NovelToon NovelToon
Purdeb

Purdeb

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Berbaikan
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Singkirkan tatapan menantangmu itu, Mahasiswa Baru. Kau terlalu sombong hanya karena dari Harvard," desis Amieyara Walker, matanya menghujam sedingin es di koridor sepi.

Maximilian Valerio hanya menyunggingkan seringai tipis yang sarat akan provokasi. "Dan kau? Merasa bisa mengaturku karena memegang gelar Asisten profesor, Nyonya Janda Satu Malam?"

"Jaga mulutmu, Valerio! Jangan menguji batas kesabaranku jika kau tidak ingin hancur di kampus ini!"

"Oh, silakan coba, Yara. Aku tidak takut dengan ancaman kosong dari wanita yang bahkan tidak bisa mempertahankan suaminya sendiri."

Dua jiwa angkuh yang sama-sama terluka, terjebak dalam lingkaran makian dan harga diri yang tinggi.

Tidak ada ruang untuk romansa lembut di antara mereka; yang ada hanyalah benturan ego, dendam, dan obrolan penuh permusuhan yang justru mengikat mereka dalam ketertarikan yang berbahaya dan mematikan.

Happy reading 🦋

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Kilas-Balik

​Raungan sirine mobil polisi mungkin sudah lama menjauh dari kawasan mansion keluarga Walker, namun gemuruh amarah di dalam dada Cinmocha Walker justru kian membara, mencapai titik didih yang membuatnya nyaris gila.

Pagi itu, koridor kamarnya yang mewah terasa begitu sempit dan menyesakkan. Caca berjalan mondar-mandir di atas karpet beludru, mencengkeram ponselnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih sempurna.

​"Yara... wanita sialan tidak tahu diri!" desis Caca dengan napas yang memburu gila. Sepasang matanya berkilat oleh kebencian yang teramat pekat.

​Baginya, Amieyara Walker hanyalah seonggok sampah yang seharusnya terus merangkak di bawah kaki mereka.

Namun, entah bagaimana caranya, anak jalang tak tahu diri itu justru berhasil menyusun berkas hukum yang begitu valid hingga membuat sang ayah, pilar utama dari seluruh kemewahan dan kesombongan hidup Caca, berakhir diringkus dan diseret secara hina oleh otoritas federal pagi tadi.

Kejadian di depan mansion dan rentetan kekacauan di parkiran kampus beberapa jam lalu benar-benar menjungkirbalikkan dunia Caca dalam semalam.

​Namun, Caca bukan tipe wanita yang akan meratap pasrah meratapi kekalahan. Otaknya yang manipulatif dan penuh intrik kotor segera berputar, menyusun sebuah rencana pembalasan yang jauh lebih kejam, lebih menjijikkan, dan dipastikan akan langsung menghancurkan Yara hingga ke dasar neraka terdalam.

​Akal bulus Caca bergerak menuju satu aset digital yang selama ini ia simpan rapat-rapat bersama sang ayah.

Sebuah video yang semula diniatkan untuk menghancurkan harga diri Emmeline Valerio setelah kejadian di paviliun kampus malam tadi.

Seringai culas yang teramat sangat sinis perlahan terukir di bibir tipis Caca saat sebuah ide jenius sekaligus mengerikan melintas di kepalanya.

​"Jika aku menyebarkan video Emmeline, dinasti Valerio mungkin akan melacakku dan menghancurkanku. Tapi, bagaimana jika wajah di dalam video itu bukan Emmeline?" batin Caca, matanya menyipit penuh kepuasan gila.

​Ya, Caca berniat merombak total rencana awalnya. Dia akan menggunakan video panas bermutu rendah yang sempat ia dapatkan, lalu memesan jasa seorang ahli teknologi hitam dari pasar gelap untuk melakukan proses penyuntingan tingkat tinggi yang sangat rapi.

Melalui manipulasi digital deepfake wajah, Caca akan mengubah sosok wanita di dalam video itu menjadi Amieyara Walker!

​Bukan sekadar video di paviliun, Caca akan memerintahkan orang suruhannya untuk merekayasa latar belakang video tersebut agar terlihat seolah-olah Yara sedang merekam dirinya sendiri di dalam kamar mandi apartemen pribadinya—sebuah video skandal pribadi di mana Yara tampak sedang memuaskan hasrat berahinya sendiri dengan begitu liar dan menjijikkan di depan kamera.

​Caca menatap layar laptopnya, mengetik sebuah pesan terenkripsi kepada sang peretas sewaan.

“Pastikan editannya sempurna. Aku ingin setiap lekukan wajah, ekspresi sayu, dan desahan jalang itu terlihat seratus persen nyata sebagai Amieyara Walker. Buat dia terlihat seperti wanita munafik, seorang pelacur yang gemar merekam aksi kotornya sendiri di kamar mandi.”

​Setelah menekan tombol kirim, Caca menyandarkan punggungnya pada kursi kerja, lalu melipat kedua tangannya di depan dada sembari mengeluarkan tawa renyah yang terdengar sangat mengerikan di dalam keheningan kamar.

Dia tersenyum luar biasa puas, membayangkan bagaimana hancurnya reputasi akademik Yara, bagaimana wajah angkuh Maximilian Valerio saat melihat video kotor kekasihnya tersebar di seluruh situs kampus, dan bagaimana dunia yang diagungkan Yara akan berbalik meludahi wajahnya sendiri.

​Mengenai nasib ayahnya yang saat ini masih ditahan di markas otoritas federal, Caca sama sekali tidak merasa terlalu khawatir atau terbebani.

Jiwanya yang egois membuat ego pribadinya jauh lebih penting daripada rasa bakti kepada orang tua. Lagipula, sebelum berangkat ke kampus tadi, sang ibu tiri sudah membisikkan kata-kata penenang di telinganya.

​Ibunya mengatakan bahwa Ayahnya, Tuan Walker pasti akan segera dibebaskan setelah melewati proses interogasi melelahkan seharian ini.

Bagaimanapun juga, pengacara terbaik dari sirkel bisnis mereka sedang bergerak, dan seluruh tuduhan itu hanya didasarkan pada laporan Yara—gadis yang di mata keluarga Walker tetaplah merupakan sampah tak berguna yang tidak akan pernah memiliki kekuatan hukum sejati untuk meruntuhkan kekuasaan pria sekelas Tuan Walker.

​"Nikmati hari-hari serumu bersama Max untuk beberapa saat ini, Kakak Tiriku yang terhormat," bisik Caca lurus ke arah sebuah foto Yara yang sengaja ia coret-coret dengan tinta merah di atas mejanya.

"Karena sebentar lagi, video kamar mandimu akan menjadi tontonan paling menjijikkan di seisi kota Los Angeles, dan akulah yang akan memimpin sorak-sorai di atas kematian karaktermu!"

Kembali Ke Masa Sekarang

​Riuh rendah suara langkah kaki dan obrolan mahasiswa Fakultas Bisnis perlahan memudar seiring berjalannya waktu, menyisakan keheningan yang janggal di dalam ruang kuliah berundak yang luas itu.

Sesi kelas terakhir untuk hari ini telah resmi usai setengah jam yang lalu, meninggalkan barisan kursi kosong dan papan tulis elektronik yang masih menyisakan sisa-sisa coretan rumus manajemen keuangan.

​Di barisan kursi tengah yang agak temaram, Amieyara Walker duduk sembari merapikan beberapa lembar diktat dan dokumen tebal ke dalam tas kulitnya.

Gerakan tangannya terlihat begitu tenang, namun sorot matanya tidak bisa menyembunyikan gurat kelelahan yang teramat sangat pekat setelah melewati pagi yang penuh dengan drama penangkapan dan keributan di area parkir.

​Di sampingnya, Maximilian Valerio duduk bersandar dengan santai, salah satu lengan kekarnya yang dipenuhi tato geometris sengaja ia bentangkan di atas sandaran kursi Yara, seolah menegaskan batasan protektif bahwa wanita itu adalah miliknya secara mutlak.

Sepasang mata gelap Max sejak tadi tidak beralih sedikit pun dari wajah samping Yara, memperhatikan setiap detail ekspresi kekasih barunya dengan tatapan yang sarat akan intensitas.

​Max memajukan tubuhnya sedikit, memutus keheningan di antara mereka dengan suara bariton rendahnya yang menggema halus di ruang kelas yang sunyi.

"Pagi tadi benar-benar sebuah pertunjukan yang luar biasa, Baby. Berita tentang penggerebekan mansion keluarga Walker sudah menjadi konsumsi utama di seluruh forum bisnis dan hukum kota ini."

​Yara menghentikan gerakan tangannya sejenak. Dia tidak menoleh, hanya mengembuskan napas pendek lewat hidungnya. "Itu hanya awal dari apa yang seharusnya mereka terima sejak lama, Max. Hukum hanya sedang melakukan tugasnya yang tertunda."

​Max mengubah posisi duduknya, mencondongkan tubuh tegapnya ke arah Yara hingga aroma maskulin khasnya kembali menginvasi indra penciuman wanita itu.

Garis wajah pemuda berusia dua puluh tahun itu mendadak berubah menjadi sangat serius, kehilangan seluruh riak keisengan yang biasanya ia tunjukkan.

​"Lalu kenapa kau tidak pernah memberitahukan hal ini padaku sebelumnya, Yara?" tanya Max, nada suaranya bergetar oleh perpaduan antara rasa tidak puas dan kekhawatiran yang mendalam.

"Aku adalah kekasihmu sekarang. Aku menginap di apartemenmu selama empat malam berturut-turut, melihatmu terjaga setiap jam dua pagi karena mimpi buruk, dan melihatmu sibuk berbicara dengan pengacara di balkon hingga larut malam. Tapi kau memilih untuk maju sendirian ke medan perang melawan keluargamu."

​Yara akhirnya menoleh, menatap lurus ke dalam manik mata gelap Max. "Ini adalah urusan pribadiku dengan keluarga Walker, Max. Aku tidak ingin menyeret dinasti Valerio ke dalam lingkaran lumpur yang kotor ini."

​"Persetan dengan dinasti Valerio, aku berbicara sebagai Maximilian, pria yang memelukmu setiap malam!" potong Max dengan nada suara yang sedikit meninggi, meskipun dia segera menekannya kembali agar tidak terdengar membentak.

Dia menggenggam jemari lentik Yara, menguncinya dengan erat. "Aku mengkhawatirkanmu, Yara. Aku khawatir bukti-bukti yang kau ajukan ke otoritas federal pagi tadi tidak cukup kuat untuk menahan rubah tua seperti ayah tirimu. Kau tahu bagaimana dunia ini bekerja. Pria sekelas Tuan Walker memiliki jaringan pengacara hitam yang bisa memutarbalikkan fakta dalam hitungan jam. Jika bukti-buktinya memiliki celah, mereka akan keluar malam ini juga dan mereka akan memburumu dengan cara yang jauh lebih kejam."

​Yara tertegun mendengar rentetan kalimat Max. Di balik ketegasan dan sifat mesumnya yang konyol, dia bisa melihat dengan sangat jelas betapa pemuda ini benar-benar takut kehilangan dirinya.

Yara merasakan kehangatan yang asing kembali merayap di dadanya, mencairkan sedikit demi sedikit dinding es yang selama ini membentengi hatinya.

​Sebuah senyuman tipis, hampir tak terlihat, terukir di bibir ranum Yara. Dia membalikkan telapak tangannya, balas menggenggam jemari kekar Max dengan kelembutan yang jarang dia tunjukkan.

​"Kau tidak perlu khawatir tentang dokumen pagi tadi, Max," ucap Yara, suaranya terdengar begitu tenang dan penuh keyakinan seorang sarjana bisnis terbaik.

"Bukti pencucian uang dan manipulasi aset yang kuberikan pada agen federal sudah kuperiksa sendiri selama berbulan-bulan. Celahnya nol. Kalaupun pengacara mereka mencoba mengajukan penangguhan penahanan hari ini, itu hanya akan menunda waktu mereka sebelum ketukan palu hakim mendepak mereka ke dalam sel tahanan permanen."

​Yara terdiam sejenak, binar matanya mendadak meredup, digantikan oleh kilat kegelapan yang teramat sangat dingin dan sarat akan luka masa lalu yang begitu dalam.

Dia menarik napas panjang, melepaskan genggaman tangannya dari Max seolah kekuatan di dalam tubuhnya mendadak menguap.

​"Lagipula... setelah kasus keuangan ini selesai, aku masih memiliki satu kasus lain yang jauh lebih besar," bisik Yara, suaranya mendadak berubah menjadi sangat lirih, hampir seperti bisikan angin malam yang hampa. "Sebuah kasus yang dipastikan akan memberangkatkan ayahku ke penjara untuk sisa hidupnya tanpa ada peluang pengampunan sedikit pun."

​Max menyipitkan matanya, menangkap perubahan drastis dari intonasi suara Yara. "Kasus apa?"

​Yara mencengkeram pinggiran meja kayu di hadapannya hingga ujung-ujung jarinya memutih. Di dalam benaknya, memori menjijikkan tentang bagaimana sang ayah tiri dan ibu tirinya memperlakukannya selama bertahun-tahun kembali berputar.

Maksud Yara adalah sebuah rahasia paling kelam dan kotor di dalam hidupnya—kasus di mana dia, sejak menginjak usia remaja, telah dijadikan sebagai komoditas bisnis dan alat penjualan dari video-video pribadinya selama ini oleh keluarganya sendiri.

Mereka mengeksploitasi dirinya, merekam setiap gerak-geriknya secara ilegal, dan memanfaatkan namanya untuk kepentingan transaksi gelap kelas atas.

​Yara merasakan tenggorokannya mendadak tercekat. Dia ingin sekali menumpahkan seluruh beban menjijikkan itu, berteriak, dan menceritakan semuanya kepada Maximilian—pria yang kini menjadi tempat bersandarnya setiap malam.

Namun, bibirnya seolah terkunci rapat. Rasa trauma yang mendalam, rasa malu yang membakar harga dirinya sebagai seorang wanita, serta ketakutan tak beralasan bahwa Max akan memandangnya dengan tatapan jijik jika mengetahui rahasia sekotor itu, membuat Yara belum sanggup untuk bercerita lebih jauh saat ini.

​Dia menundukkan kepalanya, menghindari tatapan intens Max. "Aku... aku belum bisa menceritakannya padamu sekarang, Max. Tolong, beri aku waktu sedikit lagi," ucap Yara dengan suara yang sedikit bergetar.

​Maximilian Valerio tidak menjawab. Dia tidak marah, tidak pula mendesak kekasihnya dengan rentetan pertanyaan spekulatif yang bisa semakin melukai jiwanya.

Max hanya diam, menatap lekat-lekat ke arah Yara. Sepasang mata gelapnya membaca dengan sangat akurat bagaimana tubuh wanita di hadapannya ini sedang berjuang keras menahan badai emosi dan luka yang teramat sangat berat di dalam dadanya.

Max mengulurkan tangan kanannya, mengusap lembut helai rambut hitam Yara yang menjuntai di sisi wajahnya, menyalurkan seluruh rasa aman dan kehangatan mutlak yang ia miliki, berjanji di dalam hatinya bahwa dia akan tetap setia menunggu hingga tiba saatnya Yara merasa benar-benar siap untuk membagi seluruh kegelapan hidupnya bersamanya.

1
sitanggang
kukira Valeri kuat ternyata oncom belaka, masa sama 2 cewek bego bisa kalah🤣🤣 parah jalan ceritanya hadeuhh🫣
Ros 🍂: hehhe ceritanya nyambung sama Cerita yang sebelah Ya kak, judulnya "Fi A Ti"
ada Ceritanya sendiri 🫶🥰
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
ceritanya menegangkan dsn selalu membuat penasaran,semoga masih ada lanjutannya Thor 😁
Ros 🍂: Ma'aciww Sudah mampir kak🥰
jangan lupa baca Cerita ku yang lain kak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Satu kantin kena prank emmie🤣🤣,,
Ros 🍂: Hahah 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
wes Amieyara Walker-nya cie udah diklaim mutlak nie ceritanya bang😍😍😍😍
Ros 🍂: Nggak klaim Malu Soalnya kak🤭🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
absen dulu kak othor😍😍😍
Ros 🍂: Fanbase Setia 🫶😁🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max tembak langsung😍😍😍biar GK jomblo dan dibilang gamonin si kulanak🤣🤣tumben kak cuma satu
Ros 🍂: tumben satu apa kak?🤭
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
duo kuntilanak yg kegatelan🤭
Ros 🍂: Ketemu mereka kak🤣🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
gasken bang max buat selidikin asdos cantik
Ros 🍂: hehe iya kak🥰
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
pengen dengerin kekehan sexi bang max juga aku thor sesexi apa sich jadi penasaran?🤭
Ros 🍂: kak 🤭 nanti tak suruh max kekeh sampe nembus layar yaa🤣🫶
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
dih si kuntilanak sok Sokan yg paling tersakiti padahal dirinya sendiri jalang,ayo bang max tunjukan pesona kegendengan klan Valerio🤣🤣
Ros 🍂: hihihi kak basmi kuntilanak 🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waoooh Bella mengerikan jauhkan babang max dari kuntilanak thorr🤭GK rela daku MBK asdos tolong kekepin bang max jauhin dari si kuntilanak🤭🤣🤣🤣
Ros 🍂: Bell Kuntilanak🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
duh,,,bawa pulang aja bang max kasian banget😭😭😭😭
Ros 🍂: huhuhu bantu angkut kak🤭
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max jangan galak gitulah entar kecintaan gimana coba🤭
Ros 🍂: Aaa🫶🫶🫶 Ma'aciww kak 🥰
Terharu 🤩
total 5 replies
Zahra Alifia Hidayat
yaah,,,,, kak kok Caca sich itu nama panggilan aku tega banget kaaaak😭😭😭😭😭😭 padahal aku anaknya baik,rajin belajar dan suka menabung🤣🤣🤣🤣
Ros 🍂: Kak 😭 sorry ... 🤣🤣🤣🙏🏻
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
waooh,,,,,pertemuan pertama yg sangaatt- sangaattt😍😍😍
Ros 🍂: Hihihi meresahkan ya kak ? 🤣🤣🙏🏻
total 2 replies
Zahra Alifia Hidayat
Bang max i am coming di tunggu kegendengannya🤭🤣🤣
Ros 🍂: Hahaha Max tunggu kak 🤣
total 1 replies
Zahra Alifia Hidayat
fanbase nomer satu absen dulu,,,,😍😍😍😍😍
Ros 🍂: Hallo kak 🫶🥰 Happy Reading ❤️
total 1 replies
winpar
ceritanya keren💪
Ros 🍂: Ma'aciww jejaknya kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!