Di tengah kehidupan yang penuh hinaan dan kesulitan, Xiao Chen kecil hanya memiliki satu mimpi—menjadi pendekar pedang terhebat di dunia.
Tanpa bakat luar biasa maupun latar belakang kuat, ia menapaki jalan pedang dengan tekad yang tak pernah padam. Bagi Xiao Chen, pedang bukan sekadar senjata, melainkan guru yang mengajarkannya tentang rasa sakit, pengorbanan, dan arti kehidupan.
Namun di dunia tempat kekuatan menentukan segalanya, mampukah seorang anak dari keluarga buruk mengukir namanya hingga mengguncang langit dan bumi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Filosofi pedang
Xiao Chen mengulurkan tangannya yang gemetar. Saat jemarinya yang lecet menyentuh gagang pedang hitam berkarat itu, sebuah sensasi dingin yang tidak wajar merambat cepat, seolah ribuan jarum es menusuk langsung ke sumsum tulangnya.
Dunia di sekitarnya mendadak senyap. Suara serangga malam, desis angin, bahkan detak jantungnya sendiri seakan berhenti.
Dalam keheningan absolut itu, Xiao Chen merasakan tarikan gravitasi yang aneh. Ia mencoba mengangkat pedang itu, namun rasanya seolah ia mencoba mencabut akar pohon raksasa dari bumi. Beratnya luar biasa.
Namun, di balik rasa berat dan dingin itu, ada kehangatan yang kontradiktif. Sebuah perasaan familiar yang menyesakkan dada, seolah-olah pedang ini adalah bagian dari tubuhnya yang hilang berabad-abad lalu dan kini baru kembali.
"Haaah... haaah..." Xiao Chen terengah, melepaskan pegangannya sejenak. "Pedang apa ini? Dan siapa yang meninggalkan buku ini di tempat seperti ini?"
Ia beralih pada buku kuno yang tergeletak di samping kain pembungkus. Sampulnya kasar, seperti kulit hewan yang sudah mengering selama ratusan tahun.
Saat ia membukanya, ia tidak menemukan diagram teknik bela diri yang rumit atau gambar jurus yang megah. Hanya ada satu baris kalimat di halaman pertama.
Xiao Chen adalah anak desa yang buta huruf. Pendidikan adalah kemewahan yang hanya dimiliki anak-anak seperti Feng Lin.
Namun, saat matanya menatap goresan tinta itu, kepalanya berdenyut. Suara seorang pria: berat, dalam, dan penuh wibawa bergema di dalam batinnya, membacakan tulisan tersebut:
"𝗢𝗿𝗮𝗻𝗴 𝗹𝗲𝗺𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗺𝗯𝘂𝗻𝘂𝗵. 𝗣𝗲𝗻𝗱𝗲𝗸𝗮𝗿 𝘀𝗲𝗷𝗮𝘁𝗶 𝗺𝗲𝗻𝗴𝗴𝘂𝗻𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝘂𝗻𝘁𝘂𝗸 𝗺𝗲𝗺𝗮𝗵𝗮𝗺𝗶 𝗱𝗶𝗿𝗶𝗻𝘆𝗮."
Xiao Chen terpaku. Kalimat itu terasa begitu berat, lebih berat dari pedang yang baru saja ia sentuh. Saat ia menutup buku itu, matanya menangkap sebuah simbol kecil di sudut sampul. Sebuah pola garis yang saling mengunci.
"Tunggu... simbol ini..." Napas Xiao Chen tercekat. Ia teringat pada pedang kayu yang dihancurkan oleh Feng Lin. Di bagian pangkal pedang kayu pemberian kakek misterius itu, ada simbol yang persis sama.
Kesadaran menghantamnya. Kakek itu bukan sekadar pengembara tua yang lewat. Pedang kayu itu bukan sekadar hadiah. Semuanya telah direncanakan. Tanpa ia ketahui, Jalan ini... sudah disiapkan untuknya.
Dengan tekad baru yang menyala, Xiao Chen kembali menggenggam pedang hitam itu. Kali ini, ia tidak akan membiarkannya jatuh. Ia mengerahkan seluruh tenaga dari pinggang dan bahunya. Otot-otot lengannya menegang hingga gemetar hebat.
Sret... Sret...
Ujung pedang itu terangkat beberapa inci dari tanah. Gesekan antara gagang pedang yang kasar dengan luka di telapak tangannya membuat darah kembali merembes, membasahi besi berkarat itu.
Sakitnya luar biasa, namun setiap kali darahnya menyentuh pedang, Xiao Chen merasakan aliran energi hangat yang samar mengalir masuk ke tubuhnya, memberinya kekuatan tambahan untuk tetap berdiri.
"Ayo... berdiri!" teriaknya pada diri sendiri.
Malam semakin larut. Xiao Chen tidak peduli pada rasa lapar atau dingin. Ia mulai mengikuti petunjuk dasar pernapasan dari buku tersebut. Ia duduk bersila, mencoba memfokuskan pikirannya pada aliran udara.
Satu jam... dua jam... tidak ada yang terjadi.
Tubuhnya justru terasa semakin pegal. Pikirannya mulai berantakan, dibayangi ketakutan akan amarah ayahnya jika ia tidak pulang. Namun, tepat saat ia hampir menyerah, pada percobaan ke-sembilan puluh sembilan, ia merasakan sesuatu.
Bukan di udara, tapi di dalam darahnya. Seperti benang-benang cahaya tipis yang mengalir lembut mengikuti detak jantungnya.
Rasa sakit di bahu dan lengannya perlahan memudar, digantikan oleh sensasi kesemutan yang nyaman.
Tanpa ia sadari, darah dari luka tangannya yang menetes ke tanah mulai terbawa angin, menyebarkan aroma amis yang tajam ke dalam kegelapan hutan.
"Eh, sudah gelap sekali?" Xiao Chen tersentak dari meditasinya. Ia segera merapikan buku dan mencoba membungkus kembali pedang itu. "Gawat, Ayah pasti akan menghajarku jika tahu aku belum sampai rumah."
Baru saja ia hendak melangkah, bulu kuduknya berdiri. Atmosfer di sekitarnya berubah drastis. Ada bau busuk dan hawa predator yang pekat.
Grrrr....
Sebuah geraman rendah datang dari balik semak-semak. Xiao Chen menoleh pelan, dan jantungnya seakan merosot ke perut. Sepasang mata hijau menyala menatapnya dari kegelapan.
Seekor serigala hutan berukuran besar, dengan bulu abu-abu kusam dan taring yang menonjol keluar, perlahan muncul ke area terbuka.
Serigala itu adalah predator penyendiri yang kelaparan. Aroma darah segar dari tangan Xiao Chen telah menuntunnya ke sini.
"S-serigala..." Xiao Chen jatuh terduduk. Tubuhnya lumpuh karena ketakutan. Keringat dingin mengucur deras.
Serigala itu merendahkan tubuhnya, bersiap untuk menerjang. Dalam detik-detik mencekam itu, bayangan kematian melintas di depan mata Xiao Chen.
Namun, di tengah keputusasaan itu, kalimat dari pedang kayu kembali terngiang: “𝗣𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗸𝘂𝗮𝘁 𝗮𝗱𝗮𝗹𝗮𝗵 𝗽𝗲𝗱𝗮𝗻𝗴 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝘁𝗶𝗱𝗮𝗸 𝗽𝗲𝗿𝗻𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗻𝘆𝗲𝗿𝗮𝗵.”
"Aku... aku tidak boleh mati di sini!" Xiao Chen berteriak, suaranya pecah. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia menyambar pedang hitamnya.
Serigala itu menerjang! Wush!
Xiao Chen mengayunkan pedangnya secara membabi buta. Pedang itu terlalu berat, gerakannya lambat dan kasar. Tebasannya meleset jauh, hanya membelah udara kosong. Namun, berat pedang itu memberikan momentum yang membuat serigala itu sedikit ragu dan melompat mundur.
Jantung Xiao Chen berdegup kencang seperti genderang perang. Serigala itu kembali menyerang, kali ini lebih cepat.
Jleb!
"ARRGHHH!"
Rahang serigala itu mengunci bahu kiri Xiao Chen. Gigi-gigi tajamnya menembus kulit dan otot. Xiao Chen bisa merasakan tulang bahunya berderit di bawah tekanan gigitan tersebut. Pedang hitamnya terlepas dari genggaman, jatuh ke tanah.
Dunia seakan berputar. Rasa sakitnya begitu menyiksa hingga Xiao Chen merasa ingin pingsan. Air mata mengalir deras.
Namun, saat serigala itu mulai mengoyak daging bahunya, kemarahan yang murni meledak di dalam diri Xiao Chen. Kemarahan pada nasibnya, pada ayahnya, pada Feng Lin, dan pada kelemahannya sendiri.
"AAAAA! MATI KAU!"
Dengan tangan kanannya yang masih bebas, Xiao Chen meraba tanah dan menemukan kembali gagang pedangnya.
Adrenalin membanjiri sistem tubuhnya, membungkam rasa sakit untuk sesaat. Ia mengangkat pedang itu dengan satu tangan, sebuah kekuatan yang seharusnya mustahil bagi anak seusianya dan menghujamkan ujungnya ke arah leher serigala yang masih menggigit bahunya.
Crash!
Pedang hitam yang berkarat itu ternyata jauh lebih tajam dari kelihatannya. Besinya merobek bulu tebal dan kulit keras serigala itu. Darah hangat menyembur, membasahi wajah dan tubuh Xiao Chen.
Serigala itu melengking kesakitan, namun tidak melepaskan gigitannya. Ia justru semakin beringas mengoyak bahu Xiao Chen.
Dalam pergulatan berdarah di atas tanah itu, Xiao Chen tidak menyerah. Ia menekan pedangnya lebih dalam, memutar gagangnya dengan sisa tenaga terakhir.
"Aku... tidak akan... mati... di tangan binatang seperti mu!"
Crak!
Pedang itu akhirnya memutus arteri utama dan sebagian tulang leher sang predator. Serigala itu kejang sejenak, binar di mata hijaunya perlahan meredup, hingga akhirnya tubuh besarnya ambruk menimpa tubuh kecil Xiao Chen.
Xiao Chen terbaring di bawah bangkai serigala, napasnya pendek-pendek. Bahunya hancur, darahnya mengalir deras menyatu dengan darah binatang itu. Pandangannya mulai memudar, bintang-bintang di langit tampak bergoyang.
Ia merasa bangga. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia melawan balik. Ia menang. Walaupun mungkin ini adalah momen terakhirnya.
Tepat saat kesadarannya hampir hilang, darah yang membanjiri pedang hitam itu mulai terserap ke dalam pori-pori besi yang berkarat. Karat-karat tersebut rontok satu demi satu, menyingkap permukaan logam hitam legam yang memiliki ukiran rune-rune kuno.
Rune itu mulai bercahaya merah darah, redup namun mistis.
Dalam kegelapan batinnya, sebuah suara tua yang sangat kuno, suara yang seolah berasal dari dasar jurang terdalam bergema kuat, menggetarkan jiwanya.
"Menarik... Benih kecil yang penuh amarah. Katakan padaku, Nak... apakah kau siap memikul dosa dan kemuliaan yang terikat pada pedang ini?"
Mata Xiao Chen terbuka sedikit, memantulkan cahaya merah dari pedangnya, sebelum akhirnya semuanya menjadi gelap total.