NovelToon NovelToon
Karma Suami Durhaka

Karma Suami Durhaka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Keluarga / Selingkuh
Popularitas:57.5k
Nilai: 5
Nama Author: Miss Ra

​"Aku menceraikanmu, Hana. Hari ini, detik ini, saat ini juga."

​Hana Anindita terpaku, tangannya yang gemetar mengusap perutnya yang sudah memasuki bulan ketujuh.

Di hadapannya, Bima Erlangga - pria yang berjanji akan menjaganya sehidup semati - menatapnya dengan sorot mata penuh kebencian.

Demi mengejar cinta masa lalunya yang kembali, Bima tega membuang belahan jiwanya sendiri. Bima mengira Hana akan bersimpuh di kakinya, memohon agar tidak ditinggalkan demi janin di rahimnya.

Namun, dugaannya salah besar. Hana hanya tersenyum tipis, mengemasi barang-barangnya, dan pergi tanpa menoleh lagi.

​Saat Bima mulai menyadari bahwa Clarissa tidak sesempurna bayangannya, dan saat Hana mulai bersinar di tangan pria lain, sanggupkah Bima menjilat kembali ludah yang telah ia buang?

Atau selamanya ia hanya akan menjadi orang asing bagi anak yang dulu ia tolak kehadirannya?

Kita simak cerita selanjutnya yuk di karya Novel => Karma Suami Durhaka.
By: Miss Ra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

"Selamat datang di titik balik paling emosional dalam perjalanan ini. Ada saat-saat di mana hidup terasa sangat tidak adil, di mana satu orang berjuang di ambang maut, sementara yang lain berpesta di atas luka. Episode ini akan menguras air mata kalian. Siapkan hati, karena perjuangan Hana mencapai puncaknya malam ini."

.

.

Malam di Desa Sukamaju terasa lebih sunyi dan dingin dari biasanya. Angin gunung berembus kencang, menyelinap di antara celah dinding kayu rumah tua Hana, membawa suara gesekan daun bambu yang terdengar seperti rintihan.

Di dalam rumah, Hana baru saja menyelesaikan doa malamnya. Tubuhnya terasa sangat berat, punggungnya seperti ditarik beban ribuan ton, dan napasnya mulai pendek.

Ia mencoba merebahkan diri di atas dipan, berharap rasa nyeri di pinggangnya hanyalah kelelahan biasa setelah seharian membuat adonan kue. Namun, tepat saat ia mencoba memejamkan mata, sebuah sensasi hangat yang tak terkendali mengalir membasahi kakinya.

***Plap***!

Hana tersentak. Ia meraba permukaan dipan yang mendadak basah kuyup. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdenging. Ia tahu apa artinya ini. Ketuban itu pecah.

"S-sekarang? Belum waktunya, Nak... ini masih dua minggu lagi," bisik Hana dengan suara gemetar.

Seketika, rasa sakit yang dahsyat menghantam perutnya. Rasanya seperti rahimnya diperas oleh tangan raksasa. Hana mencengkeram pinggiran dipan hingga kukunya memutih. Rasa sakit itu hilang sejenak, namun meninggalkan rasa mulas yang luar biasa.

Ia melirik jam dinding tua. Pukul satu dini hari. Di desa ini, semua orang sudah terlelap. Tidak ada tetangga yang cukup dekat untuk mendengar teriakannya, dan ia tidak punya kendaraan. Satu-satunya tempat yang bisa menolongnya adalah klinik Bidan Siti yang jaraknya hampir satu kilometer dari rumahnya.

"Aku harus kuat. Ibu harus kuat demi kamu," Hana menggertakkan gigi.

Dengan tangan gemetar, ia meraih tas kecil berisi perlengkapan bayi yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Ia bangkit, namun kedua kakinya terasa lemas seperti jelly. Setiap kali ia melangkah, kontraksi itu datang lagi, lebih tajam dan lebih lama.

Hana membuka pintu rumah. Kegelapan pekat menyambutnya. Hanya ada cahaya bulan yang samar dan lamat-lamat lampu jalan yang jarang. Ia mulai berjalan menyusuri jalanan setapak yang berbatu.

Setiap sepuluh langkah, Hana harus berhenti. Ia bersandar pada pohon besar atau pagar rumah orang, membungkuk sedalam-dalamnya sambil mengatur napas. Keringat dingin bercampur dengan air mata. Rasa sakit itu kini datang setiap lima menit sekali, menandakan persalinan sudah di depan mata.

"Mas Bima..."

Nama itu sempat terucap di sela isakannya. Bukan karena ia merindukan pria itu, melainkan karena nalurinya sebagai istri yang sedang meregang nyawa mencari sandaran. Namun, ia segera menggelengkan kepala. Tidak, Hana. Dia sudah membuangmu. Dia bukan siapa-siapa lagi.

Di tengah jalan yang sepi, Hana terjatuh. Lututnya membentur kerikil tajam hingga berdarah. Ia tersengal, rahimnya terasa seperti akan robek. Di atas sana, langit tampak begitu luas dan acuh tak acuh pada penderitaannya.

Hana merasa sangat kecil, sangat sendirian, dan sangat hancur. Namun, tendangan kuat dari dalam perutnya menyadarkannya.

Ibu, aku ingin melihat dunia, seolah itulah pesan yang dikirimkan sang bayi.

Hana bangkit kembali. Dengan menyeret kakinya dan memegangi perutnya yang sudah turun, ia terus melangkah. Satu kilometer terasa seperti perjalanan ribuan mil.

Ratusan kilometer dari sana, Jakarta sedang berada di puncak kegembiraannya. Di sebuah kelab malam kelas atas dengan lampu neon warna-warni dan musik yang memekakkan telinga, Bima Erlangga sedang tertawa lebar.

Ia duduk di sofa VIP yang paling mewah. Di depannya, botol-botol minuman keras seharga motor berjejer. Clarissa, yang mengenakan gaun mini berkilauan, menari kecil di hadapannya sambil terus menyuapi Bima potongan buah jeruk.

"Bim, kenapa ponselmu bergetar terus? Berisik tahu!" seru Clarissa sambil menunjuk ponsel Bima yang tergeletak di meja.

Bima melirik layar ponselnya. Sebuah nomor tak dikenal muncul. Kode areanya menunjukkan daerah pedesaan di luar kota.

"Siapa?" tanya Bima malas.

"Mana aku tahu. Paling-paling asuransi atau orang salah sambung," sahut Clarissa manja, lalu ia sengaja mengambil ponsel itu dan mematikan suaranya. "Sudahlah, malam ini milik kita. Jangan biarkan gangguan kecil merusak suasana."

Ponsel itu kembali menyala. Berkali-kali. Panggilan dari Bidan Siti, yang mencoba menghubungi Bima setelah menemukan nomornya di dalam buku kesehatan ibu milik Hana yang tertinggal di tas. Bidan itu ingin memberi tahu bahwa Hana dalam kondisi tidak baik-baik saja.

Bima menatap layar yang berkedip itu sejenak. Ada firasat aneh yang melintas di hatinya. Sesuatu yang terasa seperti cubitan di ulu hati. Namun, pengaruh alkohol dan tawa Clarissa segera menenggelamkan firasat itu.

"Mungkin itu Hana yang ingin minta uang," pikir Bima dengan ego yang masih melangit. "Biar saja. Biar dia tahu rasanya diacuhkan. Dia sendiri yang bilang tidak butuh uangku."

Bima membalikkan ponselnya dengan layar menghadap ke bawah. Ia kembali mengangkat gelasnya, bersulang untuk kemenangannya. Ia tidak tahu bahwa setiap detak musik yang ia nikmati beradu dengan detak jantung istrinya yang mulai melemah.

Hana tiba di depan pintu klinik Bidan Siti dengan kondisi memprihatinkan. Wajahnya pucat pasi, bajunya basah oleh keringat dan air ketuban, serta lututnya berlumuran darah. Ia memukul pintu kayu itu dengan sisa tenaga terakhirnya sebelum akhirnya ambruk di depan teras.

"Bidan... tolong..."

Pintu terbuka. Bidan Siti terkesiap melihat sosok wanita yang sudah hampir kehilangan kesadaran itu.

"Astaga, Mbak Hana! Kenapa jalan kaki sendirian?!" Bidan Siti dan asistennya segera membopong Hana masuk ke dalam ruang persalinan.

Di dalam ruangan yang berbau alkohol dan karbol itu, perjuangan hidup dan mati dimulai. Hana merasa seperti ditarik dari dua arah yang berbeda. Kepalanya pening, pandangannya berkunang-kunang.

"Ayo, Mbak Hana! Kuat! Demi bayinya! Tarik napas!" seru Bidan Siti.

"Sakit... Bu Bidan... saya tidak kuat..." rintih Hana.

Bidan Siti melihat ponselnya yang tergeletak di meja. Sepuluh panggilan ke nomor 'Suami' di ponsel Hana tidak dijawab. Ia menggeram kesal. Pria macam apa yang membiarkan istrinya berjuang sendirian seperti ini?

"Mbak Hana, dengarkan saya! Anda tidak punya siapa-siapa di sini kecuali anak ini! Jika Anda menyerah, dia juga menyerah! Apa Anda mau pria yang menyakiti Anda itu menang?!" teriakan Bidan Siti seolah menyentak kesadaran Hana.

Nama Bima kembali muncul di benak Hana. Bukan sebagai sandaran, tapi sebagai pemicu amarah. Benar. Aku tidak boleh mati. Aku tidak boleh membiarkan Bima Erlangga menang atas hidupku!

Hana mengejan dengan seluruh sisa nyawa yang ia miliki. Rasa sakit itu mencapai puncaknya, sebuah jeritan panjang keluar dari kerongkongannya yang kering. Dan kemudian... keheningan.

Oeeee ...! Oeeee ...!

Suara tangisan yang melengking memecah kesunyian malam di Desa Sukamaju. Suara yang lebih indah dari musik apa pun yang didengar Bima di Jakarta.

Bidan Siti meletakkan bayi laki-laki yang kemerahan itu di atas dada Hana. Hana menangis sejadi-jadinya saat merasakan kulit hangat dan lembut anaknya menyentuh kulitnya.

Rasa sakit yang tadi ia rasakan mendadak menguap, digantikan oleh rasa cinta yang begitu dahsyat hingga dadanya terasa sesak.

"Selamat, Mbak Hana. Bayinya laki-laki. Sehat dan tampan sekali," ucap Bidan Siti sambil mengusap air matanya sendiri.

Hana memeluk bayinya erat-erat. "Saka... namamu Aditya Saka, Nak. Karena kamu adalah cahaya yang mengakhiri malam gelap Ibu."

Di Jakarta, saat itu juga, Bima secara tidak sengaja menjatuhkan gelas kristalnya hingga hancur berkeping-keping.

"Bim? Kenapa? Kamu mabuk ya?" Clarissa bertanya khawatir.

Bima menatap pecahan kaca di bawah kakinya. Jantungnya berdebar sangat kencang, seolah-olah ada sesuatu yang baru saja terputus di dalam dirinya.

Ia menoleh ke arah ponselnya, namun layar itu kini sudah gelap. Ia tidak tahu, bahwa di detik itu, haknya sebagai seorang ayah telah dicabut oleh takdir.

Hana telah melahirkan. Tanpa dirinya. Tanpa uangnya. Dan tanpa satu pun jejak Bima di dalam hidup Aditya Saka yang baru saja dimulai.

Bagaimana kehidupan Hana sebagai ibu tunggal di desa dengan segala keterbatasan? Dan kapan Bima akan menyadari bahwa panggilan yang ia abaikan malam itu adalah panggilan yang akan ia sesali seumur hidupnya?

Ikuti terus babak baru perjuangan Hana di Up selanjutnya.

...----------------...

**To Be Continue** .....

1
Thewie
lanjut thor💪
Miss Ra: 💪siaaaapppp

🤗
total 1 replies
Arieee
menguras emosiiii,,,, /Determined//Determined//Determined//Determined//Determined//Determined/
Miss Ra: 🤗🙏
/Heart//Kiss/
total 1 replies
Ma Em
Akhirnya Bu Sarah akan datang untuk bertemu dgn Bima .
sunaryati jarum
Hatimu sungguh mulia Hana menyelamatkan orang yang telah menia,,- nyiakanmu
Ma Em
akhirnya masalah yg Bima hadapi sdh selesai , semoga Bima berjodoh dgn. Nadin .
༄⃞⃟⚡R⁹
gaassss terus thooorrrr🏃‍♀️🏃‍♀️🏃‍♀️
Eva Karmita
semangat Bima ...semoga cepat ketemu Hana dokter Adrian sama Saka ya Bim
Eva Karmita
Hana kamu wanita yang baik... walaupun Bima pernah jahat tapi Hana tidak pernah dendam ataupun benci
Ma Em
Semangat Bima semoga kebenaran cepat terungkap , emang Hana orang baik meskipun sdh disakiti sama Bima tapi msh simpati dan merasa kasihan pada Bima .
Lee Mba Young
Bima lupa dng anak nya dpt gadis daun muda 🤣. gk ingat ngirim nafkah anak nya juga.
Dr sini dah kelihatan bima gk Ada tanggung jawab. sekarang dah ketutup gadis ting ting siapa yg nolak. palagi bima suka free sex dng mantan pa gk nyut nyut itu minta buru buru kawin.
☠ᵏᵋᶜᶟ Қiᷠnꙷaͣŋͥ❁︎⃞⃟ʂ⍣⃝𝑴𝒊𝒔𝒔
kasian juga sih sama bima . tapi mau gimana lagi
Yuliana Tunru
kasihan bima apa hrs berhenti saat akan bnemulai hidup x yg hancur ..ayo thorr jgn gitu kasihan hana bantu dgn klarifikasi z lewat medsos biar jgn sampai.kelak rekam jejak ayah saka sangat buruk krn.pasti suatu saat saka akan tau siapa ayah x jg sebagai.manusia pasti tak tega
Lee Mba Young
Anggap saja karma mu krn lalai nafkah anakmu. Dr Lahir blm kau kasih lo anakmu.
mkne usaha mu kali ini gagal lagi. ntar kl punya usaha lagi ingat nafkah anakmu jng ingat perempuan tok, lihat Ada yg deketin bening daun muda lngsung lupa kl punya anak.
Lee Mba Young
Mungkin cobaan ini krn km gk ngirim nafkah buat anakmu pdhl anak sah kan.
mkne rejekimu di mati kan lagi krn Ada hak anakmu yg tak kau berikan.
walau ibunya gk nerima saat kau beri tp itu kewajibanmu lo sbgai bpk. mkne rejekimu di mati kan lagi krn hak anakmu tak kau sampaikan. mlh sibuk main cewek dng nadin gk ingat anak dulu.
hrse tobat, bikin usaha gede buat warisan anak dulu, nafkah kl sdh baru mikir cewek lain.
Yuliana Tunru: jgn terpancing bima krn itu malah yg diharapkam rendy dan jalang x..smoga bima bisa mbalik fakta biar yg jahat dapat karma kasihan bima ..ayo nadin bantu bima
total 1 replies
sunaryati jarum
Ngapain Bima harus menanggapi Clarissa , seharusnya nBima menuntut.harta yang dihabiskan Clarissa,apa ini strategi untuk bisa menghancurkan Randy dan Clarissa tanpa mereka sadari
sunaryati jarum
Cepat amat ,dari membuang Hana lalu memelihara Clarrissa ular kobra rakus harta sekarang diincar Nadin
sunaryati jarum
Emak lega jika Bima sudah berjanji tidak mengusik kehidupan Hana
Ma Em
Semoga Hana selalu bahagia bersama Adrian , semangat Bima kamu juga semoga cepat sukses dan mungkin Nadin akan menjadi pengganti Hana .
anju hernawati
Bima dan Hana harus bahagia menurut versinya masing masing ........................
Machmudah
maaf ye Thor, masih blm rela aja k bima bisa bangkit Dan kaya lg apalagi dpt wanita lg .....karmanya terlalu enak Thor...cm jd miskin, sedangkan pengorbanan Hana diusir kondisi hamil ...itu sesuatu banget Thor perjuangan banget
Miss Ra: iya kak...

tenang ajah, masih banyak kesusahan bima di episode ke depannya...
🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!