata masih menyala dalam keadaan standby. Mereka segera menghampirinya. Ternyata, itu adalah pusat monitor CCTV tersembunyi milik Pak Jaya. Salah satu kameranya menyorot tepat ke arah lokasi Pak Jaya meninggal.

Aris segera menuju monitor tersebut, memutar rekaman di jam kejadian. Mereka terpaku menatap layar. Di sana terlihat Pak Jaya beraktivitas biasa, kemudian masuk ke dapur kecil. Tak lama, ia keluar sambil memegang dada dan kepalanya. Gerakannya sangat aneh, seperti orang yang sedang menahan rasa sakit yang luar biasa hebat. Tiba-tiba, tubuh pria tua itu tergeletak. Puf! Bagian dada Pak Jaya seolah meletup menembus ke punggung, menyemburkan cairan hitam pekat bercampur darah ke lantai.

"Ya Tuhan..." Liora membuang muka, tak sanggup melihatnya.

Aris mempercepat rekaman. Mereka melihat polisi dan tim medis masuk. Di antara kerumunan itu, mereka mengenali Dokter Ferdi. Dokter itu tampak berbeda di kamera; ia sesekali berjongkok memeriksa jenazah, lalu berdiri dan berjalan mengelilingi toko dengan tatapan tajam, seolah-olah ia sedang mencari sesuatu yang spesifik, bukan sekadar memeriksa korban.

Tanpa berkata apa-apa, Aris langsung keluar dari ruangan itu menuju dapur kecil yang tadi dimasuki Pak Jaya sebelum kejadian. Liora mengikuti dari belakang.

Di sana, di atas meja kayu yang sederhana, terdapat sebuah gelas kosong. Dan di wastafel sampingnya, air keran masih menetes perlahan, menimbulkan suara tik... tik... tik... yang terasa sangat nyaring di tengah kesunyian malam.

Aris menatap tetesan air itu dengan mata membelalak. "Dia cuma minum air. Pak Jaya cuma minum air keran."

Liora pun melihat Aris, "Ris, bagaimana kalau rekaman CCTV itu kita simpan saja?" tanya Liora.

"Iya. Lebih baik seperti itu." Jawab Aris, lalu mereka pun kembali ke ruangan CCTV tersebut dan membawa drive CCTV tersebut.

...****************...

1
Anak_misterius😑
bagus novel nya👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!