NovelToon NovelToon
Pembalasan Seorang ART

Pembalasan Seorang ART

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Imen Firewood

"Kenapa hanya diam berdiri di sana? ... Cepat kesini!" suruh Nyonya Laras, yang sedang duduk santai menyilangkan kakinya sambil bermain menatap ponselnya.

Karena merasa kaget sekaligus panik, Anya sedikit berlari kecil menghampiri wanita yang sedang duduk cantik di sofa panjang itu. Sofa panjang itu mengarahkan pandangan Anya kepada sebuah televisi besar yang terpajang di dinding. Membuat Anya kembali melamun.

Anya jadi tidak fokus, ketika suara Laras ternyata sudah sedari tadi memanggilnya beberapa kali dengan akhir yang kencang dan membuat Anya kaget.

"Hey!"

"Saya bertanya siapa nama mu?! Apakah kamu ingin bekerja di sini atau tidak? Kenapa hanya melamun dari tadi?" tanya Laras dengan bentakan kecil. Membuat anak polos dan lugu di hadapannya menjadi panik.

"Maaf Ibu ... Nama saya, Anya ..." ucapan Anya terpotong. Ketika Laras yang seakan tidak ingin mendengar ucapan Anya, langsung memanggil Bi Inah. Pembantu lain yang sudah cukup lama juga bekerja di keluarga Adiwijaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Imen Firewood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 40

Di sisi lain.

Tlang~

Kontlang~

Tek ... !!!

Suara dari dapur Bi Inah yang sedang sibuk memasak, terdengar memenuhi ruangan tempatnya berdiri. Terlihat Bi Inah sedang tergesa-gesa saat sedang memasak karena tuntutan dari majikannya yang harus selalu cepat.

Laras yang sedang bersama Bianca tengah duduk bersama di meja makannya. Menunggu pekerjaan Bi Inah yang ingin membuatkannya makan siang.

Di tengah Bianca dan Laras yang tadi sedang bersantai, raut dari wajah Bianca sekarang berubah kesal. Karena memikirkan Bi Inah yang menurutnya bekerja sangat lama.

"Bi ... lama amat, sih!!! ... buruan!!!" kata Bianca, berteriak dari ruang meja makannya sambil terus asik memainkan ponsel.

Laras yang mendengar ucapan Bianca, ikut merasakan kesal karena Bi Inah yang dinilai mulai sangat lambat dalam bekerja. Bagaimana tidak, setelah kepergian Anya, kini Bi Inah hanya seorang diri yang mengurus seluruh pekerjaan rumah besar keluarga Adiwijaya yang sangat luas.

"Bibi !!!" teriak Laras, ikut memanggil Bi Inah dengan suaranya yang keras hampir melengking.

Sontak, Bi Inah yang mendengar suara dari kedua majikannya dari dalam dapur, mulai merasa cemas dan panik karena namanya disebut terus.

"Yaa, ampuun ... gimana, nih? Saya harus cepat-cepat," ucap Bi Inah, bergegas hampir menyelesaikan pekerjaannya dengan perasaan gelisah karena terburu-buru.

Terlihat Bi Inah mencicipi terlebih dahulu masakannya agar tidak membuat kesalahan sebelum menatanya diatas piring. Bi Inah menaburkan sejumput garam yang dirasa sedikit kurang dalam masakannya.

"Nah ... kayaknya udah pas!" kata Bi Inah, setelah menyelesaikan masakannya dan siap untuk segera di hidangkan untuk Laras dan Bianca.

"Ih, lama amat sih? Gatau orang udah laper apa ... Bibi !!!" teriak Bianca, menaikan nada suaranya lebih keras dari sebelumnya karena semakin kesal saat menunggu Bi Inah.

Laras yang memperhatikan Bianca, juga ikut semakin merasa kesal karena keterlambatan Bi Inah yang semakin menjadi-jadi menurutnya.

Bi Inah kaget, bahunya terangkat sedikit ketika namanya disebut dengan semakin keras. Ia segera cepat-cepat membawa masakan yang siap di makan untuk Laras dan Bianca sekarang.

"I-iyaa Non ..." ucap Bi Inah, seraya membawa nampan berisi masakan yang telah ia buat untuk makan siang mereka.

Dengan perasaan takutnya, Bi Inah harus memberanikan diri mengantarkan makanan ke tempat meja makan Bianca dan Laras yang sedang menunggu.

Walau Bi Inah tahu akan mendapat ocehan dari para majikannya karena terlambat beberapa menit saja, Bi Inah harus lebih bersabar menjalankan tugas dan kewajibannya melayani dua ular tersebut.

"Permisi Non, Nyonya ... ini makan siangnya," kata Bi Inah. Dengan perlahan menata piring diatas meja makan dihadapan mereka.

Baru saja beberapa detik sejak kehadiran Bi Inah, ia sudah merasakan udara di sekelilingnya berubah. Dengan tatapan sinis dan tidak menyenangkan dari kedua majikan seperti Laras dan Bianca.

Brak!

"Lama amat, sih! Gatau udah laper apa karena nunggu?!" bentak Bianca, dengan suaranya yang keras sambil menggebuk meja sengaja membuat Bi Inah kaget.

Pundak Bi Inah terangkat, merasa kaget sesaat atas tingkah laku Bianca yang harus ia terima setiap hari. Ah tidak, bahkan setiap saat Bi Inah harus di tuntut mempunyai sabar yang super.

"Ma-maaf Non ... Bibi salah," ungkap Bi Inah terbata, tidak ada kata-kata lain selain permintaan maafnya sambil terus menunduk merasa takut.

Laras terus menata Bi Inah. Memberikan penekanan di setiap tatapannya yang membuat Bi Inah tidak berani memandangnya. Laras menarik nafas dalam-dalam, lalu membuangnya secara perlahan masih menatap Bi Inah.

Huh ...

"Bibi tau, kan ... kalau cari pekerjaan itu susah? Bibi mau, saya pecat juga sama kaya Anya ..." kata Laras, dengan nada suaranya yang pelan namun mampu membuat Bi Inah langsung seketika menggeleng dengan cepat.

"... masih banyak, loh ... yang mau kerja jadi pembantu dirumah ini. Kalau pekerjaan Bibi terus seperti ini, saya tidak bisa menjaminnya lagi," sambungnya masih dengan nada yang sama.

Bi Inah seketika merasa takut, terancam dengan pekerjaannya yang menjadi satu-satunya cara ia bertahan hidup. Baik di kota, maupun dikampungnya.

"Maaf, Nyonya. Sa-saya berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi," ujar Bi Inah dengan nada yang panik dan cepat. Melihat Laras dengan ekspresinya memohon.

"Ish, Mamih ... ngapain sih, sebut-sebut nama itu lagi. Bikin selera makan hilang aja deh ..." gerutu Bianca, merajuk kesal ketika Laras menyebutkan nama Anya yang paling ia benci sekarang.

"Oke. Maksud saya, anak kampung! Itu ... Bibi gamau, kan bernasib sama seperti dia?" tanya Laras kembali meralat kalimatnya. Dengan penuh penekanan yang membuat Bi Inah menggeleng dengan cepat.

"Tidak Nyonya ... tolong maafkan saya," ucap Bi Inah, matanya berbinar layu memandang Laras. Memohon agar tidak di pecat dari pekerjaannya yang sudah lama ia jalankan.

Bianca tersenyum kecil, melihat sebuah ketakutan yang jelas terukir di wajah Bi Inah. Ia benar-benar menikmati moment seperti ini, seraya memainkan sendok yang sedari tadi ia putar diatas meja makan.

"Saya nggak mau ya, ngeliat Bi Inah yang kerjanya leeee ... let! Lagi?" ucap Laras dengan santai namun tegas, tanpa pernah memikirkan perasaan orang lain dan membuang pandangannya.

Sontak Bi Inah yang mendengar itu, merasa sedikit tenang. Karena masih ada sedikit harapan untuk dirinya bekerja di dalam keluarga Adiwijaya sebagai pembantu.

"I-iyaa Nyonya ... terimakasih, saya mengerti," kata Bi Inah, sedikit memaksakan senyumnya yang hampir hilang. Bi Inah mengangguk sekali, menghilangkan tenaganya yang sedari tadi keras menggenggam nampan karena takut.

"Yaudah kalo ngerti, pergi! Kenapa masih disini?!" bentak Bianca dengan cepat. Berhasil membuat Bi Inah kaget terangkat bahunya.

"Iyaa Non, Nyonya ... kalo gituh, saya permisi dulu," ucap Bi Inah, tidak ingin berlama-lama dan segera berlalu pergi meninggalkan meja makan majikannya.

Selepas Bi Inah pergi, Bianca dan Laras saling pandang. Menahan senyumnya lalu memudian tertawa secara bersama. Mereka seakan merasa gembira riang, melihat ekspresi terkejutnya Bi Inah seperti tadi.

"Kamu lihat sayang, tadi wajah Bi Inah?" tanya Laras, menahan tawa seraya terus riang menatap Bianca.

"Iyaa Mih, kayak mau nangis gituh ..." sambung Bianca, meramaikan suasana lalu kemudian tertawa bersama Laras.

Hahaha~

"Namanya juga, orang kampung!" ucap Laras, sebelum cheers dengan Bianca merayakan kesenangan mereka.

Terlihat Bi Inah yang baru saja tiba berada di dapur, membuang nafas lega panjangnya. Ia seperti orang yang baru saja keluar menyelam dari permukaan laut.

Huuh~

"Syukurlah ... semoga, aku masih tetap bisa bekerja disini yaa Allah," harap Bi Inah pelan, seraya mengelap beberapa keringatnya yang keluar dari kening.

Karena bagaimana pun, Bi Inah yang sudah berumur hanya bisa berharap dari pekerjaan yang sudah lama ia tekuni disini. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya di kampung, ia tidak tahu lagi harus mencari pekerjaan seperti apa di kota.

Apalagi, di dalam masa-masa seperti sekarang. Dimana, hanya orang-orang tertentu yang bisa bekerja. Beberapa diantaranya, ada pula yang harus bayar sebelum diterima bekerja.

Deg ... Deg ... Deg!

Suara dari jantung Anya masih berbunyi dengan tidak normal. Ia tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi yang membuat wajahnya menahan rona.

"Hmm ... permisi," kata Anya, membuang pandangannya dari Bara dan sedikit mendorong dada bidang pria yang berada dekat di hadapannya.

"... aku harus kembali bekerja," sambungnya.

1
falea sezi
lanjuttt
Imenfirewood: Waah, terimakasih banyak ya, kak, udah mau membaca cerita ini. Mulai sekarang, ceritanya akan update setiap hari di jam 7 pagi. Pastikan kakak udah follow biar nggak ketinggalan cerita seru dari Anya. Terimakasih~ Luv!
total 1 replies
falea sezi
kpn mereka bangkrut🤣 ngemis klo. perlu sebel q
Imenfirewood: Kamu udah baca sampai sini?
total 1 replies
falea sezi
majikan laknat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!