Keluarga Arini dan Rizky tampak sempurna di mata orang lain – rumah yang nyaman, anak yang cerdas, dan karir yang sukses. Namun di balik itu semua, tekanan kerja dan harapan keluarga membuat Rizky terjerumus dalam hubungan selingkuh dengan Lina, seorang arsitek muda di perusahaannya. Ketika kebenaran terungkap, dunia Arini runtuh berkeping-keping. Novel ini mengikuti perjalanan panjang mereka melalui rasa sakit, penyesalan, dan usaha bersama untuk memulihkan kepercayaan yang hancur, serta menemukan makna cinta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elrey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN PERTAMA LINA DENGAN RIZKY
Tiga bulan yang lalu
Pintu kantor Rizky terbuka perlahan, mengganggu kesunyian ruangan yang hanya diisi suara kipas angin dan klik keyboardnya.
Seorang wanita muda berdiri di ambang pintu, tangan menggenggam amplop berisi surat lamaran kerja dan portofolio yang tebal.
Rambut pirangnya diikat rapi dengan ikat kepala warna biru muda, membuat wajahnya yang sedikit gugup terlihat lebih ceria.
"Maaf Pak, bolehkah saya masuk?"
Rizky mengangkat kepalanya, melihat wanita yang berdiri di sana dengan tatapan yang penuh rasa ingin tahu.
Dia segera berdiri dan menunjukkan kursi di depan mejanya. "Tentu saja. Silakan duduk. Kamu adalah...?"
"Saya Lina Saraswati, Pak. Saya melamar posisi arsitek muda di perusahaan ini." Lina duduk dengan hati-hati, meletakkan amplop di atas meja kayu yang besar. Tangan kirinya sedikit gemetar karena gugup.
Rizky mengambil portofolionya dengan lambat, membukanya satu per satu.
Wajahnya yang awalnya biasa saja perlahan berubah menjadi kagum saat melihat desain-desain yang dibuat wanita muda ini – mulai dari rumah tinggal modern hingga kompleks perkantoran yang ramah lingkungan.
Setiap karya memiliki sentuhan kreatif yang unik dan solusi teknis yang tepat.
"Kamu lulus dari mana, Lina?" tanya Rizky tanpa mengangkat mata dari portofolio.
"Saya lulus dari Fakultas Arsitektur Universitas Indonesia, Pak, kemudian melanjutkan studi magang selama satu tahun di Jepang." Jawaban Lina terdengar jelas dan tegas meskipun dia masih merasa gugup.
"Saya juga pernah bekerja sebagai asisten arsitek di perusahaan kecil selama setahun sebelum melamar di sini."
Rizky akhirnya menatapnya langsung, melihat mata coklat muda yang penuh dengan semangat dan harapan.
"Desain-desainmu sangat baik, Lina. Khususnya yang untuk kompleks perumahan ramah lingkungan – ide kamu tentang sistem pengelolaan air hujan sangat inovatif."
Lina merasa hati menjadi lega mendengar pujian itu. "Terima kasih banyak, Pak. Saya selalu berusaha membuat desain yang tidak hanya indah secara visual, tapi juga bermanfaat bagi pengguna dan lingkungan sekitar."
Rizky mengangguk dengan senang. Dia sudah wawancara dengan tiga calon arsitek sebelumnya, tapi tidak ada satu pun yang memberikan kesan seperti Lina.
Selain karya yang berkualitas, dia melihat semangat kerja dan dedikasi yang kuat di dalam dirinya – sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh perusahaan saat ini.
"Saya akan merekomendasikan kamu untuk bergabung dengan tim kita, Lina. Kamu akan mulai bekerja minggu depan ya? Ada proyek besar yang akan kita kerjakan dan butuh orang-orang berbakat seperti kamu."
Lina langsung berdiri dan menjabat tangan Rizky dengan erat. Wajahnya bersinar penuh kegembiraan.
"Terima kasih banyak, Pak! Saya akan bekerja dengan sebaik-baiknya dan tidak akan mengecewakan perusahaan!"
Rizky tersenyum melihat kegembiraannya. "Baiklah, kamu bisa menghubungi bagian SDM untuk mengurus administrasi. Selamat bekerja, Lina."
*****
Kembali ke masa kini
Suara dering ponsel membuat Rizky terkejut dari kenangannya.
Dia melihat layar ponselnya – ada tiga panggilan yang terlewat dari Rina, kakaknya yang juga menjadi direktur di perusahaan tersebut. Dia segera menelepon kembali.
"Rizky, dimana kamu? Kita punya masalah dengan klien proyek gedung baru!" Suara Rina terdengar tegang dari sisi lain.
"Ada apa, Kak? Saya baru saja selesai bertemu dengan Lina untuk membahas revisi desain."
"Klien tidak setuju dengan perubahan yang kamu usulkan! Mereka bilang kita telah mengubah desain tanpa persetujuan resmi dan mengancam untuk membatalkan kontrak!"
Rizky merasa kepalanya menjadi berat. Itu adalah berita buruk yang paling tidak diinginkannya.
"Tapi kita hanya melakukan revisi kecil untuk meningkatkan kekuatan struktur dan menghemat biaya, Kak. Saya pikir itu akan disukai mereka."
"Kamu seharusnya menghubungi saya atau Pak Hadi terlebih dahulu sebelum melakukan perubahan apapun!" Rina menarik nafas dalam-dalam.
"Baiklah, kita akan mengadakan rapat darurat besok pagi pukul 08.00. Pastikan kamu dan Lina hadir dengan semua data dan penjelasan yang jelas. Kita harus menyelamatkan proyek ini."
Setelah panggilan telepon berakhir, Rizky langsung menghubungi Lina. Dia tahu bahwa wanita muda itu juga akan merasa sangat tertekan mendengar berita ini.
"Lina, ada masalah dengan klien. Mereka tidak setuju dengan revisi desain kita dan mengancam membatalkan kontrak."
Suara Lina di sisi lain terdengar sangat terkejut. "Tidak mungkin, Pak Rizky. Kita sudah melakukan yang terbaik untuk proyek ini."
"Saya tahu itu, Lina. Tapi kita harus siap menjelaskan semuanya besok pagi. Bisa kamu datang lebih awal besok? Kita perlu menyusun kembali presentasi dan mencari solusi yang bisa diterima oleh klien."
"Baiklah Pak Rizky. Saya akan datang pukul 06.00 pagi. Kita akan bekerja sama untuk menyelesaikan masalah ini."
Setelah memutuskan panggilan, Rizky melihat jam di dasbor mobil – sudah hampir tengah malam.
Dia tahu bahwa jika dia pulang sekarang, pasti akan mengganggu tidur Arini dan Tara. Selain itu, dia merasa perlu untuk berpikir tenang dan menyusun beberapa poin penting untuk rapat besok.
Dia memutuskan untuk pergi ke rumah kosong milik keluarga yang terletak tidak jauh dari lokasi proyek.
Rumah itu jarang digunakan kecuali saat ada tamu keluarga yang datang dari luar kota. Di sana dia bisa bekerja dengan tenang tanpa mengganggu siapa pun.
Ketika dia sampai di rumah kosong itu dan membuka pintunya, dia terkejut melihat Lina sudah ada di sana. Wanita muda itu duduk di teras depan dengan membawa laptop dan beberapa berkas.
"Lina? Apa kamu lakukan di sini?"
"Saya merasa tidak bisa tidur dengan tenang, Pak Rizky. Jadi saya pikir kita bisa mulai bekerja lebih awal saja." Lina berdiri dan tersenyum lembut. "Saya juga membawa kopi panas dan beberapa roti untuk kita makan."
Rizky merasa hati menjadi hangat melihat perhatiannya. Di tengah kesusahan seperti ini, ada seseorang yang bersedia bekerja sama dengan dia tanpa pamrih membuatnya merasa lebih kuat.
Mereka memasuki rumah dan langsung bekerja di ruang tamu yang luas namun sepi.
Selama beberapa jam mereka bekerja bersama – menyusun data, membuat presentasi baru, dan mencari solusi yang bisa memenangkan kepercayaan klien kembali.
Kadang mereka bekerja dalam keheningan yang nyaman, kadang berdiskusi dengan penuh semangat tentang ide-ide baru.
Saat matahari mulai menunjukkan warna jingga di ufuk timur, mereka akhirnya menyelesaikan presentasi yang baru. Lina menarik nafas panjang dan menguapkan wajahnya yang sudah lelah.
"Kita bisa melakukan ini, Pak Rizky. Saya yakin klien akan menyetujui solusi baru kita."
Rizky melihat wajahnya yang lelah namun tetap penuh semangat. Tanpa sadar, tangannya menjangkau tangan Lina dan memegangnya dengan lembut. "Terima kasih banyak, Lina. Tanpamu, saya tidak akan bisa melakukan ini sendirian."
Lina tidak menarik tangannya kembali. Sebaliknya, dia melihat langsung ke mata Rizky dengan ekspresi yang dalam.
Kedua mereka terdiam dalam beberapa detik, merasakan hubungan khusus yang tumbuh di antara mereka – sesuatu yang sudah melewati batasan hubungan antara bos dan karyawan.
Rizky segera menyadari apa yang terjadi dan melepaskan tangannya dengan cepat. "Maaf, Lina. Saya tidak seharusnya..."
"Tidak apa-apa, Pak Rizky." Lina tersenyum lembut namun penuh makna. "Saya juga merasa hal yang sama."
Kedua mereka tahu bahwa mereka sedang berdiri di ambang jurang yang berbahaya. Namun godaan untuk terus berada bersama, untuk merasakan pemahaman dan dukungan yang mereka berikan satu sama lain, semakin sulit untuk ditolak.