Di dunia kultivasi yang dipenuhi ambisi dan pengkhianatan, Lin Feiyan terlahir tanpa emosi—sebuah “kekosongan hidup” yang seharusnya membuatnya lemah. Namun kekosongan itu berubah menjadi sumber kekuatan paling menakutkan: Dao Kehampaan, hukum yang dapat menghapus apa pun hingga tak tersisa.
Ketika Heartshatter Temple—tempat yang membesarkannya—menghancurkan tubuh dan jiwanya demi eksperimen, Feiyan bangkit kembali tanpa hati, tanpa rasa takut, dan tanpa batas.
Dengan teknik yang menelan cahaya, ingatan, dan keberadaan, ia melangkah di jalur kultivasi yang bahkan para dewa tidak berani sentuh.
Namun di balik kehampaannya, ada rahasia kelam tentang kelahirannya… rahasia yang bahkan Void sendiri tidak mampu sembunyikan.
Satu langkah demi satu pembantaian, Lin Feiyan naik melewati ranah mortal hingga immortal.
Bukan untuk balas dendam.
Bukan untuk kekuasaan.
Tapi karena kekosongan selalu lapar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demon Heart Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Api yang Hangat
Malam itu sunyi. Cahaya bulan menembus celah-celah awan tipis, memantul pada halaman belakang Sekte Awan Jernih dengan lembut. Lampu-lampu batu spirit di tepi halaman memancarkan cahaya hangat, jingga dan kuning lembut, menciptakan pola bayangan yang menari di atas tanah dan bebatuan. Suara angin malam menyapu dedaunan, menghembuskan aroma tanah basah dan embun yang baru turun.
Lin Feiyan duduk bersila di tengah halaman, jubah putihnya sedikit kusut setelah latihan sore. Ia menarik napas panjang, menutup mata, dan mencoba menyesuaikan aliran Qi lembah dengan napasnya. Langkah-langkah dasar yang ia pelajari kemarin berputar di dalam pikirannya—masuk, turun, mengalir, keluar. Ia berusaha keras agar aliran Qi lebih lancar, lebih natural.
Namun malam itu terasa berbeda. Angin panas tipis menyapu wajahnya, tidak wajar untuk malam yang sejuk. Feiyan membuka mata, terkejut. Ia melihat bayangan bergerak di tepi halaman, di antara pohon-pohon willow spiritual. Dari balik cabang dan cahaya lampu, seorang gadis muncul—berambut merah lembut, mata keemasan yang bersinar seperti bara api. Sosoknya membawa aura hangat yang membuat udara di sekitarnya terasa berbeda.
Gadis itu tersenyum, senyum nakal yang membuat Feiyan merasa jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. “Junior,” katanya lembut namun penuh godaan, “kau rajin sekali… sendirian di malam begini?”
Feiyan membeku sejenak, kemudian membungkuk sopan. “Selamat malam, senior. Aku hanya ingin berlatih sedikit.”
“Sendirian?” ulang gadis itu sambil melangkah lebih dekat. Panas yang berasal dari tubuhnya membuat malam sejuk itu terasa hangat di sekitar Feiyan. “Hmm… tidak masalah. Aku senang melihat junior yang berdedikasi.”
Feiyan menelan ludah, wajahnya memerah. Ia tetap mencoba tersenyum sopan, walau jantungnya terasa aneh. Gadis itu bergerak lebih dekat, cahaya lampu batu memantul di rambut merahnya, membuat helaian itu terlihat seperti api yang menari.
“Potensimu tidak buruk, lho,” ucap Yan Mei sambil mencondongkan kepala, menatap dada dan bahu Feiyan dengan mata keemasan yang menyorot tajam. “Tubuhmu merespon Qi dengan cara yang… menarik.”
Feiyan salah tingkah. “Ehm… maksudnya…?”
Yan Mei tertawa kecil—manis, tapi ada kilatan nakal yang sulit dijelaskan. “Aku hanya bilang… aku suka memperhatikan gerakan Qi yang alami. Kau tidak sadar, tapi ada hal-hal menarik tentang cara tubuhmu bekerja.”
Feiyan menggeleng cepat, wajahnya semakin memanas. “Aku… aku hanya mencoba latihan biasa.”
“Tentu saja, tentu saja,” lanjut Yan Mei sambil melangkah pelan, jarak mereka semakin dekat. “Tapi aku bisa membantumu, junior. Mengoreksi posturmu. Agar aliran Qi-mu lebih lancar.”
Feiyan terkejut. Ia menatap wajah Yan Mei—mata emas itu, senyum yang manis tapi menohok, dan aura panas yang terasa hingga punggungnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa selain menelan ludah.
“Ehm… aku… aku tidak ingin merepotkanmu,” akhirnya ia berkata pelan.
Yan Mei tertawa ringan, suara itu seperti nyanyian api yang menari di malam sepi. “Jangan canggung. Aku hanya ingin membantu. Lagipula… siapa yang bisa menolak junior secerdas dan seimut dirimu?” Ucapannya jelas menggoda, meski dibungkus pujian manis.
Feiyan merasa dadanya hangat, tidak nyaman tapi tidak menyakitkan. Ia tetap mencoba menunduk sopan. “Aku… aku belum tahu caranya dengan benar.”
“Tenang saja,” kata Yan Mei sambil mencondongkan tubuh ke belakang sedikit, mengamati aliran Qi Feiyan dari jarak dekat. “Aku akan tunjukkan.”
Tanpa terasa, Yan Mei merentangkan tangannya ke arah punggung Feiyan, seolah ingin memperbaiki postur latihan pernapasan itu. Feiyan menegang, menahan napas, tetapi gadis itu hanya menyentuhnya dengan lembut—tidak kasar, tidak memaksa, hanya membimbing.
“Begini…” suara Yan Mei lirih di telinganya. Tubuhnya dekat, panasnya terasa samar. “Tarik napas… rasakan Qi mengalir ke seluruh tubuh. Jangan terlalu tegang. Lepaskan… biarkan mengalir.”
Feiyan menutup mata sejenak, mencoba mengikuti instruksi itu. Ia merasakan tangan Yan Mei di punggungnya, lembut namun hangat, seperti membakar rasa gugupnya menjadi energi yang lebih ringan. Napasnya mengikuti ritme yang dianjurkan, dan untuk pertama kali malam itu, aliran Qi terasa sedikit lebih lancar.
“Apa… kau merasa lebih baik?” tanya Yan Mei sambil melangkah sedikit ke samping, tetap menatapnya dengan mata emasnya yang bersinar. Ada kegembiraan kecil di sorot matanya—menyaksikan Feiyan tersentuh oleh kehadirannya.
Feiyan membuka mata, wajahnya memerah. “Iya… sedikit.”
Yan Mei tersenyum lagi, sedikit nakal. “Hah… itu baru awal. Aku yakin kau bisa lebih baik lagi.” Ia mencondongkan kepala, menyentuh ujung bahu Feiyan dengan jarinya secara ringan, hanya untuk membimbing. Feiyan menahan napas, merasa hangat dari sentuhan itu. Matanya melebar, jantungnya berdetak lebih cepat, tetapi ia tetap tidak tahu harus merespons apa selain mengikuti gerakan yang diarahkan Yan Mei.
“Bagus,” gumam Yan Mei. Suaranya pelan tapi terasa dekat. “Kau belajar cepat, junior. Malam ini… kita bisa membuat tubuhmu lebih hidup dengan sedikit latihan tambahan. Tapi… tidak terlalu banyak. Aku ingin kau tetap sehat besok pagi.”
Feiyan menelan ludah, bingung dan gugup. Ia mengangguk kecil, mencoba menenangkan diri. “Aku… akan berusaha.”
Yan Mei melangkah mundur sedikit, menatapnya penuh api halus. “Bagus… sekarang istirahat sebentar. Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Aku akan tetap di sini jika kau butuh bantuan.”
Angin malam berhembus kembali, membawa aroma lampu batu dan daun basah. Cahaya bulan memantul di rambut merah Yan Mei, membuatnya terlihat seperti nyala api yang menari. Feiyan masih duduk di sana, wajahnya memerah, jantungnya berdetak cepat, tetapi ada rasa hangat yang menenangkan—bahkan ketika bingung oleh keintiman itu.
Ia sadar, meski tidak sepenuhnya mengerti, bahwa kehadiran Yan Mei membuat malam itu terasa lebih hidup, lebih hangat, dan lebih menggoda daripada malam-malam sebelumnya. Sensasi itu membingungkan, namun ia tidak ingin menolaknya. Ada rasa aman yang aneh dari gadis berambut merah itu, meski semuanya bercampur dengan rasa malu dan kagum yang tidak biasa.
Feiyan menatap Yan Mei yang duduk di ujung halaman, tersenyum nakal, memandangnya seperti seorang guru bermain-main dengan murid yang polos. Malam itu, meski hanya beberapa menit berlalu, benih rasa penasaran dan kehangatan mulai tumbuh di dada Feiyan. Api kecil itu menyala—hangat, menggoda, dan berbahaya dalam kesunyian malam Sekte Awan Jernih.
Feiyan masih duduk di batu datar, napasnya mulai lebih tenang. Namun kehadiran Yan Mei di dekatnya membuat seluruh tubuhnya tetap tegang dengan rasa hangat yang aneh. Gadis itu duduk di sisi lain batu, jaraknya sangat dekat—cukup dekat untuk membuat aliran Qi Feiyan sedikit terganggu, meski ia tidak sepenuhnya menyadarinya.
Yan Mei mencondongkan tubuh, menatap tangannya yang diletakkan di atas lutut Feiyan. Dengan gerakan lembut, ia mengambil tangan Feiyan tanpa izin. Tangan gadis itu hangat, dan saat menyentuh pergelangan tangannya, Feiyan menelan ludah, wajahnya memerah. Ia tidak tahu harus menatap mata Yan Mei atau menunduk.
“Nadimu cepat,” gumam Yan Mei sambil tersenyum nakal. “Apakah… karena aku?”
Feiyan membeku. Ia menunduk, tidak tahu harus menjawab apa. Suara hatinya berdebar keras, namun ia tetap mencoba bersikap sopan. “Ehm… tidak… aku rasa…”
Yan Mei tertawa kecil, manis tapi menggoda. “Aku hanya bercanda,” ucapnya, tapi matanya tetap terang, penuh api halus yang menembus pandangan Feiyan. “Tapi… aku senang melihat reaksimu.”
Feiyan menelan ludah lagi. Hatinya terasa aneh, antara gugup, malu, dan hangat. Ia tidak pernah merasakan perhatian seperti ini sebelumnya. Ada sesuatu di sekitar Yan Mei yang membuatnya merasa aman, namun juga membingungkan.
Yan Mei mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menatap dada Feiyan. “Aku rasa dalam dirimu ada percikan api kecil,” ucapnya, suaranya lembut, tapi penuh keyakinan. “Kalau kau merawatnya dengan benar… api itu bisa menjadi sesuatu yang sangat indah.”
Feiyan menatapnya, terharu. Kata-kata itu seperti lilin kecil yang menyalakan harapan dalam hatinya. Tidak banyak orang yang percaya padanya, apalagi menyebut potensinya ‘indah’. Hatinya bergetar. “Aku… aku tidak tahu harus bagaimana…” suaranya pelan.
Yan Mei menoleh, matanya menyala dengan api halus yang membuat wajah Feiyan memanas. “Itu sebabnya aku di sini,” katanya sambil tersenyum. “Aku akan membantumu.”
Tanpa menunggu jawaban, Yan Mei menggeser duduknya ke belakang Feiyan, tetap sangat dekat. Ia menempatkan tangannya di pundak Feiyan, lalu memandu gerakan tubuhnya agar aliran Qi lebih cepat dan lancar. Sentuhannya halus—lebih seperti membimbing daripada menyentuh, tetapi cukup membuat Feiyan merasakan panas samar di punggungnya, perasaan yang membuatnya bingung apakah itu Qi atau kehadiran Yan Mei.
Feiyan menelan ludah, mencoba fokus pada napas dan aliran Qi, tetapi panas itu terus mengalir, membuat dadanya hangat. Yan Mei menepuk lembut bahunya. “Tarik napas… lepaskan… biarkan Qi bergerak bersamaku.” Suaranya berbisik di dekat telinga Feiyan, membuat jantungnya berdetak lebih cepat.
Feiyan menutup mata, berusaha mengikuti ritme yang diberikan Yan Mei. Perlahan, ia mulai merasakan panas kecil yang bukan berasal dari latihan semata. Ada rasa kehangatan yang berbeda, bercampur dengan energi Qi yang mulai mengalir lebih lancar. Ia masih belum mengerti sepenuhnya, tapi ia merasa nyaman, meski canggung.
Yan Mei tersenyum, menikmati reaksi itu. Ia mencondongkan kepala sedikit lebih dekat, hampir menyentuh telinga Feiyan. “Aku akan mengawasi perkembanganmu,” bisiknya lembut, seakan rahasia yang hanya mereka berdua tahu.
Feiyan menunduk, wajahnya memerah. Ia merasa panas di seluruh pipi, malu dan bingung, tetapi hatinya tetap tenang. Sensasi itu aneh, namun tidak menakutkan. Hatinya yang polos justru merasa hangat dan aman.
Yan Mei menatapnya lama. Matanya memancarkan api yang lembut, bukan mengancam, tapi memikat—mengikat perhatian Feiyan tanpa paksaan. Setiap kali Feiyan menatapnya, ia merasa seolah berada di tengah bara api yang lembut: hangat, menggoda, namun berbahaya jika terlalu lama disentuh.
“Bagus… sekarang kau bisa merasakan aliran Qi lebih cepat, bukan?” tanya Yan Mei, suaranya masih manis, tapi ada nada tantangan lembut. “Ini baru permulaan. Jika kau berlatih bersamaku, api kecil dalam dirimu bisa tumbuh lebih besar.”
Feiyan mengangguk, masih menunduk, mencoba menyatukan perasaan gugup dan rasa kagum yang bercampur. “Iya… aku akan berusaha.”
Yan Mei tertawa kecil, suara itu seperti nyala api yang menari di malam sepi. “Kau lucu saat gugup. Tapi jangan khawatir… aku hanya ingin kau tumbuh.”
Dengan gerakan lembut, ia membimbing tangan Feiyan untuk memutar perlahan dalam ritme yang membuat aliran Qi lebih cepat. Feiyan merasakan panas samar di dadanya, campuran antara aliran Qi dan kehadiran Yan Mei. Hatinya berdetak kencang, tetapi ia tidak sepenuhnya menyadari asal kehangatan itu.
Yan Mei condongkan wajahnya lebih dekat lagi. Matanya emas bersinar samar dalam cahaya lampu spirit. “Aku akan selalu memperhatikanmu,” bisiknya pelan, nyaris seperti rahasia yang tersimpan antara mereka. “Jangan khawatir, junior.”
Feiyan menunduk, tidak mampu menatap mata Yan Mei. Ia hanya bisa merasakan sensasi hangat yang merayap ke seluruh tubuhnya, campuran rasa kagum, bingung, dan nyaman. Malam itu terasa seperti sebuah mimpi hangat yang terlalu nyata untuk ditolak.
Yan Mei mengangkat satu tangan, menepuk ringan kepala Feiyan—sentuhan kecil yang tidak menyakitkan, tetapi cukup untuk menandai kehadirannya dalam dunia Feiyan. Dalam hati, ia mengucapkan sumpah lembut yang tidak terdengar: Twin Flame Oath – Level 0. Hanya sebuah tanda awal, tanpa mengikat secara paksa, untuk menandai ketertarikan emosional yang baru muncul.
Sinar api merah kecil muncul di mata Yan Mei sebentar—kilatan yang cepat padam sebelum Feiyan sempat melihatnya. Ia tetap tersenyum manis, menyembunyikan niatnya di balik kepolosan dan kehangatan yang lembut. Feiyan tetap polos, tersenyum kecil, tidak tahu apa yang baru saja terjadi, hanya merasakan kehangatan yang membakar ringan di dadanya.
Malam itu, lampu spirit memantulkan bayangan mereka di tanah, menari seperti api kecil yang tidak pernah padam. Yan Mei duduk di samping Feiyan, jarak mereka hampir menyatu, namun semua terasa natural dan hangat. Api yang baru saja dinyalakan dalam hati Feiyan—hangat, menggoda, membingungkan—mulai tumbuh perlahan, tanpa ia sadari.
Ia tidak tahu bahwa malam itu, interaksi yang sederhana tapi penuh ketertarikan itu menanam benih yang akan membentuk jalan panjang emosinya. Api kecil itu mungkin terlihat tidak berbahaya, namun bagi Feiyan, itu adalah awal dari gelombang perasaan baru yang akan membawanya ke arah yang belum ia mengerti sepenuhnya.
Dan di dalam hatinya, Yan Mei tersenyum tipis, puas dengan tanda awal yang ia tanam—tanda yang akan tumbuh bersama Feiyan tanpa ia sadari, namun cukup untuk membuat malam itu berbeda dari malam-malam sebelumnya.