NovelToon NovelToon
KEBAYA PUTIH YANG TERNODA

KEBAYA PUTIH YANG TERNODA

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:69.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mommy Ghina

"Sejak awal aku memang tidak pernah mencintaimu, Alin! Hatiku sepenuhnya masih milik Cindy!"

Kalimat kejam dari Elang menjadi penutup malam pertama yang dingin bagi Alin. Hanya karena rasa hormat pada Nenek Aisyah, sang CEO angkuh itu sudi mengikat Alin dalam pernikahan sepihak. Bagi Elang, menyelamatkan Cindy dan bocah kecil bernama Ega dari jalanan adalah segalanya, meskipun ia harus menginjak-injak martabat Alin sebagai istri sah.

Namun, Elang melupakan satu hal: Alin bukanlah wanita lemah yang akan mengemis cinta. Saat Alin benar-benar melepaskan cincin pernikahan mereka dan menghilang untuk menata hidupnya sendiri, dunia Elang justru runtuh seketika. Terlebih saat sebuah rahasia medis terbongkar dan membuktikan bahwa anak yang ia agungkan selama ini adalah sebuah kebohongan besar yang dirancang oleh mantannya.

Penyesalan itu datang terlambat. Elang yang dulu arogan kini harus melepaskan seluruh harga dirinya, merangkak di tengah badai, hanya untuk mendapatkan secuil maaf Alin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy Ghina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Hidangan Hambar di Meja Makan

Detak jarum jam dinding kuno berbunyi monoton di dalam kamar tidur lantai bawah yang luas itu. Setelah hampir satu jam dipenuhi ketegangan yang mencekik, atmosfer ruangan perlahan-lahan mulai mereda. Nenek Aisyah akhirnya tertidur pulas dengan rintihan napas yang jauh lebih teratur, setelah dengan penuh kesabaran Alin menyuapinya beberapa sendok bubur ayam hangat dan memastikan obat dari Dokter Hermawan tertelan habis tanpa sisa.

Di sudut ruangan, Elang masih duduk membatu di atas kursi kayu berkaki tinggi dekat meja lampu. Kedua tangannya bersedekap erat di depan dada, sementara sepasang mata elangnya tidak berkedip memperhatikan setiap gerak-gerik Alin. Tatapan mata Elang menyalak tajam, penuh dengan kilat amarah, kejengkelan, dan ego yang terluka parah. Ia menahan semua emosi itu sedemikian rupa agar tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan sang nenek.

Namun, Alin sama sekali tidak peduli. Gadis berambut panjang yang diikat gaya *high ponytail* itu bersikap sangat cuek, dingin, dan menganggap suaminya seolah-olah hantu yang tidak kasat mata. Ia merapikan letak selimut wol Nenek Aisyah dengan gerakan tangan yang telaten, membiarkan rambut panjangnya bergoyang mengikuti ayunan tubuhnya.

Pintu kamar kayu jati itu perlahan diketuk dari luar, lalu Mbok Darmi melongokkan kepalanya dengan sangat hati-hati ke dalam. "Non Alin, Den Elang ... maaf Mbok mengganggu istirahatnya. Makan siang untuk kalian berdua sudah siap ditata di meja makan luar."

Alin menoleh ke arah pintu, lalu mengangguk lembut dengan senyum tipis yang meneduhkan. "Baik, Mbok. Terima kasih banyak ya. Saya segera ke sana."

Tanpa menoleh sedikit pun pada pria yang masih menatapnya dengan rahang mengeras di sudut kamar, Alin menegakkan tubuhnya yang ramping. Ia melangkah anggun memutari ranjang, membuka pintu kamar lantai bawah, lalu berjalan santai menuju ruang makan tanpa berniat untuk menegur atau mengajak suaminya sama sekali.

Meninggalkan Elang yang kian geram di belakangnya. Pria itu mengepalkan tangannya kuat-kuat di dalam saku celana bahan kainnya hingga kuku-kukunya memutih. Nafsu makannya sebenarnya sudah hilang menguap entah ke mana, namun ego lelakinya menolak untuk diabaikan dan ditinggalkan begitu saja oleh seorang wanita muda. Dengan langkah lebar yang dihentak kaku, Elang ikut melangkah keluar, menyusul Alin ke ruang makan.

Suasana di meja makan kayu jati berukuran panjang itu terasa begitu mencekam, dingin, dan kaku, meskipun hidangan sup iga sapi yang mengepulkan uap serta ayam goreng kelapa di atas meja menguar aroma gurih yang menggugah selera. Alin sudah duduk dengan tenang di salah satu kursi, mengambil piring, lalu menyendok nasi ke piringnya sendiri dengan gerakan yang teramat santai dan anggun.

Ujung matanya menangkap sosok Elang yang menarik kursi tepat di seberangnya dengan sebuah hentakan kasar yang menimbulkan bunyi decit nyaring di atas lantai marmer. Namun, lagi-lagi Alin memilih untuk sama sekali tidak menghiraukannya. Ia mulai menyuap sendok pertamanya ke dalam mulut dengan raut wajah tanpa beban.

Elang menatap piringnya yang masih kosong melongpong, lalu menatap Alin yang asyik mengunyah makanannya dengan tenang di depannya. Tensi darah sang CEO muda itu seketika naik bergemuruh hingga ke ubun-ubun. Kepalan tangannya di atas meja mengetat.

"Kamu benar-benar tidak punya sopan santun dan tata krama ya, Alin?" desis Elang, membuka konfrontasi dengan suara rendah yang berat, sarat akan penekanan berbahaya yang mematikan. "Suamimu duduk tepat di depan matamu, dan kamu bahkan tidak punya inisiatif sedikit pun untuk mengambilkan nasi atau sekadar menawarkan lauk pauk di meja ini?"

Alin menghentikan kunyahannya sejenak. Ia meletakkan sendok dan garpunya di atas piring porselen putih dengan bunyi dencing halus yang memecah keheningan, lalu mendongak, melempar tatapan mata yang teramat datar, dingin, dan kosong pada pria di seberangnya.

"Punya tangan dan kaki yang lengkap serta berfungsi dengan baik kan, Mas Elang?" tanya Alin. Nada suaranya terlampau santai, tanpa riak emosi, nyaris seperti sedang membicarakan cuaca siang hari. "Silakan ambil sendiri sesuai kebutuhanmu. Mas kan seorang CEO yang mandiri, sukses, dan berkuasa di luar sana. Masa hanya untuk mengambil nasi ke dalam piring saja harus didekte dan dilayani oleh istri hasil perjodohan yang tidak pernah Mas cintai ini? Jangan manja."

"Alin!" bentak Elang rendah, wajahnya memerah padam menahan rasa malu sekaligus amarah yang nyaris meledak hebat di depan para pelayan rumah besar. "Jaga mulutmu! Di mana etiket dan rasa hormatmu sebagai seorang istri?!"

"Etiket istri saya hanya berlaku untuk sosok suami yang tahu cara menghargai istrinya dengan benar, Mas," balas Alin telak tanpa jeda, kembali meraih sendoknya dengan gerakan anggun tanpa ada sepercik pun riak ketakutan di wajahnya.

Melihat situasi meja makan yang kian meruncing dan memanas, seorang pelayan muda bernama Sri buru-buru melangkah maju dari balik pilar dengan tubuh yang agak gemetar ketakutan. Ia dengan cekatan mengambil alih centong nasi, mencoba menengahi tensi dengan melayani majikan lak-lakinya. "M-maaf, Den Elang ... biar Sri saja yang ambilkan nasinya. Den Elang mau pakai sayur sup iga atau ayam gorengnya juga?"

"Tidak usah sayur. Nasi saja," jawab Elang pendek, ketus, dan teramat dingin.

Sepasang matanya masih menghunjam tajam layaknya belati ke arah Alin yang kini sedang menikmati potongan daging iga sapinya dengan sangat santai, seolah-olah bentakan Elang barusan hanyalah angin lalu.

Di dalam benak Elang yang sedang dirundung kekesalan luar biasa dan ego yang terkoyak, sebuah perbandingan mendadak melintas begitu saja di kepalanya. Andaikan saat ini yang berada di posisi Alin adalah Cindy, sudah bisa dipastikan suasana meja makan ini akan jauh berbeda seratus delapan puluh derajat.

Cindy pasti akan menyambutnya dengan senyuman manis yang hangat meneduhkan, dengan cekatan menyendokkan nasi hangat ke piringnya, memilihkan potongan lauk terbaik, memotongkan dagingnya agar mudah dimakan, lalu menuangkan air minum dengan sikap yang teramat santun dan penuh perhatian seperti yang selalu wanita itu lakukan dulu saat mereka masih memadu kasih. Kontras dengan Alin yang memiliki sisi barbar yang tersembunyi rapat di balik ketenangan wajah yang mematikan.

"Kenapa diam saja, Mas? Makanlah nasinya, keburu dingin dan mengeras," sela Alin tiba-tiba, memutus lamunan Elang. Ia tersenyum kecut di sudut bibirnya, seolah-olah bisa membaca dengan sangat akurat apa yang sedang berkecamuk di dalam isi kepala suaminya. "Kenapa? Sedang merindukan pelayanan Mbak Cindy yang lemah lembut, tahu diri, dan penuh perhatian di rumah baru kita ya?"

Bersambung ...

1
vania larasati
lanjut
🌸 𝑥𝑢𝑎𝑛 🌸
😂😂😂😂
merry yuliana
suruh ganti nama jadi burung perkutut aja kak
Naufal Affiq
kalau masih bodoh lagi kau elang,oma sudah mengasih jalan biar kau menjadi pintar,maka jalan kan apa yang harus kamu kerja kan
olyv
elang oon dikasih berlian kayk alin malah milih jalang kayak cindy siap² gigit jari kalo tetap keras kepala
Yul Kin
lanjut kak
Ayudya
nah apa yg di bilang nenek itu bener elang apa ada bukti kalau si Ega itu anak kandung kamu.seorang CEO kok bodoh banget🤣🤣🤣🤣🤣
kaylla salsabella
nah pilih yang mana lang
yuni ati
Elang galauu🤣
Teh Euis Tea
nah loh pilih elang km berani ga pilih cindi dan di miskinkan nenekmu atau km pilih alin tg tulus sayang sm nenekmu
Sugiharti Rusli
mungkin karena hubungan yang terjalin selama ini dengan Alin dan keluarganya, membuat nenek Aisyah lebih memilih dirinya jadi cucu menantunya sih,,,
Sugiharti Rusli
kira" nenek Aisyah tuh tahu pasti yah kalo watak Alin juga tegas seperti dirinya, tapi dia bisa menempatkan kapan waktunya,,,
Sugiharti Rusli
apalagi kalo perusahaannya baru berkembang pesat tapi juga ada di bawah induk perusahaan keluarganya yah,,,
Sugiharti Rusli
memang perusahaan yang di bawah kendali si Elang itu bukannya start up yah, kira" apa hubungannya sama harta milik sang nenek, apa investornya kah,,,
Mommy Ghina: perusahaan start up, tapi masih berinduk dengan perusahaan almarhum suami Nenek Aisyah
total 1 replies
Sugiharti Rusli
ternyata nenek Aisyah meski sudah uzur, tapi wibawanya tetap terlihat yah saat berkata tegas kepada si Elang cucunya
Wiek Soen
setuju dg nenek, CEO kok goblok
Neaaaa(ʘᴗʘ✿)o(〃^▽^〃)o
😬😬, ga bisa berkutik kan bapak elang yg terhormat, berpikir lah secara benaar jangan cuma bulol yg tdk pada tempatnya daaah... hadeeeh.. 😏😏
Nasya
bagus nek tak setuju bgt biar kapok elang
Nasya
hedehh CEO oon
Halimatus Syadiah
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!