Ini merupakan Novel Sekuel dari Melepas para Benalu,
Wina tak pernah menyangka kisah hidupnya yang tragis membuatnya akhirnya bisa bertemu dengan lelaki yang sangat kejam tapi sangat mencintai dan menyayangi dirinya yaitu Alexander
Alexander adalah seorang Mafia kelas kakap yang bahkan polisi juga sangat segan kepadanya.
Pertemuan tidak sengaja itu pun menjadikan Tuan Mafia yang terkenal kejam dan tidak berperasaan itu akhirnya memiliki tempat pulang dan orang yang dia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummu Umar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB3
Alex memalingkan wajahnya agar Wina tak melihat dirinya meneteskan airmata nya, kebaikan dan kelembutan kedua orangtua Wina padanya saat itu masih terngiang di benaknya hingga dia dewasa.
Dia menghapus air mata yang tiba-tiba mengalir tanpa dia ketahui, sungguh dia sangat terpukul kehilangan ayah dan ibu angkatnya itu.
"Aku anak lelaki lemah bernama Alexander Abraham, kamu ingat nama itu?, itu nama yang paling keren yang kumiliki dari orangtuamu".
Wina menatap Alex tidak percaya, nama itu adalah nama yang dia berikan kepada anak kecil yang lebih tua 3 tahun dari nya saat dia masih kecil, ayahnya sengaja mengganti nama seorang anak laki-laki untuk identitas baru karena dia selalu dibully dan ayahnya lah yang mengangkat dan menanggung biaya sekolahnya.
Dia diminta oleh ayahnya untuk memberikan nama yang bagus untuk anak angkat ayahnya yang tak pernah dia ingat wajahnya, karena anak itu dikirim ke sekolah asrama saat itu juga.
"Iya nama itu melekat padaku dengan identitas baru, kamu tahu ibuku sangat menyukai nama itu dan jika dia bertemu denganmu dia pasti sangat senang".
"Kamu kak Abraham?? ". Tanyanya masih tidak percaya.
Sejak tadi dia merasa aneh dengan nama yang disebutkan oleh pembantu yang menemaninya tadi, pantas saja nama itu terasa familiar dan tidak asing baginya.
"Ya aku Abraham, tapi orang-orang lebih mengenalku dengan nama Alexander ".
Mata Wina berkaca-kaca, sejak dulu dia ingin bertemu dengan lelaki yang menjadi kakak angkatnya itu tapi tak pernah bisa, entah apa tujuan ayahnya menjaga jarak lelaki itu dengannya padahal dia hanya ingin mengenalnya saja.
"Maaf karena tidak mampu menjaga kamu dan keluargamu dengan baik, saat itu aku belum semapan seperti saat ini, maafkan aku".
Dia sungguh menyesal terlambat hadir untuk menolong keluarga yang dulu menolongnya dan membuatnya bisa seperti sekarang.
"Tidak apa, semuanya sudah terjadi, Terima kasih telah datang menyelamatkan aku saat itu, aku tidak tahu bagaimana kami tanpa bantuanmu".
"Itu yang seharusnya aku lakukan sejak dulu Win, maaf karena terlambat, aku hanya seorang pemuda yang berjuang sendirian untuk memperbaiki hidup dan bisa sejajar denganmu".
Wina mengangguk tersenyum tipis, dia beruntung karena pada akhirnya dia bisa melihat pemuda yang menjadi anak angkat kebanggan sang ayah saat itu.
"Jadi bolehkan aku pergi kerumah sakit untuk melihat keadaan sahabat-sahabat dan juga anak-anakku?? ". Tanyanya masih kekeh ingin pergi.
Alex mendengus sekaligus mendelik kesal melihat sikap keras kepala Wina yang tidak pernah berubah sejak dulu.
"Tunggulah beberapa hari baru kamu kesana, kaki mu belum sembuh dari patahnya, jangan memaksakan diri, ingat kamu juga terluka".
Wina menghela nafasnya kesal, dia tidak berhasil membujuk lelaki dihadapannya ini untuk bisa mengizinkannya pergi.
"Baiklah". Pasrahnya dengan wajah cemberut
"Tunggu sebentar". Alex mengotak-atik televisi itu dan muncullah Leo dan juga Ratna.
Mata mereka terpaku melihat ada lelaki dewasa yang tampan berdiri tegak tengah memandangi mereka.
"Hallo, saya Alexander, kalian bisa mendengar suaraku dengan jelas?? ". Tanyanya memastikan jika suaranya sampai kepada keduanya.
Mereka berdua mengangguk dengan kening mengkerut karena tidak mengenal lelaki dihadapannya itu.
"Oh iya ada yang ingin berbicara dengan kalian, dia sedang marah padaku karena tidak mengizinkan nya pergi untuk bertemu kalian, kalian bisa membujuknya untuk tidak pergi karena dia sedang terluka pada kaki dan kepalanya".
Wina langsung bergerak cepat walau dirinya masih pusing, dia duduk didepan ranjang dan berusaha berdiri tapi oleng dan dipegang oleh maid dan didudukkan ke kursi doda dan membawanya mendekat kearah televisi.
"Wina". Teriak mereka berdua bersamaan.
Mata mereka berdua berbinar sambil berkaca-kaca melihat sahabat mereka ternyata masih hidup dan juga sehat walau dengan jelas mereka melihat kondisi Wina yang tidak jauh beda dari mereka.
"Kalian baik-baik saja? ". Tanya Wina dengan suara bergetar hebat.
Airmata nya jatuh tak tertahankan melihat sahabat nya yang selalu melindungi dan menjaganya.
"Kami baik-baik saja Win, jangan khawatir, kamu berada dimana?, sepertinya berada dirumah?? ". Tanya Ratna penasaran.
Wina menghapus air matanya sambil terkekeh pelan, Ratna memang memiliki daya analis hebat sekali lihat.
"Iya, aku berada di rumah tuan Alex, dia yang menolong kita semua saat kita berada di laut, aku dibawa kesini karena aku tidak terluka parah seperti kalian dan bisa dirawat dirumah".
Keduanya kini menatap Wina dengan nafas lega, mereka sungguh bersyukur ditengah bahaya yang mencekam mereka, ada bantuan yang tidak terduga yang mereka dapatkan.
"Aku ingin kesana tapi lelaki ini menahan ku dan tak membiarkanku pergi, aku harus pulih terlebih dulu baru bisa menjenguk kalian, maaf yah".
Keduanya mengangguk kemudian mengalihkan pandangannya pada lelaki tampan itu.
"Terima kasih telah menolong kami tuan Alexander, kamu sungguh berutang nyawa padamu". Leo mengatupkan kedua tangannya untuk berterima kasih begitu juga dengan Ratna.
"Tidak masalah, harusnya saya yang berterimakasih kepada kalian karena kalian selama ini menjaga Wina dengan sangat baik". Alex tersenyum tipis kepada keduanya.
Kening keduanya mengkerut, mereka tidak pernah mengenali siapa Alex padahal mereka sudah berteman sejak kecil terutama Leo.
"Apa aku mengenalmu tuan Alex?, seperti nya kamu sangat mengenal Wina? ". Tanyanya dengan penasaran
Sejujurnya sejak tadi dia ingin menanyakan hal itu tapi dia merasa sungkan takutnya Alex akan tersinggung dengan pertanyaan dirinya.
"Kalian tidak mengenalku dan ini pertama kalinya aku bertemu dengan kalian begitu juga dengan Wina tapi aku selalu berada di sekitar dirinya selama ini, dia tahu siapa aku kok".
Alex mengalihkan pandangannya kepada Wina dan tersenyum tipis, lelaki ini memang jarang tersenyum lebar kepada orang lain.
"Dia anak angkat ayah yang pernah aku ceritakan, aku punya saudara angkat tapi tak pernah bertemu, apa kamu ingat Leo? ".
Leo mengangguk pelan, dia memang pernah mendengar cerita itu dari Wina, sejak dulu dia memang penasaran sosok kakak angkat Wina itu dan inilah pertama kali mereka bertemu.
"Aku tidak menyangka kita akan bertemu dalam keadaan seperti ini". Leo terkekeh pelan mengingat bagaimana dia dan Wina sangat penasaran bagaimana rupa anak angkat dari ayah Wina itu.
"Ya seperti itulah, aku senang kalian semua baik-baik saja, oh iya katanya Ben sudah sadar, akan ku sambungkan kalian dengannya agar Wina tidak berminat pergi".
Keduanya tertawa pelan melihat wajah cemberut Wina yang dilarang untuk pergi itu.
"Sudahlah Wina, kamu masih belum pulih, jangan keras kepala". Ratna menatap sahabatnya itu dengan penuh peringatan.
Dia sangat tahu bagaimana keras kepalanya Wina jika dia memiliki keinginan.
"Kalian semua sama saja".