Gugur dalam tragedi berdarah di abad ke-14, jiwa Nyai Kencana—kesatria wanita Kerajaan Sunda—terlempar ke masa modern. Ia merasuki raga Citra, mahasiswi beasiswa yang nekat melompat dari jembatan demi menjaga kehormatannya dari jebakan pemerkosaan.
Kini, Citra bangkit dengan kepribadian baru: dingin, tegap, dan menguasai ilmu kanuragan kuno. Tidak ada lagi Citra lemah yang bisa ditindas!
Perubahan drastis Citra membuat Elang Dirgantara, pewaris tunggal konglomerat yang angkuh dan sombong, penasaran sekaligus jengkel. Hubungan mereka layaknya anjing dan kucing yang selalu bergesek konflik.
Namun, roda takdir berputar. Keluarga Elang bangkrut total dalam semalam. Diusir, dikhianati teman-temannya, dan nyaris bunuh diri.
Bagaimana kisahnya baca terus novelnya ya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mamah Nissa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 - Tamu Tak Diundang
Aroma jahe bakar yang semula menghangatkan udara di bawah terpal plastik Angkringan Tenda Arema menguap dalam sekejap, digantikan oleh bau bensin yang menyengat dan aura permusuhan yang pekat. Wijaya Samudra melangkah maju, memutar tongkat bisbol logamnya di udara sebelum mengetukkannya ke tiang penyangga gerobak kayu milik Surya.
Teng!
Suara benturan logam itu bergaung nyaring, memutus tawa beberapa mahasiswa di tikar sebelah. Sirkel elite Wijaya yang terdiri dari empat remaja bertubuh tegap langsung menyebar, memblokade pintu masuk tenda dengan tangan bersedekap, memasang wajah sangar yang sengaja dipamerkan.
"Heh, pelayan bangkrut," Samudra melempar selembar papan menu plastik hingga retak di atas meja kayu lesehan, tepat di depan tempat duduk Kirana.
Seringai menjijikkan terukir di wajahnya yang klimis. "Gue pesen sate usus empat puluh tusuk,” ucapan Samudra menirukan gaya di film horor. “Tapi gue gak mau dibakar pakai arang nya dikipas pakai kipas angin murah itu. Gue mau lo tiup itu bara sampai mateng pakai mulut lo sendiri. Gimana? Sanggup gak, Mantan Pewaris Dirgantara?"
Mendengar hinaan itu, Elang mencengkeram jepitan besi panggangan hingga buku-buku jarinya memutih, mengeluarkan suara gemertak halus. Amarahnya membakar rongga dada, menuntut untuk meledak di titik nadir. Ia ingin melompat melompati gerobak dan menghantamkan tungku arang itu tepat ke wajah congkak Samudra, namun bayangan utang nyawa dan kebaikan Surya menahan kakinya di atas tanah.
Surya yang menyadari situasi mulai tidak kondusif, segera menggeser tubuhnya, berdiri di antara gerobak dan meja lesehan. Ia mengibaskan kain lap kusamnya di udara dengan senyuman yang dipaksakan tetap santai, mencoba meredam ketegangan sebelum semuanya terlambat.
"Waduh, Sam. Sabar ta lah, kene lungguh dhisik," ujar Surya, suaranya tetap renyah meskipun matanya menatap waspada pada tongkat besi Wijaya. "Urusan jualan orang cilik jangan diacak-acak toh. Kalau mau pesen makan sing bener, tak buatkan sing paling enak. Gak usah pakai otot, gak ilok, Rek."
"Heh, cangkemu gak usah ikut campur ya, Tukang Siomay!" bentak salah satu anak buah Samudra yang bertubuh paling kekar, melangkah maju dan mendorong pundak Surya hingga pemuda Malang itu terhuyung membentur tiang gerobak. "Tugas lo cuma masak, gak usah sok jadi pahlawan di sini!"
"Heh, Ndasmu! Berani-beraninya lo ya!" Kirana langsung bangkit dari tikar, wajahnya memerah padam karena naik pitam melihat Surya diperlakukan kasar. Ia sudah bersiap melabrak rombongan itu, namun sebuah gerakan tangan yang anggun dan bertenaga dari Citra menahan pundaknya.
Citra berdiri dari lipatan kakinya. Punggungnya tegak lurus laksana sebilah tombak pusaka, dan sepasang mata bulatnya menatap lurus ke dalam manik mata Wijaya Samudra. Atmosfer di dalam tenda seketika merosot hingga ke titik beku yang paling ekstrem.
"Raga yang dibungkus oleh kain sutra mahal... ternyata tidak otomatis memiliki martabat seorang manusia di dalamnya," ucap Citra, suaranya terdengar begitu jernih, berat, dan bergaung dengan wibawa formal yang memotong seluruh kebisingan malam.
Samudra mengerutkan dahi, tertawa hambar untuk menutupi rasa canggung yang mendadak menyerang sistem sarafnya karena ditatap seberani itu oleh Citra. "Lo bicara apa sih, Cit? Gak usah sok puitis deh. Gue ke sini cuma mau ngasih pelajaran sama pelayan lo ini."
"Kekuasaan dan kemewahan yang Anda pamerkan malam ini, Wijaya Samudra... apakah ada sepeser pun yang lahir dari cucuran keringat Anda sendiri?" potong Citra dingin, melangkah satu depa mendekati ujung tongkat bisbol Samudra tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Anda datang kemari, membawa rombongan, memukul gerobak orang lain, hanya untuk membuktikan bahwa Anda lebih tinggi dari seorang pria yang sedang bertarung mencari nafkah secara halal? Di mata saya, Anda tidak lebih dari sekadar anak manja yang sedang ketakutan, berlindung di balik bayangan harta orang tua Anda karena tahu... tanpa semua itu, raga Anda tidak memiliki nilai apa pun untuk dihormati."
Kata-kata Citra menghantam ulu hati kesombongan Wijaya dengan telak. Wajah Samudra yang semula tenang seketika berubah menjadi merah padam karena malu yang luar biasa di depan teman-temannya. Egonya terluka parah oleh kalimat tenang dari gadis yang selama ini ia obsesikan.
Di sudut tenda yang remang, dua orang mahasiswa pelanggan angkringan diam-diam telah mengarahkan kamera ponsel pintar mereka, merekam seluruh konfrontasi menegangkan itu dalam format video berdefinisi tinggi.
"Kurang ajar lo ya!"
Samudra yang kehilangan kendali emosi mendadak mengangkat tangan kanannya, memutar tongkat bisbolnya ke atas, bersiap untuk menghantamkannya ke arah meja. Elang Dirgantara yang melihat pergerakan itu tidak lagi memedulikan celemeknya; ia melompat maju dari balik gerobak, pasang badan berdiri tepat di depan Citra untuk melindunginya.
FLASH!
Sebuah kilatan lampu kamera dari ponsel mahasiswa menyala terang di kegelapan tenda. Detik itu juga, tombol unggah ditekan, dan video konfrontasi antara sang mantan pangeran kampus, gadis beasiswa yang berwibawa, dan si kaya yang arogan langsung melesat masuk ke dalam jagat maya, mulai viral dan memicu badai komentar netizen dalam hitungan menit.
*
Di belahan kota yang lain, di dalam sebuah kamar tidur seluas lima puluh meter persegi yang didominasi oleh perabotan bernuansa putih dan emas luks, suasana justru dipenuhi oleh keheningan yang nyaman. Musik klasik mengalun lembut dari perangkat pengeras suara nirkabel kelas atas di sudut ruangan.
Natasha sedang berbaring telentang di atas tempat tidur king size-nya, mengenakan jubah mandi sutra hitam dengan lapisan masker lumpur hijau menutupi sebagian besar wajahnya. Kedua matanya fokus menatap layar tablet mahal di tangannya, jemarinya bergerak santai melakukan gerakan scrolling di beranda media sosialnya untuk memeriksa tren gaya hidup malam itu.
Namun, gerakan jemari Natasha mendadak membeku ketika algoritma aplikasi menampilkan sebuah video berdurasi pendek yang baru saja meledak di halaman utama For Your Page (FYP) dengan tanda tagar yang terus merangkak naik ke urutan teratas.
Layar tabletnya menampilkan rekaman video amatir yang diambil dari dalam sebuah tenda angkringan pinggir jalan yang bersahaja. Di dalam video itu, Citra Kencana tampak berdiri dengan keanggunan yang menakjubkan, menjatuhkan harga diri Wijaya Samudra dengan untaian kalimat yang begitu cerdas dan menohok tajam. Di belakang Citra, Elang Dirgantara berdiri dengan posisi pasang badan yang heroik, meskipun tubuhnya dibungkus celemek kusam penuh jelaga arang hitam.
Plak!
Tablet mahal itu terlepas dari tangan Natasha, jatuh terhempas di atas selimut bulu angsa miliknya. Pasokan oksigen di paru-parunya seolah tersendat seketika, membuat lapisan masker di wajahnya hampir retak karena rahangnya yang mengetat menahan syok yang luar biasa.
"Gak mungkin... Kenapa jalang miskin itu malah kelihatan kayak pahlawan?!" jerit Natasha frustrasi, suaranya melengking tinggi membelah kesunyian kamarnya.
Ia menyambar kembali tabletnya, membaca jajaran ribuan komentar netizen yang masuk setiap detiknya. Sebagian besar komentar memuji Citra sebagai "Gadis Badass Abad Ini" atau "Definisi Cantik Berkelas yang Sesungguhnya", sementara Elang mendapatkan simpati psikologis yang baru dari publik. Sebaliknya, Wijaya Samudra dan sirkel kayunya dicemooh habis-habisan sebagai kelompok penindas yang menjijikkan.
Dengan tangan yang gemetar hebat karena kombinasi rasa murka dan cemburu yang membakar habis kewarasannya, Natasha langsung mencari nomor kontak Wijaya Samudra, menekan tombol panggil demi meluapkan seluruh kemarahan batinnya atas ketololan rencana cowok tersebut malam ini.
**
Sementara itu, di sebuah kawasan perumahan elite yang terisolasi dari bisingnya jalan raya, sebuah rumah gedongan bergaya mediterania berdiri dengan kemegahan yang sunyi. Pendar lampu taman menerangi jajaran pohon palem yang tertata rapi di halaman depan.
Di dalam ruang keluarga yang hangat, Rania Puspa Dewi sedang duduk bersandar di atas sofa beledu merah mudanya. Wanita paruh baya itu mengenakan gaun malam sutra tipis, menyesap secangkir teh chamomile mahal dari cangkir porselen Inggris sembari menghitung sisa perhiasan berliannya di dalam kotak beludru kecil di atas pangkuannya. Di hadapannya, sebuah layar televisi pintar berukuran besar menyala tanpa suara, menampilkan cuplikan berita lokal dan tren teratas internet malam itu.
Gerakan tangan Rania yang sedang menyeka permukaan cincin permata hitamnya mendadak terhenti ketika layar televisi menampilkan cuplikan gambar wajah Elang Dirgantara yang sedang memegang jepitan besi panggangan di balik gerobak angkringan pinggir jalan.
Sebuah senyum licik yang teramat pekat perlahan-lahan terukir di sudut bibir Rania yang berlapis gincu merah darah. Ia meletakkan cangkir tehnya, memajukan tubuhnya dengan sepasang mata yang memancarkan kilau kepuasan psikologis yang teramat mendalam, sebuah katarsis atas dendam perceraiannya dengan Bramantyo Dirgantara yang selama ini menyiksa batinnya.
"Lihat dirimu sekarang, Elang kecil..." gumam Rania penuh kemenangan, suaranya terdengar laksana desis ular di malam hari. "Pangeran mahkota Dirgantara Perkasa... sekarang mengoseng sate di pinggir jalan untuk menyambung hidup. Kutukanku pada garis keturunan Bramantyo ternyata mewujud lebih indah dari yang kubayangkan."
Rania menyandarkan kembali tubuhnya, tertawa lirih dalam kesunyian rumah gedongannya, merasa bahwa seluruh semesta akhirnya berpihak pada ambisi gelapnya untuk melihat kehancuran total keluarga mantan suaminya hingga ke akar-akarnya.
*
Drrrt... Drrrt... Drrrt...
Ponsel pintar di dalam saku jaket varsity mewah milik Wijaya Samudra mendadak bergetar hebat, menyuarakan nada panggil dari nomor Natasha di tengah kepungan tatapan mata belasan mahasiswa yang kini mulai berani mengeluarkan ponsel mereka secara terang-terangan untuk merekam kejadian tersebut.
Samudra tidak mengangkat telepon itu. Sepasang matanya yang memerah penuh gumpalan dendam menatap lurus ke arah Citra dan kemudian beralih mengunci wajah Elang yang berdiri kokoh di depan gadis itu.
Elang perlahan-lahan mengangkat wajahnya yang semula tertunduk. Di bawah temaramnya cahaya lampu minyak yang bergoyang ditiup angin malam, sorot mata elangnya yang selama beberapa hari ini meredup karena depresi, malam ini mendadak berubah menjadi sangat keras, tajam, dan dingin laksana bilah pedang yang baru saja diasah ulang di atas batu karang. Tidak ada lagi sisa-sisa ketakutan atau kemanjaan seorang anak kaya di dalam manik matanya; raga pelayan angkringan itu kini siap untuk menyambut setiap jengkal ancaman yang melangkah masuk melintasi batas harga dirinya.