🍀AYO, MAMPIR 🍀
Galang Langit jatmika sama sekali tidak mengenal sosok Hanum Sekar Salsabila.
Tapi di ranjang kematian ibunya, ia di paksa mengucap ijab Kabul untuk menikahi gadis itu.
"Nikahi Sekar, jaga gadis itu untuk ibu."
Pernikahan tanpa cinta, masa lalu yang datang, dan rumah tangga yang semakin terasa hambar.
Tapi bagaimana kalau wasiat itu justru jadi jalan satu-satunya untuk menyembuhkan hati mereka berdua yang penuh luka?
Yuk, cari jawabannya di sini 🍀
°°°°°°°°
Jangan lupa subscribe, like, vote, dan komen🫶
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yehppee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 19. Ngidam sate
Langit Garut sore itu berwarna jingga pucat ketika mobil Galang memasuki gang kecil menuju rumahnya di daerah Tarogong. Udara dingin khas habis hujan masih terasa, menyisakan aroma tanah basah dan suara serangga dari kebun sekitar rumah warga.
Jam di dashboard menunjukkan pukul lima lewat sepuluh menit.
Untuk pertama kalinya dalam satu Minggu terakhir, Galang pulang sebelum magrib.
Tidak ada operasi tambahan, tidak ada pasien CITO, tidak ada panggilan ICU mendadak.
Ajaib.
Bahkan satpam rumah sakit sampai bercanda,
"Dok, tumben pulang masih lihat matahari."
Galang hanya tertawa kecil sambil masuk mobil.
Tubuhnya tetap lelah, tetapi hari itu rasanya sedikit ringan. Mungkin karena seminggu terakhir benar-benar brutal. Tiga kali operasi emergency, dua malam jaga tanpa tidur cukup, ditambah dokter senior yang cuti membuat jadwalnya berantakan.
Ia memarkirkan mobil di halaman rumah sederhana mereka.
Lampu teras masih belum menyala.
Berarti Sekar mungkin masih di dalam.
Galang mengambil tas kerjanya lalu masuk rumah pelan. Suasana rumah sangat tenang sekali, hanya terdengar suara televisi kecil dari ruang tengah.
"Assalamualaikum...,"
Tidak ada jawaban.
Galang melepas jam tangannya sambil berjalan menuju kamar. Pikirannya sederhana saja.
Mandi lalu shalat dan rebahan lima menit yang kemungkinan berubah jadi ketiduran selama dua jam bahkan lebih.
Namun baru saja tangannya membuka pintu kamar---
BRAK.
Galang langsung berhenti.
Sementara di dalam kamar, Sekar membelalak kaget setengah mati.
Perempuan itu baru selesai mandi.
Rambut hitamnya disanggul asal menggunakan jedai besar warna krem. Kulitnya masih sedikit basah, bahkan ada tetesan air di lehernya. Tubuh yang biasanya selalu tertutup gamis longgar kini hanya di balut handuk putih yang melilit tubuh sintalnya sampai lutut.
Dan itu pertama kalinya Galang melihat istrinya seperti itu.
Rumah mendadak sunyi seketika, bahkan suara televisi di ruang tengah terasa hilang mendadak sedangkan Sekar refleks memekik kecil.
"ASTAGHFIRULLAH."
Galang langsung berbalik badan cepat.
"Maaf."
Cepat sekali jawabnya. Namun telinganya sudah memerah duluan. Di belakangnya, Sekar panik luar biasa.
"Kok ke sini?" tanya Sekar spontan.
Galang masih membelakangi Sekar sambil memejamkan mata sebentar.
"Saya memang tinggal di sini."
"Maksudnya...kok, jam segini udah pulang?!"
"Operasi selesai cepat."
Sekar langsung menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.
"Ya Allah."
Biasanya Galang pulang jam delapan malam. Kadang tengah malam, kadang dini hari, atau bahkan pagi. Karena itulah Sekar santai sekali habis mandi tanpa buru-buru memakai baju.
Mana tadi dia pikir Galang pasti masih di rumah sakit.
"Jangan masuk dulu!" katanya buru-buru.
"Saya sudah terlanjur masuk."
"Ya keluar lagi, A!"
Galang menghela napas kecil menahan tawa.
"Iya."
Namun saat hendak melangkah keluar, tanpa sengaja matanya melirik cermin lemari.
Dan di pantulan cermin itu, Galang sangat jelas melihat bagian tubuh Sekar. Gadis itu terlihat sedang jongkok panik mencari baju, handuk yang di pakainya hampir melorot dan buru-buru Sekar memegangi handuknya dengan erat.
Galang langsung menoleh cepat ke depan lagi.
"Maaf," ulangnya lebih pelan.
Sekar yang menyadari itu semakin panik.
"Jangan nengok!"
"Saya nggak nengok."
"Tadi nengok!"
"Itu refleks."
"Refleks apanya?!"
Galang akhirnya batuk kecil menahan senyum.
Lucu, pikirnya.
Ini pertama kalinya ia melihat Sekar benar-benar kehilangan ketenangan. Biasanya perempuan itu lembut, rapi, dan anggun. Sekarang?
Lihatlah! perempuan itu tengah berantakan dan panik. Anehnya, Galang hanya bisa menahan tawa. Bahkan saat jedai yang di pakai istrinya itu hampir copot, Galang sampai menelan ludahnya susah payah.
"Sudah belum?" tanya Galang yang saat ini di luar kamar dan membelakangi pintu.
"Sebentar!"
Terdengar suara lemari dibuka terlalu keras.
Lalu suara sesuatu jatuh.
"Aw!"
Galang refleks kembali membuka pintu.
"Kamu kenapa?"
"Tutup pintunya!"
"Saya cuma denger kamu kesandung, takutnya kenapa-kenapa."
"Aku nggak papa!"
Dua detik hening.
Lalu terdengar gumaman Sekar penuh malu.
"Ya Allah malu banget..."
Sementara sudut bibir Galang refleks terangkat menahan senyum.
Beberapa menit kemudian, Sekar akhirnya berkata lirih.
"Udah."
Galang membuka pintu pelan.
Kini Sekar sudah memakai piyama satin panjang berwarna hitam. Rambut yang tadi berantakan terlihat tengah di sisir, sementara kedua pipi istri kecilnya itu tampak kemerah-merahan karena malu.
Sementara Galang saat ini masih mematung di dekat pintu. Tatapan mereka bertemu sebentar. Lalu Sekar yang tengah menyisir membuang muka.
"Kenapa pulang cepet gak bilang dulu..."
"Ya... lupa..."
Sekar menyimpan sisir di meja rias, gadis itu kini sudah rapi. Bagian tubuh yang sempat Galang lihat sudah tertutup dengan piyama satin longgar.
Entah kenapa tiba-tiba saja bayangan aneh merasuki otaknya lalu mengalihkan pandangannya dari Sekar yang sore ini entah kenapa terlihat amat sangat cantik.
"Lain kali kalau mau masuk kamar ketuk dulu pintu." Pinta Sekar pelan.
"Kenapa?"
Sekar mendengus kesal. "Ya aku malu, kan barusan A Galang liat aku cuma pake handuk."
Galang melangkah, ia meletakkan tas di kursi tempat ia membaca buku medisnya.
"Kenapa musti malu? Kita kan suami istri."
Sekar kehilangan kata-kata.
"Te-tetep aja."
Galang kembali menahan senyum kecil.
"Lagi pula saya nggak sengaja."
"Tapi tadi A Galang nengok cermin." Protes Sekar tidak terima.
"Itu refleks."
Sekar diam, memperhatikan suaminya yang langsung meraih handuk.
"Aku mandi dulu." Ucapnya lalu langsung pergi.
.
.
.
Adzan magrib baru saja selesai berkumandang ketika Sekar menaruh panci kecil di atas kompor.
Aroma bawang putih dan margarin mulai memenuhi dapur mungil rumah mereka. Malam itu ia berniat memasak sederhana saja. Capcay kuah dan telur dadar, karena mengingat Galang baru pulang lebih cepat dan pasti kelelahan.
Di luar, udara Tarogong terasa dingin selepas hujan sore.
Sekar masih mengenakan piyama satin panjangnya, sendangkan rambutnya di biarkan tersanggul rapi oleh jedai dan menyisakan beberapa helai rambut yang terlepas dari gelungannya. Kali ini anggota tubuhnya tertutup, hanya saja kalau ingat kejadian tadi sore pipi dan telinganya terasa panas.
"Ya Allah, malu banget." Gumamnya pada diri sendiri.
Bahkan sampai sekarang ia belum berani menatap Galang terlalu lama.
Sementara itu dari ruang tengah terdengar suara televisi kecil bercampur bunyi air dari kamar mandi. Galang tampaknya baru selesai mandi.
Sekar mengaduk masakannya pelan. Namun baru saja ia hendak memotong daun bawang,
"Sekar."
Suara Galang terdengar dari belakang.
Sekar refleks menoleh cepat.
Dan lagi-lagi jantungnya langsung salah tingkah.
Galang berdiri di ambang dapur dengan kaus putih polos dan celana bahan abu gelap. Rambutnya masih terlihat basah khas setelah mandi. Wajahnya terlihat jauh lebih segar dibanding sore tadi.
"Ada apa?" tanya Sekar pelan.
Galang melirik kompor.
"Kamu masak?"
"Iya..."
"Jangan dulu."
Sekar mengerutkan bingung.
"Kenapa?"
Galang memasukkan satu tangan ke saku celana.
"Mau keluar."
"Keluar?"
"Makan sate."
Sekar berkedip beberapa kali.
"Hah?"
"Mendadak pengen makan sate."
Nada bicara Galang terdengar datar seperti biasa, tetapi entah kenapa malam itu ada sesuatu yang lebih ringan dari dirinya.
Sekar masih terlihat bingung.
"Sekarang?"
"Iya."
"Tapi aku udah masak..."
"Besok juga masih bisa dimakan."
"Tapi---"
"Aa mau makan sate," ucap Galang.
Sekar menatap Galang beberapa detik, tidak bisanya bahkan ini kali pertamanya Galang menyebut dirinya dengan panggilan "Aa".
Lalu tanpa sadar Sekar tersenyum kecil. Lucu juga ternyata. Seorang dokter anestesi super tenang itu ternyata bisa tiba-tiba ngidam makan sate seperti anak kecil.
"Oke," jawab Sekar pada akhirnya.
🪷🪷🪷🪷🪷🪷🪷
Tetap ikutin kisah Galang dan Sekar ya
Bersambung...