Arion adalah seorang pemuda biasa yang terobsesi dengan novel fantasi populer berjudul Magic Knight, ia bukan penggemar pahlawan suci kerajaan Ashford, namun seorang antagonis yang namanya samapersis Arion. Arion didalam cerita novel, merupakan seorang antagonis yang dikhianati oleh kerajaannya sendiri, ia putra mahkota yang dilengserkan karena alasan Arion terlalu kejam dan tidak layak untuk menduduki tahta, namun kenyataannya para petinggi istana taku akan kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arion Saga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Pedang Dan Reuni Di Sarang Pembunuh
...Arion terdiam cukup lama, matanya terpaku sejenak pada luka parut sepanjang delapan sentimeter yang membelah aris hingga pipi kiri Sebas-sebuah kenang-kenangan darinya.
Mendengar nama pedang itu bahu Sebas bergetar hebat. Secara refleks tangannya menyentuh luka lama di wajahnya.
Pikirnya melayang kembali ke beberapa tahun lalu, saat Arion masih menjadi Pangeran Mahkota yang gemilang di usia 17 tahun.
Kala itu, Sebas yang merupakan seorang pembunuh veteran, sudah percaya diri bisa membunuh Arion dengan satu serangan.
Namun ia takluk di hadapan kehebatan Pangeran Mahkota.
Setelah luka tebasan ia dapatkan di mata kirinya, Sebas tertunduk, membuat ia bisa melihat sosok penguasa sejati.
Saat itu, Arion bertarung sendiri melawan ratusan pasukan pemberontak.
Terdengar tak masuk akal, namun begitulah kenyataannya.
Kehebatan Arion kala itu ditakuti oleh petinggi istana.
Membuat ia harus dilengserkan secara paksa.
Sebas sebenarnya bisa membunuh Arion dengan bantuan jumlah pasukan dibelakangnya, namun ketika luka itu ia terima, ia melihat sosok Penguasa sejati yang tidak goyah dihadapan ratusan pasukan.
Hal ini membuat Sebas tunduk.
"Tuan Muda.." Sebas berbisik. Suaranya parau oleh antusiasme.
"Anda akan memegang pedang itu lagi? Setelah semua segel yang mereka pasang untuk menumpulkan taring anda?"
"Segel itu masih ada." Ucap Arion sambil mengepalkan tangan, mencoba merasakan sisa-sisa kekuatan yang dulu meluap-luap.
"tapi untuk mematahkan leher seekor tikus yang mencoba mencuri apa yang menjadi milikku pedang itu sudah cukup."
Sunder-soul Pedang Legendaris yang telah membantai ribuan nyawa... Tapi jujur pedang ini punya sejarah yang ngeri di tangan Arion. Semoga kekuatanku yang sudah di nerf ini masih bisa mengangkatnya dengan gaya keren.
Sebas bergerak ke markas lamanya The Nightshade.
Saat ia masuk suasana menjadi tegang. Puluhan pria berwajah sangar meletakkan gelas mereka, tangan mereka secara refleks meraba senjata. Di pojok ruangan. Seorang pria tua bermata satu bangkit dari tempat duduknya.
"Sebas? Si penghianat yang memilih jadi pelayan Pangeran jatuh itu akhirnya kembali... Bahkan kau masih menyimpan luka memalukan itu."
ejek salah satu anggota yang tidak ikut hadi dalam pertempuran berdarah itu.
Tanpa satu katapun Sebas bergerak. Dalam kedipan mata, ia sudah berada di belakang pria itu dengan belati yang sudah menempel ke lehernya.
"jangan sebut nama Tuanku dengan mulut kotor mu. Kau bahkan tidak hadi dalam pertempuran itu, kau tidak akan pernah tau bagaimana terhormatnya luka ini."
ucap Sebas datar.
Ia menatap mantan anak buahnya yang lain.
"Aku butuh semua informasi pergerakan Kerajaan Beast. Dan cepatlah, atau kalian akan menjadi sasaran empuk saat pangeran kembali turun ke Medan perang dengan pedangnya."
Pria tua itu tertawa getir.
"Jadi sang iblis telah bangun dari tidurnya? Baiklah Sebas, untukmu informasi ini gratis. Tapi beritahu kami apakah dia masih sekejam dulu...?"
Sebas hanya tersenyum tipis
"Dia jauh lebih mengerikan sekarang. Karena kali ini, dia sedang mengincar sesuatu yang sangat berharga bagi musuhnya."
***
Di dalam kereta kuda yang melaju cepat menembus kegelapan hutan menuju perbatasan barat. Eric menatap Elara yang tak sadarkan diri karna sihir bius dengan tatapan terobsesi. Disampingnya, para tetua dan ksatria beast tertawa rendah.
"Kau benar Eric. Arion yang kita temui tadi hanyalah sisa-sisa kejayaan masa lalu." ujar salah satu petinggi Beast sambil membelai janggutnya.
"Aura tadi mungkin hanya gertakan terakhir dari Pangeran yang sudah membusuk. Pasukannya bahkan tidak sampai seratus orang. Kerajaan ini benar-benar sudah sekarat"
Eric menyeringai puas.
"aku sudah bilang, Arion sudah tamat sejak para petinggi melucuti kekuasaanya. Dia hanya pemuda angkuh yang terjebak delusi masa lalu. Dengan menyerahkan Putri kepada Pangeran Ashford, kita akan mendapatkan aliansi yang lebih menguntungkan dari pada terikat dengan sampah seperti dirinya."
Disudut kereta, seorang ksatria veteran Boris-pria dengan tubuh penuh luka perang-hanya terdiam dengan wajah pucat.
Tangannya yang memegang gagang pedang bergetar hebat.
"Kalian tidak mengerti..." Gumam Boris pelan suaranya parah.
"Ada apa Boris?" Kau takut pada pangeran yang kehilangan taringnya itu?" Tawa Eric meremehkan.
"Aku ada disana..tujuh tahun lalu dipadang rumput, aku diperintahkan untuk ikut dalam misi melengserkan Pangeran Arion. Sebas yang memimpin Ratusan Ksatria elit dan tentara bayaran untuk menyergap Arion. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Pangeran Arion yang saat itu masih remaja, membelah formasi tempur kami seolah hanya tumpukan jerami." Boris menari nafas gemetar.
"Dan Sebas... Pria tua yang menodongkan belati ke lehermu, dia adalah monster yang tidak bisa di sentuh oleh sepuluh pasukan elit sekaligus. Jika Arion sudah menghunuskan pedang hitamnya, tidak ada tempat untuk bersembunyi di dunia ini."
Eric mendengus memutar bola matanya.
"Itu dulu Boris, dia sekarang sudah melemah. dan apa? Sebas? Jika aku tidak memikirkan kehormatan Tuan Putri Elara sudah ada pertempuran darah disana. akan aku tambahkan luka parut di sebelah matanya."
"orang-orang itu tidak akan benar-benar melemah Eric." bisik Boris memeluk pedangnya erat-erat.
Di waktu tepat setelah rombongan dari Kerajaan Beast pergi.
Halaman belakang kastil Arion yang nampak sepi, suasana berubah mencekam.
"kau dengar itu sebas..."
"anak muda zaman sekarang benar-benar congkak."
"Sebas, berapa lama sampai mereka tiba di perbatasan barat?"
"20 menit dari sekarang tuan."
"baiklah." Arion menyeringai.
Ia menatap kegelapan hutan didepannya.
"Mereka pikir aku hanya memiliki beberapa pasukan di gerbang "
Arion kemudian menjentikkan jarinya.
Seketika dari balik bayangan pohon, dari bawah tanah, dan dari atap bangunan. Sosok-sosok dengan baju zirah hitam legam muncul satu persatu.
Tanpa suara.
Mereka tidak bergerak seperti prajurit biasa; gerak-gerik mereka seperti predator yang menyatu dengan alam.
Inilah ordo Black Knight. Unit Elit yang dibangun Arion secara rahasia sebelum ia dilengserkan.
Mereka adalah knight yang tidak ada dalam catatan kerajaan manapun.
"Pergilah kalian tidak perlu lagi bersembunyi dalam kegelapan." Perintah Arion dengan nada dingin menusuk.
"Tunjukan pada mereka bahwa singa yang terluka tetaplah seekor singa. Dan jangan biarkan ksatria lancang itu menyentuh seujung rambut pun dari tunanganku."
"Dunia sepertinya lupa siapa aku "
Sial ini gayaku banget. Batin Arion sambil menahan gemetar tangannya karna terlalu antusias.
Tapi kalau dia melukai Elara dan kuping imutnya aku bersumpah akan membuat Eric menyesal pernah terlahir ke dunia.
Bersambung ...