CEWEK BADUNG VS COWOK KAKU
AYUNDA
Cantik, manis, dan bergaya kece abis... tapi kelakuannya liar!
Mulutnya tajam, berani, dan paling benci diatur-atur.
"Badung? Yeah, that's me."
Dia cewek yang hidup sesuka hati, nggak peduli omongan orang, dan siap melabrak siapa saja yang berani cari gara-gara.
GIOVANI
Ganteng, kaya, dan selalu tampil sempurna... tapi kaku setengah mati!
Hidupnya penuh aturan, rapi, dan terjadwal kayak robot.
"Terlalu diatur, terlalu sulit dimengerti."
Dia tipe cowok yang alergi sama kekacauan, apalagi sama cewek rusuh kayak Ayunda.
Dua kepribadian. Satu konflik yang tak terhindarkan.
Lo badung, gue kaku.
Kita emang mustahil.
Satu mau bebas, satu mau aturan.
Satu bawa kekacauan, satu bawa masalah.
Tapi entah kenapa... dua kutub yang saling tolak ini, selalu saja ketemu di titik yang sama.
Apakah si Badung bisa meluluhkan si Kaku?
Atau malah si Kaku yang bakal ikut rusuh karena si Badung?
A hate-love romance that you can't miss! ❤️🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon exozi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
JANGAN ATUR HIDUP GUE!
Hari berganti siang. Matahari di luar bersinar terik, tapi panasnya masih kalah sama suasana di dalam rumah yang kadang bisa meledak kapan saja.
Setelah selesai membereskan kekacauan pagi tadi—yang mana sebagian besar pekerjaan berat dikerjakan oleh Giovanni dengan sabar (dan banyak menghela napas)—Ayunda malah kembali ke mode santai total.
Dia sekarang duduk di teras belakang rumah yang luas itu. Duduk bersila di atas lantai keramik yang dingin, punggung bersandar ke tiang, dan tangannya sibuk banget main game di HP.
"HAHAHA MATI LO! DASAR NOOB!" teriaknya senang saat berhasil mengalahkan musuh di game. "SI CANTIK MANDI BLOOD ITU EMANG PALING JAGO SEJAGAT RAYA!"
Ayunda benar-benar larut dalam dunianya sendiri. Rambutnya dikuncir kuda agak acak-acakan, keringat sedikit mengucur di pelipis karena cuaca panas, tapi dia nggak peduli. Yang penting menang!
Tiba-tiba...
CETAK!
Sebuah tangan panjang muncul dari samping dan langsung menutup layar HP-nya secara paksa.
Ayunda kaget, jempolnya salah pencet, dan akhirnya karakter di dalam game itu tewas konyol.
"AAAAARRGGHHH!!!"
Ayunda langsung meledak, melempar HPnya ke samping dengan kesal.
"LO GILA YA HAH GIO?! HIDUP GUE MAKIN SIALAN SAMA LO! BARU AJA GUE MAU MENANG! LO HAJAR GITU AJA! LO ITU PEMBAWA SIALAN TAU GAK?!"
Giovani berdiri tegak di sampingnya, tangan di pinggang, wajahnya datar tapi matanya menatap tajam.
"Pukul satu siang. Waktunya istirahat sebentar, atau belajar sesuatu. Bukan main game terus tanpa henti," ucapnya tegas.
"HEH! GUE UDAH BANTU BERSIH-BERSHIH TADI PAGI KAN?! BERARTI GUE BERHAK REBAHAN DAN MAIN GAME! HAK ASASI MANUSIA ITU LO TAU GAK?!" Ayunda berdiri, menatap Gio galak.
"Hak asasi itu ada batasnya, Nona. Terlalu banyak main HP itu tidak baik untuk mata, dan juga... membuang-buang waktu yang berharga. Kau tahu berapa banyak hal produktif yang bisa kau lakukan dalam waktu satu jam itu?"
"GUE GAK PEDULI! YANG PENTING GUE SENANG! LO ITU UDAH KAYAK BAPAK-BAPAK BAHEK TAU GAK?! DARI PAGI SAMPE SORE CUMAN NGATUR, NGATUR, DAN NGATUR! GUE UDAH BUNTU DENGERNYA!"
Ayunda mendorong bahu Gio dengan kesal, lalu berjalan melewatinya mau masuk ke dalam rumah. Tapi tangan Gio langsung menangkap pergelangan tangannya. Genggamannya kuat, nggak ngebiarin Ayunda pergi.
"LEPAS! NGAPAIN PEGANG-PEGANG?!" Ayunda berontak.
"Jangan pergi dulu. Kita harus bicara serius," kata Gio, suaranya rendah tapi menekan. Dia menarik tangan Ayunda pelan, membuat cewek itu berbalik menghadap dia lagi.
"Bicara apaan lagi?! Lo mau nambahin aturan baru lagi?! 'Dilarang main game', 'Dilarang senang', 'Dilarang hidup bebas'?! GUE UDAH PENUH GIO! PENUH!"
Mata Ayunda mulai berkaca-kaca. Bukan karena sedih doang, tapi karena emosi dan rasa kesal yang numpuk. Dia merasa kayak burung yang dikurung di sangkar emas. Cantik, mahal, tapi nggak bebas.
"Lo tahu nggak sih rasanya gimana? Dari kecil gue emang hidupnya bebas. Gue ngelakuin apa yang gue mau, gue berteman sama siapa aja, gue ngomong apa yang ada di pikiran gue. Gue bahagia begitu! Terus tiba-tiba datang lo... cowok kaku, dingin, banyak aturan, dan ngerusak semuanya!"
Ayunda menarik tangannya kuat-kuat sampai akhirnya lepas. Dia mundur beberapa langkah, menjaga jarak dari Gio.
"Gue tahu gue ini cewek yang kelakuannya nggak bener di mata lo. Gue jelek, gue kasar, gue berantakan. IYA GUE AKUIN! TAPI ITU GUE! ITU DIRI GUE YANG ASLI! Kenapa sih lo nggak bisa terima gue apa adanya?! Kenapa lo selalu pengen rubah gue jadi orang lain yang nggak gue banget?!"
Suara Ayunda mulai pecah. Dadanya naik turun menahan tangis yang mau meledak.
"Gue capek, Gio. Capek banget harus selalu salah di mata lo. Capek denger omelan lo. Capek denger kata 'aturan' melulu. Kalau lo dapat istri idaman lain yang lemah lembut, sopan, rapi, dan perfect itu... kenapa nggak lo nikahin dia aja?! Kenapa harus gue?!"
Pertanyaan terakhir itu meluncur begitu saja dari bibir Ayunda. Pertanyaan yang sebenarnya keluar karena rasa sakit hati dan rasa tidak percaya diri yang selama ini dia pendam.
Hening.
Angin sore berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun pohon di taman. Suasana jadi hening total.
Giovani berdiri mematung. Dia menatap wajah Ayunda yang sekarang memerah, mata nya basah menahan air mata, dan bibirnya gemetar menahan isak tangis.
Untuk pertama kalinya, Giovanni melihat sisi lain dari Ayunda.
Bukan Ayunda yang galak, bukan Ayunda yang badung, bukan Ayunda yang teriak-teriak.
Tapi Ayunda yang rapuh. Ayunda yang merasa tidak cukup baik.
Giovani menghela napas panjang. Kali ini napasnya bukan napas kesal, tapi napas yang berat dan penuh perasaan. Dia melangkah mendekat perlahan.
Ayunda mundur, "Jangan deket... gue lagi emosi."
"Tidak," jawab Gio pelan. "Aku tidak mau pergi. Aku mau dengerin kamu habis-habisan."
Giovani berhenti tepat di depan Ayunda. Dia menatap mata itu dalam-dalam.
"Kau pikir aku menikahimu karena mencari pelayan atau patung yang rapi? Kau salah besar, Yun."
Panggilan nama itu... "Yun". Tanpa embel-embel nona, tanpa nada ketus. Suaranya lembut.
"Aku tahu kau itu bebas. Aku tahu kau itu liar. Aku tahu kau itu berisik dan suka berantakan. Dan kau tahu apa? Justru itu yang bikin aku... tertarik."
Ayunda ternganga. Matanya melotot, lupa sama sekali mau nangis. "Hah? Apa apaan lo ngomong? Gila ya?"
"Dengerin dulu," potong Gio cepat. Dia terlihat sedikit gugup, telapak tangannya dia kepalkan. "Selama ini aku hidup di dunia yang semuanya rapi, semuanya palsu, semuanya sopan tapi banyak akal busuk. Orang-orang di sekitarku itu... membosankan. Mereka semua sama."
Gio menunjuk dada Ayunda dengan jarinya, menyentuh pelan di area jantung.
"Tapi kau berbeda. Kau datang kayak badai. Kau bikin kekacauan, kau bikin aku marah, kau bikin aku pusing... tapi kau juga bikin hidup aku yang dulu datar kayak jalan tol jadi terasa... berwarna. Kau asli, Yun. Apa yang ada di hati lo, itu yang keluar di muka lo. Nggak ada topeng. Nggak ada basa-basi."
Ayunda diam mematung. Mulutnya terbuka sedikit tapi nggak bisa ngomong apa-apa. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang banget. DUG DUG DUG DUG!
Cowok kaku ini... lagi ngomong romantis apa gimana sih?!
"Jadi jangan pernah bilang aku mau rubah lo," lanjut Gio lagi, matanya menatap tajam tapi hangat. "Aku cuma mau... lo lebih hati-hati. Aku cuma mau ngajarin lo banyak hal. Dan aku terima lo apa adanya... Ayunda yang badung, Ayunda yang rusuh, Ayunda yang mulutnya tajam... itu semua milikku. Dan aku nggak mau tuker sama apa pun."
JLEB!
Kata-kata itu masuk tepat ke hati Ayunda. Rasanya aneh. Panas, dingin, deg-degan, dan malu semua jadi satu.
"S-sompong..." Ayunda mencoba tetap galak meski suaranya sudah terdengar gemetar. "Lo... lo bisa aja banget ngomong manis ya. Pinter ngerayu biar gue gak marah ya?"
Giovani tersenyum tipis. Senyum yang tulus kali ini. "Aku tidak bisa merayu. Aku bukan tipe orang seperti itu. Apa yang aku omongin itu... apa yang aku rasain."
Dia mengulurkan tangannya, mengusap pelan rambut Ayunda yang agak berantakan itu. Sentuhannya lembut, hangat, dan bikin Ayunda kaku sendiri.
"Jadi... jangan bilang jangan atur hidup lo. Karena mulai sekarang, hidup lo itu juga hidup gue. Kita satu kapal. Mau kemana pun kapal ini berlayar, mau dia terbawa badai atau tenang... kita hadapin bareng-bareng. Paham?"
Ayunda menatap mata Gio yang dalam itu. Dia bisa melihat ketulusan di sana. Rasa kesalnya tadi seakan menguap entah ke mana, diganti dengan rasa aneh yang bikin pipinya panas.
"Hmph..." Ayunda memalingkan wajah pura-pura cuek, tapi tangannya diam-diam mencengker ujung kemeja Gio. "Iya deh iya... bawel banget sih. Orang lagi marah-marah eh malah diajak puitis segala."
"Tapi janji ya..." Ayunda mendongak lagi. "Jangan terlalu ketat aturannya. Kasihan orang yang nggak bisa diam kayak gue."
Gio mengangguk. "Oke. Aku akan coba... lebih santai. Tapi lo juga harus janji, jangan bikin ulah yang terlalu parah sampai aku mau jual lo ke pasar."
"HAH?! JUAL GUE?! BERANI LO YA?!" Ayunda cubit lengan Gio kuat-kuat.
"Aduh! Sakit! Bercanda doang! Dasar cewek... kasar banget sih!" Gio mengaduh tapi malah tertawa kecil.
Dan di saat itulah, untuk pertama kalinya mereka berdua tertawa bareng. Tanpa teriakan, tanpa omelan, tanpa aturan.
Cuma dua orang yang berbeda dunia, tapi mulai belajar menyatu.