NovelToon NovelToon
Blazing Asura: The Untamed God

Blazing Asura: The Untamed God

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:785
Nilai: 5
Nama Author: fandy syahputra

Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Hukum Rimba Perburuan Langit dan Bilah Teratai Tanpa Hati

SHUUT!

Retakan spasial terbuka lebar di atas sebuah hamparan dataran berbatu yang gersang. Sesosok pemuda berjubah hitam dengan sulaman benang emas di sepanjang pinggirannya mendarat dengan sangat mulus. Kedua telapak kakinya menjejak tanah berbatu tanpa menimbulkan suara sedikit pun, sementara embusan angin dimensi yang kencang langsung memainkan ujung rambut hitamnya.

Yu Fan.

Pemuda itu mengedarkan pandangan matanya yang tenang. Langit di dalam Dimensi Perburuan Langit ini tidak berwarna biru, melainkan berwarna ungu tua dengan pusaran awan energi yang bergejolak samar. Di kejauhan, hutan-hutan dengan pepohonan berdaun perak tampak membentang luas, dikelilingi oleh ngarai-ngarai curam yang memancarkan hawa kuno yang pekat.

"Teleportasi acak yang cukup jauh," gumam Yu Fan datar.

Dia meraba kantong spasial di balik jubahnya, memastikan bola kristal spiritual biru miliknya masih berada di sana dalam kondisi utuh. Sistem ujian kelulusan akbar ini benar-benar mencerminkan hukum rimba yang kejam. Di dalam wilayah dimensi mandiri ini, bahaya tidak hanya datang dari monster-monster spiritual kuno yang kelaparan, melainkan dari setiap pasang mata rekan seangkatan mereka sendiri.

Meskipun Dekan telah menegaskan bahwa kekalahan di dalam dimensi ini tidak akan membawa kematian nyata di dunia luar, karena tubuh murid yang hancur atau sekarat akan langsung tereliminasi secara otomatis dan ditransmisikan keluar dalam kondisi hidup namun dinyatakan tidak lulus, tekanan psikologis yang dihasilkan tetaplah nyata. Bagi para kultivator muda, kegagalan dalam ujian kelulusan berarti kehancuran reputasi dan hilangnya masa depan di dunia kultivasi fana yang kompetitif.

Sepanjang perjalanannya melintasi ngarai batu selama beberapa jam pertama, Yu Fan telah bergerak dengan sangat efisien. Dia tidak berniat membuang-buang energinya untuk bersembunyi. Dua jam yang lalu, sekelompok murid yang terdiri dari tiga orang murid dalam mencoba menyergapnya dari balik runtuhan tebing, mengira pemuda berjubah hitam yang berjalan sendirian itu adalah mangsa empuk.

Hasilnya sangat singkat. Tanpa perlu mencabut pedangnya, Yu Fan hanya menggunakan tiga entakan gelombang energi batin dari telapak tangannya. Kecepatan dan presisi gerakannya yang melampaui logika ranah fana membuat ketiga murid itu langsung bertumbang dengan tulang dada yang retak. Bola kristal spiritual mereka direbut secara mutlak, dan tubuh ketiga murid yang tidak berdaya itu seketika diselimuti oleh cahaya perak sistem ujian, melesat naik ke langit, tereliminasi keluar dari gerbang dimensi.

Kini, di dalam kantong penyimpanan Yu Fan, telah bertambah tiga buah bola spiritual baru.

Yu Fan melangkah perlahan, menyusuri jalan setapak di bawah bayang-bayang tebing raksasa. Pikirannya mendadak melayang, merenungkan jalannya ujian yang baru berlangsung setengah hari ini. “Dimensi ini terlalu luas. Sampai saat ini, aku belum menjumpai satu pun murid inti yang memiliki nama besar. Di mana posisi Jin Yuexin saat ini? Apakah Mo Han, Mei Er, Fa Hai, atau Xiao Feng mendarat di area subur? Dan... di mana Lin Xueru?” batin Yu Fan bertanya-tanya dalam keheningan.

Langkah kaki Yu Fan mendadak terhenti di tengah jalan berbatu yang sunyi.

Sret!

Pusaran angin di sekitar tubuhnya mendadak berembus menjadi sangat dingin, membawa aroma harum yang teramat asing sekaligus familiar: aroma bunga teratai suci. Insting bertarung tingkat sembilan yang tertanam jauh di dalam refleks saraf tubuh dewa milik Yu Fan seketika bergetar hebat, mendeteksi seberkas niat membunuh yang sangat tajam dan dingin dari arah atas tebing.

BOOM!

Tanpa ada peringatan suara sedikit pun, langit di atas kepala Yu Fan mendadak pecah. Belasan kelopak bunga teratai raksasa yang terbuat dari manifestasi es suci murni melesat turun bagai hujan meteor, mengarah tepat ke arah titik vital di sekujur tubuh pemuda itu. Setiap kelopak teratai es tersebut memancarkan riak tajam yang mampu membelah baja berkali-kali lipat.

Yu Fan tidak menunjukkan ekspresi terkejut sedikit pun di wajah kago nya. Tubuhnya bergerak secara naluriah, bergeser setengah tapak ke samping, lalu melakukan serangkaian lompatan mundur yang sangat anggun bagai bayangan hitam yang menari di atas tanah gersang.

BLAAAM! BLAAAM! BLAAAM!

Kelopak-kelopak teratai es itu menghantam tanah berbatu tempat Yu Fan berdiri sebelumnya, meledak menjadi pecahan-pecahan kristal es tajam yang melubangi permukaan tanah hingga sedalam dua meter. Hawa dingin yang dilepaskan seketika membekukan batuan di sekitarnya menjadi putih berhawa salju.

Di tengah kepulan uap es yang dingin, sesosok gadis berpakaian sutra putih bersih perlahan turun dari atas langit. Dia berdiri dengan anggun di atas sebuah platform teratai es transparan yang melayang setengah meter di atas tanah. Rambut hitam panjangnya berkibar pelan, wajahnya secantik rembulan namun sepasang matanya yang sedingin es di dasar jurang menatap lurus ke arah Yu Fan tanpa ada riak emosi sedikit pun.

Lin Xueru.

Tangan halusnya memegang sebilah pedang giok putih yang memancarkan aura es suci yang sangat pekat. Kehadirannya di tempat itu seolah membuat seluruh suhu di dalam ngarai berbatu drop hingga ke titik beku.

Yu Fan merapikan jubah hitamnya yang sedikit terkena uap es, menatap gadis di depannya dengan pandangan yang tenang. "Lin Xueru... kita bahkan belum melewati hari pertama ujian, dan kita berdua masih berada di dalam wilayah akademi yang sama. Kenapa kau sudah menyerang ku dengan niat membunuh yang begitu besar?"

Xueru mengangkat pedang giok putihnya, mengarahkannya tepat ke arah dada Yu Fan. Suaranya terdengar sangat datar, sunyi, dan tidak memiliki getaran emosi fana sedikit pun, sebuah perwujudan sempurna dari doktrin tanpa hati yang pernah diceritakan oleh Mei Er. "Yu Fan... keberadaan mu di dunia fana ini adalah sebuah anomali. Kekuatan merah pekat yang kau lepaskan malam itu... kau siapa sebenarnya, kenapa kau memiliki kekuatan yang sangat berbahaya!?."

Yu Fan menghela napas pendek, menatap ujung pedang gadis itu. "Aku juga mencari tau tentang apa dan siapa diriku dan dengan niat membunuh mu, Kautahu sendiri aturan dimensi ini, Xueru. Meskipun kau mengerahkan seluruh kekuatan sektemu untuk menghancurkan tubuh fisiku di tempat ini, aku tidak akan benar-benar mati di dunia nyata. Aku hanya akan tereliminasi secara otomatis dan dinyatakan gagal dalam ujian kelulusan."

"Aku tahu hal itu dengan sangat baik," balas Xueru dingin, tidak ada keraguan di dalam sepasang matanya yang beku. "Dan itulah tujuanku saat ini. Aku akan memastikan langkahmu terhenti di sini. Aku akan membuatmu tidak lulus dari akademi ini, agar kau tidak memiliki panggung untuk tumbuh menjadi monster yang lebih mengerikan di luar sana."

Yu Fan terdiam sejenak. Pikirannya mendadak memanggil kembali potongan ingatan lama ketika mereka berdua berjalan di tengah malam festival kota beberapa tahun lalu. Saat itu, Xueru pernah mengambil manisan buah darinya dan membisikkan puisi kuno tentang teratai yang mekar di atas darah. Di malam itu, Yu Fan pernah berkata dengan bijaksana bahwa mereka bisa mengubah sejarah permusuhan sekte mereka, bahwa dia akan tumbuh kuat untuk melindungi orang-orang di sekitarnya, termasuk Xueru sendiri.

Namun kini, kenyataan di depan matanya sangat kontras. Doktrin kejam Sekte Teratai Putih yang mengharuskan calon ketuanya memotong seluruh emosi fana tampaknya telah merenggut seluruh sisa-sisa kebaikan dari dalam diri gadis es ini.

"Kenapa kita harus selalu berakhir sebagai musuh, Xueru?" tanya Yu Fan, suaranya mengandung seberkas keprihatinan yang mendalam. "Apakah benar-benar tidak ada cara lain yang bisa kita lakukan agar tidak ada permusuhan antara kita?"

Mendengar kata kata Yu Fan, sepasang mata Lin Xueru sempat bergetar selama sepersekian detik, namun riak emosi itu langsung disapu bersih oleh aliran energi es suci di dalam meridian nya. Wajah cantiknya kembali mengeras bagai batu giok yang mati.

"Kepentingan sekte berada di atas segalanya, Yu Fan. Rasa kasihan dan emosi fana hanyalah belenggu yang menghambat jalan menuju puncak kultivasi tertinggi," jawab Xueru absolut. "Teknik Rahasia Teratai: Seratus Bilah Es Suci!"

SHUUUT!

Xueru mengayunkan pedang gioknya membentuk lingkaran vertikal di udara. Di sekeliling tubuhnya, mendadak bermanifestasi ratusan bilah pedang es berukuran kecil yang berputar dengan kecepatan tinggi. Dengan satu hentakan jarinya, ratusan bilah es itu melesat badai salju yang mematikan, merobek udara ngarai menuju ke arah Yu Fan dari segala penjuru mata angin.

BOOM! BOOM! BOOM!

Yu Fan tidak mencabut pedangnya. Dia memilih untuk menguji sejauh mana perkembangan kultivasi Lin Xueru setelah turnamen berakhir. Tubuh Yu Fan dilapisi oleh riak cahaya emas cerah yang sangat tipis, hasil dari energi batin murni yang telah dia segel dan kuasai dengan sempurna di dalam dimensinya empat hari lalu.

Dengan kelincahan nya, Yu Fan melompat dan meliuk di antara sela-sela ratusan bilah es yang menghujam. Pergerakannya begitu santai, seolah dia tidak sedang berada di tengah pertempuran hidup dan mati, melainkan sedang berjalan-jalan di taman bunga. Setiap kali ada bilah es yang hampir menyentuh jubah hitamnya, Yu Fan hanya perlu menjentikkan jari tangannya yang dilapisi energi emas, menghancurkan bilah es tersebut menjadi bubuk kristal tanpa merusak selembar pun kain jubahnya.

Melihat serangannya dipermainkan dengan begitu mudah, alis Lin Xueru menukik tajam. Dia melompat turun dari platform teratas esnya, tubuhnya melesat maju bagai kilat putih, mengayunkan pedang gioknya secara horizontal untuk menebas leher Yu Fan.

TINGG!

Yu Fan mengangkat dua jari tangan kanannya, menjepit bilah pedang giok putih Xueru tepat satu inci di depan lehernya sendiri. Benturan antara energi es suci Xueru dan energi emas murni dari jari Yu Fan menciptakan gelombang kejut yang meretakkan tanah di bawah kaki mereka.

"Benar-Benar sangat ingin membunuh ku, tapi Kecepatanmu meningkat, Xueru. Tapi emosimu yang tertekan membuat aliran energimu menjadi terlalu kaku," ucap Yu Fan datar, menatap langsung ke dalam mata gadis itu dari jarak dekat.

Xueru mendengus dingin, dia menarik pedangnya dengan sentakan batin, lalu memutar tubuhnya untuk melepaskan serangkaian tebasan berantai yang membentuk formasi bunga teratai darah di udara. Sret! Sret! Sret! Setiap tebasan membawa tekanan Ranah Master Tahap Akhir yang sangat solid.

Namun, bagi Yu Fan yang sudah melewati banyak pertarungan maut, seluruh pergerakan pedang Xueru tampak berjalan dengan sangat lambat di dalam penglihatannya. Yu Fan terus menghindar dengan langkah-langkah kaki yang presisi, sengaja membiarkan Xueru menyerang tanpa melakukan serangan balasan yang berarti. Dia seperti seorang master yang sedang menguji kemampuan seorang murid pemula, mempermainkan ritme pertempuran Xueru hingga membuat gadis es itu mulai kehabisan napas spiritualnya.

"Sial..." gumam Xueru kesal di dalam hatinya, menyadari bahwa jarak kekuatan di antara mereka justru semakin melebar jauh semenjak malam penyerangan itu.

Melihat Xueru yang mulai terengah-engah dan konsentrasi energinya mulai pecah, Yu Fan memutuskan untuk mengakhiri interaksi ini. Dia tidak ingin membuang waktu satu minggu ujiannya hanya untuk melayani obsesi sekte gadis ini.

Saat pedang Xueru kembali menusuk lurus ke depan, Yu Fan tidak menghindar ke samping. Tubuhnya mendadak bergeser maju ke depan, menembus celah pertahanan pedang Xueru dengan kecepatan yang tidak bisa ditangkap oleh mata telanjang. Sebelum Xueru sempat menarik kembali pedangnya, Yu Fan sudah berada tepat di belakang punggung gadis itu.

Tangan kanan Yu Fan bergerak secepat kilat, melepaskan sebuah pukulan telapak tangan spiritual yang dilapisi aksara segel emas tipis ke arah punggung Xueru.

BOOM!

Hentakan energi emas itu tidak melukai fisik Xueru, namun aliran energinya masuk ke dalam meridian punggung gadis itu, mengacaukan sirkulasi energi es sucinya selama beberapa menit dan membuatnya terhuyung maju beberapa langkah ke depan dengan napas yang sesak.

"Ugh!" Xueru berbalik dengan cepat, mengarahkan pedangnya kembali, namun sepasang matanya seketika melebar penuh keterkejutan.

Ngarai berbatu itu telah kosong. Sosok Yu Fan yang mengenakan jubah hitam bersulam emas itu telah lenyap sepenuhnya tanpa meninggalkan jejak spasial atau aura spiritual sedikit pun di udara. Kemampuan Yu Fan dalam menyembunyikan eksistensinya setelah melepaskan serangan berada di tingkat yang sama sekali tidak bisa dijangkau oleh indra batin Lin Xueru.

Xueru menurunkan pedang giok putihnya perlahan, menyeka peluh dingin yang mengalir di keningnya. Dadanya kembang kempis menahan rasa kesal dan ketidakberdayaan yang teramat sangat yang bergejolak di dalam hatinya. “Yu Fan... kau sudah berkembang lebih dari yang ku kira, kau benar-benar tidak bisa di tebak?” batin Xueru menjerit dalam keheningan yang murung, sebelum akhirnya dia melompat kembali ke atas platform teratainya dan pergi mencari mangsa lain demi kelulusannya.

Sementara itu, jauh di sisi barat Dimensi Perburuan Langit, Yu Fan telah muncul kembali di sebuah kawasan hutan berdaun perak yang sangat rimbun. Keberhasilannya meloloskan diri dari Lin Xueru tanpa perlu mengeluarkan energi yang besar membuatnya merasa cukup puas. Baginya, ujian kelulusan ini tidak terasa seperti sebuah tekanan, melainkan sebuah petualangan santai untuk mencari hiburan di tengah kebosanan jalur dunia fana.

ROAAARRR!

Sebuah raungan keras tiba-tiba terdengar dari arah balik semak-semak perak. Sesosok monster spiritual berbentuk Beruang Cakar Baja berukuran sebesar rumah tingkat dua melompat keluar dengan mata yang merah menyala. Monster tingkat empat itu langsung mengayunkan cakarnya yang dilapisi energi logam tajam ke arah kepala Yu Fan.

"Hmph." Yu Fan hanya mendengus kecil.

Dia melangkah maju dengan santai, tangan kanannya mencabut sebilah pedang besi standar akademi yang tergantung di pinggangnya. Dengan satu tebasan vertikal yang sangat bersih dan tanpa riak energi yang berlebihan, murni mengandalkan ketajaman insting bertarung dewa, Yu Fan membelah tubuh beruang raksasa itu menjadi dua bagian dari kepala hingga selangkangan dalam satu kedipan mata.

CRASH!

Tubuh monster beruang itu roboh ke tanah, meledak menjadi partikel cahaya dimensi, meninggalkan sebuah bola spiritual hijau tingkat tinggi di atas tanah. Yu Fan memungutnya dengan santai, memasukkannya ke dalam kantong penyimpanan yang kini sudah mulai penuh dengan bola spiritual mangsa.

Saat Yu Fan hendak melanjutkan perjalanannya menyusuri bukit perak, indra pendengarannya yang sangat pekat menangkap suara ledakan energi api yang sangat dahsyat dari balik lembah bukit sebelah kanan.

BOOM! BLAST! "Rasakan ini! Teknik Api Phoenix: Sayembara Lidah Api!"

Yu Fan melompat ke atas salah satu dahan pohon perak tertinggi, menyembunyikan auranya secara total di balik dedaunan untuk mengintip situasi di bawah lembah. Di sana, di sebuah kliring hutan yang luas, tampak Putri Jin Yuexin sedang bertarung dengan sangat hebat melawan empat orang murid dalam akademi sekaligus.

Tubuh Yuexin dibalut oleh kobaran api merah-kuning yang sangat membara, Pedang Roh Api Phoenix di tangannya terus mengayunkan gelombang api berbentuk sayap burung yang membakar habis seluruh tanaman di sekitarnya. Gerakan pedang sang putri tampak jauh lebih solid, bertenaga, dan tidak memiliki banyak celah kosong jika dibandingkan dengan gerakannya sebelum malam penyerangan dua minggu lalu. Pengalaman hampir mati malam itu tampaknya benar-benar telah mematangkan mental bertarung putri kekaisaran ini.

CRASH! BANG!

Dalam waktu kurang dari lima menit, Yuexin berhasil mematahkan formasi pedang keempat lawannya, membuat mereka bertumbang dengan jubah yang hangus terbakar. Dengan wajah yang dipenuhi peluh namun sarat akan rasa bangga, Yuexin memungut empat buah bola spiritual milik lawannya yang langsung tereliminasi keluar dari dimensi.

"Hmph! Rasakan itu! Siapa bilang aku hanya bisa merepotkan orang lain! Tanpa bantuan si batu kaku Yu Fan itu pun, aku bisa meluluskan diriku sendiri dengan peringkat tertinggi!" omel Yuexin keras-keras ke arah langit, berkacak pinggang dengan napas yang terengah-engah, membiarkan sifat cerewetnya kembali keluar setelah memenangkan pertempuran.

Melihat pemandangan tersebut dari atas pohon, Yu Fan hanya bisa mengulas senyuman tipis yang sangat samar di bibirnya. Dia sengaja tidak memunculkan diri atau mendekati tempat Yuexin berada. “Kau sudah tumbuh menjadi lebih kuat, Yuexin. Jalur kultivasi ini membutuhkan kemandirian yang mutlak. Menjauh darimu saat ini adalah pilihan terbaik agar kau bisa menemukan kedewasaan dan kekuatan sejatimu sendiri tanpa selalu bersandar di balik punggungku tapi aku akan melindungi mu dari jauh,” batin Yu Fan dengan penuh kearifan.

Yu Fan melompat turun dari dahan pohon perak dengan sangat ringan tanpa menimbulkan embusan angin sedikit pun. Dia membalikkan tubuhnya, memilih untuk berjalan ke arah yang berlawanan, menyusuri area dimensi yang lebih dalam yang dipenuhi oleh tantangan baru yang lebih menarik.

Baginya, satu minggu di dalam Dimensi Perburuan Langit ini masih sangat panjang, dan dia berniat untuk terus menjelajahi setiap sudut tempat asing ini, menikmati sensasi dari setiap pertarungan santai yang dia temui, sembari terus mematangkan fondasi energi emas murninya sebelum gerbang kelulusan resmi dibuka kembali di hari ketujuh nanti. Langkah kakinya yang tegap terus membawa Sang Asura berjalan menembus kabut dimensi, meninggalkan jejak kepahlawanan baru yang siap diukir di bawah langit ungu yang luas.

1
WER
semangat author 👍👍👍👍
Fandi Syahputra: 💪 semangat 45
total 1 replies
Fandi Syahputra
hehehe🤭 support terus
T28J
cocok sama saya Thor... 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!