NovelToon NovelToon
HADIRMU KEMBALI

HADIRMU KEMBALI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mengubah Takdir / Perjodohan
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Three Flowers

Miranda Amalia, seorang gadis miskin berumur 16 tahun, dilamar oleh keluarga Pratama yang kaya raya untuk dinikahkan dengan anak tunggal mereka, Kevin Pratama, yang baru berusia 17 tahun. Ternyata Miranda dijadikan menantu agar bisa merawat Kevin yang lumpuh akibat sebuah kecelakaan.
Hingga suatu hari, seorang dokter berhasil menyembuhkan Kevin dari kelumpuhan. Dan untuk membalas budi pada dokter itu, Keluarga Pratama menjodohkan Kevin dengan anak sang dokter yang bernama Celine Richardo. Karena itu, mereka menceraikan Miranda dari Kevin dan mengusirnya.
Sepuluh tahun berlalu, tiba-tiba Kevin menemukan Miranda bekerja menjadi karyawati di sebuah perusahaan yang baru dibelinya. Merasa bersalah pada gadis itu, ia pun mendekatinya. Namun, yang dirasakan ternyata lebih dari sekedar rasa bersalah, tetapi juga rasa cinta, yang dulu tak pernah terpikirkan olehnya saat masih menjadi suaminya.
Maukah Miranda menerima Kevin yang terus mengejarnya, sedangkan Kevin telah beristri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Three Flowers, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PERNIKAHAN USIA MUDA

Miranda Amalia, seorang gadis manis ber usia16 tahun, melangkah kaku menuju ke sebuah meja yang akan menjadi tempat pengesahan pernikahannya. Hari ini, ia akan menikah siri dengan seorang pria yang juga masih sangat muda, yaitu Kevin Pratama, yang baru berusia 17 tahun.

Pernikahan siri itu bukannya tanpa alasan, karena keluarga Pratama yang kaya raya itu membutuhkan seseorang yang bisa merawat Kevin yang lumpuh akibat suatu kecelakaan balap motor. Miranda tidak bisa menolak lamaran itu karena Maya Pratama, ibu Kevin, menjanjikan uang yang cukup besar pada keluarga Miranda yang sedang terlilit hutang pada Rentenir.

Kini, dalam sebuah acara pernikahan sederhana yang hanya dihadiri oleh kedua pihak keluarga mempelai dan pemuka agama, Miranda dan Kevin akan diresmikan menjadi sepasang suami istri. Pernikahan itu memang sengaja tidak didaftarkan secara hukum karena kedua mempelai masih di bawah umur.

Meskipun sederhana, namun wajah orang tua masing-masing mempelai tampak berseri-seri, seolah sedang tumbuh harapan baru. Mereka mengobrol dengan baik seolah tidak ada perbedaan status sosial, karena dalam pernikahan ini posisi mereka saling membutuhkan.

Saat mempelai pria memasuki ruangan, semua orang langsung terdiam. Miranda hanya menunduk sedari tadi. Yang ia tahu dari sudut matanya hanyalah sebuah kursi roda yang diduduki oleh calon suaminya, yang didorong mendekat dan berhenti di sampingnya.

Saat mengucapkan akad nikah, suara Kevin tampak tenang dan lancar. Dan saat semua saksi mengucap ‘SAH’,  maka semua orang menghela nafas lega dan suasana kembali terdengar riuh, terdengar tawa bahagia di sana.

Dengan gemetar Miranda menjabat dan mencium tangan suaminya, namun ia belum berani mengangkat wajahnya untuk melihat wajah suaminya. Jabat dan cium tangan itu hanya berlangsung singkat, kemudian ia merasakan juga balasan dari Kevin berupa ciuman di kening yang juga terasa sangat singkat.

Sebenarnya Miranda sudah pernah melihat wajah Kevin, tetapi hanya dari kejauhan. Kevin adalah pemuda yang sangat tampan, dengan postur tubuh yang cukup tinggi dan penampilan yang sangat layak untuk dijadikan idola para gadis pada umumnya.

Miranda tidak menyangka kalau pemuda itu sekarang malah menjadi suaminya, meski dengan keadaan yang sangat berbeda. Kalau dulu ia selalu terlihat keren dengan motor sportnya, kini Kevin yang ada di hadapannya hanyalah seorang pemuda yang tidak berdaya di atas sebuah kursi roda.

Usai acara pernikahan yang diadakan di rumah keluarga Pratama itu selesai, tak seberapa lama keluarga Miranda yang terdiri dari Ayah, Ibu, Paman, Bibi dan kakak perempuannya itu pamit pulang. Dan kini tinggallah Miranda seorang diri ditinggalkan oleh keluarganya. Ia merasa sangat canggung dan asing.

“Miranda, antar lah Kevin untuk beristirahat di kamarnya. Dan kamar Kevin adalah kamarmu juga,” ucap Maya Pratama, ibu Kevin, yang kini menjadi ibu mertuanya.

Miranda mengangguk patuh, lalu ia menoleh ke arah Kevin. Pemuda itu menatapnya hingga kedua mata mereka beradu sejenak, lalu keduanya sama-sama memalingkan pandangan. Inilah pertama kalinya mereka saling menatap sejak acara pernikahan dimulai hingga selesai.

Miranda mendorong kursi roda Kevin menuju ke sebuah kamar yang ditunjukkan oleh ibu mertuanya. Ibu mertuanya bersikap sangat ramah padanya, meski dengan cara bicaranya yang terdengar sedikit cerewet, namun ia sangat baik pada Miranda.

“Itu kamar mandi dalam, itu almari pakaianmu dan Kevin, dan ini adalah almari kecil untuk menyimpan peralatan lainnya.” Maya menunjukkan letak ruangan dan perabot penting satu per satu.

“Baik, Bu,” sahut Miranda.

“Panggil aku Mama, nak,” potong Maya sambil tersenyum.

“Baik, Ma,” ucap Miranda sambil membalas senyuman itu seraya mengangguk sopan.

Maya lalu mendekati Kevin dan mencium kening putranya itu, “Sekarang Miranda adalah istrimu. Perlakukan lah dia dengan baik dan jangan malu-malu untuk meminta pertolongan pada Miranda. Karena mulai saat ini, sesuai permintaanmu, Miranda lah yang akan mengurus dan merawat mu.”

‘Sesuai permintaanmu?’ Miranda terkejut mendengar hal itu.

Apakah benar Kevin sendiri yang menginginkan Miranda jadi istrinya dan merawatnya?

Mengapa keluarga ini menikahkan anak mereka dalam usia yang sangat muda?

Miranda merasa bingung, padahal ia tidak pernah mengenal ataupun berinteraksi dengan Kevin sebelumnya. Tidak mungkin Kevin sendiri yang menginginkan dirinya untuk menjadi istrinya.

Miranda tidak berani bertanya macam-macam pada ibu mertuanya. Kevin juga tidak mengucapkan sepatah kata pun dari tadi. Sampai akhirnya Maya berpamitan untuk keluar dan meninggalkan kamar itu, sehingga tinggal mereka berdua saja di dalam kamar.

“Kunci pintunya!” tiba-tiba Kevin memerintah Miranda.

“Baik,” Miranda segera menjalankan perintah itu dan mengunci pintu.

Kini ia membalikkan badannya dan melihat ke arah Kevin. Kevin hanya diam sambil menatap tajam padanya. Tatapan itu tidak layak disebut tatapan mata seorang suami kepada istrinya,  karena sangat dingin dan angkuh. Sikapnya sangat jauh berbeda dengan sikap mamanya tadi.

“Apakah ada yang kamu perlukan, Kevin?” tanya Miranda dengan sangat hati-hati.

“Aku mau ganti baju. Ambilkan kaos dan celana panjang di almari pakaianku!” sahut Kevin sambil memutar kursi rodanya ke arah kasur.

Miranda segera berjalan menuju almari pakaian Kevin sesuai petunjuk ibu mertuanya tadi, lalu mengambil sebuah T-shirt berwarna kuning dan celana panjang berwarna krem.

“Inikah?” tanya Miranda.

“Ya,” sahut Kevin.

Miranda segera menyerahkan sepasang baju itu kepada Kevin. Lalu ia berdiri terpaku di hadapan pemuda itu. Ia ingin membantunya melepas pakaian, tapi tentu saja hal itu sangat canggung.

Kevin melepas jas pengantin dan kameja nya. Kini, ia hanya mengenakan kaos singlet. Miranda memalingkan pandangannya saat melihat hal itu.

“Miranda, sekarang bantu aku melepas celanaku!” perintah Kevin.

Miranda tersentak. Kevin telah memakai T-shirt nya dengan sempurna karena tubuh bagian atas memang tidak bermasalah. Tapi kini ia akan mengganti celananya, tentu saja orang lumpuh tidak akan bisa melakukannya sendiri.

“Kenapa hanya diam?” tanya Kevin ketus. “Kalau baju atasan, aku masih bisa menggantinya sendiri. Tapi kalau celana, tentu saja aku butuh bantuanmu. Ingat, Miranda..., kamu harus melakukan ini karena kamu sudah menjadi istriku.”

“Oh, baiklah,” sahut Miranda tidak berani membantah lagi.

“Bantu aku duduk di ranjang terlebih dahulu,” ujar Kevin. “Aku akan merangkul mu, berpegangan pada tubuhmu. Lalu berusahalah duduk terlebih dahulu dan tahan tubuhku sampai aku bisa duduk di ranjang.”

Miranda segera membantu menahan tubuh Kevin dengan merangkulnya, lalu mundur ke belakang untuk duduk di ranjang. Karena tubuh Kevin lebih berat darinya, Miranda tidak kuat menopang tubuh Kevin sehingga mereka berdua jatuh di ranjang dengan posisi Miranda tidur telentang dan tubuh Kevin di atasnya.

Kevin segera melepaskan diri dari Miranda dengan bantuan kedua tangannya. Ia tertelungkup di atas ranjang dengan perasaan kesal.

“Miranda, cepat bantu aku berbalik dan duduk!” perintah Kevin.

Miranda yang masih terengah-engah dengan posisinya tadi akhirnya berdiri dan membantu membetulkan posisi Kevin.

“Kevin, maafkan aku. Aku tidak kuat menahan mu,” ucap Miranda penuh penyesalan, meski kini Kevin sudah berada dalam posisi duduk sempurna di atas ranjang.

“Tidak apa-apa. Nanti kita pasti bisa menemukan teknik yang sesuai,” sahut Kevin.

“Kevin, kenapa kamu tidak memakai jasa perawat pria untuk membantumu?” tanya Miranda, masih mengatur nafasnya. “Tenaga pria kan lebih kuat daripada tenaga wanita.”

Kevin menatapnya dengan tajam. Wajahnya memang sangat tampan dan bola matanya bening, namun terlihat sangat mengerikan di mata Miranda. Apakah dia sedang marah?

“Aku sudah pernah melakukannya. Tapi...., ah!” Kevin menutup matanya dengan kedua tangannya. Ia tampak kesulitan untuk melanjutkan kalimatnya.

Wajah Kevin memerah, sepertinya ia sedang menahan amarah. Ada perubahan emosi yang sangat terlihat saat ini. Miranda semakin merasa ketakutan.

“Dengar, Miranda! Jangan banyak mengeluh! Bukankah Mamaku sudah memberi keluargamu kompensasi uang yang sangat besar?!” tiba-tiba Kevin melotot padanya dan mencengkeram baju di dekat leher Miranda.

Miranda langsung menangis. Ia tidak pernah diperlakukan kasar seperti ini oleh siapapun sebelumnya. Apalagi ia baru mengenal Kevin. Ia tidak tahu orang seperti apa suaminya itu.

Melihat Miranda hanya bisa terisak, Kevin lalu melepaskan cengkeramannya. Wajahnya masih nampak menahan emosi. Lalu ia melanjutkan kalimatnya, “Mamaku sudah melunasi semua hutang keluargamu pada Rentenir. Bahkan juga memberi modal pada mereka untuk memulai usahanya lagi. Mahar untukmu juga tidak main-main jumlahnya....”

“Iya, aku mengerti!” potong Miranda dengan penuh penyesalan. Ucapan Kevin itu sangat kejam, seolah ia adalah sebuah barang yang baru dibeli oleh keluarga Kevin.

Miranda mengusap air matanya. “Aku tidak mengeluh, Kevin. Aku hanya bertanya, tapi kalau kamu merasa tersinggung, tolong maafkan aku,” ucapnya memohon.

“Bagus kalau kamu mengerti,” ucap Kevin. “Kamu sekarang adalah istriku, jadi layani aku dengan baik dan penuhi semua keinginanku! Dan aku juga akan membayar mu dengan layak asal kamu tidak macam-macam.”

Membayar? Miranda mengerti sekarang. Pernikahan ini memang hanya sebuah tameng yang menutupi transaksi jual beli pelayan. Dan ialah pelayan itu. Pelayan yang dibeli dengan berkedok istri.

Miranda segera membuka ikat pinggang dan resleting celana Kevin, membuat pemuda itu terkesiap. Namun, ia diam saja dan membiarkan Miranda menarik celananya turun ke bawah secara perlahan. Meski merasa canggung, ia tetap berusaha tenang.

‘Gadis ini adalah istriku. Lebih baik disentuh wanita daripada disentuh lelaki!’ Kevin meyakinkan diri di dalam hati. Ia memejamkan mata dan menahan nafasnya, pasrah pada perlakuan Miranda.

Terlintas di benaknya sebuah kenangan buruk. Kenangan yang menjadi latar belakang mengapa ia memilih untuk menikah. Namun semua itu masih disimpannya sendiri. Miranda tak perlu tahu, karena ia belum siap untuk menceritakan kepadanya.

*** BERSAMBUNG***

Apakah Miranda akan sanggup menghadapi Kevin yang keras kepala ? Dan apakah Kevin bisa menerima Miranda di sisinya?

IKUTI TERUS KELANJUTANNYA YA...

1
Miu.Nuha
pak Kevin tolonginnnn /Curse//Curse//Curse/
Miu.Nuha
omongannya salah 😭
Miu.Nuha
aduh, bu maya tambah jahat deh 😩
Miu.Nuha
ya ampun kasihan papa 😭
udh bertahun2 nikah eh anakny msh perawan... mumpung msh perawan sih Pa, kasih ganti jodoh aja, hehe...
Three Flowers: mestinya gitu, cariin yg lajang juga gak bakalan rugi jodohnya 😂
total 1 replies
Miu.Nuha
yg salah mungkin kevinnya #ups 🙃
Elly Suroso
Keras kepala jg Miranda ini, tp sebetulny dia kekeh memegang prinsip tdk mau jd penyebab rmh tangga Kevin dgn Celine berantakan krn kehadiranny bingung jg jd Miranda, penasaran nih lanjut donk👍💪😍
Three Flowers: iya, posisi nya dilema banget
total 1 replies
PrettyDuck
apa jadinya kalo celine tau kevin clbk sama mantan istri? bakal jadi sumala pasti dia
Three Flowers: oww nti aq cek hehehe. maklum author dah tuwir, kudet😂
total 3 replies
PrettyDuck
abis pecah pera*wan bu 😭😭
Three Flowers: wkwkwk bener juga
total 1 replies
PrettyDuck
gpp. dia masih suamimu kok.
yg kesian tuh celine. bakal dibuang dia.
PrettyDuck
sabar ya celine.
suamimu lagi kasmaran sama perempuan lain tuh.
PrettyDuck
udah anu sama miranda kan dia?
Filan
jangan terlalu defensif, jadinya malah tampak kekanak-kanakan
Filan
Sandy sangat bijak ya
Elly Suroso
Mengharukan sekali btp tulusny cinta Sandy pd Miranda, apakah cinta Sandy tdk bertepuk sebelah tangan y bikin penasaran, lanjut donk👍💪😍
Three Flowers: sementara ini masih bertepuk sebelah tangan 😭
total 1 replies
Elly Suroso
smoga impian Karina bs terwujud memiliki sebuah warung dgn bantuan Kevin, dn Kevin maupun Sandy bs sgr bs mengatasi sgl kesulitanny, lanjut donk, penasaran nih👍💪😍
Three Flowers: aamiin 🤗
total 1 replies
Filan
udah, Sandi ama Marina aja hehehe
Filan: kevin Miranda dong.
total 2 replies
Filan
bukannya kalau cerai itu bisa tetap jatuh kalau suami berkehendak sekalipun istri ga mau Terima?
Di pengadilan juga pasti dikabulkan walau celine ga datang.
Jangan halu masih merasa jadi istri Kevin ketika udah terucap kata cerai dari Kevin.
Three Flowers: yups betul kak.. nti Kevin ngumpulin bukti2 itu, ke psikiater juga untuk memperkuat bukti bahwa dia hanya bisa membangun hubungan emosional dengan satu orang saja
total 4 replies
Filan
apa lagi yang direncanakan celine?
Filan
bagus sekali sekarang ada kakak yang siap membela Miranda dan juga bisa jadi tempat curhat dan nasihat
Filan
ngeri banget sih. Mana si Maya ga merasa bersalah.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!