Saat keluarganya menjualnya demi uang, Lin Qingyan diselamatkan oleh pria misterius bernama Gu Beichen dan dipaksa menikah dengannya.
Ia mengira itu hanya pernikahan palsu.
Sampai ia tahu suaminya adalah pria paling berbahaya di dunia.
Ketika putri mereka lahir membawa darah kuno yang diincar seluruh dunia, perang besar pun dimulai.
Dan siapa pun yang berani menyentuh keluarganya... akan lenyap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi Saat Semua Orang Menunduk Padaku
📖 BAB 3: Pagi Saat Semua Orang Menunduk Padaku
Lin Qingyan hampir tidak tidur semalaman.
Bukan karena kamar tamu mansion itu tidak nyaman—justru sebaliknya. Kasur terlalu empuk, selimut terlalu hangat, ruangan terlalu sunyi. Selama bertahun-tahun ia terbiasa tertidur dalam kelelahan, ditemani suara bentakan ibunya dari lantai bawah atau pesan ancaman penagih utang ayahnya.
Sekarang tidak ada apa-apa.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada suara piring dilempar.
Tidak ada kewajiban bangun subuh untuk memasak bagi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Yang ada hanya satu masalah baru:
Gu Beichen.
Pria itu muncul di kepalanya berkali-kali seperti iklan yang tak bisa dilewati.
Tatapan tenangnya.
Cara ia menghancurkan keluarga Lin hanya dengan beberapa kalimat.
Dan kalimat terakhir sebelum pergi.
Kau tidur di kamar utamaku malam ini.
Qingyan memukul bantal.
“Orang gila.”
Ia baru tertidur menjelang subuh.
Lalu pukul enam pagi, seseorang mengetuk pintunya.
Tok. Tok. Tok.
Qingyan membuka mata sambil menggerutu.
“Masuk.”
Seorang pelayan wanita masuk sambil menunduk hormat.
“Selamat pagi, Nyonya. Tuan Gu menunggu Anda untuk sarapan.”
Qingyan menutup mata lagi.
“Aku mati saja.”
Pelayan itu bingung.
Dua puluh menit kemudian, Qingyan turun ke ruang makan dengan pakaian sederhana: kemeja putih dan celana hitam. Ia menolak gaun-gaun mahal di lemari karena merasa seperti sedang disuap oleh estetika.
Beichen sudah duduk di meja panjang.
Kali ini bukan kopi dan laptop.
Ia sedang membaca koran fisik sambil makan roti panggang.
Ia bahkan membaca koran seperti seorang raja sedang memeriksa wilayah jajahannya.
Qingyan duduk di kursi seberang.
“Kau tahu ini abad digital?”
“Aku suka kertas.”
“Kenapa?”
“Kalau marah, bisa diremas.”
Masuk akal.
Pelayan menyajikan sarapan yang terlihat lebih mewah dari menu hotel. Omelet, buah impor, sup hangat, roti artisan, dan kopi dengan aroma yang terlalu mahal.
Qingyan mengambil sepotong roti.
“Kau selalu makan begini?”
“Tidak.”
“Apa biasanya lebih mewah?”
“Biasanya aku lupa makan.”
Ia melipat koran dan menatapnya.
“Hari ini kau ikut ke kantor.”
Qingyan mengunyah perlahan.
“Kita sudah bahas semalam.”
“Aku tahu. Aku hanya mengingatkan.”
“Aku belum setuju.”
“Kau akan setuju.”
“Kenapa?”
“Karena kalau kau tinggal di rumah, kau akan bosan dan membuka semua lemari hanya untuk menghitung kekayaanku.”
Qingyan memelototinya.
“Aku bukan tipe seperti itu.”
“Syukurlah. Karena lemari uang ada di ruang bawah tanah.”
Ia menyesap kopi.
Qingyan menatap pria itu lama.
Ia benar-benar tidak tahu kapan Beichen bercanda dan kapan serius.
Selesai sarapan, Qingyan dibawa ke ruang ganti pribadi oleh tiga pelayan.
Ruangan itu lebih besar dari apartemen sewa pertamanya.
Rak penuh tas bermerek.
Sepatu tersusun seperti galeri seni.
Puluhan setelan kerja wanita tergantung rapi sesuai warna.
Qingyan memijat pelipis.
“Aku cuma mau ke kantor, bukan kampanye presiden.”
Pelayan tertua tersenyum sopan.
“Perintah Tuan Gu, Nyonya harus tampil pantas.”
“Aku sudah pantas.”
“Menurut standar Tuan Gu, belum.”
Lima belas menit kemudian, Qingyan keluar mengenakan setelan abu-abu elegan dengan rambut ditata sederhana. Ia menatap cermin dan hampir tidak mengenali dirinya.
Beichen yang menunggu di ruang depan menoleh sekali.
“Lumayan.”
Qingyan mengangkat alis.
“Lumayan?”
“Itu pujian.”
“Kau buruk dalam memuji.”
“Aku tidak sering butuh melakukannya.”
Mobil hitam membawa mereka ke pusat kota.
Gedung-gedung kaca menjulang, lalu satu bangunan tertinggi muncul di tengah distrik bisnis seperti raksasa baja.
Di puncaknya tertera logo perak: GU GLOBAL HOLDINGS
Qingyan menatap ke atas sampai lehernya pegal.
“Jangan bilang ini punyamu.”
“Sebagian.”
“Sebagian?”
“Empat puluh delapan lantai.”
“Kau bercanda.”
“Dua lantai lainnya milik restoran.”
Qingyan memutuskan tak akan bertanya lagi tentang kekayaan pria ini. Kesehatan mentalnya penting.
Begitu mobil berhenti, pintu dibuka dari luar.
Barisan staf sudah menunggu.
Puluhan orang.
Pria berjas, wanita profesional, pengawal, sekretaris.
Semuanya menunduk bersamaan.
“Selamat pagi, Tuan Gu.”
Lalu mereka menoleh padanya.
“Selamat pagi, Nyonya.”
Qingyan hampir tersandung saat turun.
Ia berbisik pada Beichen.
“Aku benci ini.”
“Biasakan.”
“Aku lebih suka anonim.”
“Itu tidak akan terjadi lagi.”
Lobby gedung tampak seperti museum modern. Lantai marmer putih, air terjun dinding kaca, aroma parfum lembut, dan keamanan setingkat bandara.
Namun yang paling mengejutkan Qingyan adalah cara semua orang memandang Beichen.
Bukan sekadar hormat.
Takut.
Seorang direktur setengah baya berlari kecil mendekat sambil membawa map.
“Tuan Gu, laporan merger sudah siap.”
Beichen berjalan tanpa melambat.
“Batalkan.”
Pria itu pucat.
“Tapi kita sudah negosiasi tiga bulan.”
“Sekarang dua bulan sia-sia.”
“Tuan—”
Beichen menoleh sedikit.
Pria itu langsung diam.
“Kalau kau ingin mempertahankannya, gunakan uangmu sendiri.”
Ia terus berjalan.
Direktur itu nyaris roboh.
Qingyan berbisik.
“Kau baru saja menghancurkan karier orang.”
“Tidak. Aku mengujinya.”
“Dan?”
“Dia gagal.”
Lift pribadi naik langsung ke lantai 49.
Kantor utama Gu Beichen menempati seluruh lantai.
Pintu terbuka ke ruangan luas dengan dinding kaca menghadap seluruh kota. Di tengahnya meja hitam panjang, rak buku, layar data dunia, dan ruang santai yang lebih bagus dari hotel.
Qingyan melangkah masuk perlahan.
“Ini kantor atau markas penjahat film?”
“Terima kasih.”
“Itu bukan pujian.”
“Aku memilih mendengarnya begitu.”
Han masuk membawa tablet.
“Tuan Gu, rapat dewan mulai lima menit lagi. Dan...” ia melirik Qingyan sopan. “Nyonya mendapat kiriman bunga.”
“Dari siapa?” tanya Qingyan.
Han menunjukkan kartu.
Dari keluarga Lin. Maafkan kami. Pulanglah.
Qingyan tertawa pendek.
“Cepat sekali berubah.”
Beichen mengambil kartu, membacanya, lalu membuang ke tempat sampah.
“Kirim balik.”
“Dengan pesan apa, Tuan?” tanya Han.
Beichen menatap jendela.
“Terlambat.”
Han mengangguk tanpa ekspresi, seolah kalimat sekejam itu adalah instruksi normal.
Beichen masuk rapat, meninggalkan Qingyan di ruang kerja pribadi kecil yang terhubung dengan kantor utama.
Ia duduk sendiri sambil menatap kota dari kaca.
Sungguh aneh.
Kemarin ia hanya perempuan yang dijual keluarganya.
Hari ini ia berada di puncak gedung paling berpengaruh di kota.
Teleponnya bergetar.
Nama Ning Xia muncul.
Qingyan cepat mengangkat.
“Kau hidup?!” suara sahabatnya langsung menyerbu. “Internet heboh! Semua grup kantor ngomongin kau!”
“Apa?”
“Foto kau turun dari mobil Tuan Gu viral!”
Qingyan menutup wajah.
“Bagus. Aku ingin menghilang, malah jadi berita.”
Ning Xia tertawa histeris.
“Yang lebih gila, keluarga Zhang menghilang dari kota semalam!”
Qingyan menoleh ke arah ruang rapat.
Pintu tertutup rapat.
Ia berbisik.
“Itu kerja Beichen?”
“Siapa Beichen?”
“...Suamiku palsu.”
Di seberang sana hening tiga detik.
Lalu jeritan.
Belum sempat percakapan selesai, pintu ruangannya dibuka mendadak.
Seorang wanita tinggi bergaun merah masuk tanpa izin. Cantik, elegan, dan jelas terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan.
Dua pengawal di belakangnya tampak tegang, seolah tak mampu menghentikannya.
Wanita itu menatap Qingyan dari kepala sampai kaki.
“Jadi ini perempuan murahan yang dibawa Beichen?”
Qingyan perlahan meletakkan ponsel.
“Ning Xia, aku telepon balik. Ada badut datang.”
Ia menutup sambungan.
Wanita itu menyipitkan mata.
“Kau tahu aku siapa?”
“Belum. Tapi kalau kau terus bicara begitu, aku juga tak tertarik tahu.”
Wanita itu tertawa dingin.
“Aku Shen Ruoxi. Tunangan yang dipilih keluarga Gu.”
Qingyan mengangguk pelan.
“Oh. Jadi kau mantan yang belum move on.”
Wajah Shen Ruoxi langsung berubah.
“Berani sekali.”
“Aku belajar cepat.”
Ruoxi melangkah mendekat.
“Kau pikir dengan wajah lumayan dan sedikit keberuntungan kau bisa duduk di tempatku?”
Qingyan berdiri.
Tingginya sedikit kalah, tapi auranya tidak.
“Tidak. Aku pikir kalau seseorang kehilangan tempatnya, mungkin memang tak pernah pantas memilikinya.”
Ruoxi mengangkat tangan hendak menampar.
Sebuah suara dingin terdengar dari pintu.
“Coba sentuh dia.”
Semua orang menoleh.
Gu Beichen berdiri di sana.
Ruangan mendadak turun beberapa derajat.
Shen Ruoxi perlahan menurunkan tangannya.
“Beichen, aku hanya ingin bicara.”
“Kau bicara terlalu dekat.”
Ia berjalan masuk, berdiri di samping Qingyan tanpa melihat Ruoxi.
“Kau masuk ke lantai ini tanpa izin.”
“Ayahmu mengizinkan.”
“Ini gedungku.”
Nada suaranya datar, tapi pengawal Ruoxi mulai berkeringat.
Ruoxi menggertakkan gigi.
“Kau sungguh memilih perempuan seperti ini dibanding aku?”
Beichen akhirnya menatapnya.
“Ya.”
“Kenapa?”
Ia menjawab tanpa ragu.
“Karena dia tidak membosankan.”
Qingyan hampir tersedak.
Ruoxi gemetar menahan marah.
“Kau akan menyesal.”
Beichen menekan tombol interkom.
“Keamanan.”
Dua belas detik kemudian, empat petugas masuk.
“Antar Nona Shen keluar.”
Ruoxi menatap Qingyan penuh benci.
“Ini belum selesai.”
Qingyan tersenyum tipis.
“Semoga begitu. Kau cukup menghibur.”
Wanita itu dibawa pergi.
Pintu tertutup.
Hening.
Qingyan menoleh ke Beichen.
“Kau punya mantan gila.”
“Keluarga memilihnya. Aku tidak.”
“Masalahmu banyak.”
“Sekarang masalahku duduk di depanku.”
Ia menatapnya lurus.
“Ada acara makan malam keluarga Gu malam ini.”
Qingyan punya firasat buruk.
“Dan?”
“Kau ikut.”
“Tidak.”
“Ya.”
“Kenapa?”
Beichen mengambil jasnya.
“Karena kalau Ruoxi saja begini... kau belum melihat ibuku.”
Qingyan menatap kosong beberapa detik.
Lalu berkata pelan,
“Aku ingin kembali dijual.”
BERSAMBUNG