NovelToon NovelToon
Sentuhan Panas Sang Dokter

Sentuhan Panas Sang Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Obsesi / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Dokter / Dark Romance
Popularitas:14.6k
Nilai: 5
Nama Author: dhya_cha7

"Jangan menghindar, Alana..."

dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.

Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.

"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Kopi Hitam dan Jerat Obsesi

Pesan singkat dari Dokter Raden seperti vonis kematian dari hakim bagi Alana.

Layar ponsel yang masih menyala di genggamannya terasa panas. Seolah amarah pria itu bisa merambat keluar melalui sinyal digital dan membakar kulitnya.

Dengan tangan yang gemetar hebat, ia berdiri di depan mesin kopi di pantry perawat.

Suara mesin kopi yang menderu pelan terdengar sangat bising, seperti suara gergaji mesin di telinga Alana yang sedang kalut.

Ia mencoba fokus, namun kepalanya masih berdenyut. Segalanya berputar-putar seperti gasing rusak.

Setiap kali ia memejamkan mata, bayangan ciuman panas di ruangan tadi kembali hadir tanpa diundang.

Belum lagi potongan memori memalukan di malam pesta itu. Saat ia kehilangan kendali di bawah pengaruh alkohol.

Memori itu terus menghantui pikirannya bak film horor yang diputar berulang-ulang tanpa tombol stop.

"Tenang Alana... santai... Ini cuma kopi. Tinggal antar... lalu pergi," bisiknya pada diri sendiri.

Suara lirihnya hampir hilang, tenggelam oleh suara detak jantungnya sendiri yang kian liar.

Namun, kenyataannya lututnya sudah terasa seperti jeli yang terkena air. Lemas, tidak bertenaga, dan siap jatuh kapan saja.

Alana menuangkan bubuk kopi hitam tanpa gula ke dalam cangkir porselen putih yang elegan.

Hitam dan pekat. Pahit seperti hidupnya yang sedang di ujung tanduk karena terlilit masalah dengan pria itu.

Aroma kopi yang tajam menusuk hidungnya, namun tidak mampu menenangkan syarafnya yang tegang.

Ia melangkah menuju ruangan dr. Raden dengan langkah yang dipaksakan.

Setiap derap langkah sepatunya di koridor yang sunyi seperti kuburan ini terdengar sangat nyaring.

Bagaikan detak jarum jam menuju tempat eksekusi mati bagi seorang pesakitan yang sudah pasrah.

Alana sempat berhenti sebentar di depan pintu kayu mahoni yang besar itu. Ia mencoba merapikan seragam perawatnya yang sedikit kusut.

Napasnya terasa sesak, seolah pasokan oksigen di rumah sakit ini tiba-tiba menipis hanya untuknya.

Sesampainya di depan pintu kayu kokoh itu, Alana menarik napas sedalam mungkin.

Tok! Tok!

"Masuk."

Suara berat nan menggoda Dokter Raden terdengar rendah dari dalam.

Suara itu terdengar dingin, penuh wibawa, dan memiliki daya magnet yang sangat kuat hingga membuat bulu kuduk Alana berdiri.

Alana masuk dengan kepala tertunduk dalam. Ia tidak berani menatap ke depan sedikit pun.

Ia bisa merasakan sepasang mata tajam pria itu mengikuti setiap pergerakannya sejak ia melewati ambang pintu.

Ruangan itu terasa jauh lebih dingin karena AC yang disetel maksimal, namun Alana justru merasa gerah dan berkeringat dingin.

Dengan tangan yang berguncang, ia meletakkan cangkir kopi di meja kerja yang mengkilap.

"Ini kopi Anda, Dokter. Saya permisi kembali dulu ke—"

"Duduk, Alana. Siapa yang menyuruhmu pergi?" potong Raden cepat tanpa jeda sedikit pun.

Pria itu bahkan tidak mengalihkan pandangan dari dokumen di hadapannya.

Pena di tangannya menari anggun di atas kertas, namun aura dominasinya memenuhi seluruh sudut ruangan.

"Aku tidak suka berbicara dengan orang yang terburu-buru ingin kabur dariku."

"Apa aku begitu menakutkan di matamu sampai kau tidak berani menatapku?" lanjutnya sambil perlahan mengangkat wajah.

Alana terpaksa duduk kaku di tepi kursi. Tangannya saling meremas di atas pangkuan untuk menutupi gemetarannya.

Suasana hening yang mencekam menyelimuti mereka selama beberapa saat. Hanya terdengar suara detak jam dinding yang seolah mengejek ketakutan Alana.

Tiba-tiba, Raden menutup dokumennya dengan suara dentuman yang cukup keras.

Alana tersentak kecil di kursinya saat pria itu bangkit dengan gerakan anggun seperti predator yang sudah siap menerkam.

Raden berjalan perlahan memutari meja kerja besarnya. Langkah kakinya yang berat terdengar sangat dominan.

Ia berhenti tepat di depan kursi Alana dan berdiri dengan angkuh.

"Kau terlambat lima menit, Alana Sayang," ucap Raden dengan nada tenang namun terasa sangat menusuk.

Ia mengambil cangkir kopi itu dan menyesapnya perlahan. Matanya tidak pernah lepas dari bibir Alana yang pucat.

"Kau tahu, aku adalah pria yang sangat menghargai waktu. Bagiku, waktu adalah uang."

"Dan bagimu, setiap detik keterlambatan... berarti ada konsekuensi yang harus kau tanggung."

"Dokter... sa... saya... minta maaf, saya tadi harus menyele—"

"Sttt... apakah kau bisa diam? Aku belum mengizinkanmu untuk membela diri."

Raden menempelkan jari telunjuknya yang hangat di depan bibirnya sendiri, memberi isyarat agar Alana bungkam.

Tiba-tiba, kedua tangan besar Raden mencengkeram lengan kursi Alana dengan sangat kuat.

Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, mengurung tubuh gadis itu di kursi. Raden menguncinya dari segala sisi.

Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentimeter saja. Alana bisa merasakan hembusan napas Raden di kulit wajahnya.

Aroma parfum maskulin mahal yang bercampur aroma kopi mulai merasuki indra penciuman Alana, melumpuhkan logikanya.

"Malam itu... apakah kau masih benar-benar ingat kejadian di balkon? Kau begitu liar, Alana."

"Kau merenggut seluruh kewarasanku dengan bibirmu yang memabukkan itu. Kau mencurinya dariku."

"Sekarang kau berlagak seolah tidak terjadi apa-apa? Apa kau pikir semua itu bisa dibayar hanya dengan secangkir kopi pahit ini?"

Jemari Raden yang panjang mulai menyentuh tengkuk Alana secara perlahan. Memberikan sensasi sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

Ia menarik kepala gadis itu sedikit mendongak, memaksa Alana menatap kilatan gairah dan amarah di matanya.

Raden semakin mendekatkan wajahnya ke ceruk leher Alana. Ia menghirup dalam-dalam aroma manis yang selalu membuatnya gila.

"Dokter... ja... jangan... seperti ini... seseorang bisa kapan saja masuk ke sini..." bisik Alana parau.

Suaranya hampir tidak keluar. Ia mencoba mendorong dada Raden, namun tubuh pria itu terasa sekeras batu karang.

"Kamu tenang saja Sayang... aku sudah mengunci pintunya dengan sangat rapat. Tidak akan ada yang berani mengetuk pintu ini."

"Jadi jangan banyak bicara lagi. Terimalah hukumanmu karena telah membuatku menunggu terlalu lama..."

Sedetik kemudian, Raden memberikan tanda kepemilikan yang sangat tegas di leher jenjang Alana yang putih mulus.

Alana memekik tertahan. Tangannya meremas kemeja mahal Raden hingga kusut masai, mencari pegangan karena kakinya terasa melayang.

"Dokter... hmmm... Dokter... cukup..."

Alana mendongak dengan napas terengah-engah. Matanya terpejam rapat, menikmati sensasi yang seharusnya ia tolak.

Tubuhnya seolah berkhianat. Meski otaknya menyuruh lari, namun jantungnya justru berpacu liar mengikuti irama yang diciptakan Raden.

Raden semakin berani. Ia merengkuh pinggang Alana secara posesif dan menariknya berdiri hingga tubuh mereka menempel tanpa jarak.

Alana bisa merasakan detak jantung Raden yang sama kencangnya dengan miliknya di balik seragam mereka.

"Mulai besok kau akan menjadi asisten pribadiku. Aku sudah mengatur semua urusanmu dengan kepala perawat."

"Kau milikku sepenuhnya, Alana. Hanya milik seorang Raden Ganendra. Kau tidak punya pilihan lain."

Raden menatap mata Alana yang sayu dengan tatapan yang seolah ingin menelan gadis itu hidup-hidup.

"Tubuhmu, napasmu, bahkan sisa hidupmu... aku ingin kau memberikannya hanya untukku seorang. Katakan kau mengerti!"

Alana hanya bisa mengangguk lemah dalam dekapan pria itu. Ia benar-benar tidak berdaya di bawah kendali sang dokter.

Tanpa menunggu jawaban lebih lanjut, Raden kembali membungkam bibir Alana dengan ciuman yang jauh lebih menuntut.

Di dalam ruangan yang kedap suara itu, hanya terdengar suara napas yang memburu dan detak jantung yang saling beradu.

Alana benar-benar telah terjebak di dalam sangkar emas milik iblis tampan yang tak akan pernah melepaskannya lagi.

******

Catatan Penulis:

Gila! Dokter Raden bener-bener nggak kasih Alana napas ya! 😱 Menurut kalian, ini hukuman atau modus nih?

Yuk, dukung terus perjalanan Alana dan si Dokter posesif ini:

LIKE & FAVORITKAN biar nggak ketinggalan bab selanjutnya!

KOMEN dong, kalian baper nggak sama kelakuan Dokter Raden tadi?

1
Rikawaii San
ceritanya bagusss
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
lawan mereka Alana jangan takit💪🤗
julid banget jadi perawat
bagus Alana 😍lawan suster julid itu
mangkanya jangan mabuk alana😍🤣
😄🤭
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya yaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
jadi makin penasaran sama kelanjutannya thorrr😭😭🤗🤗💪, semangat Alana💪💪💪,semoga Raden benar benar penempati janji nya nyaa
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat plot twist ygu
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
plisss uppp lagiii
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
wow sangat sangat plot twist sekali yaa😍
muna aprilia
lanjut
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
suster Mia gak ada kapok kapok nya yaa😤😤😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ku pikir ibu nya benaran meninggal ternyata oh ternyata 😤
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
hahahaahhahah😄😄😄😄
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
suster Mia benar benar menyebalkan😤😏
dhya_cha7: "Hahhaha.. iya bener banget nih, Suster Mia emang hobinya jadi obat nyamuk ya! 😂 Eh iya, aku juga mau ngucapin terima kasih banyak buat gift kopinya, hehehe lumayan banget buat asupan tenaga buat ngadepin dr. Raden yang makin nakal di bab depan. Stay tune terus ya, Kak!! ❤️🔥"
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
ceritanya bagus seru lagi
dhya_cha7: "Makasih ya sudah baca! Itu baru pemanasan loh, bab ke depannya bakal makin seru dan panas. Jadi, stay tune terus ya bareng dr. Raden! 🔥❤️"
total 1 replies
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
😄😄😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!