NovelToon NovelToon
Solo Reaper At The End Of The World

Solo Reaper At The End Of The World

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: RyzzNovel

Suatu hari, setiap umat manusia dari bumi diseret secara paksa ke dunia apocalypse dimana monster berada. Mereka menerima Aspek, sistem, dan satu tujuan tunggal yakni bertahan hidup.

Player 991 tidak panik. Dia tidak bergantung pada siapapun. Dia tidak mencari bantuan. Dia hanya mulai membunuh.

Sementara yang lainnya membentuk kelompok untuk memastikan keselamatan mereka, Player 991 mendaki papan peringkat global satu demi satu melalui jumlah kill yang dia kumpulkan sendirian.

Namun bertahan hidup saja tidak cukup. Ketika sistem memilih enam pemain terkuat sebagai Sovereign dan memberi mereka kekuasaan untuk membangun kembali peradaban manusia di dunia yang baru, Nate Leicester menemukan dirinya bukan hanya sebagai pemain terkuat — tapi sebagai salah satu dari enam penguasa yang akan menentukan masa depan seluruh umat manusia.

Papan peringkat tidak pernah berbohong. Dan saat ini, hanya ada satu nama di puncak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RyzzNovel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

"Phew..."

Nate menghela napas panjang, merasakan jantungnya yang masih berdebar karena ekstasi yang belum sepenuhnya mereda.

"K-kamu!"

Di saat yang sama, dia mendengar suara seseorang yang terdengar terkejut tidak jauh darinya.

Sambil menyeka keringat, Nate melirik ke sumber suara itu, menemukan seorang pria yang menatapnya dengan mata melebar. Rambut cokelatnya sedikit berantakan, wajahnya berkerut tak percaya saat menatap Nate dengan penuh kewaspadaan. Di dekatnya berdiri dua wanita dan satu pria lainnya, tampaknya mereka berasal dari kelompok yang sama.

Nate terdiam sejenak, berkedip beberapa kali, lalu tersenyum kecil.

"Oh, hai? Apa kalian melihat kemana perginya semua Lycanil yang ramai di sini? Kurasa tadi ada cukup banyak dari mereka..."

Entah kenapa, omongan itu membuat seluruh kelompok serentak melongo.

"Huh??" Suara bingung mereka bergema bersamaan, sementara Nate yang tak kalah bingung memiringkan kepalanya.

"Huh? Ada yang salah?"

Seorang wanita di antara mereka tampak ragu-ragu, lalu pelan-pelan menunjuk ke lapangan di belakang Nate.

"Bisakah kamu melihat sekelilingmu?"

Baru saat itu Nate memeriksa sekelilingnya. Mayat Lycanil berserakan di mana-mana, lapangan itu banjir darah hitam yang sudah mulai mengental di celah-celah tanah, pemandangan yang anehnya familiar.

"Kamu sudah membunuh semuanya..." lanjut wanita itu dengan nada takut.

Sepertinya dia baru saja melakukan hal yang serupa tidak lama sebelum ini...

Nate mengingat kejadian dengan Murneth dan CryBallon itu sejenak, lalu menggaruk bagian belakang rambutnya. Dia benar-benar terlalu menikmati pembantaian itu hingga tidak menyadari bahwa dialah yang telah menghabisi semua Lycanil di lapangan ini. Tidak satu pun dari mereka yang sempat kabur, mereka hanya mati di tangannya terlalu cepat.

Nate juga baru menyadari betapa kotornya dirinya sekarang. Tunik hitamnya terasa berat dan basah oleh darah hitam, kulitnya yang terekspos bernoda serupa, dan wajahnya hampir pasti tidak lebih bersih dari itu.

Dia mengusap wajahnya sekali, lalu melirik kembali ke arah kelompok itu.

"Jadi, apa yang kalian lakukan di sini?"

Nate bertanya tanpa berniat sedikit pun untuk mendekat. Dia tidak tahu seberapa tinggi level mereka, apa Aspek mereka, dan yang terpenting, apa tujuan mereka. Terlalu ceroboh bisa membuatnya celaka.

Pria berambut cokelat itu melangkah sedikit ke depan. Tampaknya dia adalah pemimpin dari kelompok kecil itu.

"Namaku Haron. Sebelumnya, kami sedang menjelajahi lingkungan sekitar untuk memburu monster peringkat rendah. Tapi, di tengah perjalanan, kami mendengar keributan di sini dan berpikir mungkin ada player yang dikepung monster dan butuh pertolongan... Meski... Yah..."

Tatapan Haron melayang ke lapangan yang penuh mayat itu. Ekspresinya seperti seseorang yang baru menyadari bahwa bukan para player yang berteriak ketakutan tadi, melainkan para Lycanil-nya.

Mendengar itu, Nate sama sekali tak terganggu.

"Begitu? Kalau aku, namaku Nate. Senang bertemu dengan kalian." Dia berhenti sejenak. "Lalu, jika kamu berencana pergi ke arah sana sebelumnya, sebaiknya ubah arah ekspedisimu."

"Huh? Kenapa? Apa ada sesuatu yang berbahaya di sana?" tanya Haron dengan wajah suram.

Tapi Nate menggeleng.

"Tidak ada. Hanya saja, aku sudah membunuh semua monster di area itu. Jadi tidak akan ada yang bisa kamu buru di sana."

Saat itu, salah satu anggota kelompok, seorang pria yang tampak jauh lebih muda, langsung menyela dengan semangat:

"Benarkah? Kamu luar biasa! Hei, bagaimana kalau kamu datang ke tempat perlindungan kami? Di sana ada banyak player lainnya, dan kalau kamu bergabung, kita bisa jadi cukup kuat untuk memastikan tidak ada yang mati selama ekspedisi!"

Wanita yang sebelumnya menatap Nate dengan takut kini tampak kagum. "Oh! Yang dikatakan Ray benar. Pemimpin kami berada di level empat, dia sangat kuat!"

Nate menaikkan satu alis.

Sebenarnya ada dorongan kecil untuk menolak, tapi rasa penasarannya menang. Siapa tahu? Mungkin dia bisa menemukan beberapa informasi penting dari mereka. Tentang dungeon, misalnya.

"Kalau begitu aku akan datang untuk melihat-lihat."

Nate berkata sambil mulai berjalan mendekat. Dia tidak melepas sabitnya,hanya untuk berjaga-jaga.

Kelompok Haron, di sisi lain, tampaknya langsung melepas kewaspadaan mereka dan berjalan dengan penuh semangat ke depan.

"Perlindungan kami berada di sana! Oh, namaku Runa, senang berkenalan denganmu, Nate!"

"Seperti yang sudah kamu dengar, aku Ray, dan wanita yang pemalu satu ini namanya Cindy."

Nate tersenyum kecil dan mengangguk. "Tentu, senang bertemu kalian semua."

Beberapa menit setelahnya, Nate berjalan mengikuti mereka dengan jarak beberapa langkah di belakang, cukup untuk tetap menjaga mereka dalam jangkauan sabitnya jika terjadi sesuatu. Untungnya, tidak ada yang perlu diwaspadai. Mereka tiba di tujuan dengan selamat.

Sebuah gedung besar berdiri di hadapannya, dengan papan nama yang bertuliskan [Aveentire], gedung yang pernah disebutkan seseorang di obrolan chat sebelumnya. Nate tidak menyangka orang itu benar-benar berhasil mengumpulkan cukup banyak orang.

Setelah memasuki bagian dalam, ternyata memang ada lumayan banyak orang yang berkumpul di sana.

'Kurang lebih dua puluh orang.'

Saat Nate melangkah masuk, tatapan mereka langsung menempel padanya, penuh dengan emosi yang sulit diuraikan. Beberapa menatapnya dengan waspada dan ragu, beberapa lainnya dengan harapan yang terasa terlalu polos untuk situasi seperti ini.

Nate sudah melepas sabitnya saat itu.

Seorang wanita kemudian datang bergegas ke arah kelompok Haron. Wanita itu mengenakan tunik putih yang agak tipis, rambutnya diikat rapi, kulitnya seputih susu di bawah cahaya gedung yang redup.

"Haron? Kelompokmu baru saja pergi beberapa menit lalu, kenapa sudah kembali? Apa ada masalah?"

Lalu tatapannya beralih ke Nate.

"Begini, Nyonya Kathie, di tengah perjalanan, kami bertemu pria ini. Namanya Nate. Dia sangat kuat, bisa melawan begitu banyak Lycanil sendirian, jadi kami berpikir untuk membawanya ke sini."

Untuk sesaat, Kathie menatap Nate dengan campuran emosi yang paling rumit sejauh ini, kewaspadaan, keraguan, dan harapan yang berusaha disembunyikan tapi tidak cukup berhasil.

Haron yang tidak menyadari itu melanjutkan, "Dia bilang mau melihat-lihat dulu sebelum memutuskan untuk bergabung. Jadi, karena dia sudah di sini, kurasa aku dan kelompokku sebaiknya melanjutkan ekspedisi kami."

"Baik, kerja bagus, kamu boleh pergi sekarang." Kathie mengangguk. "Untuk dia... aku akan mengurusnya."

Haron mengangguk dengan senyum, lalu segera mengajak kelompoknya pergi.

Nate yang ditinggal hanya diam, merasakan begitu banyak tatapan yang terus menempel padanya dari segala arah. Suasana dalam gedung itu terasa menggantung, tidak ada yang berbicara, tidak ada yang bergerak, sampai akhirnya Kathie selesai memilih kata-katanya dan bicara:

"Aku akan berterus terang. Seperti yang mungkin sudah kamu rasakan sendiri, dunia ini penuh dengan bencana dan berada di masa yang paling kejam. Banyak player yang bertahan hidup dengan cara membunuh satu sama lain, memanfaatkan, dan pada akhirnya mengkhianati satu sama lain."

Dia berhenti sejenak, mencoba membaca reaksi Nate.

Sayangnya bagi dia, tidak ada yang bisa dibaca. Nate berdiri dengan tenang, pupil abu-abu pucatnya terasa kosong seperti permukaan danau yang tidak memantulkan apapun, dan entah kenapa, kekosongan itu justru yang membuat Kathie merasa gugup tanpa sadar saat melanjutkan:

"M-maksudku... kami tidak bisa sembarangan menerima orang yang tidak bisa dipercaya."

***

1
Pradama Okta
harusnya udah peringkat D gak sih, kan syarat dari E ke D 5600 kill
Nameless: yang dihitung monster peringkat E keatas, kalau F kebawah gak kehitung
total 1 replies
SETH
cerita nya bagus..mudah2an rajin update dan gak hiatus
bysatrio
bagus
Nameless: terimakasih!
total 1 replies
KayyLawrence
mampir cuyy,jujur ceritanya bagus,langsung saja terbitkan dan adaptasi jadi manhwa
tintakering
mampir, k
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!