NovelToon NovelToon
Darah Di Bukit Manoreh

Darah Di Bukit Manoreh

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Istana/Kuno / Anak Genius
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Maya Melinda Damayanty

Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEBUAH GERAKAN

Panen dilakukan selama tiga hari penuh. Para petani memenuhi lumbung masing-masing desa mereka. Sebentar lagi musim paceklik tiba, mereka harus benar-benar berhemat.

Sementara di lereng, Srikandi mulai mencangkul sawah untuk ditanam umbi-umbian, singkong jadi pilihan tanamannya. Selain singkong dan ubi rambat mudah tumbuh, singkong juga mudah perawatannya. Dua puluh petak, ia tanami secara tumpang sari.

Setelah seharian, penanaman sudah selesai. Baju Srikandi basah oleh keringat. Ia menyeka keringatnya dengan tangan yang ditutupi tanah basah.

'Sri!" Srikandi menoleh, bibinya Rukmi menatap singkong yang baru saja ditancapkan ke tanah.

"Kau tanam singkong dan ubi?" tanyanya.

"Iya Bi," jawab Srikandi lalu pergi ke dalam rumahnya.

Rukmi mengikutinya, Srikandi menatap bungkusan di meja.

"Bibi bawa makanan lagi?" tanya Srikandi.

"Bukan, tadi dari istana datang menyerahkan bingkisan itu," jawab Rukmi.

Srikandi mengangguk, ia akan membukanya nanti. Dirinya akan pergi ke sungai kali Ireng. Tubuhnya sudah terasa gatal semua.

Setelah mengambil pakaiannya, ia pun bergegas pergi ke arah timur dari sisi kebun kacang panjang. Melompati batu-batuan cadas dan mandi di aliran dalam dan arus yang deras.

Sementara di bilik rumah, Rukmi menatap penuh minat bingkisan yang tergeletak di atas meja. Ia sangat penasaran dengan isinya. Ia juga meyakinkan jika istana memberikan Srikandi sedikit koin untuk kebutuhan hidupnya.

"Aku bibinya. Aku yang merawatnya. Aku pasti punya hak untuk mengambil bagiannya!" gumamnya lalu meraih bingkisan dengan kain bersulam itu.

Dengan cepat ia membuka kain yang membuntal. Satu kendi dari tanah liat yang tertutup oleh daun jati dan diikat oleh pelepah pisang.

Tangannya gemetar saat hendak membuka ikatan pelepah pisang. Ia menyentuh ikatan, ketika hendak membuka simpulnya, tiba-tiba ....

"Ibu!" Doko menyentuh bahu sang ibu hingga tubuh wanita itu terjengkit.

"Demi iblis Menoreh!" teriak Rukmi terkejut bukan main.

"Ibu ... ini anakmu!" protes Doko menggerutu.

"Aduh ... cah lanang. Kau hampir buat ibu jantungan!" seru Rukmi kesal.

"Ah!" Doko menghentak-hentakkan kakinya lalu duduk di kursi kayu dengan tangan terlipat di dada dan bibirnya maju.

"Ibu ... Aku lapar!" rengeknya manja.

"Hmmm ... nanti ya ... Kita tunggu Srikandi ..."

"Ibu ... Ngapain nunggu bocah tengik itu!" seru Doko tak suka.

"Diamlah. Ini punya Srikandi ...."

Perkataan Rukmi membuat Doko mengerutkan keningnya.

"Punya Srikandi? Ibu ... Apa ibu kemasukan dedemit lereng ini?" tanyanya menuduh dengan mata lebar.

"Diam! Jangan banyak bicara!" sentak Rukmi marah.

Doko terkejut, untuk pertama kalinya sang ibu marah kepadanya seperti itu. Rukmi langsung merasa bersalah.

"Ibu ... Ibu marahi aku?" mata Doko langsung berkaca-kaca.

"Nak ... bukan maksud Ibu ...."

"Ibu jahat!" teriak Doko lalu ia berlarian keluar rumah.

"Doko, Nduk!" seru Rukmi putus asa.

Doko pergi sambil menangis. "Aku nggak akan memaafkan ibu!" teriaknya.

Rukmi berdecak frustrasi. Ia kesal pada semuanya bahkan pada sang raja yang mengancamnya.

"Doko ... Tunggu Ibu!" seru Rukmi lalu pergi menyusul putranya.

Sementara drama keluarga itu pecah di atas lereng, suasana sunyi justru menyelimuti Kali Ireng tempat Srikandi membersihkan diri.

Byuuur!

Srikandi menenggelamkan seluruh tubuhnya ke dalam lubuk Kali Ireng yang berarus deras. Dinginnya air pegunungan seketika meluruhkan sisa-sisa tanah basah, peluh, dan rasa penat setelah seharian penuh menancapkan batang-batang singkong di dua puluh petak sawahnya.

Ketika ia muncul ke permukaan, menyibak rambut hitamnya yang basah, sepasang matanya menatap langit sore yang mulai menggelap.

Di dalam air yang deras ini, Srikandi merasa sirkulasi darahnya mengalir jauh lebih lancar. Ilmu Godokan Petapa Gua Ijen di dalam raga tampaknya bereaksi positif terhadap dinginnya air, membuat hawa murni di dalam dadanya berputar dengan ritme yang stabil dan menyejukkan.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Indra pendengaran Srikandi yang tajam menangkap suara langkah kaki yang tergesa-gesa dan tidak beraturan dari arah jalan setapak di atas kebun kacang panjang.

"Ibu jahat! Aku membenci Ibu! Aku tidak mau pulang ke lereng sialan ini lagi!"

Srikandi menghela napas panjang di dalam air. Itu suara Doko yang sedang menangis sesenggukan, disusul oleh suara teriakan Bibi Rukmi yang terengah-engah mengejarnya dari kejauhan.

"Dua orang itu benar-benar tidak bisa membiarkan tempat ini tenang sebentar saja," batin Srikandi menggelengkan kepala.

Setelah merasa cukup, Srikandi menenakan kain jarik untuk melilitkan tubuhnya. Lalu ia melesat melompat-lompat menginjak batuan cadas yang tajam. Seakan itu adalah jalanan yang aman untuknya.

Sampai rumah, kediamannya tentu kosong. Srikandi melihat bingkisan istana sudah terbuka. Ia sangat yakin jika bibinya mau membuka karena penasaran dengan isinya.

"Ini pasti masakan Baginda Ratu!" gumamnya lalu membuka simpul ikatan pelepah pisang.

Aroma sedap ayam panggang tercium. Srikandi sudah lama tak makan ayam, walau ada beberapa ekor di kandang. Tapi ia sayang untuk menyembelih salah satunya. Ayam-ayam itu adalah peliharaan ayahnya ....

Srikandi mengingat ayahnya, aroma sedap ayam tidak lagi menggugah seleranya. Ia menutup kembali tembikar itu dan mengikatnya.

"Bahkan sampai hari ini. Pihak kerajaan belum mengumumkan kematian ayah. Jangankan mengumumkan, untuk bicara padaku secara langsung saja. Raja bahkan seperti enggan bertemu?"

Seribu tanda tanya terukir di kepalanya. Semua permasalahan kematian sang ayah mengalami jalan buntu. Terlebih panah yang membuat tubuhnya terlempar kemarin, ia sangat yakin jika Paduka Raja telah mengamankannya.

"Ayah ... Aku harus apa?" gumamnya pelan.

Lalu tiba-tiba ia teringat.

"Lencana plakat masuk Istana Jalapati!"

Srikandi merogoh ikatan pinggangnya, membuka kain pembungkus warna merah. Plakat berbahan dasar emas begitu berkilau ditempa cahaya matahari sore.

"Eh ... ada aksara Jawa yang sama seperti di batang panah!" seru Srikandi meraba ukiran.

Ia pergi ke salah satu kayu penopang rumah. Menggurat ukirannya di sana. Perlahan, guratan yang rusak itu kembali terukir ....

"Hampir sama persis ... hanya saja ini ada sebuah tanda khusus ... Temenggung ... Pancasona? Mereka mencuri ... tidak! Jika mereka mencuri, mereka tidak seakrab itu menyebut nama seorang temenggung!" gumamnya lagi.

Perlahan langit pun mulai gelap, pijaran senja di balik bukit perlahan menghilang seiring tenggelamnya matahari.

Kabut sudah turun semenjak tadi. Udara dingin menyelimuti seluruh wilayah Kerajaan Kali Ireng.

Namun di sebelah barat Desa Tiro, di mana Gatra dimakamkan secara asal. Sosok bertubuh besar nampak menggali gundukan tanah itu dengan kedua tangannya.

Tangannya dipenuhi bulu-bulu lebat berwarna hitam pekat. Bunyi nafas terdengar layaknya babi hutan.

Grok! Grok!

Kuku-kukunya yang panjang, hitam dan runcing terus menggali tanah kuburan. Mata merahnya terus menyala, hingga di kedalaman tertentu, kuburan itu nampak kosong.

Grok! Nguik! Makhluk hitam itu seperti marah. Kuburan itu sudah sampai inti bumi, bahkan air sudah mulai memenuhi lubang.

Grok! Pekikan mahkluk itu terdengar hingga ratusan meter. Seseorang berdiri dengan jubah kebesaran yang berkibar di terpa angin. Di sisinya ada tiga orang yang menenteng mayit Gatra.

Bersambung.

Wah ...

Next?

1
vania larasati
lanjutt
Deyuni12
lanjut
Deyuni12
galak banget nh si Rukmi,sleper juga nh
Deyuni12
nyari kesempatan Mulu nh Rukmi
Anita Barus
penasaran lanjut
Anita Barus
serem juga KLO sampai sda acara menjulatin darah gitu gitu
vania larasati
lanjut
Anita Barus
maki seru lanjut Thor
Anita Barus
Srikandi punya bibi yg unik serakah kepo cerewet .juga rada cengeng .
Anita Barus
bibi Rukmi yg serakah seperti kera ternyata🙏 masih bisa menangis juga ya
Anita Barus
nah Lo sakta rakus di usir kan Lo 5thn di pengasingan jauh dr istri anak dan gundik kapok mu sampai kapan 🤣🤣🤣🤣🤣pake ngusik hak Srikandi
Anita Barus
ternyata bibi Rukmi dan suaminya sama serakah nya ingin menguasai upeti.ki abda tapi kocak juga ya waktu bi Rukmi. dan putra semata wayang nya yg gemulai merajah kebun milik Srikandi .sampai.jatuh dan putra gemulai nya Doko menangis pulang kerumah nya 🤣🤣🤣🤣🤣
Anita Barus
walau windu benci dgn bayi Ki sabda TDK masalah Ki sabda dan paman sengko pasti melindungi sang anak
Benny Badaruddin
kasihan sekali tapi untung nya dia dari kecil sudah ditempa menjadi gadis yg kuat oleh ayahandanya
Benny Badaruddin
apakah Srikandi tau kalo ayahnya FFR
vania larasati
lanjut
Eni Istiarsi
pas episode sebelumnya disebutkan kalo Nyi Padan Laran beraroma bunga kantil udah feeling kalo sosoknya memang sepertinya tidak biasa
vania larasati
lanjut
Benny Badaruddin
keren
Deyuni12
hiiii
nyi padan serem akh
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!