NovelToon NovelToon
Teratai Di Atas Abu

Teratai Di Atas Abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Akademi Sihir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: wiwi

Teratai Di Atas Abu

Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.

Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.

Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.

Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 28

Teratai Di Atas Abu

Bab 28 — Inti Roh Tingkat Kedua

Setelah diangkat menjadi murid dalam dan diakui secara resmi sebagai murid langsung Tetua Bai, Lian Hua kini menempati kediaman tersendiri di lereng puncak gunung. Tempat ini jauh lebih sunyi, udaranya bersih, dan energi spiritual di sini pekat berkali-kali lipat dibandingkan kediaman bawah. Di sini, ia bisa berlatih tanpa gangguan, menyerap kekuatan alam semesta dengan leluasa.

Namun yang membuat kemajuannya melesat jauh bukan hanya lingkungan, melainkan Seni Teratai Langit yang mengalir deras di dalam darah dan tulangnya. Ilmu ini bukan sekadar teknik kultivasi biasa, melainkan intisari warisan leluhur yang berakar langsung pada hukum alam. Ia menyerap energi bukan hanya dari sekeliling, tapi menarik kekuatan dari kedalaman bumi dan ketinggian langit, memadukannya menjadi satu di dalam tubuh, lalu menyaringnya hingga menjadi murni dan padat.

Setiap hari, Lian Hua menghabiskan dua pertiga waktunya dalam meditasi. Ia duduk bersila di atas batu datar di halaman belakang, mata terpejam, napas teratur panjang dan tenang. Di dalam tubuhnya, aliran tenaga bergerak mengikuti pola teratai: membuka, menyerap, menyaring, dan menyimpan. Dulu, ia butuh berhari-hari hanya untuk mengentalkan sedikit tenaga dalam. Kini, dalam satu hari saja, kemajuannya setara dengan kerja keras orang lain selama berbulan-bulan.

Tetua Bai sering datang mengamati dari jauh, hatinya penuh rasa kagum dan takjub. Ia melihat bagaimana energi spiritual berwarna putih dan hitam perlahan berkumpul, berputar mengelilingi tubuh pemuda itu, lalu diserap masuk lewat pori-pori sehalus kabut. Kecepatan penyerapan ini melampaui segala catatan sejarah Sekte Gunung Awan Putih, bahkan melebihi bakat jenius zaman dahulu kala.

"Aliran ini memang diciptakan untuknya saja," gumam Tetua Bai pelan. "Setiap tetes darahnya beresonansi dengan ilmu itu. Kemajuannya bukan lagi soal kerja keras, melainkan mengikuti takdir yang tertulis di dalam tulang belulangnya."

Seminggu berlalu, perubahan besar mulai terasa. Tenaga dalam Lian Hua yang tadinya luas namun belum padat, kini mulai berkumpul di pusat dada, berputar semakin kencang dan semakin berat. Batas Inti Roh Tingkat Pertama yang dulu sulit ditembus, kini terasa tipis selembar kertas.

Malam itu, bulan purnama bersinar terang, cahayanya membanjiri seluruh halaman. Lian Hua duduk bersila seperti biasa, namun malam ini rasanya berbeda. Di dalam benaknya, liontin giok di dadanya berdenyut kencang, mengirimkan gelombang hangat yang merambat ke seluruh anggota tubuh.

Ia memusatkan seluruh kesadaran ke pusat tenaga. Ia memutar Seni Teratai Langit hingga puncaknya, menyerap segala energi yang ada di sekeliling, menarik kekuatan dari cahaya bulan dan angin malam. Aliran tenaga di dalam tubuhnya berputar semakin cepat, semakin kencang, menekan, memadatkan, dan memurnikan diri berulang kali.

Rasa panas menjalar dari dada, menyebar ke punggung, ke lengan, hingga ke ujung jari. Ia merasa seolah ada lautan energi yang meluap-luap, hendak meledak keluar jika tidak dibendung dan dibentuk dengan benar. Gumpalan tenaga di dalam dadanya kini berdenyut seirama dengan detak jantung, semakin lama semakin padat, semakin bulat, semakin nyata.

"Pecahlah..." bisiknya dalam hati.

Seketika, suara halus bergema di dalam tubuhnya, seolah rantai besi yang mengikat akhirnya putus.

Batas itu terlewati.

Energi spiritual yang melimpah ruah itu tiba-tiba menekan ke dalam, memadat menjadi satu inti bulat berwarna kelopak putih dan hitam, berdenyut kuat dan teratur di pusat dadanya. Suhu tubuhnya menjadi seimbang, tidak lagi terlalu panas atau terlalu dingin. Kekuatan yang tersimpan di dalam sana kini berkali-kali lipat lebih besar, lebih murni, dan lebih terkendali dibandingkan sebelumnya.

Lian Hua telah resmi menembus ke tingkat Inti Roh Tingkat Kedua.

Namun perubahan belum berakhir.

Saat ia perlahan membuka mata, cahaya lembut berwarna putih bersih dan hitam pekat mulai menyembur keluar dari pori-pori tubuhnya. Cahaya itu tidak menyebar sembarangan, melainkan berputar di belakang punggungnya, perlahan-lahan membentuk wujud yang nyata dan indah.

Kelopak demi kelopak terbentuk, saling bertautan, berputar simetris. Di tengahnya, cahaya paling terang bersinar lembut, memancarkan hawa sakral yang menyejukkan hati namun juga menekan jiwa siapa saja yang melihatnya.

Sebuah bunga teratai raksasa, setinggi manusia, kini mekar penuh dan berdiri kokoh di belakang tubuh Lian Hua.

Itu bukan sekadar bayangan cahaya, melainkan Teratai Spiritual, wujud nyata dari tingkat kultivasi tinggi, bukti bahwa tenaga dalam telah cukup murni dan kuat hingga mampu mewujudkan wujudnya sendiri. Bunga itu berdenyut seirama dengan napas Lian Hua, melebur dan terhubung sepenuhnya dengan jiwanya.

Di kejauhan, Tetua Bai yang baru saja melangkah masuk, terhenti kaku di ambang pintu. Matanya terbelalak, napasnya tertahan, dan ia hampir berlutut karena rasa kagum yang mendalam. Ia tahu kemajuannya akan cepat, tapi ia tak menyangka... baru saja menembus tingkat kedua, pemuda itu sudah mampu memanifestasikan bunga spiritualnya sendiri. Hal yang butuh puluhan tahun bagi orang jenius lain, dicapainya hanya dalam hitungan hari.

Lian Hua duduk diam, dikelilingi cahaya lembut itu, dengan teratai agung berdiri megah di belakangnya. Wajahnya tenang namun berwibawa, matanya dalam dan bersinar terang. Ia merasakan kekuatan baru yang mengalir deras di urat nadinya, merasa terhubung lebih erat dengan alam semesta, merasa seolah ia bukan lagi sekadar manusia, tapi bagian dari keseimbangan dunia itu sendiri.

Momen itu berlangsung lama, hingga perlahan cahaya itu meredup dan teratai spiritual itu perlahan menyusut kembali, masuk ke dalam tubuhnya, bersatu kembali dengan inti rohaninya yang baru terbentuk. Namun jejak kekuatan itu tetap ada, menyelimuti sosoknya dengan hawa yang jauh lebih agung dan menakjubkan dibandingkan sebelumnya.

Lian Hua mengangkat kepalanya, menatap bulan purnama di langit. Senyum tipis tersungging di bibirnya.

Langkah kedua telah tercapai. Kekuatan bertambah, jalan makin terbuka. Menara Darah Hitam... tunggulah aku. Semakin cepat aku tumbuh, semakin cepat hari pembalasan itu datang.

Dan di malam sunyi itu, di kediaman puncak gunung, benih teratai itu telah tumbuh setinggi galah, dan mulai mekar dengan pesat, bersiap untuk menumbuhkan akar yang kokoh dan cabang yang rimbun, hingga kelak akan menaungi seluruh dunia persilatan.

1
Devilgirl
Thor, kebanyakan bahasa modern ya..suara cempreng bisa diganti Suara yang melengking tajam karena vibesnya wuxia lho
Devilgirl: udah bagus,cuma kata yang modern ganti ke versi kuno biar lebih bagus gitu
total 2 replies
Devilgirl
Thor ,kalau bikin genre wuxia kata kompleks bangunan gak sesuai...bisa diganti tempat sekte Qing Yun berada...kompleks bangunan terlihat modern ,kak
wiwi: terimakasih🤭
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!